Pukul lima lewat dua belas ketika Aksara membuka mata.
Dari balik jendela paviliun, langit masih berwarna biru gelap. Suara kendaraan belum terlalu ramai, hanya sesekali terdengar dari jalan depan.
Ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur.
Tidak ada pesan penting.
Seharusnya pikirannya sudah berada pada gambar kerja yang belum selesai dan rapat menjelang siang.
Entah kenapa, yang justru muncul pertama kali adalah pesan Kalyana kemarin sore.
Jangan lupa makan.
Aksara mengembuskan napas kecil, lalu bangun.
-------
Setelah mandi, Aksara keluar dari paviliun.
Udara pagi masih dingin. Embun menempel pada daun-daun di taman dan tanah di beberapa bagian halaman terlihat sedikit basah.
Pintu dapur rumah utama sudah terbuka.
Aroma bawang goreng dan telur memenuhi udara.
“Pagi, Mbok.”
“Pagi, Mas.”
“Ada kopi?”
“Baru mau bikin.”
Aksara menarik kursi.
“Pas.”
Mbok Sri menoleh.
“Mas sarapan sekalian?”
“Nanti saja.”
“Kalau nanti, biasanya lupa.”
Aksara tertawa.
“Mbok kok tahu?”
“Ya tahu.”
Belum sempat Aksara menjawab, suara langkah terdengar dari arah ruang tengah.
Kalyana masuk ke dapur dengan tas kerja di bahu. Rambutnya diikat sederhana, kemeja biru muda dipadukan dengan celana panjang hitam.
“Pagi.”
“Pagi,” jawab Aksara.
Kalyana melihat meja.
“Belum sarapan?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Belum lapar.”
Kalyana mengambil satu potong roti.
“Alasan.”
Aksara menatapnya.
“Kok sama kayak Mbok Sri?”
“Berarti dua orang bilang hal yang sama.”
“Belum tentu benar.”
Kalyana menggigit rotinya.
“Ya sudah.”
Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti.
“Jangan lupa sarapan, Aksa.”
Aksara menoleh.
“Iya.”
Kalyana pergi begitu saja.
Beberapa detik kemudian terdengar pintu depan dibuka.
Mbok Sri meletakkan secangkir kopi di depan Aksara.
“Rotinya, Mas.”
Aksara melihat piring, kemudian mengambil satu.
Mbok Sri tersenyum kecil.
Aksara mengangkat alis.
“Kenapa, Mbok?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Ia kembali ke kompor.
Aksara menggigit rotinya.
Tidak ada yang aneh.
Ia memang harus sarapan.
---------
Kantor sudah mulai ramai ketika Aksara tiba.
Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu membuka gambar yang semalam belum selesai.
Sebuah kompleks bangunan memenuhi layar.
Garis-garis tipis membentuk ruang, koridor, akses kendaraan, dan area terbuka.
Aksara memperbesar salah satu bagian.
Ada satu garis sirkulasi yang mengganggunya sejak kemarin.
Secara teknis tidak salah.
Tetapi terasa tidak tepat.
Ia menggeser beberapa titik.
Menghapus.
Menggambar ulang.
Masih belum.
“Pagi-pagi sudah berantem sama garis?”
Suara Rendra terdengar dari belakang.
Aksara menoleh.
“Pagi.”
Rendra meletakkan gelas kopi di mejanya sendiri, lalu mendekat.
“Yang mana?”
Aksara menunjuk layar.
“Ini.”
“Kenapa?”
“Flow-nya nggak enak.”
“Secara fungsi?”
“Masuk.”
“Terus?”
Aksara bersandar.
“Ya nggak enak saja.”
Rendra menatap layar beberapa detik.
“Kalau klien dengar alasan itu, bagus.”
Aksara tertawa.
“Makanya bukan lo yang presentasi.”
“Kurang ajar.”
Rendra menunjuk layar.
“Coba kasih ruang lebih di sini.”
“Sudah.”
“Berarti belum ketemu.”
Aksara mengangguk.
Rendra kembali ke mejanya.
“Jangan dipaksa. Nanti malah makin nggak ketemu.”
Aksara menatap layar lagi.
Kadang sebuah garis memang tidak salah.
Hanya belum menemukan tempat yang tepat.
------
Rapat menjelang siang berjalan lebih lama dari jadwal.
Ketika pembahasan sampai pada gambar yang dikerjakan Aksara, ia hanya memberi satu catatan.
“Bagian ini belum final.”
“Masalah teknis?”
“Bukan. Secara teknis bisa, tapi sirkulasinya belum nyaman.”
“Alternatif?”
“Aku masih cari.”
Rendra menyela dari ujung meja.
“Kita kasih waktu sampai besok.”
Aksara mengangguk.
Tidak semua hal harus diputuskan hanya karena jadwal meminta jawaban.
Kadang memaksakan sesuatu selesai justru membuat hasil akhirnya terasa salah.
-------
Sore menjelang ketika Aksara akhirnya menemukan solusinya.
Ia tidak mengubah banyak.
Hanya memindahkan satu jalur beberapa meter dan memberi ruang lebih besar di sisi lainnya.
Sederhana.
Aksara bersandar dan menatap layar.
“Ketemu?”
Rendra bertanya dari meja sebelah.
“Kayaknya.”
Rendra mendekat.
“Nah.”
“Kenapa tadi nggak kepikiran?”
“Karena dari tadi lo maksa garisnya tetap di situ.”
Rendra menunjuk layar.
“Begitu dikasih ruang, beres.”
Aksara tertawa kecil.
“Tumben bijak.”
“Bayar konsultasi.”
“Besok.”
“Selalu besok.”
Rendra kembali ke mejanya.
Aksara menyimpan file.
Ponselnya yang tergeletak di samping keyboard menyala.
Sebuah pesan masuk. Dari Kalyana.
Pulang normal hari ini?
Tanpa sadar Aksara tersenyum.
Harusnya.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Harusnya itu jam berapa?
Aksara mengetik.
Jam manusia pulang kerja.
Definisi manusia berbeda-beda.
Aksara tertawa kecil.
Rendra menoleh.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Ketawa sendiri.”
“Kerja sana.”
Rendra mengangkat kedua tangan.
Aksara kembali melihat ponsel.
Sekitar jam enam.
Kalyana membalas.
Oke.
Hanya itu.
Aksara meletakkan ponselnya dan kembali bekerja.
------
Ia benar-benar meninggalkan kantor sekitar pukul enam.
Jalanan cukup padat. Lampu kendaraan memenuhi beberapa persimpangan dan aroma makanan dari deretan warung masuk ketika ia membuka sedikit kaca mobil.
Ketika memasuki jalan menuju rumah Nareswari, suasana berubah lebih tenang.
Lampu teras rumah utama sudah menyala ketika ia tiba.
Pak Darmo tentu sudah pulang.
Aksara membuka pagar, memasukkan mobil, lalu menutupnya kembali.
Ia baru mengambil tas ketika pintu rumah utama terbuka.
Kalyana muncul.
“Kamu benar-benar pulang di jam manusia.”
Aksara tertawa.
“Kan sudah kubilang.”
“Kukira definisinya berubah di tengah jalan.”
“Belum.”
Aksara berjalan mendekati teras.
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Aksara melihat jam.
“Belum?”
“Tadi belum lapar.”
“Sekarang?”
Kalyana melihat meja makan yang terlihat dari pintu.
“Sekarang kayaknya lapar.”
Aksara mengangguk.
“Ya sudah. Aku ganti baju dulu.”
“Iya.”
“Jangan makan dulu.”
Kalyana menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku juga lapar.”
“Ya cepat sana.”
Aksara tertawa lalu berjalan menuju paviliun.
Kalyana masuk kembali ke rumah.
Tidak ada yang mengatakan akan menunggu siapa-siapa.
Tetapi lima belas menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan yang sama.
-------
Mbok Sri sudah menyiapkan sayur asem, ayam goreng, tempe, dan sambal sebelum beristirahat di kamar belakang.
Aksara mengambil ayam goreng.
“Enak?”
Kalyana menatapnya.
“Kamu belum makan.”
“Sayur asemnya.”
Kalyana mencicipi.
“Enak.”
“Baru percaya.”
“Memangnya Mbok Sri pernah masak nggak enak?”
Aksara berpikir.
“Belum.”
“Nah.”
Mereka makan sambil membicarakan hari masing-masing.
Kalyana bercerita tentang beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan timnya. Aksara bercerita tentang satu garis sirkulasi yang membuatnya kesal hampir seharian.
“Cuma gara-gara satu garis?” tanya Kalyana.
“Bukan garisnya.”
“Terus?”
“Posisinya.”
Kalyana mengangguk.
“Kadang memang begitu.”
“Apa?”
“Sesuatu kelihatannya nggak salah, tapi tetap terasa nggak pas.”
Aksara berhenti sebentar.
“Iya.”
“Terus akhirnya?”
“Digeser.”
“Beres?”
“Beres.”
Kalyana mengambil sayur.
“Berarti dari awal cuma salah tempat.”
Aksara menatapnya beberapa detik.
“Mungkin.”
Kalyana sudah kembali pada makanannya.
Percakapan berganti.
Tidak ada sesuatu yang penting.
Tidak ada yang harus dibicarakan lebih jauh.
------
Setelah makan, Kalyana membawa piring ke dapur.
Aksara mengikutinya sambil membawa mangkuk.
“Taruh situ saja,” kata Kalyana.
“Aku bantu.”
“Besok pagi bisa dicuci Mbok Sri.”
“Cuma dua piring.”
Aksara membuka keran.
Kalyana menatapnya.
“Kamu cuci?”
“Kenapa?”
“Tumben.”
“Aku bisa cuci piring.”
“Aku nggak bilang nggak bisa.”
“Wajahmu bilang.”
Kalyana tertawa.
“Tercetak jelas di wajah aku?”
Aksara menoleh.
Keduanya teringat percakapan beberapa hari sebelumnya.
Kalyana lebih dulu tertawa.
“Jangan ditiru.”
“Kalimat bagus sayang kalau nggak dipakai.”
Mereka menyelesaikan piring bersama.
Setelah itu Aksara kembali ke paviliun.
Ia membuka laptop untuk memeriksa satu file sebelum tidur.
Gambar yang tadi diselesaikannya muncul di layar.
Satu garis bergeser.
Ruang di sekitarnya berubah.
Aksara menatap layar beberapa saat.
Entah kenapa ia teringat makan malam tadi.
Pesan Kalyana.
Pintu rumah yang terbuka ketika ia datang.
Dua piring di meja.
Hal-hal sederhana.
Tidak ada satu pun yang terasa perlu dipikirkan terlalu jauh.
Untuk pertama kalinya setelah kembali ke Jogja, hidupnya terasa menemukan ritme yang mudah.
Pekerjaan.
Rumah.
Kalyana.
Nama terakhir itu muncul begitu saja di antara dua hal lainnya.
Aksara tidak mempertanyakannya.
Baginya, tidak semua hal yang terasa nyaman harus segera diberi nama.
Ada garis-garis yang bisa dibiarkan berada di tempatnya sampai seseorang benar-benar merasa perlu mengubahnya.
Dan malam itu, Aksara belum merasa perlu.