Aroma kopi memenuhi ruangan kecil itu.
Tidak ada yang berbicara.
Kalyana berdiri di depan meja dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu paviliun. Jemarinya sibuk menuang air panas ke dalam dua cangkir keramik berwarna gading.
Tangannya terlihat tenang.
Kalau saja sendok kecil di dalam cangkir itu tidak beradu terlalu sering.
Ting... ting... ting...
"Lya..."
Ia memejamkan mata sejenak.
‘Berhenti mengaduk. Kopinya bukan semen.’
Di belakangnya, Aksara berdiri memperhatikan rak buku yang menempel di dinding.
Sebenarnya...
Ia tidak membaca satu pun judul buku di sana.
Pikirannya terlalu sibuk.
Lima tahun.
Dan mereka bertemu lagi di rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
"Masih suka kopi hitam?"
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kalyana.
Begitu selesai mengucapkannya, ia langsung menyesal.
‘Kenapa aku ingat itu?’
Ruangan kembali hening.
Aksara menoleh pelan.
Ia tampak sedikit terkejut.
"...Kamu masih ingat?"
Kalyana pura-pura sibuk mengambil gula.
"Eh..."
"Aku cuma nebak."
Aksara tidak membantah.
Ia hanya tersenyum kecil.
Padahal mereka berdua tahu.
Itu bukan tebakan.
Dulu, saat masih kuliah, Aksara selalu memesan kopi hitam tanpa gula setiap kali mereka dan teman-teman satu kelompok begadang mengerjakan presentasi.
Kalyana masih mengingatnya.
Dan rupanya...
Tubuhnya mengingat lebih cepat daripada kepalanya.
"Kalau kamu?"
Suara Aksara memecah keheningan.
"Masih..."
Ia berhenti. Lalu tersenyum tipis.
"...kopinya pakai satu sendok gula?"
Kali ini yang terdiam adalah Kalyana.
Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Lalu... Mereka sama-sama tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena baru sadar...
Ternyata ada hal-hal kecil yang tidak ikut hilang bersama waktu.
"Aku jadi malu."
Kalyana meletakkan cangkir di atas meja.
"Kenapa?"
"Kita sama-sama masih ingat kebiasaan yang seharusnya sudah lupa."
Aksara mengangkat bahu.
"Mungkin karena dulu sering lihat."
"Dulu?"
"Iya."
"..."
"Waktu kuliah."
Untungnya kalimat itu berhenti sampai di sana. Kalau diteruskan sedikit saja...
Mungkin suasananya akan berubah.
"Jadi, kamu yang menyewakan paviliun ini?"
Aksara sengaja mengalihkan pembicaraan.
Kalyana mengangguk.
"Iya."
"Baru?"
"Beberapa bulan."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun Kalyana tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke jendela.
Di luar, daun kamboja kembali berguguran tertiup angin sore.
"Rumah ini terlalu besar."
Ia tersenyum kecil.
"Kalau cuma dihuni satu orang."
Aksara mengangguk pelan.
Ia tidak bertanya lagi.
Karena ia tahu...
Ada jawaban yang tidak perlu dipaksa keluar.
"Jadi..."
Kalyana kembali ke urusan yang lebih aman.
"Masih mau lihat paviliunnya?"
Aksara mengangguk.
"Boleh."
Mereka mulai berkeliling.
Tidak luas.
Hanya ruang tamu kecil.
Dapur.
Kamar tidur.
Kamar mandi.
Sebuah teras mungil yang menghadap taman.
Sebelum masuk ke kamar, Aksara berhenti di dekat sebuah meja kecil di bawah jendela.
Di atasnya ada beberapa buku, majalah lama, dan sebuah kotak kayu berisi pensil.
"Kamu masih suka menggambar?"
Kalyana melihat kotak itu.
"Kadang."
"Dulu kamu sering gambar di belakang kertas tugas."
"Dan kamu sering mengambilnya."
"Karena gambarnya bagus."
Kalyana tertawa kecil.
"Aku kira kamu mengambil karena butuh kertas."
"Awalnya iya."
"Awalnya?"
Aksara tersenyum.
"Lalu sayang kalau dibuang."
Kalyana menatapnya sebentar.
"Masih suka menyimpan barang?"
Kalyana mengambil napas pelan. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.
"Kalau nanti kamu sudah tinggal di sini, ada beberapa hal kecil yang perlu kamu tahu."
Aksara menoleh.
"Misalnya?"
"Kalau malam, lampu taman otomatis mati jam sebelas."
"Kenapa?"
"Supaya nggak terlalu terang."
"Terus?"
"Kalau hujan deras, bagian belakang halaman agak licin."
Aksara mengangguk.
"Catat."
"Kamu serius?"
"Serius. Aku nggak mau baru dua hari tinggal sudah jatuh di halaman."
Kalyana tertawa.
"Bagus. Berarti kamu mau dengar aturan rumah."
"Aku penyewa yang patuh."
"Semoga."
Mereka saling tersenyum.
Percakapan itu sederhana, tetapi membuat Kalyana merasa sedikit lebih mudah bernapas.
Aksara bukan lagi nama di aplikasi penyewaan.
Ia sudah menjadi seseorang yang benar-benar berdiri di hadapannya.
Dan itu ternyata membutuhkan sedikit waktu untuk dibiasakan.
Aksara berjalan menuju teras lagi.
Di sudut halaman, beberapa pot tanaman tersusun tidak seragam. Ada yang baru, ada yang catnya mulai mengelupas, dan ada pula yang terlihat sudah sangat lama.
"Kamu yang menata semuanya?"
"Sebagian."
"Kenapa nggak dibuat seragam?"
Kalyana mengangkat bahu.
"Tanaman juga punya kebutuhan berbeda."
Aksara mengangguk.
"Benar."
"Yang penting sehat."
"Jadi bukan soal kelihatan bagus?"
"Bagus tetap penting."
Kalyana tersenyum.
"Tapi kalau cuma bagus dan nggak bisa bertahan, percuma."
Aksara menatapnya beberapa detik.
"Kamu ternyata masih suka ngomong seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sederhana."
Kalyana terkekeh.
"Padahal memang sederhana."
Mereka berdiri berdampingan menghadap halaman.
Sore semakin turun.
Cahaya matahari berubah lebih lembut, menyentuh ujung daun dan kusen jendela.
Tidak ada percakapan besar.
Tidak ada pertanyaan tentang perasaan yang dulu pernah ada.
Namun untuk dua orang yang baru bertemu kembali setelah lima tahun, sore itu terasa cukup panjang untuk memberi mereka kesempatan mengenali satu sama lain lagi.
"Beberapa."
"Berarti nggak banyak berubah."
Aksara tidak menjawab. Ia hanya melihat meja itu lagi.
Ada hal-hal kecil yang ternyata masih sama.
Bukan hanya tentang barang.
Tetapi tentang cara seseorang memandang sesuatu yang dianggap tidak penting oleh orang lain.
Kalyana kemudian membuka pintu kamar.
"Ini kamarnya."
Aksara melihat ruangan sederhana dengan ranjang kayu, lemari pakaian, meja kerja kecil, dan jendela yang menghadap ke taman.
"Nyaman."
"Kalau ada yang kurang, nanti bisa dibicarakan."
"Sudah cukup."
Ia meletakkan map hitamnya di atas meja.
"Justru aku takut terlalu nyaman."
Kalyana mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Kalau terlalu nyaman, nanti susah pulang."
Kalyana tertawa pelan.
"Kan memang untuk tinggal."
"Iya juga."
Mereka kembali tersenyum.
"Ini jendelanya masih kayu asli?"
Aksara mengusap kusen dengan ujung jari.
"Iya."
"Dirawat sendiri?"
"Kebanyakan."
"Kebanyakan?"
"Kalau rusaknya berat, baru panggil tukang."
Aksara mengangguk pelan.
"Lumayan merepotkan."
Kalyana tersenyum.
"Rumah tua memang begitu."
"Kenapa nggak diganti aluminium saja?"
Pertanyaan itu terdengar seperti candaan.
Namun Kalyana langsung menoleh cepat.
Ekspresinya begitu serius sampai Aksara refleks mengangkat kedua tangan.
"Aku bercanda."
Kalyana berkedip.
Lalu tertawa malu.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
"Aku terlalu sensitif kalau soal rumah."
"Kelihatan."
"Parah ya?"
"Sedikit."
"Sedikit?"
"Sangat."
Mereka tertawa lagi.
Untuk pertama kalinya...
Tawa itu terdengar lebih lepas.
Belum akrab. Tetapi tidak lagi sekaku lima belas menit yang lalu.
Tiba-tiba...
Suara pagar depan berderit.
"Kalyanaaa..."
Keduanya spontan menoleh.
Kalyana langsung menghela napas panjang.
"Datang."
Aksara mengernyit.
"Siapa?"
"Kekuatan terbesar di RT ini."
Belum sempat Aksara bertanya lagi...
Bu Tejo sudah muncul di balik tanaman melati sambil membawa piring berisi pisang goreng.
Beliau berhenti melangkah.
Melihat Aksara.
Lalu melihat dua cangkir kopi di atas meja.
Kemudian...
Melihat lagi Aksara.
"Oh..."
Senyumnya perlahan melebar.
"Kalau saya datang sekarang..."
Beliau mengangkat piringnya.
"...ganggu, nggak?"
Kalyana langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
"Bu..."
‘Ya jelas ganggulah, Bu’ – hanya bisa ia ucapkan dalam hati saja sambil menghela napas.