JP Corp sebuah perusahaan media massa yang terbilang sukses sejak 8 tahun lalu. JP Corp juga termasuk salah satu perusahaan yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Jp Corp memiliki banyak chanel diantaranya tentang hiburan, olahraga, produksi film serta penyiaran yang berhasil digarap oleh mereka.
Memiliki banyak staff handal dan selalu menampilkan sesuatu yang menarik pagi para pemirsanya. JP Corp berjaya sekitar 8 tahun lalu, dimana ia berhasil menayangkan secara live para pejabat yang melakukan perdagangan senjata ilegal. Sejak saat itu chanel yang digarap olehnya selalu menjadi nomor 1 di semua bagian Amerika Serikat.
Gedung yang memiliki 30 lantai itu berhasil membuat Rosie serta Alexa tercengang. Kalimat pujian tak henti-hentinya terlontar dari bibir keduanya. Bahkan saat ini keduanya terlihat sangat bersemangat untuk interview hari ini.
"Rosie.. lihat Aku. Apa Aku sudah terlihat menarik?" bisik Alexa.
"Ya. Tentu saja, Alexa. Lalu dimana teman mu itu? Bukannya dia yang akan membawa kita untuk interview hari ini?"
"Ah.. ya. Aku akan menghubungi" ucap Alexa sambil mengambil ponsel miliknya.
Salah satu staff perusahaan tersebut menghampiri Rosie dan Alexa yang tampak sedang menunggu seseorang.
"Permisi nona.. apa mungkin ada yang bisa kami bantu?" tegur seorang wanita yang memiliki setelan menarik pada Rosie dan juga Alexa.
"Ah.. ya. Aku ingin bertemu dengan Anthonie" balas Alexa ramah.
"Baik.. silahkan tunggu disini. Aku akan memanggilkannya untuk Anda" ucap staff wanita tersebut mempersilahkan Rosie dan Alexa duduk terlebih dahulu.
Tak cukup lama, Anthonie teman Alexa menghampiri keduanya dan menyapanya dengan begitu ramah.
Alexa memperkenalkan Rosie pada Anthonie.
Anthonie mengajak Alexa dan juga Rosie menuju lift dan membawanya ke lantai 9. Dimana Rosie dan juga Alexa akan bertemu dengan pimpinan Anthonie untuk interview hari ini.
"Aku sangat gugup, Anthonie.." bisik Alexa.
"Tenang saja, Alexa. Aku yakin kau dan Rosie bisa melakukan yang terbaik hari ini" balas Anthonie memberikan semangat.
Pintu lift membuka bersamaan dengan ponsel Rosie yang menampilkan pesan yang dikirimkan Gerardo untuknya.
"Apa kau sudah selesai?"
"Aku baru saja tiba dan akan melakukan interview ku bersama Alexa. Kau dimana?"
Anthonie membawa Alexa dan juga Rosie menuju ruangan yang berada di sisi pojok lantai tersebut. Dimana depan pintu ruangan tersebut bertuliskan nama pemiliknya.
Seorang lelaki bertubuh jangkung duduk diatas kursi kerjanya sembari menatap Rosie dan juga Alexa yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
Sudah mengetahui maksud dari Anthonie membuat lelaki itu mempersilahkan Rosie dan Alexa duduk di kursi tamu ruangannya.
"Hai.. hm, Aku Damian Cameel" sapa lelaki tersebut.
"Ya.. Aku Alexa dan dia Rosie.." balas Alexa lebih dulu.
Percakapan itu berlangsung dimana pesan dari Gerardo kembali masuk dan menyadarkan Rosie. Namun tidak ingin dibilang tak sopan, Rosie mengabaikan pesan Gerardo dan menjawab beberapa pertanyaan yang di layangkan Damian untuknya.
Lalu Rosie tersentak saat ponselnya tiba-tia berdering ditengah percakapannya dengan Damian. Panggilan itu dari Gerardo dan tak berpikir panjang Rosie mematikan ponselnya.
"Hm.. sorry" ucap Rosie setelah mematikan ponselnya.
Damian melanjutkan kembali memberikan beberapa pertanyaan untuk Rosie dan juga Alexa hingga percakapan itu berakhir dengan hasil yang memuaskan untuk keduanya.
"Terima kasih, Tn. Cameel atas kepercayaan dan juga kesempatan yang diberikan pada kami berdua" ucap Rosie sopan.
"Iya. Senang bertemu dengan mu dan selamat bergabung Rosie, Alexa.." balas Damian ramah.
Rosie, Alexa dan juga Anthonie meninggalkan ruangan Damian dengan perasaan yang begitu lega. Alexa juga menyampaikan rasa terima kasihnya pada Anthonie yang sudah merekomendasikannya pada Tn. Cameel.
Rosie dan juga Alexa pamit meninggalkan Anthonie dimana Rosie teringat dengan panggilan Gerardo tadi. Rosie mengambil ponselnya lalu menghidupkannya kembali bersamaan ia dan juga Alexa keluar dari perusahaan tersebut.
Baru saja ia menghidupkan ponselnya, Gerardo kembali menghubunginya.
"Ada apa? Kenapa kau terus menghubungi ku? Aku sudah katakan, Aku ada inter---"
"KAU DIMANA?!" teriak Gerardo panik dalam panggilannya.
"Kau kenapa? Aku baru saja keluar dari perus----"
"ROSIE!!!!" teriak Alexa.
Bruuuuukkkkk!!! (Suara tabrakan)
- GERARDO POV -
Mata ku tiba-tiba melebar saat mendengar suara wanita yang memanggil nama Rosie bersamaan dengan suara tabrakan dalam panggil ku.
"Rosie???"
"Rosie!!!!"
"Apa kau mendengarkan ku?"
"Rosie!!!"
"Rosie!!!"
Sial!
Jantung ku berdegub kencang. Aku meninju jok mobil ku sembari mengumpat. Lalu terdengar suara wanita lain dari panggilan ku.
"Halo?"
"Rosie?"
"Hm.. Rosie---di---dia---"
"Apa! Katakan yang jelas!" bentak ku.
"Rosie ditabrak, hm.. apa yang harus ku lakukan? Kepalanya berdarah, tolong Aku..apa yang harus ku lakukan?" ucap wanita yang tak ku kenali pada panggilan ku.
"Bawa dia kerumah sakit terdekat dan kirimkan Aku alamat rumah sakit itu. CEPAT!!!!"
Jantung ku semakin kacau, Aku tak ingin terjadi sesuatu dengannya. Sial! Ini adalah salah ku. harusnya Aku tak meninggalkannya pagi ini.
"Sepertinya dia sudah mengetahui soal Rosie, Tuan.." ucap Brown pada kursi pemudi.
"f**k!!! benar-benar, sial!---lajukan mobilnya dengan cepat, Brown!" pinta ku.
Saat ini Aku benar-benar frustasi dan begitu ketakutan kalau saja sesuatu yang buruk terjadi pada Rosie. Pesan misterius yang lagi dan lagi di terima Allio benar-benar mengarah pada Rosie untuk kali ini.
***
- AUTHOR POV -
Dengan tangisan yang pecah serta rasa takut yang luar biasa di rasakan Alexa. Ia berhasil membawa Rosie menuju rumah sakit terdekat lalu menghubungi Maddie.
Maddie yang masih saja merasa pusing pada kepalanya sangat terkejut mendengar kabar buruk yang diberitahukan Alexa padanya. Tanpa membuang waktu Maddie berlari dengan tangisan yang sama dengan Alexa menuju rumah sakit tempat Rosie dibawa siang ini.
Gerardo lebih dulu tiba dan berlari hingga ia bertemu dengan Alexa.
"Kau?" ucap Alexa setelah mengingat wajah Gerardo yang beberapa kali ia temui di bar.
"Bagaimana keadaan Rosie?" tanya Gerardo panik.
"Aku tak tau" balas Alexa menangis sesegukan.
Lalu Maddie kemudian menyusul dan mendapati Gerardo serta Alexa.
"Maddie!!" sahut Alexa berlari lalu memeluknya.
"Dimana Rosie?" tanya Maddie panik.
Alexa menunjuk kearah ruangan tempat Rosie tadi dibawa.
"Apa yang terjadi Alexa? Kenapa Rosie bisa tertabrak?" tanya Maddie.
"Rosie dia berjalan lebih dulu dari ku sambil berbicara di panggilannya. Lalu---hm.. lalu tiba-tiba saja sebuah mobil melaju dan menabraknya begitu saja" jelas Alexa dengan suaranya yang terdengar gemetar.
Maddie menghela napas kasar lalu memeluk Alexa kembali sembari menenangkannya. Maddie tak ingin menyalahkan Alexa, dimana ia juga tau kalau Alexa sangat shock dengan kejadian hari ini.
Lalu Maddie menyadari keberadaan Gerardo dan menegurnya.
"Kau? kenapa kau ada disini?"
Namun tak ada jawaban dari Gerardo. Ia hanya terfokus pada jendela kaca yang ada pada ruangan tersebut, meskipun ia juga tak dapat melihat Rosie di dalamnya.
Kedua tangan Gerardo terlihat mengepal begitu erat dibawah sana. Seakan ia akan mencari lalu membunuh orang yang sudah membahayakan Rosie.
Cukup lama semuanya menunggu hasil dari kondisi Rosie, hingga seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Gerardo terkejut saat mendapati Dr. Broke yang keluar dari ruangan tersebut.
"Dr. Broke?" sapa Gerardo lebih dulu.
Maddie dan juga Alexa terlihat bingung saat Gerardo mengenali dokter yang baru saja menangani Rosie.
"Sepertinya Aku benar. Dia wanita yang kau bawa saat itu di apartement mu" ucap Dr. Broke.
"Nanti saja kalau kau mau membahas itu. Aku hanya perlu tau kondisinya!" ungkap Gerardo panik.
"Dia kehilangan banyak darah di kepalanya, tapi untung saja benturannya tidak sampai menganggu sarafnya. Aku sudah memberikan beberapa jahitan" jelas Dr. Broke.
"Tapi dia akan sadar, kan?" sela Maddie begitu khawatir.
"Iya, kita akan menunggu hingga dia sadar" tutup Dr. Broke.
"Aku baru saja ingin memberitahu mu. Aku pikir kau tak tau apa yang terjadi padanya" bisik Dr. Broke pada Gerardo.
"Hm.. Aku akan bertanggung jawab pada pasien yang ini. Kalian bisa menyiapkan kamar untuknya" pinta Dr. Broke pada kedua perawat yang juga tadi ikut membantunya dalam ruangan tersebut.
"Terima kasih.. terima kasih, Dr. Broke" ucap Maddie dan juga Alexa.
Rosie yang masih dalam kondisi tidak sadarnya di bawa menuju kamar yang telah Dr. Broke sediakan untuknya. Maddie dan juga Alexa mengikuti perawat itu hingga tiba disebuah kamar rawat yang terbilang sangat luas hanya untuk satu orang pasien.
"Permisi, apa kau yakin ini kamar untuk Rosie?" tanya Maddie pada perawat tersebut.
"Iya, nona" balasnya singkat sembari memindahkan Rosie.
"Tunggu! Kenapa dokter itu bisa mengenali Rosie dan juga lelaki itu?" tanya Maddie pada Alexa.
"Lalu dia memberikan kamar rawat seluas ini padanya. Siapa mereka?" lanjut Maddie kebingungan.
"Apa Rosie tak pernah bercerita pada mu? Hm.. Aku hanya beberapa kali saja melihat lelaki itu bersama Rosie di bar" ungkap Alexa.
"Tidak. Rosie tak pernah menjelaskan secara detail. Hanya saja yang Aku tau memang ada lelaki yang selalu menganggunya. Dan Aku tau lelaki yang ia maksud itu, lelaki tadi. Tapi, kenapa dia--"
Kalimat Maddie menggantung saat melihat Gerardo dan Dr. Broke tiba di kamar rawat Rosie, di ikuti beberapa lelaki berjas hitam dibelakangnya.
"Kau tak usah khawatir.. Aku yang akan menjaga Ros--"
"Gerard.. kau tak perlau sejauh ini pada wanita ini" sela Dr. Broke berbisik padanya.
"Aku tak dapat menjelaskannya pada mu. Hanya saja untuk kali ini, tolong biarkan Aku juga berada disini" balas Gerardo berbisik.
Maddie dan Alexa menatap Gerardo serta Dr. Broke dengan tatapan menyelidik. Keduanya sangat penasaran dengan apa yang diucapkan keduanya.
"Tapi kau tak pernah lagi menginjakkan kaki mu dirumah sakit sejak kematian ayah---"
"Mereka bisa saja mendengar mu" sela Gerardo mengakhir percakapannya dengan Dr. Broke.
Menyadari Maddie dan juga Alexa yang tampak curiga dengannya membuat Gerardo meminta Dr. Broke keluar lebih dulu.
Kepergian Dr. Broke membuat Maddie melayangkan beberapa pertanyaan pada Gerardo. Dan pertanyaan itu mengarah pada rasa penasaran Maddie soal identitas Gerardo sebenarnya.
"Kau bisa menanyakan itu pada Rosie jika dia akan sadar nanti" ucap Gerardo singkat dan tak bertele-tele yang membuat Maddie terdiam dan tak mengajukan pertanyaan seputar dirinya lagi.
"Oh iya.. jika kalian melihat lelaki berjas di depan kamar Rosie. Itu adalah anak buah ku yang akan menjaga Rosie" lanjut Gerardo.
"Kenapa memangnya? Kenapa anak buah mu harus menjaga Rosie? Apa Ada orang yang mencelakainya?" tanya Alexa penasaran.
Gerardo menghela napas kasar dan menatap sinis kearah Alexa.
"Bukannya akan lebih bagus jika banyak yang menjaganya?" tegas Gerardo dengan rahang mengerasnya.
Wajah tegang Gerardo membuat nyali Alexa menciut dan membuang pandangannya.
Mengingat soal ucapan Rosie tadi pagi di panggilannya yang menyebutkan nama Alexa serta perusahaan tempat yang ia datangi pagi tadi.
"Perusahaan apa yang kau tempati bersama Rosie pagi tadi?"
"JP Corp" balas Alexa acuh.
"APA!!!" ucap Gerardo dengan suara yang terdengar tinggi.
Maddie dan juga Alexa sangat terkejut dengan ekspresi Gerardo soal perusahaan tersebut.
"Ada apa?"
"Tidak! Rosie tak boleh bekerja disana!" ungkap Gerardo dengan wajahnya yang serius.
"Memangnya kenapa? Kenapa kau melarang Rosie?!" sela Maddie dengan nada kesal.
Gerardo mengontrol amarahnya sembari menatap kearah Rosie yang masih terbaring tak sadarkan di atas ranjang rumah sakit. Lalu melayangkan tatapan sinis kearah Maddie.
"Kalian jaga saja Rosie dan yah! Jika terjadi sesuatu atau melihat orang yang mencurigakan segera hubungi Aku di nomor ini!" ucap Gerardo menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nomornya di dalam sana.
"Orang mencurigakan? Hey! Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" cegat Maddie melemparkan secarik kertas itu kearah Gerardo.
Lagi dan lagi kesabaran Gerardo di uji oleh Maddie. Namun ia harus menahan dirinya mengingat kondisi Rosie saat ini.
"Kau akan membutuhkan kertas itu, Maddie!" ucap Gerardo sembari menoleh kearah Maddie sebelum meninggalkan kamar rawat Rosie.
"Dia tau nama ku? Apa sebenarnya hubungan dia dengan Rosie?" ungkap Maddie menatap kearah Alexa.
Alexa mengambil ronyakan kertas yang berhasil di lemparkan Maddie tadi pada Gerardo.
"Sepertinya, tak ada salahnya kita menyimpan kertas ini.. Maddie" ucap Alexa.
Berusaha menghilangkan kekesalannya pada Gerardo. Maddie mendekat kearah Rosie, memegangi tangannya sembari menahan tangis melihat kondisi memprihatikan sepupunya kali ini.
Maddie juga menyakan pada Alexa soal mobil yang menabraknya tadi. Namun Alexa yang panik tak sempat mengenali mobil tersebut yang secepat kilat menghilang dari pandangannya. Lalu Maddie teringat soal cerita Rosie tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana seorang lelaki datang kerumahnya secara diam-diam dan mencekiknya.
"Apa dia lelaki itu lagi?"
*****