Seorang dengan kemeja berwarna hitam yang juga senada dengan celana jeans miliknya, tampak duduk dengan tenang mengamati setiap pergerakan Rosie yang kini sedang melayani beberapa pelanggan restoran tempat ia bekerja. Lelaki yang lengkap dengan topi bucket serta kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya.
Lelaki itu terduduk sembari memegangi majalah yang ditumpuk dengan sebuah foto yang diberikan padanya beberapa hari yang lalu.
Lelaki dengan topi bucket itu memanggil salah seorang pelayan pria untuk melayaninya agar terhindar dari Rosie. Ia hanya memesan asal lalu menyuruh pelayan tersebut meninggalkannya.
"Apa dia wanita yang berada di dalam foto ini?" ucapnya sedikit berbisik.
"Aku tak yakin, karna foto ini diambil dari tampak kejauhan" lanjutnya kembali sembari memandangi foto itu lagi.
Ia tampak terkejut saat Rosie berjalan kearahnya namun berhasil melewatinya.
"Sial! Aku pikir dia akan mencurigai ku" batinnya.
Teman pelayan Rosie memanggilnya, hingga lelaki misterius itu mengetahui nama Rosie. Dimana ia hanya mendapatkan foto dan tak mendapat nama dari wanita tersebut.
"Tolong bawakan ini di meja pojok sana" pinta teman Rosie.
"Hm.. baiklah"
Lelaki topi bucket itu kembali gelisah saat langkah Rosie menuntun kearahnya dengan sebuah pesanan kedua tangannya.
Dan benar saja, Rosie berhenti tepat di depan mejanya.
"Permisi tuan, ini pesanan Anda. Selamat menikmati" ucap Rosie ramah dan sopan.
Tak mendapat jawaban dari pelanggan restorannya membuat Rosie sedikit penasaran dengan setelan pakaiannya yang terlihat begitu misterius. Cukup lama Rosie memandanginya sembari berjalan meninggalkan mejanya dan kembali melayani pelanggan yang lainnya.
Bahkan bukan hanya Rosie yang merasakan hal itu. Beberapa teman pelayannya juga saling berbisik dan penasaran dengan salah satu pelanggan tersebut.
Tak lama setelah Rosie memberikan pesanan lelaki tersebut, lelaki itu pergi meninggalkan restorannya dengan sangat terburu-buru.
Siapa lelaki itu?
***
Rosie bersama Maddie dan juga Alexa berada dirumah Karen yang saat ini mengadakan sebuah pesta kecil setelah kepergian orang tuanya ke London. Dimana Karen yang bebas mengadakan sebuah pesta kecil untuk memanggil teman-temannya untuk berpesta bersama. Karen yang juga mengenali Vanno, Ethan dan juga Miya memanggilnya untuk berpesta bersama. Bahkan Maddie juga mengajak Mickey kekasihnya untuk ikut berpesta malam ini.
Rosie tak tau kalau Karen juga meminta Vanno, Miya dan juga Ethan untuk datang kerumahnya. Kedatangan Vanno membuat Rosie sangat terkejut.
"Vanno?" bisik Maddie menatap kearah Rosie.
Vanno yang sudah lebih tau kalau Rosie berada dirumah Karen berpura-pura sedikit terkejut agar Rosie tak curiga.
"Hai, Rosie.." sapa Vanno canggung.
"Hm, ya. Hai" balas Rosie singkat.
Semuanya terlihat menikmati pesta yang disuguhkan Karen dihalaman rumahnya yang berhasil ia dekor layaknya club malam suasana outdoor. Lalu lagi dan lagi Rosie harus dibuat terkejut dengan kedatangan Miya serta Ethan yang kembali membina hubungannya.
Rosie menghela napas kasar saat melihat wajah menjengkelkan Miya yang perlahan-lahan mendekat kearahnya.
"Rosie? Aku tak tau kalau kau juga berada di sini" ucap Miya dengan wajah mengesalkannya.
"Hm, iya. Akupun" balas Rosie singkat dan membuang pandangannya pada Miya.
"Astaga.. mantan kekasih ku dan kekasih mu juga berada disini" ucap Miya kembali dengan bangga.
Mendengar hal itu membuat Maddie yang emosinya tersulut mendekati Miya namun berhasil dicegat oleh Rosie.
"Miya, Aku memanggil mu kesini bukan untuk mengacaukan pesta ku!" tegur Karen dengan wajah sinisnya.
Tak ingin terpancing emosinya membuat Rosie menjauhi Miya. Bersamaan dengan kedatangan Alexa yang baru saja menerima sebuah panggilan.
Alexa mendatangi Rosie dan menawarkan sebuah pekerjaan untuknya. Dimana panggilan itu berasal dari salah satu temannya yang bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar di Chicago. Tentu saja hal itu membuat perasaan Rosie menjadi lebih baik, dimana ia tak perlu lagi bekerja di bar tempat ia dilecehkan oleh beberapa lelaki berjas kemarin lalu.
"Perusahaan apa yang kau bicarakan?" tanya Rosie penasaran.
"Aku juga tak tau persis hanya saja teman ku mengatakan kalau perusahaan itu adalah perusahaan yang cukup terkenal di Chicago" jelas Alexa bersemangat.
Rosie terlihat berpikir dengan jawaban Alexa yang mengatakan soal perusahaan tersebut. Namun tak ada salahnya mencoba bagi Rosie.
"Baiklah.. ayo kita lakukan bersama" ungkap Rosie dengan senyuman.
Hal itu membuat Alexa semakin bersemangat untuk mendatangi perusahaan tersebut dengan Rosie.
"Hey.. apa Miya kembali lagi dengan Ethan?" tanya Maddie saat ia baru saja tiba di meja Rosie bersama dengan Mickey kekasihnya.
"Mungkin saja, Aku tak perduli" balas Rosie masa bodoh.
"Apa kau benar-benar sudah melupakan Vanno?" tanya Alexa tiba-tiba.
"Hm.. iya" balas Rosie singkat lagi.
Rosie meneguk alkohol yang berada di hadapannya dengan satu tegukan. Rasa pahit yang terbakar kini terasa di tenggerokan Rosie saat ini.
Rosie memberitahukan Maddie soal pekerjaan yang ditawarkan Alexa padanya. Dan tentu saja Maddie mendukung keputusan Rosie untuk mendatangi perusahaan itu bersama Alexa.
"Jangan membuang kesempatan ini Rosie.." ungkap Maddie bersemangat.
Mendengar ucapan Maddie membuat Rosie semakin yakin dengan pilihannya.
Lalu Miya kembali mendatangi meja Rosie sembari memamerkan kemesraannya dengan Ethan.
"Hey.. Rosie, Aku sudah kembali dengan kekasih ku. Kenapa kau juga tak kembali dengan kekasih mu?"
"Berhentilah berbicara dengan ku!" pinta Rosie sinis.
"Ada apa? Kenapa kau begitu terlihat marah? Apa kau masih sakit hati karena Aku berhasil merebut Vanno dari mu?" ucap Miya dengan tawanya.
"Hey.. Ethan bawa pergi kekasih mu dari hadapan ku!" pinta Rosie kembali.
Vanno tampaknya mengamati Rosie dan juga Miya dari meja yang saat ini ia duduki bersama dengan Karen dan beberapa temannya yang lain.
"Jangan memerintah kekasih ku, stupid!" ucap Miya yang tak mau kalah.
"Okay! So.. pergi dari hadapan ku, sekarang!" pinta Rosie sekali lagi.
Namun lagi dan lagi Miya mengabaikan ucapan Rosie. Ia terus saja melontarkan bualan yang membuat Rosie semakin saja kesal. Dimana Miya menceritakan kisah perselingkuhannya dengan Vanno.
"Aku pikir Vanno sangat hebat dalam memuaskan wanita, ternyata...." ungkap Miya dengan tawa yang begitu keras.
"Vanno bercerita soal kau yang tak mampu memuaskannya, tapi ternyata dia juga tak cukup mampu memuaskan ku. Aku pikir dengan meninggalkan Ethan, dia mampu berbuat lebih. Tapi, Ethan lebih hebat darinya" lanjut Miya bangga.
Mendengar hal itu semakin membuat Rosie menggeram.
"Pantas saja saat itu Ethan hampir memperkosa ku, ternyata dia mendapatkan sifat binalnya itu dari mu" ucap Rosie tertawa meledek.
"Apa?! Apa yang kau maksud? Ethan hampir memperkosa mu?---Apa yang di katakan jalan ini benar?" tanya Miya meminta penjelasan pada kekasihnya.
"Mana mungkin Aku melakukan hal itu! Menyentuhnya saja itu sudah sangat tidak mungkin, Miya" ungkap Ethan berbohong.
Rosie tertawa mendengar penjelasan dari Ethan yang sudah pasti berbohong dihadapan Miya. Bahkan Maddie juga sudah mengetahui hal itu.
"Hey.. Rosie! Aku tau kau melakukan hal itu untuk membuat hubungan ku dengan Ethan berakhir lagi, kan?"
"Ah.. sial! Bisa kau pergi saja dari hadapan ku?" Rasanya Aku akan mabuk mendengar semua perkataan mu" ucap Rosie kembali dengan permintaan awalnya.
"Aku tau kau iri dengan ku.. Apa mungkin kau iri dengan apa yang ku miliki? Apa kau ingin ku ajari bagaimana cara memuaskan kekasih mu agar kau tidak di campakkan , ha?" ucap Miya yang semakin melewati batasnya.
Bahkan Maddie dan Alexa sudah terlihat begitu kesal mendengar Miya merendahkan Rosie.
"Tapi percuma saja, kau tak memiliki tubuh yang ind----Awww, s**t! Rosie!" teriak Miya terkejut saat alkohol yang baru saja masuk kedalam mulut Rosie menyembur wajahnya.
"Bukannya Aku sudah bilang, Aku akan mabuk? Sorry!" balas Rosie dengan wajah berpura-pura mabuknya yang semakin membuat Miya kesal.
"Sial! Dasar jal----"
Praaaaakkkk!!!
"Ah.. Sorry, Aku tak sadar. Aku sedang mabuk" ucap Rosie tertawa.
Maddie serta Alexa tampak puas dengan aksi Rosie yang membuat Miya kesal malam ini. Bahkan keduanya nyaris menangis karna tawanya.
Praaaakkk!!!
Miya juga berhasil menampar wajah Rosie dan membuatnya semakin hilang kesabaran.
Rosie menggeram sembari mengambil botol bir yang ada dihadapannya lalu menghantamnya kearah meja hingga terdengar suara pecahan yang membuat semuanya menatap kearah Rosie. Bahkan Miya dan juga Ethan sangat terkejut melihat Rosie menghantam botol bir tersebut.
"Hey.. kau! Bawa cepat kekasih mu pergi dari hadapan ku, sebelum pecahan botol ini melukai wajahnya!" ancam Rosie menodongkan botol pecahan itu di hadapan Miya.
Mendengar hal itu membuat Miya beringsut mundur lalu Ethan yang menarik Miya menjauhi Rosie.
"Dasar wanita gila!" umpat Miya kesal meludahi Rosie sebelum meninggalkannya.
Tak terima dengan hal itu membuat Maddie melemparkan sepatu kets miliknya hingga berhasil mengenai kepala milik Miya yang tengah berjalan menuju pintu keluar rumah milik Karen.
"Lemparan yang bagus, sayang" puji Mickey pada Maddie.
Miya lagi dan lagi mengumpat kesal menoleh lalu menatap kearah meja Rosie dan para temannya sebelum menendang sepatu milik Maddie.
Vanno yang juga menyaksikan hal itu juga terlihat puas dengan pembalasan Rosie pada Miya.
"Dia belum berubah. Masih saja dengan Rosie yang Aku kenal" ucap Vanno pelan.
"w************n seperti itu memang harus di beri pelajaran" ungkap Maddie.
"Sayang.. tolong ambilkan sepatu ku" lanjutnya sembari tertawa meminta Mickey untuk mengambilkan sepatu yang tadi ia lempar dan berhasil mengenai kepala Miya.
"Hm.. Karen Aku akan mengganti botol bir milik mu!" teriak Rosie dengan candaannya yang membuat Karen tertawa.
"Tak apa, Rosie! Aku berada di pihak mu malam ini. Terima kasih sudah mengusir wanita gila itu" balas Karen puas.
Mendengar ucapan Karen yang mendukungnya membuat Rosie tak dapat menahan tawanya sebelum ia kembali meneguk gelas birnya.
Pandangan Rosie tak sengaja bertemu dengan mata milik Vanno yang sejak tadi menatapnya dari kejauhan. Namun Rosie membuang pandangannya dan berjalan masuk ke dalam rumah Karen untuk ke kamar mandi.
Melihat Rosie yang masuk ke dalam rumah Karen membuat Vanno mengikutinya masuk.
Rosie membasuh wajahnya di dalam kamar mandi lalu tercekat saat mendapati Vanno yang berada di ambang pintu kamar mandi rumah milik Karen.
"Vanno? Apa yang kau lakukan disini? Kau bisa masuk setelah ku jika kau ingin memakai kamar mandi Karen" ucap Rosie.
Namun Vanno tak menjawab, ia semakin dekat lalu mengunci kamar mandi Karen dari dalam. Dimana saat ini hanya ada ia dan juga Rosie di dalam.
"Kenapa kau menguncinya?" ucap Rosie melangkah menuju pintu namun pergelangan tangannya di cekat oleh Vanno.
"Lepaskan tangan ku!" pinta Rosie berbisik.
"Tolong dengarkan Aku sebentar saja, Rosie" ucap Vanno dengan nada memohon.
"Apa yang ingin kau katakan?!" tegas Rosie dengan tatapan mata yang sinis.
"Aku ingin kembali deng---"
"Dengan ku? Kau ingin kembali lagi? Setelah apa yang kau lakukan pada ku?.." sela Rosie.
"Jangan membuat ku tertawa, Vanno!" lanjutnya dengan tawa.
"Kenapa? Bukannya kau juga masih mencintai ku?"
"Apa? Kenapa kau begitu yakin kalau Aku masih mencintai mu?..." ungkap Rosie.
"Dengar! Sejak Aku mendapati mu dengan w************n itu di sebrang jalan bar dan dimana dia menampar ku setelah memukul mu. Perasaan ku juga sudah ku pukul jauh dari ku, kau paham?!" lanjut Rosie.
"Aku minta maaf, Rosie. Apa Aku tak bisa mendapatkan kesempatan kedua lagi?"
"Bagi ku untuk sebuah masalah pengkhianatan itu tak akan mendapat kesempatan kedua Vanno. Seseorang yang tak bisa setia dengan satu pasangan saja itu adalah penyakit yang susah untuk di sembuhkan. So, Aku mengatakan tidak untuk kesempatan kedua kepada pengkhianatan!" jelas Rosie sembari menepis tangan Vanno yang menahannya.
Rosie berhasil meninggalkan Vanno yang mematung di dalam kamar mandi Karen.
"Kenapa kau lama sekali?" tegur Maddie.
"Hm.. iya. Aku tadi menjawab panggilan ku" ucap Rosie mencari alasan.
Puncak dari pesta Karen ditutup dengan sebuah musik yang mengharuskan semuanya ikut menari mengikuti dentuman tersebut. Dengan sebotol bir yang berada di tangan masing-masing lalu mengangkatnya dengan suara sorakan membuat pestanya terlihat begitu menyenangkan.
Rosie menghilangkan semua kekesalannya malam ini. Kekesalan karena ulah Miya serta permintaan Vanno yang memintanya untuk kembali.
Dentuman musik itu telah usai dimana saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Maddie tampak mabuk dalam dekapan Mickey.
"Sepertinya kita sudah harus kembali" ucap Mickey membawa Maddie sebelum pamit pada Karen.
Rosie menatap sinis kearah Vanno yang masih saja menatap kearahnya.
Rosie merongoh ponselnya dan mendapati belasan panggilan dari nomor tak ia kenali dengan sebuah pesan yang terdapat juga di dalamnya. Sebuah pesan yang menuliskan nama Gerardo di dalamnya.
"s**t! ini panggilan sebanyak ini darinya? Dan Aku tak menjawabnya?" ungkap Rosie sambil memijit pelipisnya.
"Ada apa?" tanya Alexa.
"Hm.. tak apa. Ayo..." balas Rosie.
Rosie pamit pada Karen sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya.
Pesan balasan dikirimkan Rosie pada nomor yang mengatasnamakan Gerardo.
"Maaf, Aku tak mendengar panggilan mu. Aku sedang berada dirumahnya Karen, teman ku. Rumah yang dulu minta Aku antarkan pada mu"
Baru saja Rosie mengirimkan pesan balasan untuk Gerardo, dimana mobil yang membawanya pulang berhenti tepat di hadapan rumahnya. Dan terlihat lelaki yang bertubuh sempurna berdiri sambil melipatkan kedua tangannya sedang menunggu kedatangannya.
Mata Rosie tercekat saat mendapati Gerardo yang tengah berdiri di depan rumahnya.
Turunnya Rosie dari mobil bersamaan dengan pandangan Gerardo yang terjatuh kearahnya. Dimana Mickey juga yang sedang menggendong Maddie yang sudah sangat mabuk.
"Oh! Kau lelaki itu, Apa dia kenalan mu.. Rosie?" tanya Mickey sebelum menggapai pintu rumah milik Rosie.
"Hm.. ya"
Langkah kecil Rosie berhasil membawanya semakin dekat dan kini berada tepat dihadapan Gerardo.
"Hm.. Maaf Aku tidak mendengar panggilan mu karna---"
"It's okay.." sela Gerardo.
"Hm.. sejak kapan kau disini?"
"Sejak Aku menghubungi mu tadi"
Rosie sedikit terkejut mengingat panggilan pertama yang ia terima dari nomor tersebut sudah sejak dua jam yang lalu.
"Kau sudah berdiri disini sejak dua jam yang lalu? Apa kau tidak kedinginan?" tanya Rosie khawatir.
"Aku tak apa. Aku hanya ingin melihat mu saja hari ini. Dan sekarang Aku sudah melihat mu, Aku akan pulang" balas Gerardo.
Melihat Gerardo yang beringsut mundur dan hampir mencapai gagang pintu mobil miliknya. Lalu Rosie mencegat pergelangan tangan besarnya.
"Ada apa? Kenapa kau seperti ini? Kau tak seperti biasanya, kau tidak seperti Gerardo yang ku kenal sebelumnya" ungkap Rosie bingung.
"Tadi Aku tertidur dan bermimpi sesuatu tentang mu. Lalu teringat soal insiden di apartement ku yang juga membahayakan mu saat itu. Maka dari itu Aku pergi mencari mu untuk mengecek keadaan mu, tapi Aku lega melihat mu baik-baik saja saat ini" jelas Gerardo.
"Aku berusaha menahan diri ku untuk tidak melakukan hal ini, tapi rasanya sangat sulit" ungkap Rosie. Dimana tiba-tiba saja ia memberikan kecupan lembut pada bibir milik Gerardo.
Kecupan singkat yang membuat sensasi tersendiri dalam diri Gerardo. Kecupan tanpa paksaan yang di lakukan Rosie untuknya. Kecupan yang mungkin sudah lama Gerardo nantikan sejak pertemuan pertamanya dengan Rosie. Dimana kecupan itu dilakukan tanpa adanya paksaan dari Gerardo.
Menyadari aksi yang di lakukan Rosie tak mendapat balasan dari Gerardo membuat suasananya menjadi canggung dan malu.
"Hm.. maaf. Sepertinya Aku sedang mabuk. Kau mencium aroma alkohol kan dari bibir ku" ucap Rosie menjauh dari Gerardo.
"Apa Aku boleh membawa mu malam ini ke apartement ku?"
"Hm" balas Rosie mengangguk setuju.
*****