Sabtu pagi datang tanpa alarm.
Kalyana membuka mata ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.
Enam lewat sedikit.
Tidak ada meeting.
Tidak ada laporan yang harus dibuka pagi-pagi.
Tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Beberapa menit kemudian ia sudah mengenakan pakaian olahraga dan keluar rumah.
Udara pagi masih sejuk. Pak Darmo sudah berada di halaman, sibuk memangkas beberapa daun kering.
“Pagi, Pak.”
“Pagi, Nduk.”
“Rajin sekali hari Sabtu.”
Pak Darmo berhenti sejenak.
“Tanaman nggak tahu hari Sabtu.”
Kalyana tertawa.
“Benar juga.”
Ia mulai berlari pelan meninggalkan rumah.
Jalan di sekitar kompleks masih relatif sepi. Beberapa orang menyapu halaman, pedagang bubur ayam melayani pembeli di ujung jalan, sementara aroma masakan dari rumah-rumah mulai terbawa udara pagi.
Setelah beberapa ruas, Kalyana memperlambat langkah dan memilih berjalan.
Saat berbelok menuju jalan rumah, dari kejauhan ia melihat seseorang berlari dari arah berlawanan.
Aksara.
Langkah laki-laki itu melambat ketika melihatnya.
“Kamu olahraga?”
Kalyana melihat pakaian Aksara.
“Iya, kamu juga?”
“Kelihatannya?”
“Iya, kelihatan seperti olahraga.”
Aksara tertawa.
“Sudah lama larinya?”
“Iya, sudah dari subuh.”
Kalyana mengangkat alis.
“Rajin banget.”
“Kebiasaan.”
Aksara melihat pakaian Kalyana.
“Kamu lari?”
“Tadi.”
“Terus sekarang?”
“Jalan.”
“Capek?”
“Nggak.”
Aksara tersenyum.
Mereka akhirnya berjalan pulang berdampingan.
Tidak banyak yang dibicarakan.
Sesekali hanya komentar tentang udara pagi atau orang-orang yang mulai memenuhi jalan.
Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.
Lima tahun tidak bertemu, tetapi berjalan berdampingan seperti itu terasa terlalu mudah.
Begitu memasuki halaman, aroma makanan langsung menyambut.
“Mbok bikin gorengan,” kata Kalyana.
“Kok tahu?”
“Kenal baunya.”
Dari dapur terdengar suara Mbok Sri.
“Mbak Lya!”
“Iya, Mbok!”
“Sudah pulang?”
“Sudah.”
“Mas Aksara juga?”
Aksara menoleh.
“Mbok punya radar?”
Kalyana tertawa.
“Lebih canggih.”
Di dapur, sepiring pisang goreng masih mengepulkan uap.
“Cuci tangan dulu,” kata Mbok Sri.
Aksara mengangguk patuh.
“Siap, Mbok.”
Kalyana mengulurkan tangan hendak mengambil satu.
Tangannya langsung ditepis pelan.
“Katanya cuci tangan.”
“Mbok...”
“Baru olahraga pegang apa saja.”
Aksara menahan tawa.
Kalyana menatapnya.
“Senang banget.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Tercetak jelas di wajah kamu.”
Aksara akhirnya tertawa.
Mbok Sri menggeleng.
“Sudah, sana bersih-bersih dulu. Pisangnya nggak akan lari.”
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka kembali ke meja makan.
Sarapan sederhana sudah tersedia.
Nasi hangat, telur dadar, tumis kacang panjang, tempe goreng, dan sambal.
Aksara mengambil sambal sedikit sekali.
Kalyana langsung melihatnya.
“Trauma?”
“Belajar dari pengalaman.”
Pak Darmo yang ikut duduk terkekeh.
“Mas Aksara sudah pintar.”
“Pintar apa, Pak?”
“Mengukur kemampuan.”
Kalyana tertawa.
Aksara menggeleng.
“Pagi-pagi sudah dikeroyok.”
Mbok Sri meletakkan pisang goreng di tengah meja.
“Makan saja. Daripada ribut.”
Aksara mengambil satu.
“Ini aman, kan, Mbok?”
“Mas Aksara!”
Meja makan kembali dipenuhi tawa.
------
Menjelang pukul sepuluh, terdengar suara dari depan.
“Lyaaa...”
Aksara yang sedang membaca di teras paviliun langsung mengangkat wajah.
“Bu Tejo?”
Kalyana menoleh.
“Kok tahu?”
“Hafal suaranya.”
“Cepat juga.”
“Sulit dilupakan.”
“Ssst... nanti kedengaran.”
Benar saja, beberapa saat kemudian Bu Tejo muncul.
“Lho, Mas Aksara. Lagi santai?”
“Iya, Bu. Mumpung Sabtu.”
Bu Tejo kemudian menoleh kepada Kalyana.
“Lya, daun jerukmu boleh minta?”
“Boleh. Mau bikin apa?”
“Pecel.”
Kalyana menunjukkan pohon di sisi rumah.
Setelah mendapatkan beberapa lembar daun, Bu Tejo kembali melewati teras.
“Mas Aksara, kapan-kapan ngopi lagi.”
“Siap, Bu.”
“Kemarin ngobrolnya belum selesai.”
Aksara tertawa.
“Kayaknya kalau sama Bu Tejo memang nggak akan selesai.”
“Nah, sudah mulai tahu.”
Kalyana menggeleng.
“Kalian cocok ternyata.”
Aksara menoleh.
“Cocok buat apa?”
“Ngobrol.”
Bu Tejo tertawa sebelum akhirnya berpamitan.
Setelah beliau keluar dari pagar, Aksara memandang Kalyana.
“Bu Tejo menyenangkan.”
“Kamu baru kenal beberapa hari.”
“Justru itu.”
Kalyana menunjuknya.
“Nanti jangan salahkan aku kalau sebentar lagi kamu tahu semua berita satu kompleks.”
Aksara tertawa. “Lumayan.”
“Lumayan apanya?”
“Nggak perlu baca koran.”
Kalyana tertawa. “Nyebelin.”
------
Siang itu Kalyana membereskan rak buku di ruang tengah.
Sebagian besar merupakan peninggalan Eyang. Ada novel lama, buku sejarah, ensiklopedia, serta beberapa buku dengan halaman yang mulai menguning.
Ia beberapa kali berhenti ketika menemukan catatan kecil atau kartu ucapan yang terselip di antara halaman.
Rumah itu seperti menyimpan potongan-potongan waktu di setiap sudutnya.
Ketika menarik beberapa buku dari rak bagian bawah, Kalyana menemukan sebuah kotak lama.
Ia membukanya.
Foto keluarga.
Foto Eyang.
Foto ulang tahun.
Dan beberapa foto masa kuliah.
Tangannya berhenti pada salah satunya.
Kalyana tersenyum.
-----
Malam itu rumah utama lebih tenang.
Setelah makan malam, Pak Darmo juga sudah pulang. Mbok Sri masih berada di dapur, membereskan beberapa peralatan sebelum beristirahat.
Kalyana duduk di teras dengan kotak foto yang ditemukannya siang tadi.
Beberapa mahasiswa berdiri di depan sebuah bangunan kampus dalam foto yang sedang dipegangnya.
Wajah-wajah yang pernah begitu akrab.
“Kok senyum sendiri?”
Kalyana mendongak.
Aksara berdiri tidak jauh darinya.
“Kaget.”
“Maaf.”
Pandangan Aksara jatuh pada foto.
“Apa itu?”
“Foto lama.”
“Boleh lihat?”
Kalyana menggeser sedikit duduknya.
“Boleh.”
Aksara duduk di kursi sebelah.
Begitu melihat foto yang diberikan Kalyana, ia langsung tertawa.
“Ya ampun.”
“Kenapa?”
“Rambutku.”
Kalyana ikut melihat.
“Memangnya kenapa?”
“Kayak sapu.”
Kalyana tertawa.
“Nggak separah itu.”
“Lya, ini jelas-jelas buruk.”
“Kamu dulu merasa keren.”
“Itu yang lebih parah.”
Kalyana tertawa semakin keras.
Aksara mengambil foto lain dari kotak.
“Ini waktu acara jurusan?”
“Iya.”
“Kamu masih simpan?”
“Bukan sengaja. Tadi ketemu waktu beresin rak.”
Aksara memperhatikan foto itu lebih lama.
Di salah satu sudut, Kalyana berdiri bersama beberapa teman. Aksara berada tidak jauh darinya. Jarak mereka hanya beberapa orang.
“Lima tahun,” kata Aksara.
Kalyana menoleh. “Hmm?”
“Cepat juga.”
“Iya.”
Aksara mengembalikan foto.
“Banyak yang berubah.”
“Banyak.”
“Banyak yang tetap sama juga.”
Kalyana menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sebentar.
Namun entah kenapa jantung Kalyana seperti melewatkan satu ketukan, lalu menggantinya dengan detak yang datang sedikit lebih cepat.
Ia segera menunduk dan mengambil foto lain.
“Contohnya rambutmu tetap susah diatur.”
Aksara terdiam. Lalu tertawa.
“Lya.”
“Apa?”
“Kamu merusak suasana.”
“Suasana apa?”
“Nggak jadi.”
Kalyana tersenyum kecil.
Mereka kembali melihat foto-foto lama.
Tidak membicarakan apa yang pernah terjadi.
Tidak bertanya kenapa lima tahun berlalu tanpa kabar.
Belum.
Malam itu mereka hanya duduk berdampingan, menertawakan rambut lama, pakaian yang sudah ketinggalan zaman, dan wajah-wajah yang membawa kembali banyak kenangan.
Dari bagian belakang rumah terdengar pintu dapur ditutup. Beberapa saat kemudian Mbok Sri muncul.
“Mbak Lya, Mbok istirahat dulu, ya.”
“Iya, Mbok. Selamat malam.”
“Mas Aksara.”
“Selamat malam, Mbok.”
Mbok Sri kemudian berjalan menuju kamar belakangnya.
Rumah perlahan menjadi sunyi.
Namun teras itu belum.
Kalyana mengambil foto berikutnya.
Aksara sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat.
Bahu mereka nyaris bersentuhan.
Kalyana tiba-tiba menyadari jarak itu.
Terlalu dekat?
Padahal tidak.
Mereka bahkan tidak bersentuhan.
Namun beberapa detik, perhatiannya justru tertuju pada Aksara yang berada di sebelahnya, bukan pada foto di tangannya.
‘Kenapa, sih?’
Ia menggeser foto sedikit ke tengah agar Aksara bisa melihatnya lebih jelas.
Gerakan sederhana. Masuk akal. Tidak ada yang aneh.
Setidaknya itu yang dikatakannya kepada dirinya sendiri.
“Ini siapa?” tanya Aksara.
Kalyana melihat foto. “Teman seangkatan. Kamu lupa?”
Aksara memperhatikannya lagi. “Kayaknya aku ingat wajahnya.”
“Berarti belum pikun.”
Aksara menoleh. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan ingatanku.”
Kalyana tersenyum.
Percakapan mereka berlanjut seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa, hanya satu detak yang terlalu cepat, satu jarak yang tiba-tiba terasa, dan satu keberadaan yang perlahan mulai lebih sering disadari Kalyana daripada sebelumnya.