Gerardo dan para anak buahnya mendatangi salah satu bar yang berada di bagian selatan Amerika Serikat. Dimana bar itu menjadi target berikutnya yang akan ia kuasai. Namun tiba-tiba saja suara tembakan terdengar dimana-mana membuat para pengujung bar itu histeris dan berlari untuk menyelamatkan dirinya masing-masing.
Suara hantaman terdengar tepat dibelakang Gerardo, dimana salah satu anak buahnya di serang oleh kelompok lelaki bersenjata yang tak dikenali. Hal itu membuat Gerardo dan para anak buahnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerang balik hingga keributan terjadi di bar tersebut. Perkelahian antara kelompok yang membuat suara teriakan wanita kini terdengar memenuhi seisi bar, bahkan suara pecahan botol bir juga ikut mendominasi saat itu.
Langkah Gerardo terhenti saat melihat seorang lelaki yang meringkuk di bawah kolong meja bar dengan gemetaran. Ia teringat dengan ucapan Rosie setelah kejadian bar yang berhasil ia bakar beberapa bulan yang lalu.
"Harusnya kau tak melukai orang yang juga tak menganggu urusan sial mu itu!"
"Kau tak pernah tau, mungkin saja orang yang berakhir menyedihkan di bar itu adalah orang yang sangat di nantikan kepulangannya oleh keluarganya. Dan kau dengan mudah membunuhnya?"
"Kau tak pernah tau apa arti sebuah kehilangan, tuan!"
Gerardo menghampiri lelaki tersebut.
"Kenapa kau hanya berdiam disana?" bentak Gerardo.
"Tolong jangan bunuh Aku" pinta lelaki itu ketakutan.
"Aku bukan pembunuh orang yang lemah dan tak berdaya seperti mu.." ucap Gerardo menghela napas kasar.
"Harusnya saat kalau berada di dalam situasi seperti ini, kau berlari meninggalkan bar ini. Pergilah! Selamat diri mu!" lanjutnya memberikan lelaki waktu untuk menyelamatkan dirinya.
Baru saja beberapa langkah suara tembakan yang di lepaskan mengalihkan pandangan Gerardo. Arah tembakan yang di lepaskan terlihat mengarah pada lelaki yang baru saja ia minta pergi, namun dengan gesit Gerardo menarik lelaki tersebut hingga ia tersungkur di lantai. Tentu saja hal itu membuat lelaki itu terkejut dan histeris.
"Apa yang kau tunggu? Pergi dari sini, cepat!" teriak Gerardo padanya.
Tanpa menunggu lama, lelaki itu pergi meninggalkan Gerardo yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Siapa mereka?" teriak Allio bersembunyi di balik pilar bar sembari memegangi senjata miliknya.
"Bawa mereka semua keluar, Lucky! Bisa saja peluru itu mengenai mereka" teriak Gerardo.
"Brown, lakukan tugas mu!" lanjut Gerardo memberikan perintah pada penembak jitunya.
Dengan keahlian yang di miliknya, Brown dengan gesit mengayunkan tangannya dan melepaskan beberapa tembakan yang berhasil mengenai tiga dari segerombolan lelaki tersebut.
"Jangan sampai terluka lagi" ucap Gerardo saat melewati Allio.
Hanya dalam hitungan menit saja, bar yang tadinya begitu menawan tampak sudah berubah menjadi begitu kacau.
Beberapa kali Gerardo juga melepaskan pelurunya hingga peluru itu mengenai kaki salah satu lelaki tersebut.
Begitu banyak peluru yang telah di habiskan dalam perkelahian malam ini hingga salah satu dari kumpulan lelaki tersebut menyebutkan nama yang membuat suara tembakan itu terhenti.
"GERARDO CARTEZ EDMUNDO!" teriaknya dengan lantang.
Mendengar namanya yang disebut dengan sangat jelas tanpa kesalahan membuat Gerardo penasaran.
"Apa yang kau inginkan darinya?" ucap Gerardo mendekat kearah lelaki tersebut.
"Apa kau lelaki itu?" tanya lelaki bertopi itu untuk memperjelas.
"Iya. Aku, Gerardo Cartez Edmundo. Dan ada apa kau mencari ku?" ungkap Gerardo.
"Seseorang memberikan ku penawaran yang sangat fantastis---"
"Penawaran apa yang kau maksud?" sela Gerardo dengan tatapan menyelidik.
"$100.000.000 akan Aku terima jika Aku berhasil membunuh mu" ucapnya jujur.
Mendengar perkataan itu membuat Gerardo semakin tertarik mengetahui siapa yang rela mengeluarkan uang sebegitu banyak hanya untuk membunuhnya. Tentu saja, Gerardo tau kalau pesuruh dari lelaki tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak musuhnya.
"Apa kau yakin dia akan memberi mu?"
"Tentu saja! Bahkan nilai itu tak sebanding dengan apa yang ia miliki" ucap lelaki itu penuh keyakinan.
"Aku akan memberi mu $200.000.000 kalau kau mau membuka mulut mu dan mengatakan siapa pesuruh mu itu" ungkap Gerardo tak mau kalah.
"Kau pikir Aku akan percaya dengan mu?" balasnya sembari tertawa puas.
Aksi negosiasi itu berjalan cukup lama hingga Brown menyadari sesuatu yang mencurigakan dari lelaki tersebut. Dimana sebuah pantulan cahaya berwarna merah melekat di d**a kanan Gerardo.
"MERUNDUK!!!" teriak Brown bersamaan dengan suara tembakan yang di lepas mengarah kearah tempat Gerardo berdiri.
Allio yang memiliki posisi yang begitu dekat dengan Gerardo dengan sigap menariknya lalu membuatnya merunduk sebelum peluru sniper itu menembus jantungnya.
"Damn!!!" umpat Gerardo tak menyangka.
Lalu suara tembakan kembali terdengar tepat di kepala lelaki bertopi tadi yang melakukan negosiasi dengan Gerardo.
"Keluar sekarang juga!" teriak Gerardo.
Gerardo di ikuti para anak buahnya meninggalkan bar itu dalam keadaan yang begitu kacau.
Mobil limousine berwarna hitam itu melaju menuju gedung apartement milik Gerardo.
"Apa kau lihat tatto di sebelah tangan kanan para komplotan lelaki itu?" tanya Allio.
"Iya. Aku tadi sempat melihatnya, saat mengecek tubuh lelaki bertopi itu" sahut Brown yang berada di samping kursi pemudi.
"Apa kau mengenali tatto itu, Brown?"
"Aku tak yakin, sepertinya itu sebuah lambang organisasi Allio" balas Brown.
"Organisasi? Organisasi apa yang kau maksud?" tanya Gerardo penasaran.
"Aku akan mencari tau dan langsung mengabari mu jika mendapatkan informasi tentang tatto itu" balas Brown.
Tangan Gerardo masih saja mengepal, wajahnya terlihat begitu marah dan juga frustasi. Ia hampir saja kehilangan nyawanya karna peluru tadi.
"Rasanya kesabaran ku benar-benar habis kali ini" ucap Gerardo.
Gerardo meminta Lucio mengantarkannya lebih dulu kerumah sakit tempat Rosie masih dirawat. Namun Allio meminta Gerardo untuk saat ini tidak menemui Rosie lebih dulu. Tentu saja hal itu membuat amarah Gerardo semakin tersulut.
"Jangan mengatur ku, Allio!" ucap Gerardo singkat dan mampu membuat Allio tak bergeming.
Sesuai dengan permintaan Gerardo, Lucio membawanya kerumah sakit tempat Rosie dirawat.
"Aku hanya sebentar. Kalian tunggu saja disini" ucap Gerardo sebelum turun dan meninggalkan Allio serta anak buahnya yang lain.
Gerardo berjalan masuk menaiki lift yang akan membawanya menuju lantai kamar dimana Rosie berada. Ia membuka pintu tersebut dan mendapati Maddi dan Rosie yang tengah asyik bercerita.
Kedatangan Gerardo yang tiba-tiba membuat Rosie dan Maddie sedikit terkejut.
"Hm.. sepertinya Aku harus keluar sebentar mengisi perut ku Rosie.." ucap Maddie memperlebar senyumannya.
".. kau datang di saat yang tepat Tn. Gerardo" lanjutnya sebelum ia meninggalkan Rosie dan juga Gerardo.
"Sepertinya dia sudah mengetahui nama ku" ucap Gerardo sembari berjalan mendekat kearah Rosie dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Hm.. iya. Maddie terus saja penasaran dengan mu. Apa kau tak keberatan kalau Aku memberitahu nama mu padanya?" tanya Rosie.
"Tentu saja tak apa, itu bukan masalah yang besar" balas Gerardo memperlebar senyumannya.
"Oh.. iya, bagaimana kesehatan mu?" lanjutnya.
"Iya, Aku sudah sangat baik. Aku akan mengusulkan untuk kepulangan ku besok"
"Jangan terlalu memaksakan diri mu, Rosie" ungkap Gerardo khawatir.
"Aku harus melakukan tanggung jawab ku"
"Tanggung jawab apa?" tanya Gerardo penasaran.
"Kau tau kan? Aku di terima bekerja di JP Corp, perusahaan yang Aku ceritakan pada mu saat itu" jelas Rosie bersemangat.
"Tidak, Kau tak perlu bekerja disana"
Mendengar ucapan Gerardo yang tak mendukungnya bekerja di perusahaan itu membuat wajah Rosie berubah murung.
"Kenapa? Apa yang salah dari perusahaan itu?"
"Kau tak perlu tau. Hanya saja Aku tak ingin kau bekerja disana, okay?" pinta Gerardo memaksa.
"Aku harus tau alasannya!" balas Rosie keras kepala.
Gerardo menghela napas kasar sembari memijit pelipisnya mendapati sikap Rosie yang tak sejalan dengan suasana hatinya malam ini. Sifat keras kepala Rosie membuat suasana hati Gerardo menjadi semakin buruk.
Pandangan Rosie tercekat saat melihat jas yang dikenakan Gerardo terlihat kotor dan kemejanya terlihat ada bekas darah di sana. Hal itu membuat Rosie terbangun dari posisi terbaringnya untuk melihatnya lebih jelas.
Gerardo tersentak saat tiba-tiba saja tangan Rosie memegangi kemejanya yang memang terkena percikan darah.
"Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Rosie gugup.
"Ini bukan apa-apa, Rosie" balas Gerardo.
"Apa kau baru saja membunuh orang lagi?"
Pertanyaan itu mendapat sorotan mata yang tajam dari Gerardo. Seakan Rosie selalu saja memandangnya sebagai seorang pembunuh.
"Ada yang menyerang ku dan para anak buah ku saat di bar tadi"
"Lalu kau membunuhnya?"
"Lalu apa Aku yang harus terbunuh?" tanya Geraro balik.
Rosie terdiam menatap kecewa pada Gerardo.
"Sepertinya Allio benar, seharusnya Aku tak kesini malam ini" ucap Gerardo menurunkan pandangannya.
"Sejujurnya, Aku kesini hanya ingin melihat mu malam ini dan bercerita sedikit tentang apa yang ku alami tadi. Tapi rasanya pikiran mu itu lebih mendahului ku" lanjutnya dengan nada kecewa.
Kepergian Gerardo membuat hati Rosie terasa sesak. Ia menyesali sikapnya tadi pada Gerardo. Sikap yang seakan tak mempercayai ucapannya. Namun tak dipungkiri juga, kalau secara tak langsung Rosie mengetahui kalau Gerardo selalu saja melakukan pekerjaan yang membahayakan dirinya.
"Lalu kau membunuhnya?"
"Lalu apa Aku yang harus terbunuh?"
Rosie teringat dengan percakapannya dengan Gerardo baru saja. Rosie memijit pelipis sembari mengigit bibirnya dengan kesal.
"Seharusnya Aku tak mengatakan hal itu padanya" keluh Rosie.
Rosie tersentak saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka, berharap Gerardo kembali namun tampaknya ia harus kecewa lagi karna orang yang membuka pintu kamarnya adalah Maddie.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Maddie.
Pertanyaan itu membuat suasana hati Rosie semakin kalut.
"Ada apa?"
"Apa kalian bertengkar?"
Rosie menghela napas kasar.
"Sepertinya Aku membuat marah, Maddie" ucap Rosie tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Maddie penasaran.
"Aku mengatakan hal yang tak seharusnya ku katakan, Ah! benar-benar sial!" umpat Rosie kesal.
"Apa Aku harus meminta maaf padanya?" lanjutnya meminta saran pada Maddie.
"Iya, jika kau rasa kau melakukan kesalahan. Kau harusnya meminta maaf" tegas Maddie sembari menggidikan bahunya.
Lagi dan lagi Rosie menghela napas yang panjang sebelum ia mengambil ponselnya di dan mencari nama Gerardo di dalamnya. Cukup lama Rosie bergelut dengan dirinya sendiri hingga ia meyakinkan hatinya untuk mengirimkan pesan pada Gerardo.
"Aku minta maaf. Seharusnya Aku tak mengatakan hal itu pada mu"
Pesan itu dikirimkan pada Gerardo namun cukup lama ia menunggu dan tak mendapat balasan dari pesan yang ia kirimkan.
"Apa kau marah pada ku? Tolong jangan marah pada ku, hm?" tulisnya kembali.
"Jika kau sudah terima pesan ini, tolong balas lah" pesan terakhir yang di kirimkan Rosie untuk Gerardo.
*****