- AUTHOR POV -
Seperti biasanya Rosie melakukan pekerjaan paruh waktunya di sebuah bar di Chicago. Rosie yang mendapati Alexa sedang pucat di dalam toilet wanita, lalu menegurnya.
"Alexa apa kau baik-baik saja?" tanya Rosie khawatir.
"Rasanya kepala ku sangat pusing" balas Alexa.
"Apa kau sejak tadi seperti ini?"
"Iya, sepertinya Aku terlalu memaksakan diri ku hari ini.. Rosie--Oh iya, apa Aku bisa meminta bantuan mu?"
"Iya, katakan.. Alexa" balas Rosie sembari mengelap keringat Alexa.
"Bisakah kau menggantikan ku untuk melayani tamu di VVIP? Biar Aku saja yang melayani tamu di meja bar tempat mu" pinta Alexa.
Mendengar permintaan Alexa membaut Rosie menyetujuinya. Rosie membawa Alexa ke meja bar yang menjadi tempat ia berada.
"Demi, malam ini Alexa yang akan menggantikan ku disini. Dia sedang sakit, mengertilah" bisik Rosie pada Demi.
Rosie meninggalkan Alexa dan Demi lalu berjalan untuk menjadi pelayan untuk tamu VVIP club tersebut. Rosie membawakan beberapa macam alkohol yang akan ia sajikan untuk tamu VVIP malam ini.
Ruangan VVIP 801 itu tampak di penuhi dengan lelaki berjas setelan formal layaknya seseorang yang penting.
Mata Rosie menyisiri setiap sudut ruangan tersebut, dimana terlihat dua lelaki yang menatapnya dengan senyuman smirk disudut bibirnya.
Terdengar beberapa pujian yang tertuju pada Rosie malam ini, bahkan lelaki itu meminta Rosie untuk menemaninya malam ini. Namun dengan sopan Rosie berusaha menolak permintaan lelaki itu.
"Berhentilah jual mahal, nona" ucap lelaki berkacamata gelap sembari tertawa.
Rosie berusaha menahan dirinya dengan menuangkan wiski ke dalam gelas lelaki tersebut.
Salah satu dari mereka menyentuh lengan mulus Rosie hingga membuatnya bergidik dan menatap sinis ke arahnya.
"Ada apa dengan tatapan mu? Kau tak suka di sentuh oleh ku?" ucapnya sembari menarik senyum di sudut bibirnya.
"Iya, tolong jangan menyentuh ku.. tuan!" balas Rosie tegas.
Ucapan Rosie membuat wajah lelaki yang tadinya tersenyum malah berubah menyeramkan.
Praaaaakkk!!!
Lelaki itu baru saja menampar Rosie membuat semua lelaki di dalam ruangan tersebut tertawa dan puas.
"Kau hanya pelayan, jangan terlihat suci di depan ku bodoh!" ucap lelaki itu sembari memegangi wajah Rosie.
Sudut bibir Rosie terluka karena tamparan lelaki itu.
"Apa yang bisa kau perbuat di dalam sini? Aku bisa saja memperkosa mu di dalam sini dan tak ada orang di luar sana yang akan mendengarkan teriakan mu jika saat ini kau ingin teriak" ucapnya sembari tertawa puas.
Namun Rosie terdiam sambil memegangi bibirnya yang terasa perih. Tatapan sinis itu masih ia layangkan pada lelaki yang menamparnya tadi. Tatapan yang diberikan Rosie tampaknya sangat tidak di sukai lelaki tersebut.
"Berhenti menatap ku seperti itu!" pintanya dengan nada yang tinggi.
Namun tetap saja Rosie tak mendengar perkataannya. Ia terus saja melemparkan tatapan sinis ke arahnya membuat amarah lelaki itu meluap.
Lelaki itu mendorong Rosie hingga terjatuh di atas sofa lalu meminta beberapa temannya untuk memegangi tangan milik Rosie.
"Lepaskan Aku!"
"Lepas!"
Rosie terus saja meronta untuk di lepaskan, namun para lelaki itu enggan melakukannya.
"Dasar b******k!!"
Praaaaakkk!!! suara tamparan kembali terdengar.
"Aku bilang berhenti menatap ku seperti itu!" teriak lelaki itu.
"Aku akan merubah tatapan mu itu, sayang.. setelah membuat suatu permainan yang akan membuat mata mu terpejam untuk waktu yang lama" lanjutnya tersenyum smirk.
Cuuuihhhh!!!
"Berhenti menyombongkan diri mu.. kau terlihat sangat kasihan!" ucap Rosie merendahkannya.
"Kau benar wanita yang tak kenal takut" balasnya sambil membelai lembut wajah hingga leher dan berakhir di d**a milik Rosie.
Bibir Rosie mengatup menahan amarahnya karena di lecehkan oleh lelaki di hadapannya.
Baru saja lelaki itu ingin menyibakkan rok milik Rosie tiba-tiba saja suara ketukan pintu menyadarkan mereka yang berada di dalam ruangan tersebut. Ketukan itu terus saja terdengar dengan semakin memburu.
"Sssssttt!!!" pinta lelaki di dalam ruangan tersebut.
"Rosie!!!"
"Rosie!!!"
Mata Rosie melebar saat mendengar suara tersebut terdengar begitu mirip dengan suara lelaki yang berada di dalam panggilan. Lelaki yang ia tunggu kedatangannya kembali ke Chicago.
"Gerardo?" batin Rosie.
"Apa benar dia?" lanjutnya.
"Rosie? Siapa Rosie?" ucap salah satu lelaki tersebut.
Lalu lelaki yang berada di hadapan Rosie menjatuhkan pandangannya, menatap nametag yang kini menempel di baju milik Rosie yang menuliskan nama Alexa di sana.
"Sepertinya, dia hanya orang yang sedang mabuk mencari kekasihnya" ucap lelaki itu yakin.
Baru saja ingin melanjutkan kembali aksinya, semua lelaki yang berada di dalam ruangan itu terkejut saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka hanya dengan satu tendangan saja.
"s**t! Hey! Apa kau gil----Tn. Edmundo?" ucapnya.
Mata Gerardo melebar saat mendapati kondisi Rosie di pegangi oleh lelaki yang berada di sisi kanan dan kirinya.
"Sial! Apa yang kau lakukan padanya?!" ucap Gerardo mendorong lelaki yang berada di sisi kanan dan kiri Rosie.
"Hm.. Tn. Edmundo ap--apa yang kau----"
Buuuuukkkkk!!!
Satu pukulan berhasil di layangkan Gerardo kepadanya.
Gerardo memegangi wajah Rosie yang terlihat luka pada kedua sudut bibirnya.
"Kau menamparnya?!"
Buuuuuukkkkk!!!
Satu tendangan berhasil mengenai perut lelaki itu.
"Dan kau ingin melecehkannya?"
"Tunggu!!! Tunggu, tuan.." selanya sembari menahan sakit akibat pukulan serta tendangan Gerardo.
"Apa kau mengenal wanita ini?" lanjutnya.
"Tentu saja, b******k! Dia wanita ku!" ucap Gerardo lantang.
Ucapan itu membuat semuanya sangat terkejut, seakan ini benar-benar akhir dari hidup mereka.
Rosie tampak terkejut saat semua lelaki yang berada di dalam ruangan itu tunduk di hadapan Gerardo dan memohon maaf padanya. Bahkan lelaki yang sudah dua kali menamparnya tadi juga terlihat bertekuk lutut di hadapan Gerardo.
"Apa kalian benar ingin menggali kuburan kalian, hah?!" Teriak Gerardo murka.
"Kami benar-benar tak tau, tuan.. Tolong bebaskan kami kali ini saja" pinta lelaki tersebut.
"Rosie???" sahut Alexa tiba-tiba.
Alexa tampak terkejut melihat semuanya.
"Alexa, hey.. apa kau sudah membaik?" ucap Rosie menghampiri Alexa yang berdiri diambang pintu ruang VVIP tersebut.
"Ada apa disini?" tanya Alexa bingung.
"Hm.. tidak apa-apa----"
"Wajah mu kenapa? kenapa terluka?" sela Alexa panik.
Rosie membawa Alexa menjauh dari ruangan tersebut dan menjelaskannya. Mendengar hal itu membuat Alexa meminta maaf dan merasa bersalah.
"Maaf kan Aku.. seharusnya Aku tak meminta mu"
"Tidak! Aku tidak apa-apa, Alexa. Aku juga tak bisa membayangkan kalau kau yang berada disana saat kau sedang sakit.. hm, Aku benar tak apa-apa. Jangan khawatir, okay?" jelas Rosie sembari tersenyum.
Rosie membawa Alexa kembali ke lantai dasar, tepatnya di meja bar yang saat ini sudah berdiri Gerardo dan Demi. Dimana Demi yang masih belum terima dengan pukulan yang di berikan Gerardo sejak tadi.
Mata Rosie tercekat saat mendapati Gerardo dengan tubuh tegapnya sudah berada disana lebih dulu.
"Ayo pulang!" pinta Gerardo menarik tangan Rosie keluar dari club tersebut.
"Wait, Alexa Aku----"
Gerardo menarik tangan Rosie keluar dari bar itu.
"Aww.. tangan ku sakit" rintih Rosie saat berada di luar bar tersebut.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana!" pinta Gerardo.
Tak lama Rosie menunggu sambil memegangi bibirnya yang masih terasa perih, Gerardo kembali tiba dengan sebuah mobil yang berhenti di hadapan Rosie.
"Masuk!" pinta Gerardo.
Rosie masuk ke dalam mobil setelah mendengar perintah Gerardo.
Rosie melirik wajah Gerardo yang terlihat tegang dan tak mengucapkan apapun di dalam mobil. Rosie menatap kearah jalan yang tidak membawanya menuju jalan ke arah rumahnya.
"Kau mau membawa ku kemana?" tanya Rosie namun tak ada jawaban dari Gerardo.
"Hey.. kau mau membawa ku kemana?!" tanyanya sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kalau kau tidak menjawabnya, Aku akan loncat turun dari mobil mu!" ucap Rosie mengancam dan membuat Gerardo menepikan mobilnya.
"Kenapa kau tak seperti ini saat kau berada di dalam ruangan itu? Kenapa kau tak seberani itu, ha? Kenapa kau membiarkan mereka memukul mu?! Kenapa Rosie?!" ucap Gerardo marah.
Rosie tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi di dalam mobil.
"Kau tau kenapa luka di kedua sudut bibir ku ini? itu karna Aku menolak permintaannya, meremehkannya dan meludahinya!" balas Rosie.
"Aku dapat luka ini karna keberanian ku!" lanjutnya.
Mendengar jawaban Rosie membuat Gerardo menatapnya lalu menciumnya. Rosie tersentak saat Gerardo menarik wajahnya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir milik Rosie yang masih terasa perih.
"Awwww... bibir ku masih perih" ucap Rosie di sela ciumannya bersama Gerardo.
Gerardo menarik bibirnya lalu menatap wajah kacau Rosie sembari membelai rambut milik wanita yang terlihat sangat menarik untuknya.
"Aku baru saja tiba di Chicago lalu mencari mu. Sejak panggilan itu terputus Aku terus memikirkan mu dan juga ucapan mu terakhir kali" jelas Gerardo.
"Ucapan ku? yang mana?" tanya Rosie.
"Kalau kau akan menunggu ku di Chicago" balas Gerardo.
"Iya.. Aku memang menunggu mu" balas Rosie kembali.
"Aku sangat khawatir setelah mendengar suara tembakan itu. Mendengar suara tembakan itu mengingatkan ku pada kejadian di apartement mu bulan lalu. Aku pikir terjadi sesuatu pada mu, mengingat pekerjaan mu---hm, yah sudah lah.." lanjut Rosie.
Gerardo terdiam ucapan Rosie membuat Rosie canggung dan berusaha mencari topik lainnya.
"Ohiya.. apa tadi kau mengenal mereka?"
"Hm" balas Gerardo singkat.
"Siapa mereka?"
"Mereka hanyalah kumpulan para lelaki bodoh dan pengecut"
Mendengar itu sembari menatap wajah tegas Gerardo membuat Rosie tak lagi mengajukan pertanyaan padanya.
"Aku akan mengobati luka mu di apartement ku"
"Kenapa harus di apartement mu?" tanya Rosie yang membuat Gerardo kembali melirik kearahnya.
"Karena Aku harus membawa mu ke apartement ku! Dan tolong jangan banyak tanya, okay?" pinta Gerardo sebelum melajukan kembali mobil miliknya.
Sesuai dengan permintaan Gerardo, sepanjang jalan menuju apartement miliknya Rosie layaknya menekin di samping kursi pemudi Gerardo. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Rosie membuat Gerardo melirik kearahnya sebelum keduanya tiba di apartement milik Gerardo.
Rosie turun dari mobil setelah Gerardo dan berjalan mengekor tepat di belakangnya.
Tiba di lantai apartement miliknya, seseorang dengan pakai dokter membuat langkah Gerardo terhenti.
"Gerard?" sapa Dr. Broke.
"Hmm.. iya. Bagaimana keadaannya?"
"Dia hanya butuh istirahat setelah Aku mengeluarkan peluru itu dari lengannya" jelas Dr. Broke.
"Hm.. lalu siapa dia? Aku tak tau kalau kau punya kenalan dekat wanita?" lanjutnya.
"Ya, dia kenalan ku. So, terima kasih untuk pekerjaan mu malam ini" ucap Gerardo sebelum meninggalkan Dr. Broke dan Brown yang akan mengantarkannya turun.
Rosie kembali mengekor di belakang Gerardo dan berjalan masuk ke dalam kamar yang dulu ia tak sengaja datangi.
Gerardo menarik tangan Rosie masuk dan mendudukkannya di atas tempat tidurnya. Lalu mengambil kotak obat untuk mengobati luka di sudut bibir Rosie.
"Apa Allio tertembak?" tanya Rosie penasaran.
"Hm" balas Gerardo singkat sembari mengangguk.
Gerardo duduk di hadapan Rosie dan mengambil obat untuk ia oleskan pada sudut bibir milik Rosie.
Sepasang mata milik Rosie menatap mata pekat milik Gerardo yang kini tampak serius mengoleskan obat pada bibir Rosie. Lalu mata Rosie tercekat saat mata milik Gerardo yang berbalik menatapnya begitu lekat.
"Kenapa bibirmu harus terluka di saat seperti ini?" ucap Gerardo berbisik.
"Ha?" balas Rosie salah tingkah.
"Tak usah gugup seperti itu, Aku tak akan mencium mu lagi" ucap Gerardo sedikit tertawa kecil.
Gerardo menarik tangannya dari wajah Rosie setelah ia telah selesai mengoleskan obat itu, lalu menatapnya kembali.
Gerardo tertawa kecil mendapati Rosie yang tak berani menatapnya. Sentuhan kecil pada puncak kepala Rosie membuat jantungnya berdegub kencang.
"Aku akan melihat Allio sebentar, kau tunggu disini" pinta Gerardo sebelum beranjak meninggalkan Rosie untuk menemui Allio.
Kepergian Gerardo membuat Rosie menarik pasokan udaranya yang sejak tadi menipis karena ucapan Gerardo. Tanpa ia sadari, kini bibirnya terlihat tengah membentuk sebuah senyuman. Rosie memandangi kotak obat yang masih berada di sebelahnya dengan wajah yang tersenyum mengingat sentuhan yang diberikan Gerardo pada bibirnya yang begitu lembut dan tak seperti saat ia pertama kali bertemu dengannya.
Rosie melihat seisi kamar milik Gerardo yang terlihat begitu kosong. Tak banyak panjangan ataupun foto yang di pajang seperti kamar miliknya. Kamar Gerardo benar-benar sangat bersih dan tertata begitu rapi. Hanya satu foto yang berada di atas nakas disamping tempat tidur miliknya. Foto seorang wanita yang terlihat bahagia memandang sebuah bunga yang berada di tangannya.
"Siapa wanita ini? Apa mungkin kekasihnya?" batin Rosie sambil meletakkan kembali foto tersebut di tempat semulanya.
Lalu Rosie kembali duduk saat mendengar suara pintu yang terbuka dan tak lama menampakkan sosok Gerardo.
"Hm.. bagaimana keadaannya?" tanya Rosie.
"Sepertinya dia sudah membaik dan butuh istirahat" balas Gerardo.
"Ah.. seperti itu" ucap Rosie sembari mengangguk.
Gerardo menatap Rosie kembali, mengamati wajah wanita yang kini duduk di hadapannya.
"Apa kau tak ingin bertanya apa yang ku lakukan disana dan kenapa Allio bisa tertembak?"
Pertanyaan Gerardo membuat Rosie menatapnya cukup lama hingga suara desahan napas yang begitu panjang terdengar.
"Hm.. tidak. Aku sudah cukup lega bisa melihat mu kembali ke Chicago" balas Rosie sambil tersenyum menatap Gerardo.
Jawaban Rosie tampaknya membuat Gerardo mengukir senyum disudut bibirnya.
"Kau memang sangat misterius dan Aku tidak akan menanyakan apapun soal pekerjaan mu" lanjut Rosie kembali.
"Yeah.. Aku akan menceritakan semuanya pada mu nanti" balas Gerardo menangkup wajah Rosie dengan lembut.
*****