Beberapa hari setelah Aksara menempati paviliun rumah Kalyana, rutinitas barunya mulai terbentuk.
Pagi hari ia berangkat kerja.
Sore atau malam kembali ke paviliun.
Kadang makan bersama di rumah utama ketika Mbok Sri memasak terlalu banyak—atau, lebih tepatnya, sengaja memasak terlalu banyak.
Namun malam itu Aksara tidak langsung pulang.
Setelah meninggalkan kantor, ia mengarahkan mobil menuju rumah orang tuanya.
Rumah itu berada cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Bukan jarak yang mustahil ditempuh setiap hari, tetapi cukup untuk membuat Aksara memilih mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantor setelah kembali ke Yogyakarta.
Lagipula, setelah bertahun-tahun hidup sendiri di Jakarta, kembali tinggal bersama orang tua terasa seperti mundur beberapa langkah.
Ia menyayangi mereka.
Hanya saja ia juga sudah terbiasa memiliki ruangnya sendiri.
Ketika mobilnya memasuki halaman, lampu ruang makan sudah menyala.
Bu Ratih sedang menata lauk di meja.
“Kamu datang juga.”
Aksara tersenyum.
“Memangnya Ibu pikir aku nggak datang?”
“Kamu bilang mungkin.”
“Itu bukan berarti nggak.”
“Kalau sama kamu, kata mungkin artinya bisa iya, bisa nggak, bisa lupa.”
Aksara tertawa.
“Banyak sekali artinya.”
Pradipa keluar dari ruang tengah.
“Sudah, jangan diomeli dulu, anaknya baru datang.”
“Siapa yang ngomel?”
Bu Ratih menoleh.
“Ibu cuma menjelaskan.”
Pradipa melirik Aksara.
“Kalau Ibu sudah bilang ‘cuma menjelaskan’, biasanya kita dengarkan saja.”
Aksara menahan tawa.
“Siap.”
Makan malam berlangsung santai.
Ayam kecap, tumis buncis, tahu goreng, dan sambal terasi memenuhi meja.
Aksara baru mengambil nasi ketika Bu Ratih memperhatikannya.
“Kamu makannya benar sekarang?”
Gerakan Aksara berhenti.
“Kenapa semua orang akhir-akhir ini menanyakan makananku?”
“Semua orang siapa?”
Aksara terdiam.
Bayangan Mbok Sri yang menambahkan ayam ke piringnya tanpa diminta langsung terlintas.
“Orang kantor.”
Bu Ratih menyipitkan mata.
“Orang kantor sampai ngurusin kamu makan?”
“Kadang.”
“Perhatian sekali.”
Aksara memilih mengambil ayam kecap.
“Rumah barunya nyaman?” tanya Pradipa, menyelamatkan anaknya dari interogasi lebih lanjut.
“Nyaman.”
“Jauh dari kantor?”
“Nggak. Lebih dekat daripada dari sini.”
“Itu yang penting.”
Bu Ratih mengambil sepotong tahu.
“Pemilik rumahnya baik?”
Aksara mengangguk.
“Baik.”
“Siapa namanya?”
Pertanyaan itu terdengar biasa.
Aksara mengambil air minum.
“Kalyana.”
Gerakan Bu Ratih berhenti sebentar.
“Kalyana?”
Aksara menatap ibunya.
“Iya.”
Bu Ratih melirik Pradipa.
Hanya sepersekian detik.
Namun Aksara menangkapnya.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Ibu kenal?”
“Nggak.”
“Terus?”
Bu Ratih tersenyum tipis.
“Ibu pernah dengar namanya.”
“Dari mana?”
“Dari kamu.”
Aksara menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Dulu. Waktu kamu masih kuliah.”
Aksara mencoba mengingat.
Ia tidak pernah merasa menceritakan Kalyana secara khusus kepada orang tuanya.
Mungkin pernah menyebut namanya ketika bercerita tentang tugas kuliah, kegiatan kampus, atau teman-temannya.
“Memangnya aku sering cerita?”
“Nggak sering.”
“Terus kok ingat?”
Bu Ratih menatap anaknya.
“Karena kalau nama itu muncul, ceritanya biasanya cukup panjang.”
Aksara langsung menunduk melihat piring.
Pradipa menahan senyum.
“Bu...”
“Apa?”
“Nggak usah diteruskan.”
Bu Ratih terlihat sama sekali tidak bersalah.
“Ibu juga nggak bilang apa-apa.”
Justru itu masalahnya.
Aksara mengambil tahu goreng.
“Dia teman kuliah.”
“Ibu tahu.”
Aksara kembali mengangkat wajah.
“Nah. Tahu lagi.”
Bu Ratih tertawa.
“Sudah. Makan.”
Pradipa akhirnya ikut tersenyum.
Aksara menggeleng dan memutuskan tidak bertanya lagi.
Ada kemungkinan jawabannya justru akan membuat makan malam semakin panjang.
Beberapa menit kemudian, Bu Ratih kembali membuka percakapan.
“Hari Minggu jangan lupa pulang.”
Aksara menatapnya.
“Kenapa?”
“Tante Ratna jadi datang.”
“Oh.”
Aksara langsung tahu siapa yang dimaksud.
Ratna adalah sahabat lama ibunya sejak masa kuliah. Persahabatan mereka bertahan bahkan setelah keduanya menikah dan memiliki keluarga masing-masing.
Karena itulah sejak kecil Aksara terbiasa memanggilnya Tante Ratna, meskipun tidak ada hubungan darah di antara mereka.
Dulu kedua keluarga cukup sering bertemu. Namun setelah Aksara bekerja di Jakarta dan kesibukan masing-masing bertambah, pertemuan mereka menjadi semakin jarang.
“Sama Nabila,” lanjut Bu Ratih.
Aksara mengangguk.
Nabila adalah putri Tante Ratna.
Mereka sudah saling mengenal cukup lama karena keluarga. Beberapa kali bertemu di acara keluarga, mengobrol, bahkan pernah berada dalam satu rombongan liburan ketika masih lebih muda.
Namun mereka tidak pernah benar-benar dekat.
“Jam berapa?” tanya Aksara.
“Mungkin menjelang siang.”
“Oke.”
“Kamu jangan bikin acara lain.”
“Aku nggak janji.”
Bu Ratih langsung menatapnya.
Aksara tertawa.
“Bercanda.”
“Jangan bercanda soal begini.”
“Iya, Bu. Aku pulang.”
Pradipa yang sejak tadi makan dengan tenang akhirnya mengangguk.
“Bagus.”
Aksara kembali makan.
Baginya, rencana hari Minggu itu tidak lebih dari kunjungan teman lama keluarga.
Tidak ada alasan untuk memikirkannya lebih jauh.
------
Makan malam selesai cukup larut.
Setelah membantu membawa beberapa piring ke dapur, Aksara berpamitan.
“Hati-hati,” kata Pradipa.
“Iya, Pak.”
Bu Ratih mengantarnya sampai pintu.
“Jangan lupa Minggu.”
“Iya, Bu.”
“Bener?”
“Bener.”
Aksara membuka pintu mobil.
“Ibu sudah mengingatkan tiga kali.”
“Biar nggak lupa.”
“Aku belum setua itu.”
“Bukan masalah umur.”
“Terus?”
“Kamu kalau sudah kerja suka lupa waktu.”
Aksara tersenyum.
“Oke. Hari Minggu aku pulang.”
Baru setelah itu Bu Ratih terlihat puas.
Perjalanan menuju rumah Nareswari berlangsung lebih tenang.
Jalanan malam tidak terlalu padat. Beberapa warung masih ramai, sementara toko-toko mulai menurunkan pintu mereka satu per satu.
Aksara menyalakan radio dengan volume rendah.
Pikirannya kembali pada percakapan di meja makan.
Kalyana.
Ternyata ibunya masih mengingat nama itu.
Aksara sendiri bahkan tidak tahu berapa kali ia pernah menyebutnya dulu.
Mungkin memang hanya beberapa kali.
Atau mungkin lebih banyak daripada yang ia sadari.
Ia tidak mencoba mengingat lebih jauh.
Lima tahun sudah cukup lama.
Dan masa kuliah terasa seperti kehidupan lain.
------
Ketika sampai, lampu rumah utama masih menyala.
Aksara memarkir mobil di dekat paviliun.
Saat turun, ia melihat Kalyana duduk di teras sambil membaca.
“Kamu belum tidur?”
Kalyana mengangkat wajah.
“Belum.”
“Makan?”
“Sudah.”
Kalyana mengangguk.
“Tumben kamu pulangnya sampai larut? Banyak pekerjaan?”
Aksara tersenyum kecil.
“Tidak, aku tadi ke rumah orang tuaku.”
Kalyana sedikit terkejut.
“Ooh...”
Aksara berjalan mendekat.
“Oya, hari Minggu sepertinya aku juga ke rumah orang tuaku lagi.”
“Oh, kenapa?”
“Ada kerabat datang. Sama anaknya.”
Kalyana menutup bukunya.
“Oh.”
“Nabila.”
Nama itu keluar begitu saja.
Kalyana tidak menunjukkan reaksi khusus.
“Temanmu?”
“Teman keluarga.”
Kalyana mengangguk.
“Semoga acaranya menyenangkan.”
“Semoga.”
Aksara memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Ia sebenarnya bisa langsung masuk ke paviliun.
Namun entah kenapa ia masih berdiri di sana.
“Kamu baca apa?”
Kalyana menunjukkan sampul bukunya.
“Novel.”
“Bagus?”
“Baru setengah.”
“Berarti belum tahu.”
“Kalau aku sudah tahu ending-nya, buat apa dilanjutkan?”
Aksara tersenyum.
“Benar juga.”
Angin malam berembus pelan.
Dari dalam rumah terdengar bunyi jam dinding.
Kalyana kembali membuka bukunya.
Aksara akhirnya berkata,
“Ya sudah. Aku masuk dulu.”
“Iya.”
“Selamat malam, Lya.”
“Selamat malam, Aksa.”
Aksara sempat berhenti.
Bukan karena kalimatnya.
Melainkan karena satu kata kecil di akhirnya.
Aksa.
Sudah lama tidak ada yang memanggilnya seperti itu.
Dulu teman-teman kuliahnya lebih sering memanggil Aksara dengan nama lengkap. Di kantor pun orang mengenalnya sebagai Aksara.
Namun dari Kalyana, panggilan itu terdengar begitu mudah.
Seolah memang seharusnya begitu.
Aksara menoleh.
Kalyana sudah kembali melihat bukunya. Ia tidak tampak menyadari sesuatu yang berbeda.
Aksara tersenyum kecil. “Good night.”
Ia berjalan menuju paviliun.
Kalyana tetap berada di teras.
Namun setelah beberapa detik, matanya tidak lagi mengikuti tulisan di halaman.
Nabila.
Nama itu kembali muncul dalam pikirannya.
Aneh.
Ia bahkan tidak tahu siapa Nabila selain penjelasan singkat Aksara bahwa perempuan itu adalah teman keluarga.
Lalu kenapa ia masih memikirkannya?
Kalyana menurunkan pandangan ke buku.
Satu paragraf dibaca.
Lalu dibaca lagi.
Tetap tidak masuk.
Ada sesuatu yang terasa sedikit mengganjal.
Bukan sesuatu yang besar.
Bahkan terlalu samar untuk diberi nama.
Kalyana mengerutkan kening.
Mungkin karena Aksara menyebut nama itu begitu saja.
Atau mungkin ia hanya penasaran.
Ya.
Penasaran terdengar lebih masuk akal.
Karena kalau bukan itu, lalu apa?
Kalyana menghela napas kecil.
“Mungkin aku sudah ngantuk.”
Ia menutup bukunya.
Di belakang rumah, lampu paviliun menyala.
Kalyana melihatnya sekilas.
Kemudian pandangannya berhenti di sana sedikit lebih lama dari biasanya.
Baru setelah itu ia berdiri dan masuk ke rumah.
Malam kembali tenang.
Namun untuk pertama kalinya sejak Aksara tinggal di paviliun, ada sebuah nama lain yang ikut terbawa masuk ke dalam keheningan rumah Nareswari.
Nabila.
Dan Kalyana belum tahu mengapa nama itu mengganggunya.