Langkah besar Gerardo menyusuri rumah sakit tempat dimana Rosie dirawat. Kali ini Gerardo hanya seorang diri dan memberikan perintah pada Allio untuk membereskan tugasnya pada hotel terakhir yang ia kunjungi.
Gerardo menarik gagang pintu kamar rawat Rosie dan mendapati Maddie yang sejak tadi menunggunya.
"Astaga kenapa kau lama sekali?" keluh Maddie dengan nada terburu-buru.
"Hm.. Sorry. Aku harus merepotkan mu. Aku ada urusan mendadak, dan Aku tak bisa meninggalkan Rosie sendirian" lanjutnya.
Hanya tatapan saja yang dilayangkan Gerardo pada Maddie.
"Sudah ku katakan kau akan membutuhkan kertas itu" balas Gerardo saat Maddie berada diambang pintu kamar Rosie sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.
Melihat kepergian Maddie membuat Gerardo mendekat kearah Rosie yang saat ini masih terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Gerardo meraih tangannnya yang kini terpasang infus dan sesekali menyapu lembut wajah pucatnya.
Masih dengan rasa penyesalannya telah meninggalkan Rosie hanya karena jebakan yang ia terima subuh sebelum ia meninggalkan Rosie di apartementnya.
Gerardo menghubungi Allio menanyakan soal pekerjaan yang ia lakukan malam ini bersama Brown, Lucky dan lainnya. Sebuah pesan baru diterima Gerardo dengan menampilkan nama Mac pada layar ponselnya.
Tampaknya Mac berhasil mendapatkan lokasi dari pengirim pesan ancaman yang tertuju pada Gerardo. Serta pesan yang diterima Gerardo tentang Rosie hari ini sebelum kecelakaan itu.
Dalam pesan itu Mac menyebutkan pantai Stella Marina, dimana tempat itu menjadi sumber pengirim pesan tersebut.
"Stella Marina?" batin Gerardo.
"Apa kau bersembunyi disana?" lanjutnya.
"Aku akan memberikan kejutan padamu, b******k!" bisiknya.
Lalu pandangannya kembali tertuju pada Rosie. Ia membelai lembut rambut terurai milik Rosie sembari membisikkan sesuatu padanya.
"Aku akan membalas apa yang dia perbuat pada mu" ucapnya.
Perasaan penuh dendam itu semakin tersulut, namun Gerardo juga tak mungkin meninggalkan Rosie dalam keadaan seperti ini.
Pesan yang ia terima dari Mac, ia teruskan kepada Allio.
Tak lama pesan itu terkirim, tak lama pula sebuah panggilan mengalihkan pandangan Gerardo dari Rosie.
Panggilan itu menampilkan nama Allio yang meminta Gerardo untuk tidak membuang waktu dan pergi menemui pengirim pesan tersebut. Dimana ia juga yang semakin yakin kalau orang yang melakukan semua ini adalah, Paul Casio dan yang tak lain adalah kakak dari Jamie.
Terdengar beberapa kali bentakkan yang dikirimkan Gerardo pada Allio dalam panggilan tersebut. Gerardo memutuskan akan membereskan semuanya disaat Rosie mendapatkan kembali kesadarannya. Namun, Allio tetap kekeuh untuk secepatnya membereskan Paul.
Sedikit pertengkaran dalam panggilan itu membuat suara berat Gerardo yang meninggi memenuhi kamar rawat Rosie hingga tanpa Gerardo sadari Rosie sudah sejak tadi mendengar percakapannya bersama Allio.
Panggilan itu diakhiri setelah Gerardo mendengar namanya di sebut dengan suara yang begitu pelan dan lembut.
Mata Gerardo tercekat saat mendapati mata Rosie yang sudah terbuka dan sadar.
"Rosie.." sahutnya sembari berjalan mendekat kearah Rosie.
Telapak tangan yang besar itu menggapai wajah pucat Rosie dengan perasaan yang begitu sangat lega.
"Terima kasih sudah sadar.." lanjut Gerardo.
"Kau sangat berisik" ucap Rosie dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Maafkan Aku.. hm, kau jangan terlalu banyak berbicara dulu.. okay?" pinta Gerardo.
"Aku akan menghubungi Dr. Broke untuk melihat kondisi mu saat ini" lanjutnya sembari mengambil kembali ponsel yang sejka tadi ia masukkan kedalam saku jasnya.
"Tidak perlu. Besok saja kau menghubunginya" pinta Rosie masih lemas.
Mendengar permintaan Rosie membuat Gerardo mengurungkan niatnya sambil mengangguk menatap Rosie.
Gerardo kembali meminta maaf pada Rosie soal kecelakaan yang menimpanya hari ini. Ia juga menjelaskan soal jebakan yang dikirim padanya.
Rosie meraih pergelangan tangan Gerardo sembari menatapnya.
"Aku baik-baik saja" ucapnya singkat.
Ucapan itu membuat Gerardo tak dapat mengontrol perasaannya. Ia memeluk Rosie dan memberikan kecupan pada puncak kepala wanita yang masih terlihat lemas di hadapannya.
"Aku akan mencari siapa yang berani melakukan hal ini pada mu, Aku akan membu---"
"Jangan.. Jangan menempatkan dirimu dalam bahaya lagi karna ku" sela Rosie.
Kalimat itu lagi dan lagi membuat Gerardo tak dapat menyelanya. Sifat Rosie yang selalu saja mengkhawatirkannya menyadarkan Gerardo tentang sesuatu dalam benaknya.
"Aku minta maaf karna tadi memarahi mu dalam panggilan. Aku baru menyadari kalau kau melakukan itu untuk memperingatkan ku tentang sesuatu" ungkap Rosie.
Tangan besar itu kembali menangkup wajah Rosie. Memberikan sentuhan lembut yang membuat mata Rosie terpejam lalu membuka kembali dan di akhiri dengan tarikan senyuman kecil di sudut bibirnnya.
"Sudah.. jangan terlalu banyak berbicara. Istrihatlah--ohiya, tadi Maddie yang berada di sini. Sepertinya dia ada urusan dan meminta ku untuk menggantikannya. Aku akan mengabarinya soal kondisi mu saat ini" jelas Gerardo yang kini terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Rosie memejamkan matanya kembali hingga ia tertidur dan Gerardo tetap berada disampingnya. Dimana tanpa keduanya sadari malam yang sunyi kini berganti dengan teriknya matahari di pagi hari.
Kedatangan Allio membuat Gerardo terbangun dari tidurnya. Allio datang bersama dengan Dr. Broke. Dimana pesan yang dikirimkan Gerardo semalam telah di terima oleh Dr. Broke.
"Ssstt.. jangan terlalu berisik. Dia masih tertidur" ucap Gerardo dengan suara paraunya.
"Aku akan mengeceknya saat ia bangun" balas Dr. Broke kembali keluar dari kamar rawat Rosie.
Gerardo menarik Allio keluar, di saat Allio kembali menyinggung soal keberadaan Paul yang sudah diketahui oleh Mac.
Keduanya kembali berdebat hingga amarah Gerardo tersulut dan membuat Allio terdiam.
"Kita akan membicarakan hal ini lagi nanti, Allio" ucap Gerardo mengakhiri percakapannya dengan Allio.
Gerardo kembali masuk ke dalam kamar Rosie dan mendapati Rosie yang sudah terbangun.
Langkah besar itu membawa Gerardo mendekat kearah Rosie, lalu meminta Dr. Broke untuk memeriksanya.
Kedatangan Dr. Broke bersamaan dengan kedatangan Maddie dan juga Mickey. Rasa bahagia dan bersyukur di rasakan Maddie saat mengetahui kalau Rosie telah mendapatkan kesadarannya kembali.
Dr. Broke memberitahukan soal kondisi Rosie yang sudah membaik namun ia masih perlu untuk lebih banyak beristirahat.
Gerardo menyusul Dr. Broke keluar meninggalkan Rosie, Maddie dan juga Mickey yang berada di dalam kamar rawat tersebut.
"Apa kau yakin dia baik-baik saja?" ucap Gerardo sembari berjalan menuju ruangan Dr. Broke.
"Iya. Kau jangan terlalu khawatir padanya. Dia akan baik-baik saja. Benturan di kepalanya juga tidak terlalu serius. Hanya saja kemarin ada luka sobekan yang membuat ia kehilangan banyak darah, tapi itu bukan masalah serius.. Gerard" jelas Dr. Broke.
Dr. Broke mempersilahkan Gerardo masuk kedalam ruangannya.
Gerardo terduduk dengan isi kepala yang sulit di jelaskan. Bahkan Dr. Broke juga dapat melihat raut wajag gelisah dari Gerardo.
"Apa wanita itu memang sangat penting bagi mu?" tanya Dr. Broke tiba-tiba.
"Iya. Dia sangat penting untuk ku. Ada apa?" tanya Gerardo balik.
"Tak apa. Aku hanya melihat sekilas Gerardo yang lain dalam dirimu. Sampai saat ini Aku juga masih berpikir, karna wanita itu kau menginjakkan lagi kaki mu di rumah sakit" jelas Dr. Broke sembari meneguk segelas kopi yang berada di hadapannya.
"Aku juga tak mengerti dengan diri ku. Aku hanya mengikuti alurnya saja. Awalnya, dia memang terlihat menarik untuk ku menekankan kembali prinsip yang ku tanamkan dalam diri ku. Tapi, setelah Aku mengenalnya.. Aku mendapatkan sisi lain yang dia miliki. Kehidupannya tak seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Dia memiliki kisah hidup yang hampir sama dengan ku..." ungkap Gerardo serius.
".. Dia mampu menutupi semua kisah pahit yang dia lalui dengan begitu rapat. Semua yang dia tampakkan pada orang lain itu hanya untuk membentengi diri sendirinya saja. Wajah memang selalu saja bisa menutupi apa yang sebenarnya ada dalam hati kita, Dr. Broke" lanjut Gerardo.
Dr. Broke terdiam sembari mengidikkan bahunya mendengar perkataan Gerardo.
***
Rosie membiarkan Maddie memeluknya setelah kesadarannya kembali.
"Kau tau, saat Alexa menghubungi ku. Rasanya jantung ku akan berhenti berdetak saat mendengar kabar kecelakaan mu" ungkap Maddie jujur.
"Maaf sudah membuat mu khawatir, nona" canda Rosie diiringi tawa kecilnya.
"Ohiya.. Apa hubungan mu dengan lelaki itu sudah begitu dekat?" tanya Maddie penasaran.
"Ada apa memangnya?"
"Sepertinya dia sangat perduli pada mu. Kau tau? Dia juga mengirimkan seseorang untuk menjaga di luar kamar mu" bisik Maddie.
Ucapan itu membuat Rosie tertawa. Maddie sepertinya memang sangat penasaran dengan Gerardo. Bahkan Maddie juga memaksa Rosie untuk memberitahu soal identitas serta apa yang dilakukan Gerardo yang identik dengan jas hitam yang selalu ia kenakan.
"Aku kemarin memintanya menjelaskan pada ku. Tapi, dia malah menyuruh ku menanyakan hal itu pada mu" keluh Maddie.
"Apa dia mengatakan hal itu?"
"Iya.. tapi kau juga malah tidak mau memberitahu ku" keluh Maddie kembali.
"Mungkin saja kau menilai dia dengan wajah sangar serta beberapa lelaki yang selalu mengikuti dia kemana pun. Tapi, tenang saja dia bukan lelaki buruk yang kau pikirkan. Hm.. awalnya, dia memang menakutkan bagi ku tapi sekarang tidak lagi" jelas Rosie sembari tersenyum.
"Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"
"Hey! Apa yang kau katakan?" ucap Rosie tertawa.
"Apa Aku benar?" goda Maddie.
Pintu yang tiba-tiba saja terbuka membuat Maddie dan Rosie terkejut. Dimana Gerardo yang tengah berdiri diambang pintu itu dan berjalan masuk ke arahnya. Melihat kedatangan Gerardo membuat Maddie melirik kearah Rosie dengan senyuman mengejeknya.
"Kau dari mana?" tanya Rosie.
"Aku baru saja kembali dari ruangan Dr. Broke" balas Gerardo.
"Bagaimana kepala mu? Tidak terasa sakit, kan?" lanjutnya.
"Hm" balas Rosie mengangguk.
"Sepertinya Aku harus kembali ke apartement ku, lagi pula Maddie juga sudah berada disini. Jadi, Aku sudah bisa meninggalkan mu" ucap Gerardo.
Mendengar ucapan itu membuat raut wajah Rosie sedikit berubah. Rasanya Rosie sangat berat membiarkan Gerardo meninggalkannya saat ini. Namun ia juga tak ingin terlalu memperlihatkan raut wajah kekecewaannya.
Tangan Rosie mencegat pergelangan tangan Gerardo dan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kau hanya kembali ke apartement mu saja, kan? Bukan pergi ke tempat yang kau maksudkan dalam percakapan mu semalam dengan Allio?" tanya Rosie.
"Kau mendengarnya?"
Rosie mengangguk membenarkan pertanyaan yang di lontarkan Gerardo.
"Benarkan? Kau hanya kembali ke apartment mu saja?" tanya Rosie kembali memperjelas. Dimana pertanyaan itu sangat jelas kalau Rosie meminta Gerardo untuk tidak meninggalkan Chicago lagi.
"Iya.. Aku hanya kembali ke apartement saja" jelas Gerardo menangkup wajah Rosie yang masih terlihat pucat.
"Aku akan memberitahu mu kalau Aku sudah tiba di apartement" lanjutnya melemparkan senyuman tipis yang membuat perasaan Rosie sedikit lebih lega.
"Dan yah! Tolong jaga dia baik-baik" pinta Gerardo pada Maddie sebelum ia benar-benar meninggalkan Rosie.
Kepergian Gerardo membuat Maddie semakin meledek Rosie. Sikap Rosie barusan benar-benar menampilkan kalau ia tak ingin Gerardo jauh darinya.
"Kau benar-benar menyukainya, kan?" goda Maddie kembali.
Namun Rosie hanya tersenyum dan tak memberikan jawaban pasti untuk sepupunya.
Gerardo melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan mendarat di apartementnya. Sepanjang perjalanannya ia terus saja memikirkan perkataan Rosie yang memintanya untuk tidak meninggalkan Chicago. Namun, ia juga tak dapat terus membiarkan Paul mengalahkannya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Rosie, Gerardo sejak tadi mendengar percakapan keduanya saat membahas dirinya. Dimana Rosie mengatakan yang sejujurnya pada Maddie. Pernyataan itu membuat Gerardo sedikit senang sekaligus takut. Sejak ia menjadi pimpinan Mafia Outfit Chicago, tak ada satu hal pun yang ia takutkan. Namun kali ini, ia dibuat takut dengan ucapan Rosie. Ia takut kalau sesuatu yang buruk menimpanya akan membuat Rosie menjadi sedih. Dan mengulang kembali kejadian tiga tahun yang lalu dimana itu adalah hari kematian ayahnya.
*****