- AUTHOR POV -
Mobil limousine yang selalu membawa Gerardo kemana saja kini tiba di sebuah bungalow dekat pesisir pantai kota Washington. Gerardo beserta Allio dan para anak buah lainnya turun dari mobil dan berjalan masuk. Terlihat beberapa pria bersetelan rapi layaknya anak buah Gerardo berdiri di depan pintu bungalow tersebut. Setelah mendengar perintah dari pimpinannya para pria tersebut mempersilahkan Gerardo dan lainnya masuk.
Sebuah bangunan yang terlihat begitu klasik dengan atap rendah namun mewah. Gerardo menyisiri bungalow tersebut hingga menuntunnya bertemu dengan Nate, pamannya. Seorang lelaki jangkung dengan postur yang proporsional kini duduk sembari meneguk segelas wiski. Tampaknya Nate sudah menunggu kedatangan Gerardo sejak tadi.
"Oh god! Keponakan ku, Gerardo.." peluk Nate beranjak dari sofanya.
Sorotan mata Gerardo tak bergeming membuat Nate menyadari maksud dan tujuan keponakannya datang menemuinya.
Nate melepas pelukan tersebut dan meminta Gerardo serta Allio duduk di sofa bungalownya. Seorang pelayan wanita yang di pekerjakan Nate untuk mengurus bungalownya menuangkan wiski ke dalam gelas milik Allio dan juga Gerardo.
"Kau tampak lebih sehat, Gerardo.." puji Nate mengulas senyum tipis.
"Iya, tentu saja. Aku harus selalu sehat untuk menjalankan pekerjaan ku" balas Gerardo sinis.
"Apa kita bisa berbicara secara pribadi?" lanjut Gerardo melihat sekelilingnya hanya di penuhi dengan para anak buah Nate.
Mengerti apa yang di maksudkan keponakannya membuat Nate meminta seluruh anak buahnya meninggalkan dirinya bersama Gerardo.
"Allio akan tetap di sini---Allio, suruh semuanya menunggu di luar" pinta Gerardo.
Kini hanya tersisakan Gerardo, Nate dan juga Allio di dalam ruangan tersebut. Gerardo meneguk wiski yang di sediakan Nate untuknya. Ia meneguknya sebelum memulai pembicaraannya.
Gerardo tak membuang waktunya dan melontarkan pertanyaan intinya pada Nate. Ia menyinggung soal kematian ayahnya yang di sebabkan oleh Nate. Mendengar hal itu, Nate menyangkalnya namun Gerardo mengatakan semua yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri lima tahun yang lalu. Di mana peluru panas itu menembus d**a ayahnya di hadapan Nate.
Wajah Nate berusaha terlihat tetap tenang. Ia menjelaskan pada Gerardo apa yang menjadi penyebab utama pertumpahan darah itu.
Nate memberitahu Gerardo kalau semua itu hanya bermula pada suatu masalah sepeleh. Seorang mafia yakuza jepang membuat kesepakatan pada Nate dan juga Fellito ayah Gerardo. Kesepakatan yang membawa keduanya pada sebuah keuntungan yang bernilai fantastis. Namun pada kenyataannya, Hiro pemimpin mafia yakuza itu gelap mata dan di selimuti keserakahannya hingga ia mengkhianati Nate dan juga ayah Gerardo.
Mendengar pernyataan Nate membuat Gerardo semakin geram. Sorotan matanya lebih tajam dari sebelumnya, apa yang di katakan Nate sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini Gerardo selidiki. Apa yang di katakan Nate hanyalah bualan terhadap anak kecil saja.
"Apa kau masih menganggap ku anak yang lemah, Nate?" ucap Gerardo.
"Mana mungkin, Gerardo! Kau adalah pengganti ayah mu.. kau bahkan lebih kuat dan pintar darinya---"
"Iya, kau benar. Dan kau masih saja ingin membohongi ku dengan pernyataan bodoh mu itu?" sela Gerardo.
Gerardo meneguk wiski itu hingga tetesan terakhirnya lalu meletakkan gelas itu pada meja dengan hantaman yang cukup keran yang membuat gelas itu pecah dalam genggaman Gerardo. Melihat hal itu tentu saja Nate sudah siap dengan apa yang akan di lakukan oleh Gerardo.
"Katakan saja semuanya, Nate!" ungkap Gerardo serius.
"Aku sudah mengatakan semuanya, Gerardo. Apa lagi?" tegas Nate yang tak mau kalah.
"Yang barusan kau katakan itu hanya kebohongan saja, Nate! Apa kau pikir selama ini Aku membiarkan kejadian itu berlalu saja tanpa menyelidikinya? Kau---"
"Apa yang kau selidiki?" sela Nate dengan raut wajah yang berubah keras.
"Kau bersekongkol dengan pimpinan yakuza itu, kan?" tegas Gerardo dengan tatapan menyelidiknya.
Mata Nate semakin menyipit, ia kembali meneguk wiskinya sembari menarik senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Kau bersekongkol dengannya dan menghianati ayah ku untuk mengambil semua keuntungan itu!" lanjut Gerardo.
"Lalu?" ucap Nate memperlebar senyumannya.
Senyuman yang seakan meremehkan Gerardo membuatnya semakin geram pada Nate.
"Lalu?! Kau menanyakan itu?" balas Gerardo mendekat dengan kedua tatapan mata yang begitu lekat ke arah Nate. Seakan Gerardo juga sudah siap dengan apa yang akan terjadi.
"Aku akan membunuhmu lalu pimpinan yakuza itu!" bisik Gerardo ke arah Nate.
Brrrruuuukkkkkk!!!
Allio sangat terkejut saat tiba-tiba saja sofa yang di duduki Gerardo terbalik dan membuatnya jatuh karena tendangan Nate yang mengarah ke d**a Gerardo.
"s**t!" umpat Allio merongoh pistolnya yang berada di pinggangnya.
Nate melemparkan gelas wiski yang ia genggam kearah Allio hingga pecahan gelas itu mengenai pipi kanannya dan tergores.
Gerardo dengan gesit kembali mendapat keseimbangan tubuhnya, beranjak lalu mengarahkan pistol kearah Nate. Namun Nate juga tak tinggal diam dengan todongan pistol yang terarah kearahnya.
Suara tembakan pertama dilepaskan oleh Gerardo, peluru panas itu berhasil meleset dan tak mengenai tubuh Nate yang dengan gesit juga berlari dan berlindung dibalik pilar bungalow miliknya.
Suara tembakan itu juga membuat para anak buah Nate serta Gerardo terkejut dan saling bertatapan di luar bungalow sebelum mereka berlari masuk untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tembakan kedua dilepas Allio namun masih saja tak dapat mengenai Nate.
Semakin geram Gerardo menarik kembali pelatuk senjatanya sembari menyisiri sudut bungalow pamannya. Dimana ia sedang mencari keberadaan Nate yang tak berada di pandangannya.
"Kau harus mati ditangan ku, Nate!" ucap Gerardo tegas.
Disisi lain Nate sedang mencoba mengatur napasnya yang memburu. Tak di pungkiri juga kalau saat ini Nate dipenuhi dengan rasa kepanikan dan ketakutan karena ucapan Gerardo yang memang seakan ingin membunuhnya karena kematian Fellito, kakaknya.
Kedua pasang mata milik Gerardo dan Allio saling berpaut seakan memberikan kode apa yang akan keduanya lakukan selanjutnya.
Gerardo menyisiri sisi kanan bungalow milik Nate, sedangkan Allio menyisiri sisi kiri. Terdengar suara langkah kaki yang berlarian menuju tempat pertengkaran Gerardo dan Nate. Beberapa pengawal Nate dan juga Gerardo tampak mengetuk pintu dan berteriak dari arah luar ruangan tersebut, namun tak ada sahutan dari Gerardo maupun Nate yang sedang bersembunyi.
"Tuan!!! Apa Anda baik-baik saja?"
"Tuan Nate!!!"
"Tolong biarkan kami masuk!"
Gerardo terlihat membabi buta mencari keberadaan Nate dengan sebuah pistol di tangan kanannya. Lalu suara deringan ponselnya mengalihkan pandangannya. Gerardo merongoh saku jasnya dan mendapat panggilan dari Rosie. Cukup lama ia menatap panggilan tersebut sebelum ia menjawabnya.
"Rosie.." ucap Gerardo dengan suara yang terdengar berisik.
"Kau di mana? Kenapa sangat berisik?"
Baru saja Gerardo menjawab panggilan dari Rosie, tiba-tiba saja suara tembakan yang di sertai dengan suara pecahan kaca mengalihkan kembali pandangannya. Nate berhasil melepaskan peluru panasnya yang mengenai lengan kanan Allio, dimana rasa panasnya peluru itu membuat pistol Allio terjatuh dari tangannya.
"Gerard! Pistolnya!" teriak Allio saat Nate mengarahkan pistol itu ke arah Gerardo.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau baik-baik saja?" tanya Rosie panik dalam panggilannya.
"Aku tak bisa mengatakan apapun pada mu saat ini, Rosie.. Aku akan mengakhiri pang---"
"Stop! tunggu!" sela Rosie.
"Ada apa?" ucap Gerardo terburu-buru.
"Kau akan kembali ke Chicago kan?"
"Apa kau akan menunggu ku?"
"Iya, Aku akan menunggu mu! Aku akan menunggu mu, Gerardo. Kembali lah dengan selamat ke Chicago" ucap Rosie pada panggilannya.
Ucapan itu membuat Gerardo cukup senang, dimana Rosie akan menunggunya untuk kembali ke Chicago.
"Yeah.. Aku akan kembali. Aku sangat merindukan---"
Duaaaaarrrr!!! (suara tembakan)
Nate melepaskan tembakannya mengarah ke d**a Gerardo, namun dengan gesit Gerardo melemparkan tubuhnya ke arah jendela yang membuat dirinya terjatuh ke dalam sebuah kolam di bungalow milik pamanya itu.
Suara tembakan serta jatuhnya Gerardo membuat panggilannya bersama Rosie terputus.
Gerardo tampak menggerutu di dalam air sembari berusaha keluar dari kolam tersebut.
"s**t!" umpatnya.
"Allio?!" ucapnya setelah mengingat Nate yang berhasil menembaki lengan kanan milik sepupunya itu.
"Tuan Gerardo!!!" teriak salah satu pengawalnya yang tak sengaja mendapatinya.
"Apa yang terjadi?" tanya panik.
"Cepat ke atas dan lindungi Allio!! Cepat!!!" pinta Gerardo panik.
Gerardo menatap ponselnya yang sudah dalam keadaan mati, dimana pikirannya kini tertuju pada Rosie.
"Dia pasti sangat panik mendengar suara tembakan itu" batin Gerardo.
- GERARDO POV -
Masih dalam keadaan pakaian ku basah, Aku berlari menuju tempat pertengkaran ku tadi dengan Nate. Namun saat Aku tiba, Aku tak dapat melihat pengawal Nate yang sejak tadi memenuhi bungalow tersebut.
Allio?
Aku berlari menuju ke ruangan berikutnya dan mendapati Allio dan para pengawal ku disana.
"Astaga.. Apa kau tak apa-apa?" ucap Allio yang terdengar begitu khawatir pada ku.
"Iya, Bagaimana dengan lengan mu?" tanya ku.
"Sepertinya peluru itu berhasil mengenainya, tuan.." sela Brown.
"Okay! Kita kembali ke Chicagio dulu, lalu mencari pria tua itu!"
"Maafkan Aku, ini semua salah ku.."
Aku menjatuhkan pandangan ku ke arah Allio saat ia mengucapkan kalimat tersebut.
"Jangan menyalahkan dirimu, untung saja peluru itu hanya mengenai lengan mu bukan kepala mu!" ucapku sebelum meninggalkan mereka lebih dulu.
Lucio mengemudikan mobil untuk kembali ke Chicago saat ini juga. Pandangan ku juga kembali tertuju pada ponsel ku yang rusak akibat terjatuh ke dalam kolam itu. Pikiran ku terus saja tertuju pada Rosie dengan ucapan terakhirnya sebelum panggilan itu terputus.
"Ada apa?" tanya Allio yang tiba-tiba menyadarkan ku.
"Tak apa" balas ku singkat dan mengalihkan pandangan ku.
Perjalanan yang cukup lama dan membuat ku semakin gelisah, dimana rasanya perjalanan kali ini sangat terasa panjang dan meresahkan.
Apa karena Aku merindukannya?
Sial!
Aku melirik Allio yang terlihat menahan rasa sakitnya di hadapan ku. Wajahnya sudah terlihat pucat dengan lengannya yang kini semakin berlumuran darah.
"Lucio, cepat atau Allio akan mati disini!" ucap ku.
Perjalanan panjang itu akhirnya usai dan berhasil mendaratkan Aku, Allio dan para pengawal ku di apartement ku di Chicago.
Lucio dan juga Brown membawa Allio masuk ke dalam untuk mendapatkan perawatannya.
"Berikan Aku kunci mobilnya!" pinta ku.
"Kau mau keman---aahh, s**t!" ucap Allio.
"Aku akan pergi sebentar--- Brown panggil Dr. Broke untuk merawat Allio" pinta ku sebelum meninggalkan mereka.
Dengan perasaan yang sulit ku artikan sendiri, Aku mengemudikan mobil itu menuju rumah Rosie dan berhenti saat mendapati seorang wanita yang tampak sedang bertengkar dengan seorang lelaki.
Aku mengamatinya dari dalam mobil dan berakhir turun untuk menanyakan keberadaan Rosie pada wanita tersebut.
"Hey.. Aku tak bermaksud untuk mencampuri urusan kalian. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan Rosie" ucap ku.
"Kau? Kenapa kau mencari Rosie?" tanya wanita itu.
Tiba-tiba saja Aku mengingat wajah wanita yang kini berdiri tak jauh dari tempat ku. Wanita yang saat itu bertengkar dengan mantan kekasih Rosie saat kebakaran di club malam itu, lalu ia juga wanita yang berada di bar saat Rosie dilecehkan. Ah, dia Maddie sepupu Rosie.
"Katakan saja dimana Rosie, lalu kalian berdua bisa melanjutkan pertengkarannya"
"Maddie, semua itu hanya salah paham!"
"Hey.. Aku perlu tau dimana Ros---"
"Dia berada di bar tempat kerjanya! Pergilah! Kau sangat mengganggu kami!" sela lelaki yang sejak tadi terus meminta maaf di hadapan Maddie.
Mendengar ucapan lelaki lemah itu Aku langsung saja menuju ke bar tempat Rosie bekerja. Bar yang dulu sempat Aku kunjungi bersama dengan Allio.
Mobil berhasil ku parkirkan lalu berjalan masuk menuju tempat dimana Rosie melayani para tamu club, namun Aku tak mendapatinya disana.
"Hey.. kau pria bodoh! Dimana Rosie?"
"Dia sedang melayani tamu VVIP"
"What? Dimana tamu itu?" tanya ku.
"Siapa kau? Kenapa Aku harus menj---"
Buuuuuukkkk!!!
Aku menghantam wajah lelaki yang juga berstatus pelayan seperti Rosie di bar ini. Kesabaran ku sudah habis sejak tadi. Lalu Aku mendengar ucapan yang tak seharusnya ku dengar.
"Katakan dimana?!" teriak ku yang membuat dentuman musik itu berhenti.
"Rosie berada di ruangan VVIP 801" ucapnya sembari memegangi hidungnya yang berdarah akibat pukulan ku.
Tak menunggu lama, Aku menyusuri bar tersebut dan mencari ruangan yang di sebutkan lelaki tadi.
Ruang VVIP 801
Langkah kaki ku tercekat saat mendapati ruangan tersebut. Tak menunggu lama, Aku membuka ruangan tersebut namun ternyata ruangan itu terkunci. Aku mengetuknya beberapa kali namun tak ada jawaban membuat perasaan ku semakin gelisah.
"Rosie!!!" teriak ku.
Beberapa kali Aku memanggil namanya namun tak juga ada jawaban membuat kesabaran ku benar-benar habis dan mendobrak pintu tersebut.
Betapa terkejut Aku saat melihat sekeliling ruangan tersebut.
*****