Hari ketiga, hasil datang bertumpuk—tidak lengkap, tidak kosong. Pagi hujan; meja makan penuh folder sebelum sarapan selesai.
Forensik mengirim ringkas yang dibaca Heru keras-keras supaya tidak ada yang "mendengar versi enak" sendirian: memo dasar paket rumah *konsisten* dengan arsip gudang Ibu; highlight kuning dan catatan tangan *Anak-anak jangan tahu...* ditambahkan belakangan dengan tinta dan tekanan pena beda. Dasar benar; racun ditempel. Denpasar: Rama Wijaya aktif; transfer kecil cocok sebagian dengan pola Jati; belum cukup untuk laporan pidana kuat tanpa korban langsung dan tanpa keterangan Seto. Arya: makan malam tanggal cocok; chat internal Arya menyebut 'bantu jadwal informal Pak Seto' tiga tahun lalu—satu baris, bisa dibaca banyak arah. IP magang: jejak tamu acara overlap, tidak unik.
Saira meminta Heru mengulang bagian 'dasar benar; racun ditempel' sekali lagi. Bukan karena tidak dengar—karena tubuhnya perlu mendengar bahwa ayah tidak seluruhnya jadi palsu di tangan orang. Bisma mencatat angka tanggal di notes, tangan sedikit gemetar lalu tenang. Hujan mengetuk kaca seperti mengingatkan: jangan jawab dengan panik.
Heru menutup folder. 'Bukti separuh. Cukup untuk bilang ada dalang yang masih bebas dan ada saluran. Tidak cukup untuk borgol Seto besok. Tidak cukup untuk pecat Arya malam ini tanpa risiko gugatan dan portal. Kompromi tujuh puluh dua jam: saya lanjut pantau tertulis; akses sensitif Arya bisa dibatasi diam-diam tanpa surat pecat.'
Pengacara yang ikut via telepon menambahkan satu kalimat kering: 'Separuh di hukum sering dibaca sebagai "belum". Jangan isi kekosongan itu dengan narasi dewan. Tulis apa adanya di berkas. Kalau media dapat separuh, mereka akan melengkapi dengan fantasi.' Bisma mencatat. Saira mengangguk. 'Fantasi itu yang dulu hampir membunuh rumah ini. Kita tidak ikut menyumbang.'
Saira duduk tegak, pensil di tangan seperti di site. 'Fakta: ayah ku menulis Seto dan R.W. Rasa: lega dasar memo tidak palsu total—lalu marah karena seseorang menempel racun ke rumah kita. Stop. Langkah: jangan rilis publik. Lanjutkan audit. Lindungi Ibu. Plafon tetap jalan. Jangan terbang ke Bali. Jangan juga bilang ke Mira detail nama—cukup status.'
Bisma: 'Fakta: aku ingin satu vonis bersih supaya dewan diam dan aku tidur. Rasa: frustrasi. Stop. Kompromi diperpanjang jadi pantau tertulis dua minggu. Arya tidak dicabut; akses sensitif dibatasi diam-diam. R.W. dapat surat netral. Seto: belum konfrontasi. Aku tidak menelepon golf. Aku tidak mengirim OK ke narasi cepat. Aku juga tidak akan bilang ke dewan bahwa "semuanya sudah jelas".'
Mereka menulis di papan bergantian: *Bukti separuh. Dalang bebas. Jangan bohong ke diri bahwa sudah selesai.* Mira dibalas: *separuh. jangan sebar. makan.* Dewan dapat ringkas legal tanpa nama R.W. di menit yang bisa bocor. Saira menelepon Ibu di speaker: 'Kardus dikunci. Seto ditolak. Kami pegang. Kau tidak bodoh. Kau ditipu senyum—itu beda.'
Ibu terdiam lama, lalu: 'Baik. Aku masak. Kau datang minggu ini tanpa map perang, boleh?'
'Saira datang dengan map kecil,' sahut Saira, tersenyum tipis. 'Tapi aku datang.'
Siang itu Saira tetap ke site hotel—klausul di tas, helm di kepala—supaya tubuh ingat ada dinding yang bisa diperbaiki dengan angka, bukan hanya dengan marah. Mandor menyapa biasa; tidak ada yang bertanya soal portal. Bisma ke kantor, membatasi akses Arya diam-diam lewat IT sesuai saran Heru, tanpa surat pecat, tanpa drama di pantry. Legal mengirim surat netral ke alamat R.W.; salinan masuk map meja. Tidak ada jawaban hari itu. Tidak ada ledakan. Hanya prosedur yang pelan dan benar.
Malam itu hujan lagi. Bisma dan Saira mendengarkan sepotong rekaman Jati—kalimat 'bukan dalang tunggal'—lalu mematikan sebelum enak itu berubah jadi obat. Tidak ada pelukan kemenangan. Ada meja yang penuh map: asli, tempelan, overlap, pintu mungkin. Gelombang kedua tidak memberi mereka akhir di bab yang rapi. Ia memberi mereka separuh yang jujur: cukup untuk tahu api belum padam; belum cukup untuk mengaku sebagai pemadam yang selesai.
Saira menyentuh kayu meja, mencari serat yang sudah ia kenali. 'Kita tidak buta. Kita juga tidak boleh pura-pura sudah melihat semua. Separuh ini... menyebalkan. Tapi jujur. Aku hampir bilang ke portal "kami punya bukti". Aku tidak. Bukti separuh bukan senjata publik.'
Bisma menggenggam tangannya. 'Separuh. Lanjut. Berdua. Kalau aku ingin sambar minggu depan, kau tarik ke meja. Kalau dewan minta vonis manis, aku tarik ke berkas.'
'Aku tarik,' sahut Saira. 'Kalau aku ingin percaya Jati seperti injil, kau tarik juga.'
'Deal,' bisik Bisma. 'Dan kalau aku lupa separuh itu besok di rapat, kau kirim foto papan.'
'Saira kirim,' sahut Saira. 'Bukan untuk mengontrol. Untuk mengingat.'
Heru meninggalkan ringkas satu halaman di atas meja sebelum pulang: *yang cukup / yang belum.* Cukup: pola Seto–R.W.; tempelan racun di memo; tanggal makan malam Arya. Belum: borgol; pengakuan; bukti pidana penuh. Saira menempel lembar itu di bawah papan dengan magnet. 'Supaya enak tidak menghapus yang belum.'
Mereka makan malam sederhana. Di antara suapan, Bisma membaca lagi lembar *yang cukup / yang belum* tanpa menambah fantasi di kolom kosong. Saira mencuci dua cangkir, bukan karena kerapian—karena tangan perlu kerja yang selesai. Mira video call sebentar, melihat wajah mereka, bilang: 'Kalian kelihatan lelah yang jujur. Bagus. Lebih baik dari lelah yang pura-pura menang.' Saira: 'Separuh. Jangan sebar.' Mira: 'Aku bukan portal. Tidur. Plafon besok masih ada. Kalau Seto senyum di mana-mana, biar. Kalian pegang meja.'
Di luar, Seto masih bisa tersenyum di Denpasar atau di mana pun bayang mau menaruhnya. Di dalam, bukti separuh itu—pahit, berguna, tidak cukup—menjadi alasan mereka tetap menyalakan lampu dapur lebih lama dari biasanya, menulis, menyilang, menolak panik yang ingin menyamar sebagai tindakan. Dalang masih bebas. Arya masih dipantau. R.W. masih huruf yang menunggu surat. Rumah masih berdiri. Dan itu, untuk malam ini, adalah status yang benar: belum TAMAT, belum kalah, masih di meja.