Mobil hitam mengkilap itu berhasil bersandar di basement gedung apartement milik Gerardo dimana Rosie yang baru saja turun setelahnya. Gerardo berjalan dengan begitu santai sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celannya.
Lift itu terbuka dan tak menampilkan siapapun disana membuat Gerardo mempersilahkan Rosie masuk lalu dirinya. Tak ada sepatakatapun yang terontar dari mulut Rosie hanya saja jantungnya yang berdegub begitu hebatnya. Beberapa kali melirik kearah Gerardo yang saat ini menampilkan wajah datarnya.
Tak ingin suasananya yanh terus canggung, Rosie memutuskan untuk mengatakan sesuatu pada Gerardo bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dan membawanya ke lantai dimana apartement milik Gerardo ada disana.
"Hm.. bagaimana keadaan Allio? Apa dia sudah membaik?" tanya Rosie.
"Iya, sepertinya" balas Gerardo singkat.
Langkah besar Gerardo yang harus disesuaikan dengan Rosie membawa mereka tepat di depan pintu apartement milik Gerardo. Tangan besar itu menarik gagang pintu dan mempersilahkan Rosie masuk ke dalam apartementnya yang akhir-akhir ini sering Rosie kunjungi.
Beberapa pertanyaan sejak tadi terbesit dalam pikiran Rosie, hanya saja bibir Rosie tak mampu melontarkan pertanyaan itu pada Gerardo.
"Oh iya, tadi kau mengatakan.. kau sedang berada dirumah teman mu?" tanya Gerardo tiba-tiba.
"Iya. Karen mengadakan pesta kecil dirumahnya dan meminta Aku, Maddie dan juga Alexa datang"
"Hanya kalian?" tanya Gerardo sembari melepaskan jaket miliknya dan meletakkannya pada tangan sofa miliknya.
"Hm.. ada beberapa teman ku juga" balas Rosie yang tak ingin Gerardo mengetahui kalau Vanno juga ikut dalam pesta tersebut.
"Sepertinya kau sangat suka pesta, Rosie.." ucap Gerardo.
"Tidak juga.." balas Rosie sambil mengidikkan bahunya.
Gerardo menatap lekat kearah Rosie membuat Rosie menjadi gugup.
"Apa kau tadi benar-benar mabuk saat mencium ku?"
Pertanyaan itu membuat bola mata milik Rosie melebar. Pertanyaan yang sejak tadi Rosie hindari. Rasanya ia benar-benar malu karena tanpa sadar mencium Gerardo.
"Ah iya.. Aku rasa seperti itu" balas Rosie gugup.
"Kau tau.. itu adalah kali pertamanya kau mencium ku tanpa ada paksaan dari ku" ungkap Gerardo sembari meneguk sebotol wiski yang berada ditangan kanannya.
"Iya, Aku minta maaf. Sepertinya Aku terlalu banyak minum tadi" ela Rosie yang masih tetap kekeuh pada dirinya.
"Kenapa kau harus meminta maaf?" tanya Gerardo berjalan semakin dekta kearah Rosie yang terduduk di atas sofa miliknya.
Jantung Rosie kembali berdegub kencang, ini tak sepertinya. Mememiliki perasaan terintimidasi sepertinya bukan lah diri Rosie sebenarnya. Rosie berusaha menormalkan dirinya sembari mencari pasokan udaranya yang sejak tadi menipis.
"Tak apa. Oh iya, lalu kenapa kau membawa ku kesini?" tanya Rosie sambil menatap kedua bola mata hitam pekat milik Gerardo.
Dimana sejak tadi ia sampai di apartement, Rosie tak berani menatap kedua bola mata Gerardo karena jantungnya yang seakan terus saja memburu.
Gerardo menarik senyum tipis disudut bibirnya, saat ia sudah kembali dapat menatap bola mata milik Rosie.
"Hm.. Aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan mu sebelum..."
"Sebelum apa?" sela Rosie penasaran.
"Aku akan ada suatu pekerjaan nantinya" balas Gerardo singkat.
"Apa kau tak bisa menemani ku minum malam ini?" lanjut Gerardo menawarkan Rosie segelas bir yang berhasil ia tuang kedalamnya.
"Baiklah.." balas Rosie mengambil gelas yang berada ditangan Gerardo lalu meneguknya.
Gerardo duduk tepat di samping Rosie yang masih terduduk di atas sofa sambil meneguk wiski itu bersamanya.
Tatapan mata itu terus saja terarah pada Rosie yang terus saja meneguk wiski itu. Senyuman tanpa sadar juga membentuk di wajah tegas milik Gerardo.
"Apa kau memiliki rahasia, Rosie?" tanya Gerardo tiba-tiba.
"Rahasia?"
"Hm" balasnya.
Rosie tertawa kecil mendengar pertanyaan unik yang dilontarkan Gerardo untuknya.
"Ya. Aku mempunyai jutaan rahasia" ungkap Rosie dimana kesadarannya yang perlahan-lahan menurun karna alkohol yang sejak tadi ia teguk.
"Kenapa? Apa kau juga memiliki rahasia seperti Aku?" lanjutnya menatap kearah Gerardo.
"Tentu saja. Dan mungkin saja rahasia ku lebih banyak dari milik mu" balasnya.
"Iya. Itu sudah pasti. Kau sangat misterius, bahkan peker---ups, Aku tak bermaksud menyinggung soal itu" ucap Rosie mabuk.
Ucapan serta ekspresi terkejut saat Rosie tanpa sadar menyinggung soal pekerjaan Gerardo membuat Gerardo tertawa kecil.
Mata Rosie semakin terlihat sayu disaat kesadarannya benar-benar sudah menurun.
"Apa Aku semistrerius itu? Lalu kenapa kau tak pernah takut saat bersama ku?"
Gerardo tak ingin membuang kesempatan, dimana ia akan bebas untuk menanyakan banyak pertanyaan pada Rosie.
"Siapa bilang Aku tidak takut? Hm.. Aku takut. Hanya saja berada di dekat mu membuat ku merasa aman, Aku tak tau hal itu" ungkap Rosie tersandar sembari memejamkan kedua matanya.
"Kau tau? Aku berusaha terlihat berani dihadapan mu, karna Aku tau.. jika Aku mengatakan takut mungkin saja Aku sudah tak terlihat menarik lagi di depanmu. Dan kau mungkin saja akn membunuh---Ah, itu tidak mungkin" lanjut Rosie mengulas tawa kecil.
Gerardo terlihat puas dengan kejujuran yang dikatakan Rosie malam ini padanya. Percakapan ini semakin menarik dan membuat Gerardo menginginkan lebih banyak lagi kejujuran dari Rosie.
"Tapi Aku tau kau sangat membenci ku, Rosie.."
"Benci? Hm.. iya. Awalnya Aku sangat membenci lelaki seperti mu, sangat benci. Tapi, sejak kejadian menyeramkan di apartement mu saat itu.. kau melindungi ku dan terus saja menyelamatkan ku. Kau tau... kejadian itu membuat ku teringat dengan kematian ayah ku, dia tertembak tepat dihadapan ku. Kau seperti dia, kau melindungi ku meskipun kau tau itu juga sangat membahayakan untuk mu.." jelas Rosie dengan nada suara yang melemah.
Wajah Gerardo berubah setelah cerita sedih Rosie tentang kehidupannya. Gerardo menatap lekat wajah sendu Rosie yang saat ini terlihat tetesan air mata membasahi pipinya.
"Aku sangat merindukannya.. sangat merindukannya. Dia segalanya bagi ku, tapi kenapa dia harus meninggalkan ku? Aku sangat kesepian.. dia mengorbankan segalanya untuk..."
Kalimat itu menggantung saat Rosie sudah tak sadarkan diri. Dimana pipinya yang basah karna air mata dari cerita masa lalunya yang menyedihkan.
Gerardo menyeka air mata Rosie yang membasahi pipinya. Mengelus lembut wajahnya dengan tangannya yang besar.
"Aku tak tau kalau kau juga bisa meneteskan air mata, Rosie.." ucap Gerardo berbisik.
"Apa itu rahasia yang kau maksud? Berusaha selalu terlihat berani tapi hati mu begitu rapuh? Benar begitu, Rosie.." lanjutnya kembali.
Gerardo menggendong Rosie dan membawanya kedalam kamar miliknya. Meletakkannya dengan hati-hati lalu di selimutinya.
Gerardo menatap jendela kaca dari dalam kamarnya. Ia teringat soal perkataan Rosie yang menyinggung soal pekerjaan misteriusnya dan juga membahayakan. Rosie tak pernah menanyakan pekerjaan apa yang dilakukan Gerardo. Yang ia tau kalau pekerjaan itu tentu saja membahayakannya. Seperti insiden kebakaran di bar beberapa bulan lalu yang membawanya pertama kali masuk kedalam apartement milik Gerardo.
Lalu pikiran Gerardo kembali terbesit pada pesan misterius yang di perlihatkan Allio padanya, Dimana ia begitu sangat yakin kalau pesan ancaman itu dikirimkan oleh Paul yang hingga saat ini ia dan juga para anak buahnya belum mengetahui keberadaan pencuri berliannya itu.
***
Roma, Italia
Sebuah bangunan yang megah terletak di tepi pantai Stella Marina yang menjadi salah satu pantai terbaik di Italia. Bangunan serba putih itu terlihat menjulang sebagai satu-satunya ikon terbaik di kota tersebut. Terdapat banyak pilar-pilar raksasa yang menopang bangunan luar biasa itu.
Terlihat banyak lelaki berjas yang memenuhi setiap sudut bangunan megah tersebut. Bahkan di dalamnya terdapat sekitar belasan pelayan yang memiliki tugas masing-masing.
Seorang pelayan wanita paruh baya terlihat seperti layaknya kepala pelayan yang memberikan perintah untuk menyiapkan berbahagai macam menu sarapan diatas sebuah meja berbentuk persegi panjang. Dimana pada bagian tengah meja tersebut terdapat bunga lily yang begitu indah yang menjadi bunga khas dari negara yang terkenal dengan spagetti itu.
"Tolong sampaikan pada Tn. Casio kalau sarapannya sudah siap" pinta kepala pelayan tersebut.
Kepala pelayan itu berdiri di sisi kanan salah satu kursi meja makan tersebut sembari menunggu majikannya yang akan tiba. Dan tak menunggu lama, lelaki bertubuh proporsional itu berjalan dengan langkah besarnya sambil memegangi ponsel di tangan kanannya.
"Buongiorno.. Tn. Casio" ucap kepala pelayan itu memberikan ucapan selamat pagi dalam bahasa italia.
Sembari menundukkan kepalanya saat majikannya akan duduk di kursi tersebut. Dimana pelayan yang lainnya menuangkan kopi pada cangkir yang juga terlihat mewah.
"Silahkan menikmati sarapan Anda, tuan.." ucap kepala pelayan itu lagi.
Paul Casio, lelaki yang memiliki kekayaan yang luar biasa setelah mendapatkan berlian curian milik Gerardo dari adiknya Jamie Casio yang juga berhasil dibunuh oleh Gerardo saat perjalanannya ke Manchester beberapa bulan yang lalu.
Kematian Jamie membuat Paul menaruh dendam pada Gerardo. Meskipun ia tau kalau kekayaan yang berhasil ia perolah saat ini berkat berlian curian yang di curi Jamie adiknya.
Paul terlihat mengulas senyum saat memandang sesuatu pada layar ponselnya. Sambil meneguk kopi yang disuguhkan pelayannya, ia juga mengetikkan sesuatu dalam ponselnya. Sebuah perintah?
***
Chicago, Amerika Serikat
Rosie terbangun dan lagi ia berada di apartement milik Gerardo. Ia melihat seisi kamar Gerardo dan tak mendapatinya disana. Rasa pusing dari kepalanya masih menyelimutinya, dimana perlahan-lahan ia beranjak dari ranjang tersebut dan keluar mencari keberadaan Gerardo. Namun ia juga tak mendapatinya di luar kamar. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar yang ia tempati tadi terbangun dan mendapati secarik kertas yang menuliskan sesuatu di sana.
"Aku ada urusan hari ini. Aku tak bisa mengantar mu kembali, tapi Luci anak buahku ada dibawah dan akan mengantarkan mu kembali kerumah mu hari ini. Hubungi Aku jika kau sudah berada dirumah mu. Hm.. dan yah terima kasih atas kejujuran mu semalam, Rosie.."
Surat yang dituliskan Gerardo membuat Rosie mencobaa mengingat kejujuran apa yang ia maksudkan dalam surat tersebut.
"Apa yang ku katakan padanya?" ucap Rosie pada dirinya sendiri.
"Ah.. sial!"
Rosie tersentak saat ia mengingat soal pekerjaan yang ditawarkan Alexa padanya. Dimana hari ini ia berjanji akan mendatangi perusahaan itu bersama Alexa.
"Astaga.. Rosie! Kau harus pergi sekarang!" teriak Rosie terburu-buru meninggalkan apartment milik Gerardo.
Sesuai dengan perkataan Gerardo, Lucio anak buahnya tampak sudah menunggu Rosie sejak tadi.
"Selamat pagi, non Rosie.." sapa Lucio.
"Ah.. ya. Kau pasti yang dimaksudkan Gerardo" ucap Rosie pada Lucio.
"Hm.. iya. Aku akan mengantarkanmu"
Tanpa menunggu lama, Rosie masuk ke dalam mobil tersebut. Dimana Lucio melajukan mobil tersebut dan berhasil membawa Rosie tiba di depan rumahnya.
"Hey.. thank you.." ucap Rosie sebelum meninggalkan Lucio.
Bersamaan dengan ia yang baru saja tiba dirumahnya, sebuah pesan singkat menyadarkannya. Pesan dari Alexa.
"Kau tak lupa dengan agenda kita pagi ini kan, Rosie?"
"Ah.. sial!" umpat Rosie berlari masuk kedalam kamarnya.
Rosie mendapati Maddie yang masih saja tertidur dalam keadaan kacau karna pesta Karen semalam yang membuatnya mabuk berat.
Mengabaikan Maddie, Rosie bersiap-siap dengan janjinya bersama Alexa pagi ini. Ia mencari setelan formal yang akan ia kenakan untuk mengujungi perusahaan tersebut.
Sebuah blouse berwarna peach yang ia padukan dengan blazer berwarna putih membuat setelan itu tampak cocok dengannya pagi ini. Lalu bawahannya Rosie memilih celana yang juga senada dengan warna blazer miliknya.
"Aku rasa ini akan cocok dengan tema ku pagi ini" ungkap Rosie dihadapan cermin.
Sambil mengenakan pakaiannya, Rosie juga terlihat beberapa kali membangunkan Maddie dari tidurnya. Bahkan ia menarik tirai kamarnya yang akan membuat paparan sinar matahari itu mengenai wajah kacau Maddie.
Sebuah pesan kembali diterima Rosie.
"Aku akan tiba, Rosie. Kau dimana?"
Namun tiba-tiba saja Rosie juga teringat dengan pesan yang dituliskan Gerardo pagi ini. Gerardo meminta Rosie untuk menghubuginya saat ia sudah tiba dirumahnya.
Rosie dengan terburu-buru mencari nama Gerardo pada kontak di ponselnya lalu menghubunginya. Dan tentu saja panggilan Rosie di jawab oleh Gerardo yang sejak tadi sudah menunggunya.
"Apa kau baru saja tiba dirumah?" tanya Gerardo pada panggilannya.
"Hm.. tidak. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu. Hanya saja Aku terburu-buru karna janji ku dengan Alexa hari ini" jelas Rosie sambil memakai sepatu miliknya.
"Janji? Kau ada janji hari ini?" tanya Gerardo memperjelas.
"Iya. Semalam Alexa mengajak ku bekerja di salah satu perusahaan tempat temannya juga bekerja. Dan pagi ini Aku akan kesana bersamanya" jelas Rosie kembali.
"Perusahaan apa? Dimana?"
"Aku tak tau pasti. Maka dari itu Aku akan pergi mengeceknya bersama Alexa hari ini. Aku akan pergi sekarang. Aku akan menghubungi mu nanti, okay? Hm.. dan yah, hati-hatilah" ucap Rosie sebelum mengakhiri panggilannya dengan Gerardo.
Rosie mengakhiri panggilannya membuat Gerardo menghela napas. Dimana rasa kekhawatirannya kembali membuatnya gelisah.
Saat ini Gerardo berada disalah satu hotel yang akan menjadi target berikutnya.
*****