Bu Tejo masih berdiri di ambang pintu paviliun.
Di tangan kirinya, sepiring pisang goreng masih mengepulkan uap tipis. Pandangannya bergantian antara dua cangkir kopi di atas meja, Kalyana yang berdiri di dekat dapur, lalu Aksara yang masih tampak kikuk di samping jendela.
"Oh..."
Senyumnya perlahan melebar.
"Kalau saya datang sekarang... ganggu, nggak?"
Kalyana langsung memejamkan mata.
'Ya Allah... waktunya pas sekali.'
"Enggak, Bu."
Jawaban itu justru keluar dari Aksara.
Kalyana spontan menoleh.
Aksara masih berdiri dengan senyum sopan.
"Silakan masuk."
"Masyaallah..."
Bu Tejo tertawa kecil.
"Saya suka tamu yang ramah."
Beliau melangkah masuk tanpa perlu dipersilakan lagi.
Kalyana hanya bisa mengembuskan napas pelan.
'Kalau Bu Tejo sudah mulai masuk, berarti susah disuruh pulang.'
Bu Tejo meletakkan piring di atas meja.
"Lho, kopinya baru jadi?"
"Iya, Bu."
"Kebetulan."
Beliau menarik kursi dengan santai.
"Saya juga mau."
"Bu..."
Kalyana menatapnya pasrah.
"Memangnya nggak boleh?"
"Boleh."
"Nah, kalau boleh kenapa mukanya begitu?"
Aksara menunduk sambil menahan senyum.
Kalyana akhirnya menyerah.
"Sebentar ya, Bu. Saya buatkan."
"Nah... begitu."
Bu Tejo tersenyum puas.
Tak lama kemudian, aroma kopi kembali memenuhi ruangan.
Kalyana meletakkan cangkir ketiga di depan Bu Tejo.
"Terima kasih, Lya."
"Sama-sama."
Bu Tejo menyeruput pelan.
"Wah..."
"Enak?"
"Belum tahu."
Kalyana mengernyit.
"Belum diminum, Bu."
"Kan baru dicium aromanya."
Beliau tersenyum geli.
"Tapi biasanya kopi yang aromanya enak, rasanya juga nggak mengecewakan."
Kalyana hanya menggeleng sambil tersenyum.
Beliau memang selalu punya logikanya sendiri.
Keheningan sempat mengisi ruangan. Angin sore bertiup lembut, membuat tirai putih di dekat jendela bergoyang perlahan. Di luar, daun-daun kamboja berguguran, jatuh di atas jalan setapak yang membelah halaman rumah.
Bu Tejo kembali membuka percakapan.
"Mas tinggal di mana sekarang?"
"Di Jakarta, Bu."
"Jakarta?"
Beliau tampak sedikit terkejut.
"Berarti Mas bukan orang sini?"
"Sebenarnya saya orang Jogja, Bu."
"Oalah..."
"Setelah lulus kuliah saya bekerja di Jakarta."
"Lalu sekarang pulang?"
"Kantor sedang menangani beberapa proyek di Jogja. Kebetulan saya ditugaskan di sini untuk beberapa waktu."
"Pantesan cari tempat tinggal."
"Iya, Bu."
"Lha, orang tua Mas juga di Jogja?"
"Iya."
"Syukurlah."
Bu Tejo tersenyum hangat.
"Walaupun kerja jauh, akhirnya bisa dekat keluarga lagi."
Aksara membalas senyum itu.
"Mudah-mudahan begitu."
Di seberang meja, Kalyana diam-diam melirik Aksara.
'Aku baru tahu dia kembali ke Jogja.'
"Mas kerjanya apa?"
"Saya bekerja di konsultan tata kota."
"Konsultan tata kota?"
Bu Tejo mengulang pelan.
"Itu ngapain?"
Aksara berpikir sejenak.
"Mungkin gampangnya begini..."
Ia menunjuk jalan kecil di depan rumah.
"Kalau Ibu jalan kaki ke warung, bagian mana yang paling nyaman?"
"Yang banyak pohonnya."
"Nah, itu salah satunya. Kami membantu merancang suatu kawasan supaya nyaman digunakan orang. Mulai dari trotoar, taman,
drainase, tempat duduk, sampai jalur sepeda. Hal-hal seperti itu memang terlihat sederhana, tapi kalau dirancang dengan baik, orang jadi lebih betah tinggal atau berjalan di sana."
Bu Tejo mengangguk pelan.
"Oalah..."
"Berarti Mas bukan yang bangun kotanya?"
"Bukan, Bu."
"Yang merencanakan dulu sebelum dibangun?"
"Iya."
"Nah..."
Beliau tersenyum puas.
"Kalau begitu saya ngerti."
Kemudian beliau menoleh ke arah Kalyana.
"Kalau Lya beda."
Aksara ikut menoleh.
"Dia kerjanya justru menyelamatkan bangunan yang sudah ada."
Kalyana tertawa kecil.
"Bu..."
"Lho, salah?"
"Nggak."
"Kan memang begitu."
Beliau kembali menghadap Aksara.
"Jadi satu mikirin masa depan kota, yang satu menjaga cerita masa lalunya."
Ruangan mendadak hening beberapa detik.
Kalyana menatap Bu Tejo.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa terasa begitu pas.
Aksara tersenyum tipis.
"Lya memang dari dulu orang yang telaten menjaga sesuatu. Nggak tegaan kalau membuang sesuatu yang masih bagus."
Begitu kalimat itu keluar, Aksara langsung terdiam.
'Kenapa aku ngomong begitu?'
Kalyana juga tampak sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Aksara masih mengingat kebiasaannya.
"Dari dulu?"
Bu Tejo langsung menangkap kalimat itu.
"Kalian memang sudah kenal sebelumnya?"
Kalyana dan Aksara saling berpandangan.
Hanya sesaat.
Lalu sama-sama mengangguk.
"Iya, Bu."
Jawaban mereka keluar hampir bersamaan.
Bu Tejo tersenyum geli.
"Pantes."
"Pantes apa, Bu?"
"Tadi pas ketemu wajah kalian sama-sama kayak orang lupa naruh kunci."
Aksara tak bisa menahan tawanya.
Sementara Kalyana hanya menunduk sambil tersenyum malu.
'Memang sekikuk itu ya?'
"Teman kuliah?" tanya Bu Tejo.
"Iya, di UGM."
"Jurusan yang sama?"
Kalyana menggeleng.
"Nggak, Bu. Saya Teknik Industri."
"Saya Arsitektur." Aksara ikut menjawab.
"Oalah..."
Bu Tejo mengangguk-angguk.
"Pantes nyambung."
Kalyana mengernyit.
"Memang apa hubungannya?"
"Ya sama-sama anak teknik."
Beliau mengangkat bahu.
"Kalau saya suruh bikin kandang ayam, mungkin juga langsung bisa."
"Nggak gitu juga, Bu." Aksara tersenyum sambil menggeleng.
"Bisa sih..."
"...asal jangan ayamnya yang ngajarin."
Kalyana menjawab pelan.
Bu Tejo langsung menepuk meja sambil tertawa.
"Nah, gini kan enak."
Beliau mengambil sepotong pisang goreng.
Bu Tejo kembali mengamati Aksara dari ujung kepala sampai sepatu.
"Mas ini kalau kerja lama di Jogja, berarti harus betah sama makanan sini."
"Saya justru sudah kangen."
"Mas suka makanan apa?"
"Macam-macam."
"Gudeg?"
"Suka."
"Bakmi?"
"Suka."
"Soto?"
"Suka juga."
Bu Tejo mengangguk puas.
"Berarti aman."
Kalyana menahan tawa.
"Aman dari apa, Bu?"
"Kalau orang nggak cocok makanan sini, biasanya cepat pulang."
Aksara tertawa.
"Kalau begitu saya harus banyak belajar."
"Belajar makan dulu."
"Siap."
Bu Tejo kemudian menatap dua cangkir kopi yang sudah hampir kosong.
"Sudah lama saya nggak lihat rumah ini seramai ini."
Kalyana melirik sekeliling.
"Padahal cuma dua orang."
"Justru itu."
Bu Tejo tersenyum.
"Kadang rumah nggak butuh banyak orang. Cukup ada yang datang dan membuat suara."
Aksara mengangguk pelan.
"Saya setuju."
Bu Tejo berdiri sambil membawa piringnya.
"Kalau begitu saya pulang dulu."
"Iya, Bu."
"Nanti kalau saya lewat lagi, jangan lupa bikin kopi."
Kalyana mengangguk.
"Kalau kebetulan ada ya, Bu."
Bu Tejo tersenyum.
"Di rumah ini selalu ada alasan untuk sebuah kebetulan."
Aksara menatap Kalyana sebentar.
Kalyana hanya menghela napas.
Bu Tejo tertawa kecil lalu berjalan pergi menuju rumahnya.
Sore itu berjalan sederhana, tetapi percakapan kecil yang muncul di antara mereka perlahan membuat jarak terasa lebih pendek.
Kalimat Bu Tejo tadi masih terngiang di telinga Kalyana.
"Kadang rumah nggak butuh banyak orang. Cukup ada yang datang dan membuat suara."
Kalimat itu membuat Kalyana terdiam dan merenung.
Tatapannya perlahan beralih ke halaman.
Angin sore kembali menggoyangkan daun kamboja.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Rumah itu memang terasa sedikit berbeda.
Sedikit lebih ramai.
Sedikit lebih hangat.
Sedikit lebih akrab.
Dan entah mengapa...
Tidak lagi terasa terlalu sepi.