Kening Kalyana berkerut tipis.
Tangannya masih menggenggam kenop pintu.
Entah kenapa...
Tiga ketukan itu terdengar begitu akrab.
Padahal jelas-jelas ia belum pernah bertemu penyewa bernama A.G.P.
Pelan-pelan ia membuka pintu.
Daun pintu kayu bergerak perlahan, memunculkan sesosok pria yang berdiri di beranda.
Sinar matahari sore jatuh dari belakang tubuhnya sehingga wajahnya belum terlihat jelas.
Pria itu mengenakan kemeja biru tua berlengan panjang yang digulung hingga siku. Di tangan kirinya tergenggam map hitam, sementara tangan kanannya masih menggantung di udara, mungkin baru saja selesai mengetuk pintu.
Begitu pintu terbuka penuh...
Pria itu mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu.
...
Tidak ada yang berbicara.
Sepersekian detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Kalyana merasa otaknya kosong.
Bukan karena tidak mengenali pria itu.
Justru karena...
Ia mengenalinya.
Terlalu baik.
Pria di depannya berkedip dua kali.
Seolah sedang memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan kesalahan.
"...Kalyana?"
Suara itu pelan.
Hampir ragu.
Seakan ia sendiri tidak yakin boleh mengucapkan nama itu.
Kalyana menelan ludah.
"..."
Bibirnya bergerak pelan.
"...Aksara?"
Pria itu mengembuskan napas pendek.
Nyaris seperti orang yang baru sadar masih bisa bernapas.
"Iya..."
Hening kembali turun.
Aneh.
Lima tahun ternyata mampu mengubah banyak hal.
Tetapi tidak mengajarkan cara memulai percakapan.
Kalyana menggenggam kenop pintu sedikit lebih erat.
Dalam kepalanya, ratusan kalimat saling bertabrakan.
'Apa kabar?'
'Lama nggak ketemu.'
'Kamu apa kabar?'
'Kok bisa di sini?'
Tak satu pun berhasil keluar.
Yang keluar justru kalimat paling bodoh yang pernah ia ucapkan.
"...Kamu..."
Aksara mengangguk kecil.
"Iya."
"..."
"..."
"Kamu..."
"Iya."
"..."
"Masih..."
Kalyana memejamkan mata sepersekian detik.
'Ya Tuhan.'
'Masih apa?'
'Masih hidup?'
'Masih di Jogja?'
'Masih suka kopi?'
Otaknya benar-benar mogok.
Aksara justru tersenyum tipis.
Senyum kecil yang lebih banyak menenangkan dirinya sendiri.
"Aku masih."
Kalimat itu membuat Kalyana spontan tertawa pelan.
Bukan karena lucu.
Karena gugupnya sedikit pecah.
"Aku jadi lupa mau ngomong apa."
"Aku juga."
Mereka saling memandang.
Lalu sama-sama tertawa pendek.
Masih canggung.
Tetapi setidaknya...
Keheningan itu mulai terasa sedikit lebih ramah.
"Eh..."
Kalyana buru-buru bergeser.
"Silakan masuk."
"Iya... makasih."
Aksara berdiri sebentar di dekat rak sepatu, lalu berhenti dan menoleh ke arah Kalyana.
"Sebentar."
Kalyana menatapnya bingung.
Aksara melihat ke bawah.
"Ini..."
Ia menunjuk sepatunya.
"Dilepas?"
"Oh..."
Kalyana baru sadar.
"Iya, boleh dilepas."
Aksara mengangguk.
Ia membungkuk.
Melepas sepatu kiri.
Lalu kanan.
Saat berdiri kembali, map hitam yang dibawanya terlepas dan jatuh tepat di depan kaki Kalyana.
Bruk.
"..."
"..."
Aksara menutup mata sebentar.
"Bagus."
Kalyana mengerutkan dahi.
"Apanya?"
"Baru masuk sudah bikin gaduh."
Kalyana tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa."
"Untung bukan vas."
"Kalau vas..."
"..."
"...aku mungkin pulang."
Tawa kecil akhirnya benar-benar keluar dari bibir Kalyana.
Tidak keras.
Tetapi cukup membuat bahunya sedikit rileks.
Aksara memungut mapnya.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
Setelah masuk ke dalam paviliun, keduanya kembali diliputi keheningan.
Kalyana berdiri di dekat meja.
Aksara tetap berdiri beberapa langkah dari pintu.
Tak ada yang duduk.
Tak ada yang tahu harus mulai dari mana.
Kalyana berdeham pelan.
"Mau..."
"..."
"...minum?"
Begitu kalimat itu keluar, ia langsung menggigit bibir.
'Minum apa?'
'Harusnya sekalian ditawarkan.'
'Bukan cuma, mau minum?'
Aksara terlihat berpikir beberapa detik.
"Boleh."
"..."
"..."
Keduanya sama-sama diam lagi.
Lalu Aksara tersenyum canggung.
"Maksudku..."
"Aku belum tahu pilihannya."
Kalyana spontan menepuk dahinya sendiri.
"Astaga."
"Kenapa?"
"Aku lupa bilang."
Aksara ikut tertawa.
"Kayaknya kita sama-sama gugup."
"Iya."
"Padahal..."
"Apa?"
"...cuma ketemu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Cuma ketemu.
Kalau memang cuma bertemu...
Kenapa jantung mereka berdetak sekencang ini?
Kalyana segera membalikkan badan menuju dapur kecil.
"Teh?"
"Boleh."
"Atau kopi?"
"Kopi saja."
"Oke."
Ia sibuk menyiapkan air.
Mengambil dua cangkir.
Lalu berhenti.
‘Dia dulu suka kopi apa?’
Ia mengembuskan napas pelan.
‘Lya... berhenti.’
‘Itu lima tahun lalu.’
Di sisi lain ruangan, Aksara memperhatikan paviliun itu tanpa benar-benar melihat isinya.
Yang ia lihat justru perempuan yang sedang membelakanginya.
Rambut bergelombang yang dulu selalu diikat sembarangan kini dibiarkan terurai.
Gerakannya masih sama.
Cepat.
Teratur.
Dan... ketika gugup, bahu kirinya selalu sedikit menegang.
Ternyata...
Ada kebiasaan yang tidak berubah.
Aksara segera mengalihkan pandangan.
‘Jangan dilihatin terus.’
‘Nanti dia sadar.’
Keheningan kembali hadir.
"Aku sebenarnya nggak tahu kalau pemilik rumah ini adalah kamu."
Aksara memecahkan keheningan
Kalyana mengangkat alis.
"Memangnya kamu dapat informasinya dari mana?"
"Dari aplikasi penyewaan. Yang tercantum cuma nama depan pemilik dan kontaknya."
"Oh."
"Aku juga baru tahu setelah sampai."
Kalyana mengangguk pelan. Ia tiba-tiba merasa sedikit lega. Setidaknya pertemuan ini bukan sesuatu yang sengaja direncanakan Aksara.
"Kalau tahu dari awal, kamu tetap datang?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Aksara berpikir sebentar.
"Kalau rumahnya cocok, mungkin iya."
"Mungkin?"
"Iya. Tapi kalau tahu kamu yang punya..."
Ia berhenti.
Kalyana menunggu.
"...mungkin aku malah lebih gugup."
Kalyana terdiam.
Aksara melirik ke arah meja kecil di dekat sofa.
"Kontraknya nanti saja setelah aku lihat rumahnya?"
"Boleh."
"Kalau ada yang kurang?"
"Bilangkan saja."
Kalyana mengoreksi dirinya sendiri.
"Eh..kok bilangkan?" Ia tertawa kecil. "Maksudku, bilang saja."
Aksara ikut tertawa.
"Masih sama."
"Apa?"
"Kalau gugup, kamu suka ngomong lebih cepat."
Kalyana langsung terdiam.
"Kamu masih ingat?"
Aksara mengangkat bahu.
"Entah."
Jawaban itu terdengar ringan, tetapi membuat Kalyana tidak langsung membalas.
Ia kemudian menunjuk ke arah lorong.
"Kalau begitu, lihat dulu saja rumahnya."
Mereka bergerak pelan meninggalkan ruang tamu.
Bukan sebagai dua orang yang benar-benar asing.
Namun juga belum sebagai dua teman lama yang kembali dekat.
Hanya dua orang yang sedang belajar mengenali versi masing-masing setelah lima tahun.
Aksara segera mengalihkan pandangan ke dalam ruangan.
"Aku cuma bercanda."
"Kamu masih suka bercanda seperti dulu."
"Masih."
Jawabannya terlalu cepat.
Kalyana menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum.
Ia lalu menunjuk ke arah ruang tamu.
"Kalau begitu duduk dulu. Kita ngobrol sambil lihat kontraknya nanti."
Aksara mengangguk.
Ia duduk di ujung sofa, sementara Kalyana mengambil tempat di kursi seberangnya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tetapi keduanya tampak seperti sedang berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang salah.
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Aksara.
"Dari setelah lulus."
"Sendiri?"
"Awalnya tidak."
Kalyana berhenti sebentar.
"Rumah ini dulu lebih ramai."
Aksara tidak mengejar jawabannya.
Ia hanya mengangguk.
"Berarti banyak yang berubah."
"Iya."
Kalyana menatap sekeliling.
"Rumahnya masih sama."
"Yang berubah orang-orangnya?"
Kalyana tersenyum tipis.
"Mungkin."
Aksara ikut tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak pintu itu dibuka, mereka mulai menemukan cara berbicara tanpa harus mencari kalimat yang sempurna.
Dan ternyata... mereka masih cukup pandai melakukan itu bersama.
Di luar, angin sore menggerakkan tirai putih di jendela.
Aroma kopi mulai memenuhi ruangan.
Belum ada cerita tentang masa lalu.
Belum ada pertanyaan tentang lima tahun yang hilang.
Mereka berdua...
Masih sama-sama mencari keberanian untuk mengucapkan satu kalimat sederhana.
"Apa kabar selama ini?"
Kalimat yang ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.