- AUTHOR POV -
Belum memiliki tidur yang cukup namun tetap mengharuskan Rosie menjalankan tugasnya sebagai seorang pelayan di restoran Tn. Henry. Restoran yang pernah di kunjungi oleh Gerardo. Masih di kuasai rasa kantuk membuat Rosie mendapat masalah hari ini. Kakinya tergelincir dan menjatuhkan nampan berisi sampanye itu ke salah satu pelanggan restoran tersebut.
Hal itu tentu saja membuat Rosie mendapat amukan dari pelanggan restoran tersebut. Bahkan ia juga mendapat makian yang merendahkan pekerjaannya dari sepasang kekasih tersebut. Rosie harus menahan gejolak emosinya karena keteledorannya sendiri.
Rosie terus saja meminta maaf, di mana kekasih wanita tersebut juga sudah menyuruhnya pergi agar ia dapat menenangkan wanitanya. Namun wanita itu terus saja memaki Rosie hingga Tn. Henry datang dan meminta maaf padanya.
Tn. Henry yang memiliki sikap hangat pada semua karyawannya menanyai Rosie apa yang menganggu pikiraannya. Dan Rosie mengatakan kalau tak ada terjadi apapun dengannya, hanya saja rasa kantuknya yang terus menguasainya. Mendengar alasan Rosie membuat Tn. Henry memintanya untuk pulang dan beristirahat.
Rosie pulang ke rumahnya di mana Maddie yang baru saja ingin berangkat ke hotel untuk bekerja.
"Ada apa? Kenapa kau kembali lagi?" tanya Maddie.
"Tak ada apa-apa, pergilah.." ucap Rosie berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Rosie menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang masih saja berantakan karena Maddie yang belum merapikannya. Rosie menatap langit-langit kamarnya, menerka-nerka di mana kepergian Gerardo yang tak mengatakan soal tujuannya. Berbeda dengan setelah aksi tembakan yang terjadi di apartementnya, ia mengatakan kota yang akan ia kunjungi. Namun kali ini, Gerardo tak menyebutkan nama kota itu pada Rosie.
Lalu Rosie terperanjat saat mendengar deringan ponselnya. Ia merongoh tasnya menarik ponselnya dan mendapati nama Vanno yang tertera pada layarnya.
Rosie menghela napas di mana ia yang sudah tak ingin berurusan lagi dengan mantan kekasihnya, namun tak ia duga kalau panggilannya berasal dari Vanno.
Nada suara yang memelas membuka topik pada panggilannya. Sedangkan Vanno terdengar bersemangat, seperti saat pertama mereka memulai hubungannya.
"Ada apa kau menghubungi ku lagi?" tanya Rosie dengan nada sinis.
"Aku hanya ingin mengetahui kabar mu saja, Rosie.." jelas Vanno maksud dari panggilannya.
"Apa peduli mu? Kenapa kau tak menanyakan kabar Miya saja?" sela Rosie.
"Hm.. Aku dan Miya sudah ber---"
"Stop! Aku akan menutup panggilannya" tegas Rosie.
Rosie sudah dapat menebak apa yang akan di katakan Vanno padanya. Dan hal itu tak ingin ia dengarkan. Bahkan ia sudah tak ingin mempunyai hubungan apapun lagi dengan Vanno.
Rosie memutuskan panggilannya, di mana Vanno yang terus saja menghubunginya kembali dan membuat Rosie menjadi kesal. Namun ponselnya masih saja berdering. Dengan kekesalannya ia menjawab kembali panggilan dari Vanno.
"Berhenti menghubungi ku, Vanno!" teriak Rosie dalam panggilannya.
"Vanno?"
Rosie tercekat saat mendengar suara berat pria yang sangat ia kenali.
"Apa dia mantan kekasih mu?" tanya Gerardo.
"Hm.. yeah" balas Rosie gugup.
"Ada apa menghubungi ku?" tanya Rosie mengalihkan topik pembahasannya.
"Aku hanya ingin mendengar suara mu saja, tapi sepertinya kau baik-baik saja. Aku akan mengakhiri pang--"
"Tunggu!" sela Rosie panik.
"Ada apa?"
"Apa kau sudah tiba di tempat yang kau tuju?"
"Yeah, Aku baru saja tiba" balas Gerardo dingin.
"Ah, yeah.. baiklah"
"Jaga kesehatan mu.. bye!" ucap Gerardo sebelum mengakhiri panggilannya.
Rosie mengumpat kesal karena panggilan yang ia kira itu adalah panggilan Vanno. Dan ia tak pernah menyangka kalau Gerardo akan menghubunginya.
- ROSIE POV -
Aku membenamkan wajah ku pada bantal, tiba-tiba saja suasana hati ku buruk karena panggilan tersebut. Seharusnya Aku tak perlu segelisah saat ini karena lelaki itu. Tapi, ada apa dengan ku sekarang?
Aku kembali melirik ponsel ku kalau saja ada sebuah pesan masuk darinya, namun tak ada. Kejadian itu membuat rasa kantuk ku hilang dan di ganti dengan gelisahan. Aku memutuskan untuk ke tempat Karen teman Maddie yang juga akrab dengan ku.
Setiba di rumahnya, Karen menyambut ku hangat dan Andrew kekasihnya juga terlihat sedang bersamanya.
"Hai, Rosie" sapa Andrew sembari mengenakan baju kaos miliknya.
"Apa kau datang sendiri? Maddie?" lanjut Karen.
"Dia baru saja ke hotelnya sebelum ku mendatangi mu" balas ku sambil menyandarkan punggung ku pada sofa rumahnya.
Tiba-tiba saja Andrew menyinggung soal Vanno di mana Karen menyelanya. Sepertinya Maddie sudah bercerita pada Karen soal hubungan ku denga Vanno.
"It's okay, Karen. Vanno hanya masa lalu ku. Aku sudah lebih baik sekarang" ucap ku.
"Apa dia benar bersama Miya?" tanya Karen memperjelas.
Aku tau orang-orang yang mengenal ku dengan Vanno akan penasaran pada hubungan ku. Bahkan Aku juga tau kalau saja teman-teman Vanno kadang menjadikan hubungan ku dengannya sebagai tarahan. Di mana hubungan ku dengan Vanno dapat berjalan lancar atau tidak. Namun Aku berusaha meyakini diri ku kalau saja Vanno bukan lelaki yang di katakan beberapa teman ku dan juga Maddie.
Maddie dan Karen sudah memperingati ku di awal, hanya saja Aku terlalu sulit memalingkan diri ku dengan pesona yang di miliki Vanno, hingga Aku benar-benar yakin dengan perkataan mereka.
Aku memberitahu Karen semuanya, kalau Vanno memang bersama Miya. Bahkan Aku juga memberitahunya soal Ethan yang hampir saja memperkosa ku saat di bar. Mendengar perkataan ku membuat Andrew juga yang mengenali Ethan tampak mengumpatinya.
Karen menyemangati ku kembali dan meyakinkan Aku kalau saja Vanno memang bukan lelaki yang baik untuk ku. Harusnya sejak awal Aku mendengar nasihat ia dan juga Maddie. Lalu Aku juga sedikit bercerita soal Gerardo yang namanya ku sembunyikan darinya.
Aku memberitahu Karen kalau saja pikiran ku saat ini di penuhi dengan Gerardo, namun diri ku sendiri selalu menepisnya.
"Apa kau menyukainya?"
"Siapa?"
"Lelaki yang kau ceritakan itu.." jelas Karen.
"Tidak! Mana mungkin, Karen! Aku hanya tidak suka kalau ia terus saja mengganggu pikiran ku"
Aku masih tetap kekeuh pada pendirian ku untuk tidak akan jatuh cinta padanya.
"Kau memikirkannya karena, kau sendiri yang mencari lelaki itu.. Rosie. Seseorang yang muncul dan mengganggu pikiran kita sebenarnya itu karena kita sendiri yang mencarinya dalam diri kita meskipun kau tak menyadari hal itu. Kau membutuhkan orang itu atau mungkin saja kau rindu padanya---siapa lelaki itu?" jelas Karen.
"Hm.. hanya pelanggan bar saja yang Aku juga tidak terlalu mengenalnya" balas ku berbohong.
"Lalu di mana dia?"
"Aku tak tau, dia tak mengatakan tujuannya pad---hm, maksud ku---"
"Kau tidak terlalu mengenalinya, tapi kenapa dia harus memberitahu mu tujuannya?"
Sial! bibir ku ini sulit sekali untuk ku ajak kompromi. Perkataan itu tentu saja membuat Karen jadi curiga pada ku.
"Hm.. Iya, Aku mengenalinya. tapi, kami tidak cukup akrab"
"Tapi kau selalu memikirkannya?"
"Itu semua karena panggilan bodoh dari Vanno, Aku pikir Vanno yang masih saja terus menghubungi ku. Dan bodohnya, Aku menyebutnya Vanno saat dia memghubungi ku" jelas ku jujur.
Karen hanya tertawa dengan keluhan ku serta kekesalan ku hari ini. Lalu Karen meminta ku untuk menghubunginya, namun Aku dengan tegas menolaknya. Aku tidak mungkin menghubunginya lebih dulu. Aku sudah bersumpah di depannya kalau Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Lalu Karen meminta ku untuk menghubunginya? Tidak! Itu tidak mungkin. Tapi mengingat kejadian saat ia menyelamati ku dari Ethan, rasanya Aku merasakan ada hal yang lain dalam diri ku. Bahkan kemarahannya juga membuat hati ku sakit, saat Aku menunduhnya membunuh Ethan. Tatapan mata terakhir itu membuat ku memikirkannya beberapa hari belakangan ini.
Namun Aku tetap bersikeras untuk tidak akan menghubunginya, sedangkan Karen juga terus saja memaksa ku dengan segala ucapannya yang membuat hati ku goyah hingga Aku memutuskan untuk menghubunginya.
Dengan jantung yang berdebar Aku menunggu nada panggil itu di jawab olehnya. Namun hingga nada panggil terakhir ia belum juga menjawab panggilan ku. Lalu Karen meminta ku untuk menghubunginya sekalgi lagi. Cukup lama deringan itu terdengar hingga panggilan ku di jawab olehnya.
"Rosie.." ucapnya dengan suara yang terdengar berisik.
"Kau di mana? Kenapa sangat berisik?"
Aku mendengar suara pecahan kaca yang mengangetkan ku, bahkan Karen juga ikut terkejut. Lalu Aku juga mendengar suara Allio yang terus saja memanggil namanya.
"Gerard! pistolnya!"
Mata ku melebar saat mendengar ucapan itu. Tangan ku bergetar mengingat kejadian menyeramkan di apartement Gerardo beberapa minggu yang lalu. Saat suara pecahan kaca serta tembakan yang memenuhi apartementnya. Hal itu tentu saja membua ku panik kalau saja ia tertembak.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau baik-baik saja?" tanya ku panik.
"Aku tak bisa mengatakan apapun pada mu saat ini, Rosie.. Aku akan mengakhiri pang---"
"Stop! tunggu!" sela ku.
"Ada apa?"
"Kau akan kembali ke Chicago kan?"
"Apa kau akan menunggu ku?"
"Iya, Aku akan menunggu mu! Aku akan menunggu mu, Gerardo. Kembali lah dengan selamat ke Chicago" ucap ku pada panggilannya.
"Yeah.. Aku akan kembali. Aku sangat merindukan---"
Duaaaaarrrr!!! (suara tembakan)
Suara tembakan itu membuat napas ku tercekat serta mata ku yang tiba-tiba saja melebar bersamaan dengan panggilan itu yang juga terputus.
*****