Gerardo menyandarkan pundak lebarnya diatas ranjang sembari memejamkan matanya sejenak. Sama dengan yang dirasakan Rosie sejak kepergiannya tadi, Gerardo juga terus saja memikirkan pertengkaran kecilnya. Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan menampilkan pesan Rosie di dalamnya.
Gerardo meraih ponselnya dan menatapnya cukup lama hingga beberapa pesan kembali masuk menyadarkannya. Ia membuka pesan yang dikirimkan Rosie padanya.
"Aku minta maaf. Seharusnya Aku tak mengatakan hal itu pada mu"
"Apa kau marah pada ku? Tolong jangan marah pada ku, hm?"
"Jika kau sudah terima pesan ini, tolong balas lah"
Gerardo menarik pasokan udaranya lalu ia lepas kembali sembari memijit pelipisnya.
Tak membuang waktunya, ia menekan tombol hijau pada layar ponselnya untuk menghubungi Rosie dan secepat juga panggilan itu dijawab olehnya.
"Iya?"
"Aku baru saja membaca pesan mu---hm, Aku tak marah pada mu"
"Aku minta maaf soal ucapan ku tadi. Aku tak bermaksud menu---"
"Iya, Aku mengerti. Sepertinya Aku yang salah. Suasana hati ku sangat buruk sebelum mendatangi mu tadi" jelas Gerardo.
"Tapi tetap saja. Aku rasa ucapan ku tadi melukai mu.."
"Jangan terlalu memikirkannya lagi, Rosie. Aku tak mau karna hal ini mengganggu kesehatan mu lagi. Istirahatlah.." pinta Gerardo dalam panggilannya.
Namun Rosie tak ingin mengakhiri panggilannya.
"Hm.. Maddie baru saja meninggalkan ku sendiri---"
"Apa? Lalu kau sendiri disana?" sela Gerardo khawatir.
"Hm.. Kau jangan mengkhawatirkan Ak---"
"Aku akan kesana" sela Gerardo kembali sebelum menutup panggilannya.
Baru saja mendapatkan istirahatnya, Gerardo yang baru saja mendengarkan ucapan Rosie pada panggilannya kembali beranjak dari ranjangnya mengambil jaket kulit berwarna coklat gelapnya lalu berlari secepat mungkin ke arah basemnet untuk melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
***
Rosie mengakhiri panggilannya dengan jantung yang berdegub kencang. Ia melirik ke arah Maddie yang juga tengah menatapnya tak menyangka.
"Kau menyuruh ku pergi, Rosie? Are you serious?"ucap Maddie sembari mengidikkan bahunya.
"Aku minta maaf, Aku tiba-tiba saja mengatakan hal itu. Aku hanya tak ingin mengakhiri panggilan ku, Aku tak tau kalau dia akan kembali kesini setelah mendengar---"
"Sepertinya kau memang penting baginya" sela Maddie tawa kecilnya.
"Baiklah.. Aku akan meninggalkan mu sesuai dengan permintaan mu---Aku akan menikmati malam ku juga dengan Mickey" lanjut Maddie bersemangat.
"Hm.. iya. Kabari Aku kabar selanjutnya, okay?" ledeknya sebelum ia benar-benar meninggalkan Rosie.
Rosie berharap Maddie tak bertemu Gerardo dibawah sana. Kepergian Maddie juga membuat Rosie berusaha menenangkan dirinya sebelum kedatangan Gerardo kembali.
Tak lama setelah kepergian Maddie suara pintu kamarnya terdengar terbuka dan menampakkan bahu lebar milik Gerardo diambang pintu.
Gerardo menatap kamar rawat Rosie yang memang tak mendapati Maddie disana. Dengan langkah besarnya ia mendekat kearah tempat tidur Rosie.
"Kemana Maddie?" tanya Gerardo.
"Hm.. dia harus kembali bekerja malam ini" balas Rosie.
"Aku tak bermaksud mengganggu waktu mu, hm.. Aku c*m---"
"It's okay.. istirahatlah. Aku akan disini bersama mu malam ini" sela Gerardo sembari membelai lembut rambut Rosie.
Entah kenapa ucapan yang baru saja diucapkan Gerardo membuat suasana hati Rosie menjadi semakin lebih nyaman dan tenang. Rosie memegangi tangan milik Gerardo yang masih berada dipuncak kepalanya lalu menaruhnya pada pipinya sambil melemparkan senyuman kecilnya.
Gerardo menatap dirinya yang masih terlihat berantakan setelah perkelahiannya tadi di bar dan tak sempat merapikan dirinya sebelum ia bergegas terburu-buru untuk mendatangi Rosie di rumah sakit.
"Apa Aku terlihat berantakan? hm.. Aku tak sempat merapikan diri ku sebelum pergi menemui disini" ungkap Gerardo.
"Tak apa. Kedatangan mu disini sudah cukup bagi ku" balas Rosie memperlebar senyumannya.
"Okay.. kalau begitu, istirahatlah..." pinta Gerardo mengelus pipi hangat Rosie.
Rosie memejamkan matanya dengan tangannya yang masih saja memegangi tangan milik Gerardo. Suasana hati yang tadinya buruk perlahan-lahan berubah menjadi lebih baik karena sentuhan serta perlakuan Rosie malam ini padanya.
Tatapan mata mata Gerardo tak pernah luput sedikitpun dari Rosie. Ia terus menatap wanita yang masih terbaring dengan wajah pucat dihadapannya.
Sebuah notification ponsel milik Rosie berbunyi dan menampilkan pesan yang baru saja ia terima dari Maddie. Gerardo yang tak sengaja melihat ponsel itu, membaca pesan yang di kirimkan Maddie untuk Rosie.
"Bagaimana? Apa kalian sudah tidak bertengkar lagi? Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini Rosie, Aku sudah meninggalkan mu sesuai permintaan mu. okay? Aku menunggu cerita mu malam ini, besok. Bye.. Aku akan bersenang-senang dengan Mickey malam ini"
Melihat serta tak sengaja membaca pesan yang tertulis dalam layar ponsel Rosie membuat Gerardo menarik senyum tipis disudut bibirnya. Ia kembali menangkup wajah terlelap Rosie sembari membelainya.
"Aku tak menyangka kalau kau melakukan hal itu hanya untuk membuat ku ada disini malam ini, Rosie.." ucap Gerardo berbisik menahan tawanya.
"Sepertinya kau benar-benar sudah jatuh cinta pada ku?" lanjutnya puas.
"Tapi, Aku bukan lelaki baik yang kau pikirkan. Aku tak tau kau menyadari apa yang menjadi pekerjaan ku atau tidak. Hanya saja pekerjaan ku sangat membahayakan dan Aku takut kau akan menjadi sedih jika sesuatu yang buruk terjadi pada ku" ungkap Gerardo berbisik.
"Pertemuan itu hanya obsesi ku saja untuk menundukkan wanita angkuh seperti mu. Dan tak ku pikir kalau Aku akan merasakan hal ini bersama mu, bahkan kau yang keras kepala bisa mengkhawatirkan Aku.. sungguh itu semuanya diluar ekspetasi ku, Rosie.." lanjutnya.
"Tapi, Aku tak pernah menyesali pertemuan itu dan juga sikap mu saat ini pada ku. Hanya saja Aku takut kau akan sedih dan kecewa karna berharap terlalu tinggi pada ku" tutupnya sembari memberi kecupan singkat pada puncak kepala Rosie.
Malam yang singkat berhasil dilewati Gerardo dan juga Rosie yang saat ini masih tertidur pulas. Pancaran sinar matahari berhasil menembus jendela kamar Rosie dan sangat menyilaukan. Gerardo yang merasakan paparan sinar matahari itu terbangun lebih dulu lalu menatap kearah Rosie yang masih memejamkan matanya.
Mengingat apa yang dilakukan Rosie untuknya saat beberapa hari yang lalu membuat Gerardo melakukan hal yang sama. Ia beranjak dari kursinya lalu berdiri di hadapan Rosie menghalangi paparan sinar matahari untuk tidak menganggu tidurnya.
Tubuh sempurna Gerardo mampu melindungi setengah tubuh ramping Rosie dari paparan sinar matahari pagi tersebut. Ia berdiri dengan tegap dengan pandangannya yang tertuju pada Rosie. Cukup lama ia berdiri hingga Rosie terbangun dari tidurnya karna deringan ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi.
Gerardo tercekat dan mengumpat kesal pada seseorang yang menghubungi Rosie disaat Rosie yang masih tertidur. Menyadari keberadaan Gerardo yang menghalanginya dari matahari membuat Rosie tertawa kecil dan mengabaikan panggilannya.
"Apa kau melakukannya agar Aku tak terbangun?" ucap Rosie.
"Hm" balas Gerardo singkat.
"Sejak kapan kau berdiri disana?"
"Sejam yang lalu, mungkin" balasnya sembari menggidikkan bahunya.
Rosie memperlebar senyumannya dan menarik pergelangan tangan Gerardo lalu memintanya duduk kembali.
Gerardo melemparkan senyuman tipis menatap Rosie yang terlihat senang pagi ini. Lalu suara deringan ponsel milik Rosie kembali mengalihkan perhatian keduanya.
Rosie meraih ponsel dan menatap sebuah nama yang tertera dalam layar ponsel miliknya. Senyuman itu perlahan memudar dengan lirikan kearah Gerardo.
"Ada apa? kenapa kau tak menjawab panggilannya?" tanya Gerardo.
"Hm.. ini hanya dari seseorang yang ku kenal saja" balas Rosie berbohong.
Lalu tak lama setelah panggilan itu berakhir, seseorang dengan tergesa-gesa membuka pintu kamar rawatnya. Rosie tercekat dan Gerardo yang menatap sinis kearah lelaki yang kini berdiri diambang pintu kamar Rosie.
"Vanno?" sahut Rosie pelan lalu melirik kearah Gerardo yang juga tengah menatap Vanno.
"Apa dia yang menghubungi mu tadi?" tanya Gerardo dengan tatapannya yang tak bergeming kearah Vanno.
"Astaga.. Aku tak tau kalau kau berada dirumah sakit Rosie. Hm.. semalam Aku bertemu dengan Maddie dan Mickey. Dia memberitahu ku soal kecelakaan itu. Aku---"
"Aku tak apa-apa, Vanno. Tenanglah.." sela Rosie.
Suasana menjadi canggung setelah kedatangan Vanno dan tentu saja kedatangan itu membuat wajah Gerardo menjadi tegang. Bahkan Rosie tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Siapa kau?" tanya Vanno tiba-tiba kearah Gerardo.
Gerardo menatap kearah Rosie, meminta Rosie yang menjawab pertanyaan yang Vanno lontarkan padanya.
"Dia ken---"
"Aku kekasihnya Rosie, ada apa?" sela Gerardo mengalihkan pandangannya dari Rosie lalu menatap sinis kearah Vanno.
"Ha?"
"Iya. Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkan Rosie lagi karna Aku tak suka. Okay? Apa bisa kau keluar sekarang juga dari kamar Rosie?" jelas Gerardo dengan suara beratnya.
"Apa itu benar Rosie?" tanya Vanno memperjelasnya kembali pada Rosie.
Tatapan itu kembali terarah pada Rosie berharap jawaban Rosie tak membuat suasana hati Gerardo menjadi buruk kembali pagi ini.
"Iya. apa yang dikatakannya benar" ungkap Rosie.
Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Rosie membuat Vanno lemas. Ia sangat kecewa setelah mengetahui kalau Rosie sudah memiliki penggantinya. Vanno berpikir, setelah Rosie putus dengannya dan tak memiliki penggantinya. Rosie masih berharap dengan Vanno hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Namun anggapannya selama ini salah. Rosie telah benar-benar melupakannya.
"Tolong keluarlah... kau membuat suasana hati ku buruk pagi ini" pinta Gerardo.
Dengan wajah penuh kekecewaan Vanno beringsut mundur dan perlahan-lahan meninggalkan kamar rawat Rosie.
Kepergian Vanno membuat suasana di kamarnya menajdi canggung.
Rosie kembali melirik Gerardo yang masih menatap kearah pintu kamarnya yang kini sudah tak menampakkan Vanno disana.
"Hm.. Aku haus, bisa tolong ambilkan ku air itu?" ucap Rosie berusaha mencairkan suasana kamarnya yang terasa dingin.
Tanpa sepatakatapun Gerardo berjalan untuk memenuhi permintaan Rosie. Ia menyodorkan segelas air itu pada Rosie dengan rahangnya yang masih mengatup keras.
"Apa kau marah?" tanya Rosie polos.
"Tidak" balas Gerardo singkat.
"Lalu kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu?"
"Kenapa kau tak jujur saja kalau panggilan mu tadi dari lelaki pengecut itu?" tanya Gerardo.
"Hm.. seperti yang kau katakan padanya. Aku tak ingin suasana hati mu buruk pagi ini" balas Rosie sembari memaksa dirinya sedikit tersenyum dihadapan wajah garang Gerardo.
Tak Rosie sangka kalau jawabannya mampu membuat Gerardo tersenyum walaupun begitu tipis nyaris tak diketahui oleh siapapun kalau itu adalah wajahnya saat ia tersenyum.
"Sepertinya kau memang sudah sangat memahami ku, Rosie.." ucap Gerardo memperlebar senyumannya.
"Sangat menakutkan kalau suasana hati mu kembali buruk" ledek Rosie kembali.
"Oh iya.. apa kau yakin akan keluar dari rumah sakit hari ini?"
"Hm.. kata Dr. Broke juga seperti itu" jelas Rosie.
"Baiklah.. Aku akan ke apartement sebentar untuk mengganti pakaian ku sekaligus membersihkan diriku. Setelah itu Aku akan kembali menjemput mu disini dan membawa mu pulang. Hm.. apa tak apa kau menunggu ku sebentar saja?" ucap Gerardo.
"Iya. Pergilah.. Aku akan menunggu mu disini" balas Rosie tersenyum.
"Baiklah.. Aku pergi sekarang. Jika ada sesuatu hubungi Aku secepatnya, okay?" pinta Gerardo saat dirinya hampir mencapai pintu kamar Rosie.
Kepergian Gerardo membuat Rosie terlihat bahagia dengen kebersamaannya malam ini. Ia mencari ponselnya untuk menghubungi Maddie, namun ia tampak terkejut dengan sebuah pesan yang dikirimkan Maddie semalam. Dimana ia yang sudah tertidur pulas.
"Apa mungkin Gerardo melihat pesan dari Maddie? Ah, sial! Aku berharap dia tidak melihatnya. Bisa saja, dia mengetahui soal kepergian Maddie. Aku bisa malu karna itu.." keluh Rosie.
"Semoga saja dia tak melihatnya, yah! semoga saja!" lanjutnya meyakinkan dirinya sendiri.
***
Motor besar yang di kendarai Vanno berhenti disalah satu rumah temannya, Mattie. Vanno terlihat begitu kesal hingga membuat Mattie menegurnnya. Tak biasanya Vanno mendatanginya dengan kekesal seperti hari ini.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu kesal?" tanya Mattie.
"Aku baru saja mengunjungi Rosie dirumah sakit"
"Ha? Rosie masuk rumah sakit? Kenapa bisa?" tanya Matti penasaran. Dimana ia juga baru saja tau kalau Rosie saat ini sedang berada dirumah sakit.
"Maddie memberitahu ku kalau dua hari yang lalu Rosie ditabrak" jelas Vanno.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Dia tidak terluka parah, kan?"
"Iya.. Aku juga tadi melihatnya baik-baik saja"
"Lalu kenapa kau kesal?"
"Saat Aku tiba disana, Aku melihat seorang lelaki bersamanya. Dan Rosie mengatakan kalau itu adalah kekasihnya" jelas Vanno dengan nada frustasi.
Mendengar alasan kekasan Vanno membuat Mattie tertawa.Hal itu tentu saja semakin membuat Vanno kesal dan marah. Vanno meleparkan sebuah mantel tebal kearah Mattie dan berhasil mengenai wajahnya.
Sejak Vanno bersama Rosie dulu, Mattie selalu saja memperingatkan Vanno soal rasa cinta Rosie kepadanya yang begitu besar. Namun, Vanno selalu saja menyakiti Rosie dan berbohong padanya hingga Vanno terpikat dengan Miya yang saat itu memang sengaja menggodanya karena bosan dengan Ethan.
Bahkan Mattie selalu saja bertengkar dengan Vanno hanya karena Mattie yang berada di pihak Rosie. Mattie yang selalu saja menyaksikan pengorbanan Rosie serta sikap Rosie yang selalu saja mengalah pada Vanno. Membentak dan memperlakukannya dengan kasar namun Rosie selalu menerimanya karna rasa cintanya pada Vanno.
Mendengar ucapan Vanno yang baru saja dia katakan membuat Mattie membenarkan soal penyesalan yang selalu saja datang di belakang.
"Aku sudah katakan pada mu sering kali, jangan pernah menyia-nyiakan Rosie.. bro" ucap Mattie sembari menepuk pundak Vanno.
"Kau menyesal kan sekarang membuangnya hanya karna w************n itu yang menggoda mu untuk tidur dengannya?" lanjutnya kembali mengingatkan Vanno pada Miya.
"Shut up, Mattie!" gertak Vanno.
"Sepertinya Rosie memang sudah mendapatkan otaknya kembali" bisik Mattie yang semakin membuat Vanno kesal.
"Kau seharusnya tak mengatakan itu, Mattie!" bentak Vanno kembali.
"Kenapa? Aku mengatakan hal yang benar, Vanno! Kau juga menyadari hal itu kan? Kau pasti ingat semua yang pernah dilakukan Rosie untuk mu. Karna cintanya pada mu kau selalu mengatakan dia wanita yang bodoh. Dia tak bodoh Vanno, dia hanya tergila-gila pada mu saat itu.." jelas Mattie menyadarkan Vanno kembali dengan semua sikap Rosie padanya.
"..Kenapa Aku mengatakan hal ini pada mu. Itu agar kau tak lagi memperlakukan wanita sesuka mu" lanjut Mattie.
Tampaknya apa yang dikatakan Mattie membuat Vanno semakin kesal saja. Vanno melayangkan pukulan tepat di hidung Mattie sebelum ia meninggalkannya dengan segala umpatan yang terlontar dari mulutnya.
*****