- AUTHOR POV -
Gerardo tercekat saat mendapati Rosie yang tengah tertidur pulas di atas ranjang miliknya, dimana ia tadi meninggalkan Rosie untuk menemui para pengawalnya yang kini tengah berada di dalam kamar milik Allio.
Langkah yang begitu hati-hati kini semakin dekat ke arah Rosie, menatapnya dengan lekat dan sesekali tersenyum. Seperti itulah tampak Gerardo yang saat ini tengah berada tepat dihadapan Rosie yang tertidur pulas.
"Apa yang begitu membuat ku tertarik pada wanita ini?" batin Gerardo.
Tangan yang besar juga dengan hati-hati membelai lembut rambut terurai Rosie yang sedikit memenuhi wajahnya. Gerardo merapikannya dengan sentuhan dan berharap tidak membangunkan Rosie.
Malam yang sunyi berhasil di lalui Rosie yang kini masih saja terbaring diatas ranjang berukuran king milik Gerardo. Mata sayu itu perlahan-lahan membuka dan menatap langit-langit kamar Gerardo. Rosie mendapatkan kembali kesadarannya setelah menyadari bahwa dirinya semalam ketiduran di dalam kamar Gerardo.
"Astaga, Rosie!" ucapnya terkejut.
Rosie dengan tergesa-gesa beranjak dari ranjang milik Gerardo dan keluar dari kamar. Dimana dalam kamar tersebut hanya ada dirinya saja.
Langkahnya pun tercekat saat mendapati Gerardo yang masih saja tertidur pulas di atas sofa berukuran raksasanya.
Rosie melangkah perlahan-lahan menuju tempat Gerardo yang saat ini terpapar matahari pagi yang berhasil menembus jendela apartementnya. Rosie berdiri tepat dihadapan Gerardo sembari menghalangi paparan sinar matahari itu agar tak membangunkannya.
Mata itu terus saja menatap kearah wajah tampan Gerardo yang sedang tertidur. Alis tebal yang selaras, hidungnya yang begitu tinggi, bibirnya yang tipis serta rahangnya yang begitu sempurna membuat Rosie larut dalam imajinasinya sendiri. Kalimat pujian terus saja mengalir dalam batin Rosie sembari menatap Gerardo, dimana tanpa ia sadari ia telah berdiri sekitar 30 menit untuk menghalangi pancaran sinar matahari itu.
Rosie merasakan kakinya yang keram karena berdiri terlalu, namun ia juga tak ingin meninggalkan tempat ia berdiri. Seakan ia ingin terus menatap wajah lelaki kasar yang tak sengaja ia temui pertama kali di club.
Rosie merapikan rambutnya yang terlihat berantakan, ia berusaha untuk mengikatnya menjadi satu agar tak mengganggu pandangannya. Namun, aksinya itu membuat paparan sinar matahari itu mengenai wajah Gerardo dan membuat ia terbangun.
Gerardo mendapati Rosie berada di hadapannya sembari menguncir rambutnya, Gerardo menyadari aksi yang dilakukan Rosie untuk melindungi dari paparan sinar matahari. Pagi yang menyenangkan untuk Gerardo.
"Hm.. apa Aku membangunkan mu?" tanya Rosie canggung.
"Sejak kapan kau berdiri disana?" tanya Gerardo balik.
"Hm.. mungkin sekitar 40 menit yang lalu"
Mendengar hal itu Gerardo terbangun dari sofa lalu menarik tangan Rosie dan mendudukkannya.
"Awww... jangan menyentuh kaki ku" pinta Rosie.
"Ada apa? Kenapa dengan kaki mu? Apa kaki mu terluka?" tanya Gerardo panik.
"Tidak. Hanya saja, kaki ku keram berdiri selama 40 menit untuk melindungi mu dari matahari" balas Rosie jujur.
"Lalu kenapa kau melakukannya kalau itu menyakiti mu?"
"Aku hanya ingin membiarkan mu tidur. Hm, Aku tau mungkin Aku juga bisa salah dengan pemikiran ku ini... Aku hanya berpikir kalau kau tidak mendapatkan banyak tidur setelah kepulangan mu dari Washington kemarin" jelas Rosie.
Gerardo terdiam mendengar ucapan Rosie yang terdengar mengkhawatirkannya dan begitu memperhatikannya.
"Jangan terlalu memikirkan ku dan membuat dirimu sakit. Aku tidak suka kalau kau merasa kesakitan" pungkas Gerardo yang terlihat serius.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Itu membuat ku takut.." ucap Rosie.
"Takut? Bukannya kau tak pernah takut dengan ku?"
"Iya, tapi Aku tak suka dengan wajahmu yang memandang ku seperti itu" jelas Rosie jujur.
"Kenapa akhir-akhir ini kau selalu berkata jujur?"
"Hm.. entahlah" balas Rosie singkat sembari memijit kakinya yang masih saja keram.
Tak ada balasan yang keluar dari bibir Gerardo. Ia hanya menatap Rosie dengan segala pemikiran yang memenuhi kepalanya.
Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya dari pandangan yang saling berpaut.
Gerardo menarik lebih dulu pandangannya, beranjak dari sofa lalu berjalan menuju pintu untuk membuknya.
"Selamat pagi, tuan. Hm, Tn. Allio memanggil mu" ucap Lucio.
"Tunggu disini" pintanya menatap ke arah Rosie sebelum meninggalkan apartmentnya.
Langkah besar dari kaki jenjang milik Gerardo berhasil mengantarkannya ke apartement Allio.
Allio mendapatkan pesan misterius dan memperlihatkannya pada Gerardo. Dimana pesan tersebut seperti di kirim oleh Paul, kakak Jamie yang mencuri berlian milik Gerardo.
Mata Gerardo menyipit setelah membaca pesan tersebut yang dikirim ke ponsel milik Allio. Tangan mengepal erat dibawah sana.
"Sepertinya dia memang mengamati setiap pergerakan kita" ucap Gerardo dengan rahang yang mengatup erat.
"Apa masih tak ada info tentang Paul?" tanya Gerardo pada Lucio yang berdiri tepat di belakangnya.
"Iya, tak ada" balasnya.
"Sial! benar-benar sial!" umpat Gerardo kesal.
"Kemana dia?" lanjut batin Gerardo.
"Aku akan memikirkan semuanya, saat ini kau hanya fokus pada kesehatan mu saja. Aku akan meminta Dr. Broke melihat keadaan mu kembali" ungkap Gerardo sebelum meninggalkan Allio dan kembali menuju apartementnya.
Gerardo kembali ke apartementnya dan mendapati Rosie yang masih terduduk di sofa yang tadi ia tiduri.
"Sepertinya kau juga semakin menjadi penurut" goda Gerardo berjalan kearah Rosie.
"Apa kaki mu masih saja keram?"
"Sudah tidak lagi--ohiya, Aku harus pulang. Aku rasa Maddie sudah menyadari kalau Aku tak pulang semalam"
"Maddie? Apa dia yang wanita yang kulihat semalam bertengkar dengan seorang lelaki di depan rumah mu?"
"Lelaki? Maddie bersama lelaki?"
"Hm.. iya. Dan lelaki itu yang memberitahu ku kalau kau sedang di club itu" jelas Gerardo.
"Ah.. mungkin saja itu Mickey?--hm, entalah Aku harus pulang sekarang" ungkap Rosie beranjak dari sofa.
"Aku akan mengantar mu"
Gerardo menarik tangan Rosie berjalan keluar dari apartementnya, menuruni lift hingga keduanya berakhir di basement gedung apartement miliknya.
"Apa kau akan berpergian lagi?" tanya Rosie tiba-tiba.
"Kenapa memangnya?"
"Hm.. tak apa. Aku hanya bertanya saja, jika kau keberatan untuk menjawabnya. Abaikan saja pertanyaan ku" jelas Rosie sembari mengidikkan bahunya.
"Sampai Allio pulih" balas Gerardo.
"Maksudmu, jika Allio pulih kau akan pergi?" tanya Rosie memperjelas.
"Hm" balas Gerardo singkat.
Mendengar jawaban itu membuat d**a Rosie terasa sesak namun ia berusaha mengontrol diri serta ekspresi wajahnya untuk tetap terlihat biasa saja di hadapan Gerardo.
Gerardo berhasil menepikan mobilnya tepat dihadapan rumah Rosie.
"Terima kasih sudah mengantar ku. Aku akan pergi" ucap Rosie tanpa melirik kearah Gerardo yang berada di sampingnya.
Baru saja Rosie ingin membuka pintu mobil Gerardo, tangannya di cegat hingga ia harus tetap di dalam mobil Gerardo.
"Ada apa lagi?"
"Apa kau masih akan menunggu ku?"
Rosie terdiam dimana pandangannya kini terarah pada Gerardo yang terlihat begitu serius dihadapannya.
"Rosie?" ucap Gerardo kembali menyadarkannya.
"Ah? hm.. Iya" balas Rosie.
"Okay, itu sudah cukup bagi ku" ungkap Gerardo melepaskan tangan Rosie.
Rosie turun dari mobil Gerardo dengan perasaan gelisah dengan perkataan Gerardo yang baru saja ia dengar.
Mobil itu melaju meninggalkan Rosie yang perlahan masuk ke dalam rumahnya dengan pemikiran yang rumit karena Gerardo.
Berusaha menghilangkan perasaan itu, Rosie berjalan masuk kedalam kamarnya dan mendapati Maddie yang terlihat kacau.
"OMG!! Maddie!" teriak Rosie mendapati kamarnya yang terlihat begitu berantakan.
"Kau mabuk??? Kamar ini sangat bau alkohol!" komplain Rosie.
Rosie memukul b****g Maddie beberapa kali berniat membangunkannya. Bahkan wajah Maddie tampak berantakan, dimana maskara itu memenuhi bawah matanya yang terlihat seperti mata seekor panda.
"Maddie! Ayo bangun, sekarang!" pinta Rosie menyadarkan Maddie.
"Ah! Aku sangat membencinya, Rosie!!!" ucap Maddie dengan kondisinya yang belum sepenuhnya sadar.
"Ya.. ya.. dan Aku juga sangat membenci mu pagi ini---Ayo.. bangun sekarang!" balas Rosie yang masih saja berusaha membangunkan Maddie dalam balutan selimut itu.
"Aku tak akan memberinya kesempatan lagi, Rosie.."
"Ah.. benar-benar menyebalkan!" gerutu Rosie yang tak berhasil membangunkan sepupunya.
"Terserah kau saja!" lanjutnya meninggalkan Maddie dan masuk kedalam kamar mandi.
***
Gerardo kembali menuju apartementnya dan mendapati Dr. Broke yang kini sudah terlihat mengganti perban yang melilit lengan kanan Allio.
"Sepertinya semalam kau bersama dengan wanita itu, Gerard.." ucap Allio.
"Hm.. iya" balas Gerardo singkat.
"Apa dia tau soal insiden Washington?" tanya Allio penasaran.
"Tidak. Bahkan dia tak ingin mendengar apa yang ku lakukan disana" jelas Gerardo.
"Dan berhenti curiga padanya, Allio!" lanjut Gerardo.
Suasana menjadi canggung karena Dr. Broke yang memberitahu Allio soal Gerardo bersama Rosie semalam.
Lucio memberikan sebuah ponsel baru untuk Gerardo menggantikan ponselnya yang rusak terkahir kali karena dirinya yang jatuh kedalam kolam bungalow milik Nate pamannya.
"Minta Mac untuk melacak nomor yang mengirimkan Allio pesan itu" pinta Gerardo pada Lucio.
"Baik, tuan."
"Bagaimana dengan Nate?" tanya Dr. Broke.
"Dia berhasil kabur"
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Gerard. Keselamatan mu yang lebih utama. Ayahmu menitipkan mu pada ku, dan tolong kau paham dengan maksud ku" ungkap Dr. Broke sembari menatap Gerardo yang berdiri dengan begitu tegap di sisi kanannya.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Tapi, Aku tau apa yang harus ku lakukan Dr. Broke" balas Gerardo dingin sebelum meninggalkan Allio dan Dr. Broke.
Gerardo berhasil meninggalkan apartement Allio dengan wajah garangnya.
"Dia masih saja belum berubah" ungkap Dr. Broke pada Allio.
"Hm.. iya. Kehidupannya memang benar-benar hilang setelah kematian Tn. Fellito" jelas Allio.
"Dia sangat berusaha keras setelah kematian ayahnya.."
"Seharusnya ia bisa menangkap Nate saat itu, tapi ia lebih memilih untuk membawa ku kembali ke Chicago karena lengan ku yang tertembak. Ini salah ku..." ucap Allio yang masih saja merasa bersalah pada Gerardo.
"Berhenti menyalahkan diri mu.. Kau juga sudah sangat berusaha keras. Bahkan kau masih setia bersamanya selama ini, Allio" balas Dr. Broke.
Allio melepaskan pasokan udaranya mendengar perkataan Dr. Broke yang mengingatkannya kembali pada pertemuan pertamanya dengan Gerardo saat Fellito, Ayah Gerardo membawanya masuk ke dalam rumahnya 25 tahun yang lalu.
Dimana hari itu adalah hari dimana Allio dapat merasakan hangatnya sentuhan keluarga. Gerardo berlari kearahnya lalu memeluknya, memperlakukannya layaknya seorang kakak kandungnya. Bahkan Fellito yang tak pernah membedakan perlakuan yang ia berikan pada Gerardo dan pada dirinya.
Hal itu tak akan pernah Allio lupakan. Hal itu juga yang membuat Allio terus saja berada di samping Gerardo, walaupun Gerardo yang ia kenal dulu mungkin saja tak pernah ia temui lagi setelah kematian Fellito.
"Jaga kesehatan mu, Aku pamit" ucap Dr. Broke sebelum meninggalkannya.
"Terima kasih, Dr. Broke" balas Allio.
Allio bertekad untuk membalaskan semua dendam keluarga Edmundo, bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Gerardo.
*****