Minggu pagi berjalan lebih lambat.
Aksara membuka mata pukul enam lewat dua puluh.
Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada jadwal site visit atau pekerjaan yang membuatnya harus bergegas.
Ia berbaring beberapa menit sebelum akhirnya bangun dan mengenakan pakaian olahraga.
Ketika keluar dari paviliun, Pak Darmo sudah berada di halaman, menyiram tanaman.
“Pagi, Pak.”
“Pagi, Mas.”
Aksara melihat ke arah rumah utama.
“Lya sudah bangun?”
Pak Darmo menunjuk rumah dengan dagunya.
“Sudah. Malah sudah selesai olahraga dari tadi.”
Aksara mengangguk.
“Oh.”
“Mas kesiangan.”
Aksara tertawa.
“Ini hari Minggu, Pak.”
“Ya makanya.”
Aksara tidak tahu apa hubungan kedua hal itu.
Ia baru beberapa langkah menuju pagar ketika suara Kalyana terdengar dari belakang.
“Aksa.”
Ia menoleh.
Kalyana berdiri di teras. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.
“Baru mau lari?”
“Iya.”
“Jam segini?”
“Masih pagi.”
“Aku sudah selesai.”
Aksara tersenyum.
“Aku nggak mau mengejar siapa-siapa.”
Kalyana mengangkat alis.
“Siapa bilang aku mau dikejar?”
Aksara terdiam sepersekian detik, lalu tertawa.
“Pagi-pagi sudah galak.”
“Bukan galak. Memberikan informasi.”
“Baik.”
Aksara mengangkat tangan seolah menyerah.
“Terima kasih informasinya, Lya.”
Kalyana menahan senyum.
Aksara kembali berjalan menuju pagar.
“Jangan lama-lama!” seru Kalyana.
Aksara menoleh.
“Kenapa?”
“Sarapan.”
“Oh.”
“Mbok Sri bikin gudeg.”
Aksara berhenti.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Katanya mau lari.”
Aksara menggeleng lalu mulai berlari.
Kalyana tertawa melihatnya.
Aroma gudeg memenuhi ruang makan ketika Aksara kembali.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia bergabung dengan Kalyana, Pak Darmo, dan Mbok Sri di meja makan.
Nasi hangat, gudeg, krecek, telur pindang, ayam opor, tahu, dan sambal memenuhi meja.
Aksara baru saja mengambil nasi ketika Kalyana bertanya,
“Jam berapa mau berangkat?”
“Sekitar sepuluh.”
“Ke rumah orang tuamu?”
Aksara mengangguk.
“Ibu sudah mengingatkan dua kali.”
“Berarti penting.”
“Tante Ratna datang.”
Kalyana mengambil sedikit krecek.
“Oh.”
Aksara melanjutkan makan.
“Nabila juga ikut.”
Tangan Kalyana berhenti sesaat sebelum mengambil telur.
Hanya sesaat.
“Nabila?”
“Anaknya Tante Ratna.”
Kalyana mengangguk.
Nama yang pernah disebut Aksara beberapa hari lalu.
Entah kenapa ia mengingatnya.
“Sudah lama kenal?”
“Lumayan. Keluarga kami sudah kenal lama.”
“Oh.”
Mbok Sri meletakkan sepiring tempe goreng di meja.
“Mas Aksara tambah nasinya.”
“Belum habis, Mbok.”
“Ya nanti.”
Kalyana tersenyum kecil.
Percakapan berganti begitu saja.
Tentang pohon mangga Pak Darmo yang mulai berbunga, harga bahan makanan, dan gudeg Mbok Sri yang menurut Aksara membuat larinya pagi itu sia-sia.
Nama Nabila tidak disebut lagi.
Namun anehnya, nama itu tertinggal sebentar di kepala Kalyana.
Menjelang pukul sepuluh, Aksara sudah siap berangkat.
Kalyana sedang membaca di ruang tengah ketika ia melewati pintu depan.
“Aku berangkat.”
Kalyana mengangkat wajah.
“Iya.”
“Mungkin sore baru pulang.”
Kalyana menatapnya.
“Kenapa lapor ke aku?”
Aksara terdiam.
“Iya juga.”
Kalyana tertawa.
“Pergi sana.”
Aksara ikut tertawa.
“Ya sudah. Aku pergi.”
“Hati-hati.”
Beberapa saat kemudian suara mobilnya terdengar meninggalkan halaman.
Kalyana kembali melihat buku.
Satu halaman dibaca.
Kemudian halaman berikutnya.
Baru beberapa menit kemudian ia menyadari dirinya tidak benar-benar memahami apa yang baru saja dibaca.
Ia kembali ke halaman sebelumnya.
Rumah orang tua Aksara berjarak sekitar dua puluh menit dari rumah Nareswari.
Ketika ia tiba, suara percakapan sudah terdengar dari ruang keluarga.
Ratih muncul begitu melihatnya.
“Akhirnya.”
Aksara melihat jam.
“Belum jam sebelas, Bu.”
“Ibu bilang datang pagi.”
“Ini masih pagi.”
Ratih menggeleng.
“Masuk. Tante Ratna sudah datang.”
Aksara masuk ke ruang keluarga.
Ratna langsung tersenyum lebar ketika melihatnya.
“Aksa.”
Aksara ikut tersenyum.
“Tante Ratna.”
“Kapan terakhir Tante lihat kamu? Makin susah ditemui.”
“Kan saya di Jakarta, Tante.”
“Sekarang sudah di Jogja, alasannya apa?”
Aksara tertawa.
“Belum punya.”
Dari sofa di sebelahnya terdengar suara perempuan.
“Mama, baru juga Aksa datang sudah diinterogasi.”
Aksara menoleh.
Nabila berdiri.
Rambut sebahunya tertata sederhana. Blus berpotongan modern dipadukan dengan celana panjang, membuat penampilannya terlihat santai tetapi rapi.
“Nabila.”
“Akhirnya ingat juga.”
Aksara tertawa.
“Memangnya aku pernah lupa?”
“Chat terakhirku dibalas tiga hari.”
“Aku kerja.”
Nabila mengangkat alis.
“Semua orang juga kerja, Aksa.”
Ratna tertawa.
“Nah, ada yang akhirnya ngomelin kamu selain ibumu.”
Aksara duduk di sofa.
“Saya datang ke sini ternyata salah strategi.”
Nabila tersenyum.
“Terlambat.”
Percakapan mengalir dengan mudah.
Mereka memang sudah saling mengenal cukup lama. Tidak sampai menjadi sahabat dekat, tetapi cukup untuk tidak membutuhkan basa-basi setiap kali bertemu.
Nabila bekerja sebagai Public Relations Manager di sebuah perusahaan. Pekerjaannya membuatnya terbiasa bertemu banyak orang, menghadiri berbagai acara, dan sesekali bepergian ke luar kota.
“Makanya aku heran kamu betah kerja di balik gambar sama angka,” kata Nabila.
“Gambar dan angka nggak banyak ngomong.”
“Pantas kamu suka.”
Aksara tertawa.
Ratih dan Ratna yang duduk tidak jauh dari mereka saling berpandangan.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Makan siang berlangsung ramai.
Ratih dan Ratna lebih banyak mengenang cerita lama. Sesekali nama ayah Aksara ikut disebut, membuat percakapan bergeser ke kejadian-kejadian bertahun-tahun lalu.
Nabila beberapa kali protes ketika cerita masa kecilnya ikut dibongkar.
“Ma, itu nggak perlu diceritain.”
“Kenapa? Lucu.”
“Lucu buat Mama.”
Aksara tertawa.
Nabila langsung menoleh.
“Kok kamu ikut ketawa?”
“Aku cuma pendengar.”
“Pendengar yang terlalu bahagia.”
“Kesempatan langka.”
Nabila menyipitkan mata.
“Lihat saja nanti kalau Tante Ratih mulai cerita tentang kamu.”
Aksara langsung menoleh kepada ibunya.
“Ibu jangan macam-macam.”
Ratih tersenyum tenang.
“Ibu belum ngomong apa-apa.”
Siang itu tidak ada percakapan serius.
Tidak ada pembicaraan tentang pasangan.
Tidak pula ada upaya terang-terangan untuk mendekatkan Aksara dan Nabila.
Hanya dua keluarga lama yang kembali menghabiskan waktu bersama.
Dan dua orang dewasa yang kebetulan sudah cukup lama saling mengenal.
Di rumah Nareswari, Minggu berjalan seperti biasa.
Pak Darmo sudah pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Mbok Sri berada di bagian belakang rumah, sementara Kalyana menghabiskan sebagian siang dengan membaca.
Menjelang sore, Bu Tejo datang membawa sepiring pisang goreng.
“Banyak sekali, Bu.”
“Buat Mbok Sri juga.”
Kalyana mengambil satu.
“Mas Aksara mana?”
“Ke rumah orang tuanya.”
“Oh.”
Bu Tejo tidak bertanya lebih jauh.
Setelah Bu Tejo pulang, Kalyana membawa piring itu ke dapur.
Mbok Sri mengambil beberapa.
“Mbak nggak makan lagi?”
“Nanti.”
Kalyana melihat sisa pisang goreng.
Tangannya sempat hendak menutup wadah, kemudian berhenti.
“Mbok, sisain beberapa, ya.”
“Buat Mas Aksara?”
Kalyana menoleh.
“Iya. Biar dia nyobain.”
Mbok Sri mengangguk begitu saja.
Kalyana kembali ke ruang tengah.
Baru setelah duduk, ia memikirkan jawabannya sendiri.
Biar dia nyobain.
Ya, memang itu alasannya.
Tidak ada yang aneh.
Aksara meninggalkan rumah orang tuanya menjelang sore.
Sebelum ia masuk mobil, Ratih sempat menyusulnya.
“Minggu depan pulang lagi.”
Aksara menatap ibunya.
“Belum juga pergi.”
“Biar ingat.”
“Iya, Bu.”
Ratih tersenyum.
“Nabila tadi ngajak kamu ke acara kantornya, kan?”
“Bulan depan.”
“Datang kalau sempat.”
Aksara membuka pintu mobil.
“Lihat jadwal.”
Ratih tidak melanjutkan.
Aksara pun tidak memikirkannya lebih jauh.
Baginya, hari itu hanyalah makan siang keluarga.
Menyenangkan.
Santai.
Tidak lebih.
Menjelang petang, Kalyana sedang duduk di teras ketika suara mobil terdengar memasuki halaman.
Ia otomatis mengangkat wajah.
Aksara turun dari mobil.
Begitu melihat Kalyana, ia berjalan mendekat.
“Belum masuk?”
“Masih enak di luar.”
Aksara duduk di kursi kosong.
“Capek?” tanya Kalyana.
“Nggak. Cuma kenyang.”
“Makan banyak?”
“Namanya juga di rumah.”
Kalyana mengangguk.
Ia hendak kembali melihat buku di tangannya.
Entah kenapa sebuah pertanyaan justru keluar lebih dulu.
“Nabila juga sampai sore?”
Aksara menoleh.
“Iya. Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Oh.”
Hening beberapa detik.
Kalyana membuka halaman bukunya.
“Dia kerja apa?”
“PR Manager.”
“Oh.”
“Kenapa?”
Kalyana menatapnya.
“Memangnya nggak boleh tanya?”
“Boleh.”
“Ya sudah.”
Aksara tersenyum kecil.
Kalyana kembali menatap buku.
“Di dapur ada pisang goreng.”
“Mbok Sri bikin?”
“Bu Tejo.”
Aksara langsung berdiri.
“Masih ada?”
“Ada.”
Kalyana berhenti sebentar.
“Aku sisain.”
Aksara menoleh.
“Buat aku?”
Kalyana baru seperti menyadari kalimatnya sendiri.
“Ya... daripada habis.”
Senyum muncul di wajah Aksara.
“Makasih, Lya.”
Kalyana mengangkat bahu.
“Cuma pisang goreng.”
“Iya.”
Aksara berjalan menuju rumah.
Kalyana menatap punggungnya beberapa detik sebelum kembali pada buku.
Cuma pisang goreng.
Tentu saja.
Tapi beberapa menit sebelumnya, ia juga bertanya tentang Nabila.
Kalyana mengerutkan kening.
Kenapa ia ingin tahu?
Mungkin karena nama itu sudah beberapa kali disebut.
Wajar kalau penasaran.
Ia kembali membaca.
Dari dalam rumah terdengar suara Aksara berbicara dengan Mbok Sri, disusul tawa keduanya.
Tanpa sadar Kalyana tersenyum.
Minggu itu memang berjalan tanpa terburu-buru.
Tidak ada sesuatu yang besar terjadi.
Hanya satu nama yang mulai tinggal sedikit lebih lama di pikiran Kalyana.
Dan beberapa pisang goreng yang entah sejak kapan ia putuskan untuk disisihkan bagi seseorang.