- ROSIE POV -
Aku menggeram saat Ethan meninju wajah ku dan mendorong ku hingga kepala serta tubuh ku menabrak dinding bar. Aku melihat sekitar terlihat sunyi, di mana tempat ini memang di jadikan sebagai tempat berhubungan badan para remaja yang datang ke bar tersebut.
Ethan terus saja menyalahkan ku karena perselingkuhan Vanno dan Miya, ia juga tak hentinya memaki ku dengan kata kasar. Aku meronta meminta di lepaskan saat ia menyandarkan ku pada dinding bar seakan ingin menyetubuhi ku. Kekuatan ku tak cukup kuat untuk terlepas dari cengkramannya hingga terdengar suara retak yang membuat Ethan tiba-tiba saja tersungkur di lantai bar
"Kalau dia bilang berhenti melakukannya, harusnya kau berhenti.. kawan!"
Suara yang terdengar berat mengalihkan pandangan ku. Aku merapikan baju ku yang lusuh karena cengkramannya. Aku menatap Gerardo yang tiba-tiba saja muncul di hadapan ku.
Ethan beberapakali mengumpat dan menatap marah ke arah Gerardo.
"f*****g s**t! Siapa kau?" teriaknya kesal sembari menarik kembali celananya.
"Aku kekasihnya!" tegas Gerardo dengan suara yang lantang.
Gerardo menarik ku menjauh dari Ethan. Rahang Gerardo terlihat mengeras menatap ke arah ku, melihat penampakkan ku saat ini sangat kacau. Aku merapikan sedikit baju hingga rambut ku.
"Oh kau kekasih barunya? Bagaimana tubuhnya? Apa kau juga akan seperti Vanno yang akan bos---"
Mata ku melebar saat Gerardo kembali menghantam wajah Ethan hingga darah itu keluar dari hidungnya.
Umpatan itu kembali terdengar di mana Ethan yang berusaha membalasnya namun Gerardo terlihat lebih lihai dengan seni bela dirinya. Lalu tak lama, Allio datang dengan beberapa anak buahnya yang lain. Hal itu membuat Gerardo membawa ku keluar dari bar itu, sedangkan Allio yang terlihat mengurus Ethan.
Tangan ku di tarik begitu erat menyusuri bar dan menuju ke arah pintu keluar, lalau seorang lelaki menghampiri Gerardo dan menghentikan langkahnya. Aku menatapnya lekat dan merasa tak asing dengan wajahnya. Hingga Aku teringat dengan seorang lelaki pemilik hotel, di mana Gerardo memintanya untuk menjaga ku sebelum kepergiaannya ke Manchester.
"Dia wanita mu, kan?" ucap lelaki itu menatap ke arah ku.
"Kau sangat tepat menghubungi ku" balas Gerardo.
"Kenapa kau membiarkannya berkeliaran dengan lelaki lain?"
"Seharusnya Aku memasungnya di apartement, dia memang sangat liar"
Perkataan Gerardo membuat ku terasa sangat kesal, bukannya ia tak seharusnya mengatakan hal seperti itu. Aku kan bukan wanitanya!
Lalu Allio dan lainnya kembali menyapa lelaki yang di panggil dengan sebutan Aiden.
"Apa kau sudah selesai mengurus---"
"Hey! Kau tak membunuhnya kan?" sela ku.
"Kenapa kalau Aku membunuh---"
"Hey! Kau gila?"
"Iya, Aku gila karena mu.. Rosie!" ucapnya dengan senyum mengejek.
Aku mengumpatinya kesal dan melepaskan cengkramannya yang sudah melonggar pada pergelangan tangan ku. Aku berlari melihat keadaan Ethan kalau saja ia benar membunuhnya, itu sama saja membuat ku seperti seorang pembunuh. Baru saja beberapa langkah, lengan ku kembali di tarik olehnya.
"Aku tidak membunuhnya, Rosie.. lagi pula apa peduli mu? Dia hampir saja memperkosa mu kalau Aku tidak datang menyelamatkan mu!" bisik Gerardo dengan menggertakkan giginya.
"Tapi kau tak harus membunuhnya!"
"Aku katakan tidak membunuhnya, Rosie!" bentaknya.
Sorotan mata itu.. Aku tak pernah melihat sorotan mata itu sebelumnya. Aku terdiam menutup bibir ku dan tak berkomentar apapun lagi padanya.
"Rosie..?"
Aku mengalihkan pandangan darinya menatap Maddie yang baru saja menampakkan dirinya setelah tadi Aku mencarinya. Ia mendekat ke arah ku, di mana Gerardo yang terlihat juga sedang menatapnya saat langkah itu semakin dekat ke arah ku.
Maddie menatap Gerardo dari ujung rambut hingga kakinya. Aku rasa dia mengenalinya karena pertemuaanya di depan bar saat itu.
"Maddie.." sahut ku.
Maddie berdiri di samping ku, tatapan Gerardo masih saja sama seperti sebelumnya. Ia menatap sinis ke arah Maddie dengan alis hitam selarasnya.
"Dia lelaki yang bermasalah dengan mu di depan bar itu kan?"
Maddie menatap ku karena tak ada jawaban dari bibir ku.
"Mau apa lagi kau, tuan? Apa kau akan menyakiti---"
"Maddie.." sela ku mewaspadai kalau saja ucapan Maddie membuat Gerardo menyakitinya.
"Menyakiti? Hey, lady! Aku tidak menyakiti sepupu mu.. kau bisa tanyakan padanya apa yang baru saja terjadi dengannya!" ungkap Gerardo mengalihkan pandangannya ke arah ku.
Aku mengatakan sebenarnya pada Maddie kalau Ethan juga ada di bar ini dan hampir saja memperkosa ku.
- AUTHOR POV -
Maddie mendengar penjelasan Rosie dan tak menyangka kalau Ethan akan berbuat seperti itu padanya. Lalu Maddie melayangkan tatapannya pada Gerardo, tatapan menyelidik.
"Lalu dia yang menolong mu?"
Rosie mengangguk dan mengiyakan pertanyaan yang di lontarkan Maddie padanya.
"Oh.. thanks, sudah menolong Rosie" lanjut Maddie kembali.
Namun Gerardo mengabaikannya dan memunggungi Rosie serta Maddie. Ia berjalan menuju Aiden, Allio dan juga para anak buahnya. Melihat Gerardo yang pergi meninggalkannya tanpa sepatakata pun yang tak seperti biasanya membuat sesuatu lain di rasakan Rosie. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rosie mengejar Gerardo hingga pintu keluar bar itu dan menarik lengan kekarnya.
"Hm..."
Kalimat menggantung itu membuat Gerardo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rosie.
"Ada apa lagi?" ucapnya sinis.
Namun bibir Rosie masih gugup untuk terbuka.
"Menuduh ku lagi?" lanjut Gerardo.
Lagi dan lagi bibir itu masih kaku membuat Gerardo menggeleng dan kembali memunggungi Rosie dengan tatapan sinis.
"Hm.. terima kasih dan.."
"Dan?" sela Gerardo kembali berbalik ke arah Rosie.
Gerardo menatap wajah Rosie yang tertunduk dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Dan maaf sudah menuduh mu.." lanjut Rosie.
Mendengar hal itu suasana hati Gerardo menjadi lebih baik. Ia meminta Allio dan para anak buahnya untuk menunggunya di mobil selagi ia berbicara berdua dengan Rosie. Mendengar kata maaf yang terlontar dari wanita yang ia kenal dengan sifat barbarnya membuat Gerardo melemah. Gerardo menangkup wajah Rosie yang tertunduk dan memisahkan helai demi helai rambutnya yang menutupi wajah kacaunya malam ini.
Gerardo menatap lekat bola mata keabu-abuan milik Rosie, ia juga menyapu bekas darah pada bibir Rosie karena pukulan Ethan tadi. Gerardo mendekatkan wajahnya dengan kedua napas itu saling menyapu di wajah keduanya.
Jantung Rosie berdegub kencang saat hidung tinggi Gerardo menyentuh hidungnya.
"Ini cukup bagi ku, terima kasih sudah mengatakannya pada ku" ungkap Gerardo berbisik.
Tubuh Rosie terpaku, tatapannya masih saja terarah pada bola mata hitam pekat milik Gerardo.
"Aku tak tau ini penting untuk kau ketahui atau tidak. Aku akan melakukan perjalanan sebelum matahari terbit. Jaga diri mu selagi Aku tak ada, jangan membiarkan lelaki lain menyentuh mu. Jangan mabuk dan bertingkah konyol yang akan mengundang lelaki mendekati mu.." jelas Gerardo dengan suara beratnya.
Mendengar hal itu, jantung Rosie semakin berdegub. Rasanya ia tak rela mendengar kepergian Gerardo. Meskipun perasaan itu sulit ia artikan, namun itulah yang ia rasakan saat ini.
Gerardo beringsut mundur melepas tangkupannya pada wajah kacau Rosie. Namun ia kembali lagi pada Rosie.
"Dan yah.. obati luka pada wajah mu. Aku tidak suka melihat wajah mu lebam seperti itu" lanjutnya dan melemparkan kecupan lagi pada puncak kepala Rosie.
Gerardo mengecupnya lama seakan ia akan pergi meninggalkan Rosie dengan waktu yang lama.
Gerardo benar-benar meninggalkan Rosie yang masih terpaku di depan pintu masuk bar. Ia memegangi pipinya yang tadi mendapat kecupan dari Gerardo. Sentuhan Gerardo serta nada suaranya membuat perasaan Rosie semakin kacau. Perlakuan yang ia dapatkan dari Gerardo tak pernah ia dapatkan dari Vanno, mantan kekasihnya.
Rosie menarik pasokan udaranya yang sejak tadi menipis. Ia menelan salivanya dan berlari menuju parkiran mobil. Di mana ia sudah tak melihat mobil limousine yang selalu bersama Gerardo.
"Damn! Ada apa dengan ku!" ucapnya frustasi.
Lalu Maddie menyusulnya dan menanyakan apa yang terjadi.
- GERARDO POV -
Aku menatap ke arah jendela mobil mengamati jalan yang terlihat sudah sunyi sembari mengingat kembali kecupan yang tadi ku berikan pada Rosie.
Brown melajukan mobil ku menuju apartement, di mana sebelum matahari terbit Aku sudah harus berangkat ke Washington menemui seseorang yang sudah lama seharusnya Aku temui. Mobil itu berhasil melaju dan tiba di basement apartement ku, di mana semuanya harus siap sebelum keberangkatan ku. Seperti biasa, segala macam senjata harus tersedia untuk kemungkinan terburuk yang terjadi.
"Kalau semuanya sudah siap, kita berangkat malam ini juga" ucap ku.
Aku menunggu di dalam apartement ku selagi Allio mengkordinir semua anak buah ku. Tak tau mengapa kenapa pikiran ku terus saja tertuju pada Rosie. Aku menatap ponsel ku lama dengan segala kegelisahan ku yang tertuju padanya. Tak biasanya Aku di selimuti rasa takut akan kepergian ku. Di mana Aku sangat tau kepergian ku kali ini untuk mempertaruhkan nyawa ku sendiri. Aku takut pertemuan ku tadi dengan Rosie adalah pertemuan terakhir ku dengannya. Lalu Allio kembali masuk dan memberitahu ku kalau semua sudah siap.
Langkah besar berhasil membawa ku menuju basement apartement dengan mobil hitam mengkilap berjejer di hadapan ku.
"Hey, Luc.. apa kau sudah membaik?" ucap ku pada Lucky.
"Iya, tuan. Silahkan..." balasnya membukakan pintu mobil.
Lucky kembali mengambil alih kemudi mobil ku yang sejak tadi di kemudikan oleh Brown. Allio duduk di sebelah kursi pemudi dan seperti biasa Aku duduk pada kursi belakang.
Perjalanan yang akan ku tempuh ke Washington memakan waktu yang cukup lama. Pandangan ku teralihkan saat mendengar Allio yang sedang berbicara dengan seseorang di panggilannya.
"Siapa?" tanya ku.
"Martin menghubungi ku kalau paman Nate sudah tiba di Washington setelah penerbangannya dari Rusia" balas Allio.
Mendengar namanya saja sudah sangat memuakkan bagi ku. Rasanya Aku tidak sabar untuk menyaksikan kematiannya di hadapan ku. Begitu banyak yang ia rampas dari ayah ku dan juga diri ku. Semua yang ia miliki adalah milik ku. Dan dengan penuh percaya dirinya ia mengatakan pada semua orang kalau Aku tunduk padanya. Benar-benar omong kosong. Ini akan menjadi pertumpahan darah di antara keluarga Cartez Edmundo.
Namun siapa yang perduli dia lebih dulu melakukannya pada saudaranya yang lain hanya untuk mendapatkan jabatan yang ia inginkan. Bahkan ia rela mengkhianati ayah ku untuk kepentingannya.
Aku meminta Lucky untuk mengemudi dengan lebih cepat dan meminta Allio menghubungi Martin kembali untuk terus mengamati setiap pergerakan Nate.
Hal itu kembali mengulas masa lalu ku sebelum kematian ayah ku lima tahun yang lalu, di mana Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Bahkan wajah binatang Nate juga ada di sana dengan tersenyum seolah kematian ayah ku bukanlah hal yang buruk untuknya.
Aku mengepal kedua tangan ku. AKu tak akan pernah melupakan kejadian itu dan saat ini Aku harus menuntaskan dendam ku pada Nate. Nyawa akan di bayar dengan nyawa. Ini juga adalah pertemuan pertama ku dengannya setelah kematian ayah ku.
Aku tak tau keberuntungan akan memihak ku kali ini atau tidak. Namun lagi dan lagi kegelisahan dan kegaduhan ku terarah pada Rosie. Cukup lama Aku menimbang sejak tadi pikiran ku tentangnya hingga membuat ku memutuskan mengirimkan sebuah pesan untuknya. Sebuah pesan jika sesuatu yang buruk terjadi dengan ku.
"Hey.. ini Aku, Gerardo. Aku tak tau apakah ini penting untuk kau ketahui atau tidak. Hanya saja, hati ku sejak tadi tak tenang memikirkan mu. Aku sudah katakan pada mu, kalau Aku akan meninggalkan Chicago sebelum matahari terbit dan sekarang Aku sedang dalam perjalanan. Aku mengirimkan pesan ini jika sesuatu yang buruk terjadi pada ku dan pertemuan tadi mungkin bisa menjadi pertemuan terakhir kita. Aku hanya ingin mengatakan pada mu, kalau Aku jatuh cinta pada mu. Aku akui sikap ku pada mu bukan seperti lelaki pada umumnya yang memiliki ketertarikan pada wanita. Aku tak tau bagaimana caranya memperlakukan wanita secara lembut dan mengambil hatinya. Karena kehidupan ku begitu gelap sebelum bertemu dengan mu. Namun Aku juga tidak bisa mengabaikan hal ini, sesuatu yang membuat ku harus menyelesaikannya meskipun Aku harus mempertaruhkan nyawa ku. Aku mengatakan semua ini pada mu, agar kau percaya kalau perasaan ku pada mu bukan perasaan seperti kekasih mu yang pecundang itu. Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Rosie. Aku akan merindukan mu.." tulis ku pada sebuah pesan singkat yang ku kirimkan padanya.
Aku menghela napas lega setelah mengatakan semuanya pada Rosie. Aku sangat berharap dapat kembali ke Chicago dengan utuh. Aku menatap kembali ke arah jendela mobil, menatap langit yang sebentar lagi akan terang. Di mana perjalanan ku masih sangat panjang untuk tiba di Washington.
Baru saja mata ku ingin terpejam, suara notification ponsel ku berbunyi dengan menampakkan nama Rosie di dalamnya. Tak ingin membuang waktu berharga ku, Aku dengan gesit membuka pesan tersebut.
"Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kau lakukan. Tapi, Aku hanya menginginkan kau kembali ke Chicago dengan selamat. Aku akan menunggu mu di sini"
Aku tak dapat memalingkan pandangan ku dari pesan yang di kirimkan Rosie untuk ku. Pesan yang mampu membuat ku akan berusaha sekuat tenaga ku untuk menjadi pemenang dalam peperangan antar keluarga ini.
Dia mengatakan akan menunggu ku? Apa kini dia sudah menyerahkan hatinya pada ku? Tapi, apa yang ia lakukan jam seperti ini? Apa dia masih melanjutkan pestanya di bar? Seharusnya dia masih tidur di jam seperti ini kalau tadi ia pulang bersama dengan sepupunya itu.
Aku menanyakan alasan ia belum tidur di saat matahari akan terbit kembali. Dan tak menunggu lama, Aku mendapatkan balasan pesan ku lagi.
"Mata ku sulit terpejam sejak tadi Aku terus saja memikirkan mu tanpa mendapatkan alasannya. Benar-benar mengesalkan"
Tanpa sadar Aku tertawa kecil membuat Allio menatap bingung kepada ku.
"Ada apa?" tanyanya.
"Hm.. tidak apa" balas ku singkat.
Dia kesal karena sejak tadi pikirannya terus saja memikirkan ku? Kita merasakan hal yang sama Rosie, Aku juga kesal sejak tadi pikiran ku terganggu oleh mu. Pesan itu membuat suasana hati ku menjadi lebih baik.
"Harusnya Aku tadi mencium bibir mu agar kau memukul ku. Aku yakin jika itu terjadi kau tak akan memikirkan ku karena mencuri bibir mu" tulis ku kembali.
Dan pesan itu terus saja membuat suasana hati ku lebih baik. Pesan balasan yang saat ini ia kirimkan pada ku rasanya akan membuat ku gila. Kalau saja ini bukan berhubungan dengan Nate b******n itu, Aku sudah pasti akan menyuruh Lucky memutar balik mobilnya untuk menemui Rosie. Hanya saja Aku harus menyelesaikan semua ini.
"Aku tidak akan melakukan pukulan itu pada mu" tulisnya.
Apa saat ini dia menginginkan ciuman dari ku? Damn!
*****