Pintu pagar menutup pelan.
Suara langkah Bu Tejo yang tadi riuh perlahan menghilang bersama derit sandal jepitnya di jalan depan rumah.
Keheningan kembali mengambil alih.
Namun kali ini...
Keheningan itu tidak lagi terasa canggung.
Kalyana mengumpulkan tiga cangkir kopi yang masih menyisakan aroma hangat. Cangkir milik Bu Tejo hampir tandas, sementara cangkir Aksara masih setengah penuh. Hanya cangkirnya sendiri yang nyaris tidak tersentuh. Aksara memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kamu memang suka bikin kopi buat orang lain, tapi lupa minum kopi sendiri?"
Kalyana menoleh, lalu melihat cangkirnya.
"Oh..." Ia tertawa kecil. "Kebiasaan." lanjutnya.
"Bu Tejo benar."
"Kok jadi membela Bu Tejo?"
"Soal kamu lupa makan siang." Kalyana memutar bola matanya.
"Sekarang nambah lupa minum kopi."
"Ternyata lengkap juga laporannya."
Mereka sama-sama tertawa. Tawa yang kali ini terasa lebih ringan daripada sebelumnya.
Aksara berdiri di dekat jendela.
"Kalau rumah ini boleh bicara, kira-kira dia paling sering cerita tentang siapa?"
Kalyana ikut memandang keluar. "Mungkin tentang Eyang."
"Kenapa?"
"Karena sebagian besar benda di sini masih menyimpan kebiasaannya." Ia menunjuk rak buku.
"Radio itu selalu menyala kalau beliau sedang membaca."
"Kompas?"
"Beliau suka bepergian."
"Kamera?"
"Lebih banyak dipakai untuk memotret rumah daripada orang."
Aksara tersenyum. "Mirip kamu."
Kalyana menoleh. "Kenapa?"
"Kamu juga lebih sering memperhatikan bangunan daripada orang."
Kalyana tertawa kecil. "Belum tentu."
"Contohnya?"
Kalyana berpikir sebentar. "Kamu."
Aksara terdiam.
Kalyana baru menyadari jawabannya. "Maksudku..." Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan. "...sekarang aku sedang memperhatikan kamu sebagai penyewa."
Aksara tersenyum, tetapi tidak menggoda. "Baik, Bu Pemilik Rumah."
Kalyana menghela napas. Ia berjalan ke arah meja kecil di teras lalu merapikan sebuah pot yang posisinya sedikit miring.
Aksara memperhatikannya. "Kamu selalu seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Kalau melihat sesuatu yang miring, langsung dibetulkan."
Kalyana melihat pot tersebut. "Kalau bisa dibetulkan, kenapa dibiarkan?"
Aksara mengangguk. "Masih sama."
"Kamu sudah dua kali bilang aku masih sama."
"Karena memang begitu."
Kalyana tersenyum tipis. "Kalau kamu?"
"Aku?"
"Kamu masih sama?"
Aksara terdiam sebentar. "Mungkin nggak."
Kalyana menunggu, tetapi Aksara tidak melanjutkan. Akhirnya ia hanya berkata,
"Orang pasti berubah setelah lima tahun."
Kalyana mengangguk. "Ya."
Namun entah kenapa, jawaban itu membuatnya ingin tahu lebih banyak.
Bukan sekarang.
Belum.
"Jangan panggil begitu."
"Panggil apa?"
"Ibu pemilik rumah, kedengarannya tua."
"Padahal memang pemilik rumah."
"Ya sudah. Terserah."
Aksara tertawa pelan.
Suasana kembali mencair.
Tidak ada yang merasa perlu menjelaskan apa pun.
Untuk sore itu, percakapan ringan sudah cukup.
"Aku boleh lihat-lihat lagi?"
"Boleh."
Aksara berdiri dan berjalan perlahan menyusuri paviliun. Sebagai seorang arsitek, ia hampir tidak pernah benar-benar melihat sebuah bangunan hanya sebagai bangunan. Setiap ruang selalu memiliki cerita. Setiap jendela dibuat dengan alasan. Setiap cahaya masuk melalui perhitungan. Tangannya menyentuh kusen jendela yang mulai mengilap karena sering dipoles.
"Kayunya masih asli."
"Iya."
"Jati?"
Kalyana mengangguk.
"Eyang paling keras kalau urusan kayu."
"Maksudnya?"
"Beliau selalu bilang, kalau kayunya masih kuat, jangan diganti. Yang diperbaiki cara merawatnya."
Aksara tersenyum. "Kalimat yang bagus."
"Mungkin karena beliau lebih percaya pada proses daripada hasil."
Aksara tidak langsung menjawab.
Kalimat itu terdengar seperti sedang membahas kayu. Padahal rasanya... Lebih dalam dari itu.
Mereka melangkah ke arah jendela yang menghadap taman.
Sinar matahari sore menembus sela daun mangga dan pohon kamboja, membentuk bercak-bercak cahaya di lantai tegel bermotif klasik.
"Tegelnya asli?"
"Sebagian."
"Yang ini?" Aksara menunjuk sudut dekat pintu. "Sudah diganti."
"Kok tahu?"
"Warna semen natnya berbeda."
Kalyana menoleh cepat. "Kamu sadar?"
Aksara tersenyum kecil. "Namanya juga penyakit kerja."
Kalyana ikut tertawa."Kalau aku... penyakitnya selalu lihat retakan."
"Serius?"
"Iya."
"Masuk ke kafe, lihat plafon."
"Masuk hotel, lihat kamar mandi."
"Masuk rumah orang, lihat talang."
Aksara tertawa pelan. "Berarti kita sama."
"Kok sama?"
"Aku juga begitu."
"Lihat talang?"
"Bukan."
"Lihat drainase."
Mereka kembali tertawa.
Tanpa sadar... Percakapan mereka mulai terdengar seperti dua teman lama yang kembali menemukan ritme.
Di sudut ruang tamu berdiri sebuah rak buku dari kayu jati. Tingginya hampir menyentuh bahu Aksara. Rak itu bukan hanya berisi buku. Ada bingkai foto hitam putih, radio tua, kompas kuningan, sebuah kamera analog, serta jam pasir kecil yang hampir habis isinya.
Aksara menghampiri rak itu. "Ini masih hidup."
"Hah?"
"Rumahnya."
Kalyana mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Banyak rumah tua cuma menyimpan barang lama." Ia mengusap pelan tepian rak. "Kalau di sini.... barang-barangnya masih dipakai."
Kalyana tersenyum. "Aku memang nggak suka rumah yang kelihatan seperti museum."
Aksara mengangguk. "Iya. Rumah harus tetap dihuni. Harus tetap dipakai. Harus tetap punya suara."
Kalimat terakhir itu keluar hampir bersamaan. Mereka saling menatap, lalu tersenyum kecil.
"Kayaknya..." Kalyana menggeleng pelan. "...kita memang masih sama-sama anak teknik."
Aksara terkekeh. "Bedanya sekarang nggak rebutan colokan listrik."
Kalyana spontan tertawa. 'Astaga... dia masih ingat itu.'
"Aku boleh lihat bukunya?"
"Boleh."
Aksara mengambil satu buku yang sampulnya mulai pudar. Judulnya Rumah Tradisional Jawa. Begitu membuka halaman pertama, matanya tertumbuk pada cap kecil berwarna biru. Perpustakaan Keluarga Nareswari.
Aksara tersenyum. "Serius ada perpustakaan keluarga?"
Kalyana ikut mendekat. "Itu cap buatan Eyang."
"Kenapa sampai dicap segala?"
"Supaya kalau dipinjam tetangga..." Ia mengangkat bahu. "...balik."
Aksara tertawa. "Berhasil?"
"Kadang."
"Kalau nggak balik?"
"Eyang bilang..." Kalyana tersenyum geli. "...berarti bukunya sedang mencari rumah baru."
"Itu cara paling baik menerima kehilangan."
"Iya. Tapi habis itu Eyang beli lagi."
"Kenapa?"
"Soalnya beliau juga nggak rela kehilangan." Keduanya kembali tertawa.
Aksara membalik halaman demi halaman. Saat sampai di bagian paling belakang, selembar kertas kecil meluncur pelan ke lantai.
Ia memungutnya. Tulisan tangan. Tinta biru yang mulai memudar.
Rumah yang baik bukan rumah yang paling besar, tetapi rumah yang membuat orang ingin pulang.
— Eyang
Aksara membaca kalimat itu dua kali. "Lalu..." Ia mengangkat kertas kecil itu. "Semua buku ada catatan seperti ini?"
"Hampir."
Aksara mengambil buku lain.
Benar saja. Ada secarik kertas lagi. Kali ini bertuliskan:
Jangan buru-buru menilai seseorang. Bahkan rumah pun butuh waktu sebelum terasa hangat.
Aksara tersenyum. "Eyangmu romantis."
"Bukan." Kalyana menggeleng. "Bijaksana."
"Lalu yang ini?" Aksara membuka buku ketiga. Kertas kecil berwarna krem terselip di halaman terakhir. Namun tulisan tangannya berbeda. Lebih kecil. Lebih rapi.
Kalau suatu hari rumah ini terasa sepi, berarti sudah waktunya mengundang tawa lagi.
Aksara mengangkat pandangan. "Itu tulisanmu?"
Kalyana mengangguk pelan. "Setelah Eyang meninggal.... aku melanjutkan kebiasaan itu."
"Kenapa?"
Ia menatap rak buku itu beberapa detik. "Supaya rumah ini terus punya cerita."
Di luar, angin sore kembali berembus.
Daun kamboja berguguran pelan.
Untuk sesaat...
Tak ada yang berbicara.
Karena kadang, sebuah rumah memang bisa menjelaskan dirinya sendiri.