Senin pagi selalu datang terlalu cepat.
Setidaknya begitu yang dirasakan Kalyana ketika alarm berbunyi pukul lima tiga puluh.
Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar beberapa saat, lalu menghela napas.
Akhir pekan terasa baru saja dimulai.
Sekarang sudah Senin lagi.
Kalyana bangkit dari tempat tidur dan membuka jendela. Udara pagi masuk bersama suara kendaraan yang mulai terdengar dari kejauhan.
Rumah masih tenang.
Ia menyukai waktu seperti itu.
Sebelum rumah dipenuhi suara. Sebelum pekerjaan mengambil sebagian besar pikirannya. Sebelum hari mulai meminta sesuatu darinya.
Setelah mandi dan bersiap, Kalyana turun ke dapur.
Mbok Sri sudah lebih dulu berada di sana. Aroma teh hangat bercampur dengan wangi roti yang baru keluar dari pemanggang.
“Pagi, Mbok.”
“Pagi, Mbak.”
Kalyana mengambil gelas dan menuangkan air.
“Sudah sarapan?” tanya Mbok Sri.
“Belum.”
“Ya jangan cuma minum.”
Kalyana tersenyum.
“Iya, Mbok.”
Ia baru hendak mengambil roti ketika dari arah luar terdengar suara pintu paviliun dibuka.
Kalyana langsung menoleh.
Aksara muncul beberapa saat kemudian dengan pakaian kerja. Kemeja putih dengan lengan yang belum dikancingkan sempurna, celana hitam, dan rambut yang masih sedikit berantakan.
“Pagi.”
“Pagi,” jawab Kalyana.
Aksara masuk ke dapur.
“Mbok.”
“Iya, Mas?”
“Masih ada kopi?”
“Ada.”
Mbok Sri mengambilkan kopi.
Aksara berdiri menunggu sambil menggulung sedikit lengan kemejanya.
Kalyana yang tadinya hendak mengambil roti justru memperhatikannya sebentar.
Suara pintu paviliun.
Langkah kaki melewati teras.
Lalu kopi sebelum berangkat kerja.
Entah sejak kapan urutan kecil itu menjadi sesuatu yang dikenalnya.
Mungkin karena sekarang mereka tinggal di tempat yang sama.
Wajar.
Aksara menerima kopi dari Mbok Sri.
“Terima kasih, Mbok.”
Ia menyesap sedikit, lalu menoleh kepada Kalyana.
“Kamu berangkat sekarang?”
“Iya.”
“Jam berapa pulang?”
Kalyana mengangkat bahu.
“Belum tahu. Kamu?”
“Aku juga belum tahu. Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini.”
“Bisa sampai malam?”
“Mungkin.”
Kalyana mengangguk.
“Jangan lupa makan.”
Aksara menatapnya sebentar.
“Iya.”
Ia menghabiskan kopinya, lalu mengambil tas.
“Aku berangkat dulu.”
“Iya.”
Aksara baru beberapa langkah ketika menoleh lagi.
“Nanti kalau pulang telat, aku kabari.”
Kalyana mengangkat wajah.
“Kenapa kabari aku?”
Aksara berhenti sejenak.
“Nggak tahu.”
Kalyana menahan senyum.
“Ya kalau mau.”
“Baik.”
“Hati-hati.”
Aksara tersenyum.
“Kamu juga.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara mesin mobil menjauh.
Kalyana mengambil tasnya.
“Mbak.”
“Iya?”
“Rotinya.”
Kalyana menoleh pada roti yang masih tersisa di meja.
“Oh.”
Mbok Sri menggeleng.
“Pikirannya sudah sampai kantor.”
Kalyana mengambil roti itu.
“Mungkin.”
Untung Mbok Sri tidak bertanya lebih jauh.
----------
Kalyana tiba di kantor beberapa menit sebelum pukul delapan.
Begitu duduk, ia langsung membuka laptop dan memeriksa agenda hari itu.
Ada rapat internal pada pagi hari, beberapa dokumen yang harus ditinjau, satu laporan yang harus diperbaiki, dan foto kondisi bangunan yang dikirim tim lapangan Jumat sore.
Senin kembali menjadi Senin.
Kalyana membuka salah satu foto.
Sebuah gedung yang sedang mereka evaluasi terlihat cukup baik dari luar. Namun ketika foto diperbesar, beberapa masalah mulai terlihat.
Retakan tipis.
Bekas rembesan.
Cat yang mulai mengelupas.
Tidak ada yang tampak mendesak. Tetapi Kalyana tahu masalah besar sering berawal dari sesuatu yang dianggap terlalu kecil untuk diperhatikan.
“Sudah mulai?”
Hans muncul sambil meletakkan tas di mejanya.
“Sudah.”
“Senin pagi sekali.”
“Memangnya harus menunggu siang?”
“Setidaknya kasih kesempatan otak menerima kenyataan kalau weekend sudah selesai.”
Kalyana tertawa.
“Itu urusan otakmu.”
Hans duduk.
“Kejam.”
“Realistis.”
“Lebih kejam lagi.”
Kalyana kembali melihat layar.
Beberapa menit kemudian mereka sudah tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.
--------------
Rapat dimulai pukul sembilan.
Foto-foto yang tadi diperiksa Kalyana muncul di layar ruang rapat.
“Secara umum kondisi bangunannya masih cukup baik,” katanya. “Belum ada indikasi kerusakan besar yang membutuhkan tindakan segera.”
Ia mengganti foto.
“Yang perlu diperhatikan justru masalah-masalah kecil yang belum ditangani secara konsisten.”
Salah satu anggota tim menunjuk layar.
“Yang ini rembesan?”
“Indikasinya begitu.”
“Langsung perbaikan waterproofing?”
Kalyana menggeleng.
“Belum tentu. Kita cari sumbernya dulu. Jangan sampai kita memperbaiki area ini, ternyata air masuk dari titik lain.”
Hans mengangguk.
“Berarti perlu pengecekan lapangan lagi.”
“Iya.”
Foto berikutnya muncul. Bagian bawah sebuah pintu terlihat mulai bergesekan dengan lantai.
“Ini juga sama,” lanjut Kalyana. “Jangan langsung memutuskan pintunya harus diganti. Kita cek penyebabnya dulu. Bisa engsel, bisa daun pintunya berubah bentuk, atau ada penyebab lain.”
“Kalau memang sudah rusak?”
“Baru kita lihat lebih efektif diperbaiki atau diganti.”
Pembahasan berlanjut.
Kalyana tidak menyukai keputusan yang dibuat terlalu cepat.
Baginya, memperbaiki tidak selalu berarti mengganti.
Kadang sesuatu hanya membutuhkan perhatian yang tepat.
--------------
Menjelang makan siang, Kalyana kembali ke mejanya.
Hans datang beberapa menit kemudian membawa dua gelas kopi.
“Yang satu buat kamu.”
Kalyana menerimanya.
“Terima kasih.”
“Kamu sudah selesai laporan yang kemarin?”
“Hampir. Aku masih mau cek satu data.”
Hans menarik kursi.
“Kamu kalau menemukan satu angka yang nggak cocok memang nggak akan berhenti sebelum ketemu penyebabnya.”
“Kalau salah analisis, yang repot nanti kita juga.”
“Makanya aku nggak pernah mau debat sama kamu kalau soal angka.”
“Bagus.”
Hans mengangguk serius.
“Tapi kalau soal kopi, aku tetap merasa kopiku lebih enak.”
Kalyana melihat gelas di tangannya.
“Kamu yang bikin?”
Hans terdiam.
“Nggak.”
“Terus?”
“Aku yang beli.”
Kalyana tertawa.
“Itu bukan kopimu.”
“Yang memilih aku.”
“Tetap bukan.”
Hans menggeleng.
“Susah.”
“Apa?”
“Menang debat sama kamu.”
“Katanya tadi nggak mau debat.”
Hans terdiam sebentar.
“Benar juga.”
Kalyana tertawa lagi.
Hans akhirnya kembali ke mejanya.
Percakapan itu berhenti begitu saja.
Tidak ada hal pribadi yang dibicarakan. Tidak ada yang perlu diceritakan.
Masing-masing kembali bekerja.
----------
Sore hari, sebagian besar orang mulai membereskan meja ketika Kalyana masih menatap laptop.
Ia membaca kembali satu paragraf dalam laporan sebelum mengubah beberapa kalimat.
Ponselnya bergetar.
Kalyana melirik layar.
Aksara
Ia mengambil ponselnya.
Aku pulang agak telat.
Kalyana membaca pesan itu.
Pagi tadi Aksara memang mengatakan akan mengabarinya jika pulang terlambat.
Ternyata benar-benar dilakukan.
Sudut bibirnya terangkat.
Ia mengetik.
Oke.
Jarinya berhenti sebentar.
Jangan lupa makan.
Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian layar kembali menyala.
Iya. Kamu juga.
Kalyana tersenyum.
Sederhana.
Tidak ada yang istimewa dari dua kalimat itu.
Ia bisa mengatakan hal yang sama kepada Mbok Sri, Pak Darmo, atau teman-temannya.
Perhatian biasa.
Kalyana meletakkan ponsel dan kembali pada laporan.
Beberapa menit kemudian ia berhasil menyelesaikan paragraf yang tadi tertunda.
Kali ini ia tidak memikirkan pesan itu lagi.
Setidaknya untuk sementara.
----------
Menjelang pukul enam, Kalyana akhirnya menutup laptop.
Ia memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas lalu berjalan menuju lift.
Koridor sudah jauh lebih sepi.
Ketika pintu lift terbuka, Kalyana masuk seorang diri.
Ia menekan tombol lantai dasar.
Hari yang panjang.
Pikirannya berpindah pada hal-hal yang masih harus dilakukan besok, lalu pada makan malam.
Mbok Sri pasti sudah menyiapkan sesuatu.
Kemudian, tanpa alasan khusus, ia teringat pesan Aksara.
Pulang agak telat.
Berarti saat ia sampai di rumah, paviliun mungkin masih gelap.
Pintu lift terbuka.
Kalyana keluar sambil menggeleng kecil.
Ia benar-benar sudah terlalu hafal keadaan rumah belakangan ini.
-------
Ketika Kalyana sampai di rumah, dugaannya benar.
Paviliun masih gelap.
Ia membuka pintu rumah utama dan meletakkan tas di ruang keluarga.
Dari bagian belakang terdengar suara Mbok Sri.
“Sudah pulang, Mbak?”
“Sudah, Mbok.”
“Makanannya sudah di meja.”
“Iya. Makasih, Mbok.”
Kalyana berjalan menuju dapur.
Makan malam sudah tersedia di bawah tudung saji. Ia mengambil piring dan mulai makan.
Rumah terasa tenang.
Tidak benar-benar sepi. Mbok Sri masih berada di bagian belakang rumah, suara televisi kecil dari kamarnya sesekali terdengar.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Kalyana mengambil suapan berikutnya.
Pandangannya jatuh ke jendela.
Sebagian paviliun terlihat dari sana.
Gelap.
Biasanya pada jam seperti itu lampu sudah menyala.
Kalyana kembali makan.
Mungkin karena seharian bekerja, pikirannya hanya belum benar-benar meninggalkan kantor.
Setelah selesai, ia membawa piring ke dapur dan mencucinya.
Ia baru selesai mengeringkan tangan ketika suara kendaraan terdengar dari luar.
Kalyana berhenti.
Lampu mobil menyapu sebagian halaman sebelum akhirnya padam.
Aksara pulang.
Tanpa sadar bahunya terasa lebih ringan.
Kalyana menatap keluar melalui jendela.
Aksara turun dari mobil sambil membawa tas kerja. Dari gerakannya terlihat ia cukup lelah.
Setelah menutup pintu mobil, laki-laki itu berjalan menuju paviliun.
Kalyana tidak keluar.
Tidak juga memanggilnya.
Beberapa detik kemudian lampu paviliun menyala.
Barulah Kalyana meninggalkan dapur.
Ia mengambil buku yang tadi diletakkan di ruang keluarga lalu duduk di sofa.
Rumah kembali tenang.
Sama seperti beberapa menit sebelumnya.
Tetapi tidak benar-benar sama.
Kalyana membuka bukunya.
Baru saat itulah ia menyadari sesuatu yang sangat sederhana.
Beberapa minggu lalu, gelap atau terangnya paviliun di belakang rumah tidak pernah berarti apa-apa.
Sekarang ia tahu kapan pintunya dibuka.
Mengenali suara langkah penghuninya.
Bahkan tahu ketika orang itu belum pulang.
Kalyana menatap halaman buku.
Kehadiran Aksara mulai menjadi bagian dari kesehariannya.
Dan malam itu, tanpa perlu memikirkan alasannya terlalu jauh, ia menyadari satu hal lagi.
Ketidakhadirannya ternyata membuat rumah terasa sedikit berbeda.