Retaknya bukan soal cinta. Retaknya soal kecepatan percaya.
Setelah Heru bilang pantau Arya, Bisma ingin mempercepat: nonaktifkan akses Arya diam-diam, cabut undangan investor, telepon R.W. lewat pengacara agresif. Saira ingin menunggu forensik penuh dan jejak IP yang lebih bersih. Perbedaan itu sempat hanya jadi pesan singkat siang hari—*aku ingin cepat* versus *aku ingin bersih*—lalu mereka janji bawa ke meja malam, bukan perang di chat. Malam itu di meja makan, teh belum dituang, suara sudah naik setengah nada—masih di bawah teriakan, sudah di atas aman. Lampu dapur terlalu terang untuk pertengkaran; mereka tidak mematikan. Aturan bilang: lihat muka, jangan lempar dari gelap. Map Arya dan map R.W. ada di antara mereka seperti saksi bisu.
'Fakta: ada nama dalam,' kata Bisma, telapak tangan di kayu. 'Rasa: aku tidak mau menunggu sampai paket berikutnya masuk rumah. Stop. Aku usul tindakan besok pagi—batas akses Arya, surat keras ke R.W.'
'Saira dulu,' sahut Saira, meniru format supaya tidak lepas. 'Fakta: tindakan besok pagi tanpa bukti cukup bisa jadi fitnah balik dan makanan portal. Rasa: takut kau digiring lagi—kali ini oleh marah yang benar arahnya tapi salah temponya. Stop. Aku tolak cabut akses Arya sebelum audit tertulis. Aku tolak telepon R.W. yang berbau ancam.'
Bisma menarik napas, gagal sekali, lalu berhasil. 'Kau percaya Jati terlalu cepat.'
'Kau tidak percaya prosedur kita cukup cepat—termasuk yang kau buat sendiri,' potong Saira, lalu menggeleng, menutup mata sebentar. 'Maaf. Itu tajam. Ulang. Fakta: aku memakai data Jati sebagai arah, bukan injil. Rasa: sakit dituduh naif. Stop. Aku juga takut. Aku hanya tidak mau takut itu jadi surat ancam.'
Mereka diam. Jam dinding berbunyi pelan. Aturan dapur menuntut stop. Konselor di kepala mereka berbisik tentang ranjang yang bukan pengadilan. Bisma berdiri, mengitari meja dua kali, duduk lagi. Tangan Saira di atas meja terbuka; ia tidak menariknya. 'Fakta: aku takut pintu dalam karena aku CEO yang pernah buta di kantor sendiri. Rasa: ingin kontrol. Stop. Usul kompromi: Heru audit Arya tujuh puluh dua jam tanpa cabut akses dulu; legal surat netral ke R.W. minta klarifikasi dokumen lama—bukan ancam; forensik ditunggu; kita tidak pecah ke Mira atau dewan soal beda pendapat ini sebagai bahan gosip.'
Saira menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. 'Kompromi diterima dengan satu tambah: kalau dalam tujuh puluh dua jam kau ingin mempercepat, meja lagi. Bukan keputusan di mobil. Bukan di grup dewan. Bukan di koridor setelah rapat.'
'Meja lagi,' sahut Bisma. 'Diterima. Terima kasih tidak menang sendirian.'
Mereka diam lagi—diam yang lebih baik dari diam tahun lalu. Saira menggeser map mendekat ke tengah. 'Aku jelaskan kenapa aku lambat: dulu aku bohong kecil di gala karena ingin cepat terlihat rapi. Cepat itu pernah merusak kita. Aku alergi cepat yang tidak tertulis.' Bisma mengangguk. 'Aku jelaskan kenapa aku cepat: dulu aku lambat membaca paket sampai racun masuk. Aku alergi lambat yang menyamar sebagai bijak. Kita beda alergi. Kompromi adalah obat yang pahit untuk dua-duanya.'
Mereka baru menuang teh. Uap naik di antara map. Mira menelepon tanpa diminta—firasat yang sudah jadi kebiasaan buruk yang berguna. 'Kalian berisik di chat? Tidak kelihatan. Bagus. Kalau pecah, pecah di meja, bukan di portal. Aku tidak mau jadi saksi di grup alumni.'
Saira hampir tertawa basah. 'Sudah pecah. Sudah stop. Sudah kompromi.'
'Upgrade,' sahut Mira. 'Dulu kalian pecah tanpa stop. Sekarang ada stop. Kirim meme kalau perlu. Jangan kirim tuduhan.'
Heru dikabari kompromi; ia membalas: *72 jam. tertulis. tanpa drama. saya pegang log.* Di papan dapur Saira menulis: *Pecah boleh. Sambar tidak. Tempo = bagian bukti.* Bisma menambah: *Percaya Jati = arah, bukan injil. Percaya marah = alarm, bukan kemudi.*
Mereka duduk lagi, teh sudah hangat. Bisma bilang pelan, 'Aku takut kau lihat aku sebagai dewan yang menyamar jadi suami.' Saira: 'Aku takut kau lihat aku sebagai orang yang melindungi mantan dengan memperlambat. Kita bilang takutnya. Lalu kita pegang kompromi.' Itu lebih dekat ke lembut daripada pelukan besar—cukup untuk malam itu.
Mereka tidur berdekatan tapi belum sepenuhnya lembut—ada jarak tipis yang jujur di antara bahu. Jarak itu, di rumah yang pernah hampir roboh, lebih sehat dari pura-pura sepakat. Tengah malam Bisma terbangun, membuka notes, menulis draft surat ancam ke R.W., lalu menghapusnya sebelum Saira bangun. Ia meninggalkan satu baris di papan dengan spidol tipis: *Marah boleh. Surat ancam tidak—belum.* Pagi harinya Saira membaca itu, mengangguk, menaruh ciuman singkat di pelipisnya. 'Terima kasih tidak mengirim di malam.'
Siang, Bisma sempat hampir mengirim instruksi cabut akses dari kantor; ia melihat sticky note di monitor: *72 jam. Meja.* Ia menghapus draft, tangan sedikit gemetar lalu tenang. Ia menelepon Saira satu menit. 'Aku hampir. Aku stop. Lapor.' Saira di site hotel, helm di kepala: 'Diterima. Aku juga hampir telepon Ibu dengan panik. Aku ukur dinding saja. Retak nyata dulu.'
Sore Heru mengirim update jam ke empat puluh: log Arya bersih dari file sensitif hari ini; satu pertemuan investor dibatalkan Arya sendiri dengan alasan 'sakit'—bisa takut, bisa kebetulan. 'Jangan loncat,' tulis Heru. 'Saya catat.' Malam di meja mereka baca bersama tanpa meledak. Saira: 'Fakta: update abu-abu. Rasa: ingin menafsir sebagai bersalah. Stop. Catat abu-abu sebagai abu-abu.' Bisma: 'Diterima. Aku hampir menafsir. Aku stop.'
Mereka makan nasi goreng yang Mira kirim lewat ojol—bukan karena lapar perang, karena Mira bilang *makan atau aku datang*. Di papan, baris lama tentang tempo masih basah spidol. Pecah kemarin tidak selesai dengan pelukan besar. Ia selesai dengan tempo yang disepakati—dan tempo, di perang yang dibakar pelan-pelan, adalah cara bilang: kita masih satu tim meski beda gigi. Sebelum tidur Saira menyentuh bahu Bisma. 'Besok forensik mungkin datang. Kita baca berdua. Apa pun isinya.'
'Berdua,' sahut Bisma. 'Bukan aku dulu di laci.'