Pukul delapan pagi.
Untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit terakhir, Kalyana Ayu Nareswari memindahkan pot monstera di teras paviliun.
Mundur dua langkah.
Memiringkan kepala ke kanan.
"Hm..."
Masih ada yang mengganjal.
Ia maju lagi, menggeser pot itu beberapa sentimeter ke kiri.
Mundur lagi.
Menghela napas puas.
"Nah."
Belum sempat berbalik, dahinya kembali berkerut.
"...kayaknya kebanyakan."
Pot itu bergeser lagi.
"Lya!"
Suara seseorang dari balik pagar membuatnya spontan menoleh.
Bu Tejo berdiri sambil membawa keranjang belanja anyaman bambu. Daster batik hijau yang dikenakannya bergoyang pelan diterpa angin pagi, sementara senyum lebarnya sudah mengembang bahkan sebelum sempat membuka mulut.
"Kalau dipindah terus begitu, nanti tanamannya protes."
Kalyana tertawa kecil.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi."
Bu Tejo melongok ke arah paviliun.
"Lho... kamu belum berangkat kerja?"
"Masuk siang hari ini."
"Oooh..."
Tatapan Bu Tejo berkeliling.
Lantai mengilap.
Jendela terbuka.
Tirai putih bergerak pelan.
Bahkan gagang pintu kuningan tampak baru dipoles.
"Kamu mau nerima tamu penting?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Mau ada calon penyewa lihat paviliun."
"Oalah..."
Bu Tejo mengangguk panjang.
"Wis, pantesan."
Beliau berjalan mendekati pagar.
"Makanya dari tadi saya lihat kamu muter-muter kayak mandor proyek."
"Memang lagi inspeksi."
"Inspeksi?"
"Iya."
Bu Tejo menunjuk pot monstera.
"Itu juga?"
"Iya."
"Yang salah apa?"
"..."
"Daunnya kurang menghadap kamera."
Bu Tejo menatap Kalyana beberapa detik.
Lalu tertawa sampai bahunya berguncang.
"Astaga... untung yang disewakan rumah."
"Lho?"
"Kalau suami, kasihan."
Kalyana mendesah pasrah.
"Bu..."
"Iya?"
"Jam segini sudah mulai ya?"
"Mulai apa?"
"Menjodohkan orang."
Bu Tejo memasang wajah polos.
"Lho, saya kan cuma berandai-andai."
"Itu namanya tetap menjodohkan."
"Ya habis..."
Beliau menunjuk halaman rumah yang luas.
"Rumah segede ini kalau malam sepi."
Kalimat itu membuat Kalyana terdiam sesaat.
Matanya tanpa sadar beralih ke bangunan utama.
Rumah peninggalan eyangnya berdiri anggun dengan pilar-pilar putih dan jendela kayu tinggi yang menghadap ke taman depan. Di sisi kanan, paviliun yang sedang ia bersihkan terhubung melalui koridor terbuka yang dinaungi tanaman rambat.
Rumah itu indah.
Terlalu indah untuk dihuni sendirian.
Angin bertiup pelan.
Beberapa bunga kamboja gugur di atas jalan setapak dari batu andesit.
"Aku sudah biasa, Bu."
Jawaban itu terdengar ringan.
Tapi Bu Tejo cukup lama mengenalnya untuk tahu...
Tidak semua kebiasaan berarti seseorang menikmatinya.
Beliau tidak melanjutkan pertanyaan.
Sebagai gantinya, beliau mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam keranjang.
"Nih."
"Apa ini?"
"Lemper ayam."
"Waduh... repot-repot."
"Enggak."
Bu Tejo menyodorkannya.
"Saya bikin kebanyakan."
Kalyana menerima sambil tersenyum.
"Terima kasih."
"Kalau penyewanya jadi ambil rumah ini..."
Beliau menatap kotak itu.
"Boleh dikasih satu."
"Lho?"
"Anggap bonus."
"Bu, ini bukan open house."
"Ya siapa tahu nanti betah."
"Betah sama rumahnya?"
Bu Tejo mengedip.
"Sama yang punya rumah."
"Bu Tejo..."
"Iya?"
"Tolong pulang."
Beliau tertawa puas.
"Nah, sekarang baru kelihatan hidup."
Setelah Bu Tejo pergi, suasana kembali tenang.
Kalyana masuk ke dalam paviliun.
Ruangan itu tidak besar.
Namun setiap sudutnya memiliki cerita.
Rak kayu jati di dekat jendela dibuat sendiri oleh eyangnya lebih dari tiga puluh tahun lalu. Lampu gantung rotan dibeli ibunya dari seorang perajin di Bantul. Meja bundar di tengah ruangan bahkan masih menyimpan goresan kecil bekas adiknya menjatuhkan obeng saat masih SMP.
Beberapa orang menyukai rumah baru.
Kalyana justru menyukai rumah yang memiliki jejak kehidupan.
Ia mengusap permukaan meja.
Bersih.
Bagus.
Pandangannya beralih ke jam dinding tua.
Jarum menitnya selalu terlambat dua menit.
Sudah berkali-kali diperbaiki.
Tetap saja begitu.
Eyang dulu hanya tertawa.
"Biar rumah ini punya sifat. Jangan semuanya sempurna."
Dulu Kalyana menganggap itu lucu.
Sekarang...
Ia mulai mengerti.
Tidak semua yang tua harus diperbaiki.
Ada yang cukup dirawat.
Ponselnya berdering.
"Selamat pagi, Mbak Lya."
Suara dari seberang membuat Kalyana langsung mengenali lawan bicaranya.
Raka.
Site engineer dari proyek restorasi rumah tinggal di kawasan Kotagede.
"Sudah di lokasi?"
"Sudah."
"Gimana kusennya?"
"Mereka tetap ngotot mau ganti semua."
Kalyana langsung menggeleng.
"Jangan."
"Padahal lebih cepat."
"Belum tentu lebih baik."
"Tapi retaknya banyak."
"Retak itu dilihat penyebabnya."
Ia mengambil pensil dari meja, lalu tanpa sadar menggambar potongan kusen di secarik kertas.
"Kalau retaknya cuma di lapisan luar, kita injeksi resin lalu diperkuat. Kayunya masih bisa dipertahankan."
"Kalau diganti baru?"
"Rumahnya kehilangan ceritanya."
Beberapa detik hening.
Lalu terdengar tawa kecil dari seberang.
"Makanya aku lebih senang kalau Mbak yang pegang proyek heritage."
"Lho?"
"Soalnya buat Mbak... bangunan itu kayak manusia."
Kalyana ikut tersenyum.
"Mungkin."
Setelah telepon ditutup, ia baru sadar sketsa kecil di tangannya berubah menjadi gambar sambungan kayu.
Ia tertawa pelan.
"Kebiasaan."
Ponselnya kembali bergetar.
Bukan telepon.
Sebuah notifikasi.
Dari aplikasi penyewaan properti.
A.G.P.
Selamat siang, Bu Kalyana. Saya sedang menuju lokasi. Mohon maaf jika sedikit lebih awal. Kalau tidak merepotkan, saya perkiraan tiba sekitar pukul 15.30.
Kalyana melihat jam.
Masih dua puluh menit lagi.
Ia mengetik balasan singkat.
Baik. Saya tunggu.
Setelah mengirim pesan itu, ia meletakkan ponsel di meja.
Lalu mengambilnya lagi.
Membaca ulang pesannya.
"Baik. Saya tunggu."
Tidak terlalu dingin, kan?
Ia menghapus napas panjang.
"Aduh..."
Kenapa dipikirin juga?
Orang itu hanya calon penyewa.
Bukan klien penting.
Bukan tamu keluarga.
Apalagi...
Ia menggeleng cepat.
"Nggak jelas."
Setengah jam kemudian...
Rumah kembali sunyi.
Angin sore mulai bertiup.
Bayangan pohon sawo perlahan bergeser menutupi anak tangga teras.
Di kejauhan terdengar suara lonceng sepeda dan pedagang es yang melintas.
Kalyana berdiri di depan pintu paviliun.
Entah kenapa ia kembali merapikan kerah kemejanya.
Padahal sejak tadi sudah rapi.
Ponselnya tetap diam.
Tidak ada pesan baru.
Mungkin orangnya tersesat.
Atau batal datang.
Ia baru saja hendak berbalik ketika...
Tok.
Kalyana berhenti melangkah.
Tok.
Ia menoleh ke arah pintu.
Tok.
Tiga ketukan.
Pelan.
Teratur.
Aneh...
Entah kenapa bunyi itu terasa begitu akrab.
Keningnya sedikit berkerut.
Jemarinya perlahan menggenggam gagang pintu.
Tanpa sadar...
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menarik napas.
Lalu...
Memutar kenop pintu perlahan.