Keesokan harinya Heru menaruh dua folder di meja makan sebelum sarapan: satu soal Rama Wijaya, satu soal staf hubungan investor. Bau kopi baru; folder sudah berlabel kode, bukan nama di kulit luar. 'Belum vonis,' katanya. 'Pola. R.W. sering muncul di transfer kecil ke badan yang overlap Seto. Staf Adibrata—sebut saja dia Arya di catatan internal kita—pernah mengatur makan malam swasta yang cocok tanggal Jati. Bisa kebetulan. Bisa pintu. Saya saran: pantau, jangan interogasi publik. Jangan pecat di chat.'
Bisma mengangguk kaku, roti di tangan belum digigit. Saira menuang kopi untuk tiga orang. 'Jati bilang dia bukan dalang tunggal. Kita sudah dengar di sesi satu. Sesi dua menegaskan: Seto menyiram, R.W. mengalirkan, pintu dalam mungkin membuka. Fakta: kompleks. Rasa: ingin satu musuh biar gampang. Stop. Musuh tunggal itu racun yang sama dengan dulu—satu nama untuk dibenci supaya dunia terasa rapi.'
Mereka mengundang pengacara dan konselor singkat sore itu—bukan drama, prosedur. Di ruang kecil kantor Adibrata yang netral, konselor hanya bilang, 'Kalau kalian pecah soal siapa yang dipercaya, pakai aturan dapur sebelum tidur. Jangan bawa ke ranjang sebagai pengadilan. Tempo perbedaan pendapat itu bagian dari kerja sama, bukan tanda gagal.' Pengacara menambah: 'Kalimat "bukan dalang tunggal" bagus di berkas, berbahaya di mulut publik. Jangan sampai jadi headline yang membersihkan Jati atau mengaburkan Seto.' Bisma dan Saira saling pandang; keduanya mengingat tahun lalu ketika perbedaan pendapat jadi diam yang meracuni.
Siang itu Arya lewat di koridor saat Bisma keluar dari lift. Senyum biasa. 'Siang, Pak.' Bisma membalas singkat, tidak lebih dingin dari hari-hari lain—latihan yang sulit. Di mobil menuju rumah, ia bilang ke Saira lewat telepon: 'Aku hampir memanggilnya. Aku tidak. Nanti di meja.' Saira: 'Bagus. Aku juga hampir googling R.W. dari ponsel site. Aku tidak. Nanti di meja.'
Malam, rekaman sesi satu dan dua diputar lagi di headphone berdua di ruang tamu. Di detik Jati mengucap 'aku bukan dalang tunggal', Saira menjeda, menulis waktu di notes. 'Kalimat ini enak didengar karena mengurangi setan tunggal. Enak itu bisa jadi umpan. Dia tetap dalang atas apa yang dia lakukan. Seto dalang atas siraman. Kita jangan kasih dia mahkota korban, dan jangan kasih Seto mahkota bayangan tanpa rantai.'
Bisma melepas satu earphone. 'Setuju. Aku juga tidak mau dewan pakai kalimat itu untuk bilang "semua salah orang lain, tutup kasus rumah tangga". Kita pegang dua kebenaran: Jati bersalah; dia mungkin tidak sendiri. Dua-duanya harus ditulis. Bukan dipilih yang enak.'
Heru menambah satu temuan lewat pesan terenkripsi, lalu datang sebentar: akun yang membeli password magang sempat login dari IP yang pernah dipakai perangkat tamu di acara Adibrata setahun lalu—jejak tipis, bukan bukti. 'Pintu dalam atau orang yang pernah masuk sebagai tamu. Saya perlu waktu. Arya pernah hadir di acara itu. Banyak orang lain juga. Jangan loncat.'
Saira menuang teh untuk Heru. 'Kalau kita loncat, kita jadi versi Jati yang butuh satu nama. Terima kasih bilang jangan.' Heru mengangguk singkat, seperti orang yang lebih nyaman dengan log daripada pujian. Setelah ia pulang, Saira menulis di papan: *Bukan dalang tunggal ≠ Jati polos. Seto + saluran + mungkin pintu.* Bisma menambah: *Arya pantau. R.W. pantau. Media nol. Dewan dapat ringkas tanpa gosip.* Mira mengirim: *kau masih plafon?* Saira: *plafon. dan papan. pecah nanti di meja kalau perlu—bukan di grup.*
Sebelum tidur mereka berlatih kalimat pendek untuk dewan besok, supaya tidak tergelincir di depan orang yang suka narasi. Bisma mengulang: 'Investigasi berlanjut. Tidak ada pernyataan publik. Rumah kami tidak digeser jadi alat pencitraan.' Saira mengoreksi satu kata: 'Jangan bilang "istri saya dilindungi". Bilang "kami kerja sama". Kata "dilindungi" terdengar seperti aku barang.'
'Kami kerja sama,' ulang Bisma sampai tidak berbunyi seperti robot. 'Diterima. Terima kasih tidak membiarkan lidah ku jadi dewan.'
Pagi harinya, di ruang dewan, seseorang memang mencoba: 'Jadi dalangnya bukan hanya Jati?' Bisma menjawab sesuai latihan: 'Investigasi berlanjut. Tidak ada pernyataan publik.' Ia tidak menyebut Seto, tidak menyebut Arya, tidak menyebut R.W. Setelah rapat, penasihat komunikasi menyusul. 'Pak, narasi "bukan dalang tunggal" bagus untuk redam—'
'Tidak untuk redam rumah kami,' potong Bisma. 'Narasi itu milik berkas, bukan milik portal. Kalau mau redam, redam gosip. Jangan redam fakta dengan slogan.'
Sore, Saira di kantor arsitektur menolak wawancara singkat dari portal yang menelepon asisten. 'Tidak ada komentar. Proyek jalan.' Ia menutup pintu ruang gambar, duduk di kursi klien, bernapas sampai marah ke portal turun. Mira mengirim stiker jempol, lalu: *kalau kau goyah, telepon. jangan baca komentar.* Saira: *tidak baca. plafon.*
Malam, di meja, mereka menulis ulang peta di kertas besar—bukan hanya di papan: Seto di tengah; R.W. sebagai saluran; Arya sebagai mungkin-pintu; Jati sebagai pelaku yang sudah di dalam; magang sebagai lubang kecil yang sudah ditambal. Bisma menandai panah putus-putus ke 'tamu acara' sebagai kemungkinan lain. 'Bukan dalang tunggal,' kata Saira, 'bukan juga pesta tuduhan. Kita jaga rantai. Kalau rantai putus di satu nama, kita tidak isi dengan fantasi.'
Bisma mengecek daftar lagi. 'Aku hampir ingin satu nama supaya mudah tidur. Aku tulis di sini supaya aku ingat: mudah itu bukan tujuan.' Mereka menempel peta di dinding dapur dengan selotip, di bawah papan tulis. Spidol menambah baris: *Peta ≠ vonis. Slogan ≠ bukti.*
Di luar, Seto masih belum dikonfrontasi. R.W. masih jadi huruf. Arya masih masuk kantor dengan senyum biasa. Di dalam, kalimat Jati sudah berhenti jadi slogan dan jadi peta kerja. Bukan dalang tunggal—bukan juga undangan untuk melepaskan tanggung jawab. Hanya peringatan bahwa api yang membakar rumah tangga mereka punya lebih dari satu tangan di korek api. Dan tangan-tangan itu, malam ini, namanya mulai tertulis di kayu, bukan di portal.