Pesan dari kuasa hukum Jati masuk saat Bisma masih di lift antara lantai keuangan dan lantai dewan: *Klien meminta sesi kedua. Bukan untuk permintaan maaf. Untuk penyerahan nama yang tidak sempat disebut. Syarat: Nyonya Saira hadir; rekaman resmi; tanpa media.* Bukan undangan manis. Bukan teater tobat. Kalimatnya kering seperti kontrak yang tidak mau pura-pura menjadi puisi.
Bisma meneruskan ke Saira dengan timer di kalender: empat jam. Saira sedang di kantor arsitektur, menandai dinding di print A1. Ia membaca dua kali, lalu membalas: *'Meja malam. Jangan OK dulu ke dewan.'* Bisma menatap sticky note di dashboard lewat foto yang ia simpan di galeri—ia sedang di gedung, bukan di mobil—lalu membalas: *'Sudah. Tidak OK.'*
Malam di meja, Heru dan pengacara ikut singkat. Mira menelepon speaker dari motor, helm belum dilepas di suara: 'Kalau itu jebakan panggung, jangan. Kalau itu data, ya. Bedakan dari nada maaf palsu. Aku dulu bilang kalian iklan. Sekarang aku bilang: jangan beli tobat murah.'
'Saya baca suratnya dua kali,' sahut pengacara. 'Tidak ada klausul pencitraan. Ada klausul kerja sama terbatas. Risiko: Jati bisa mengalihkan dosa. Manfaat: nama yang belum kita punya. Dewan akan marah soal "drama kedua". Itu risiko reputasi, bukan risiko hukum langsung.'
Saira mengetuk meja dengan kuku. 'Fakta: aku tidak mau mendengar "maaf" dari dia. Rasa: muak. Stop. Kalau dia bilang maaf, aku potong. Kalau dia kasih nama, aku catat. Aku hadir. Aku tidak datang sebagai istri yang butuh penutupan emosional. Aku datang sebagai pihak yang dirugikan.'
Bisma: 'Fakta: dewan akan bilang ini drama kedua. Rasa: sebal. Stop. Kita tolak framing dewan. Kita terima sesi data. Heru di luar lagi. Aku tidak masuk sendirian—pelajaran sesi satu.'
Mereka setuju. Surat balasan singkat: hadir berdua; tanpa wawancara; tanpa pernyataan publik dari pihak Jati selama sesi; nama yang diserahkan masuk berkas kerja sama, bukan press. Dewan marah di grup dalam sepuluh menit; Bisma screenshot seluruh utas, tidak membalas sampai malam berikutnya—otot yang sama dengan penolakan syarat dulu.
Sesi kedua di ruang yang sama, bau kopi sachet yang sama, karpet yang sama. Jati lebih pucat. Tidak tersenyum pahit. Borgol dilepas lagi; petugas di luar. 'Aku tidak minta maaf hari ini,' katanya langsung ke mikrofon. 'Maafku tidak berguna buat kalian. Aku minta dicatat: aku bukan datang sebagai korban. Aku datang karena Seto masih di luar, dan diamku dulu membuatnya nyaman.'
Saira: 'Nama. Tanpa teater.'
Jati mengangguk ke pengacaranya; lembar kedua keluar. 'Rama Wijaya. Bukan keponakan darah. Keponakan bisnis—anak orang yang Seto pakai untuk pindahkan uang. Dan satu lagi: orang di lingkar Adibrata yang dulu membelikan akses "teman golf" ke beberapa investor. Aku tidak punya bukti cukup untuk tuduh di pengadilan. Aku punya tanggal dan tempat makan malam tiga tahun lalu. Cek. Kalau bohong, buang. Kalau benar—jangan kaget kalau gelombang kedua punya pintu dalam selain magang arsitektur.'
Bisma merasakan dingin di tengkuk. Ia tidak meninggikan suara. 'Nama orang Adibrata itu.'
Jati menyebut satu nama—bukan komisaris besar, bukan penasihat komunikasi yang berisik: staf hubungan investor tingkat menengah yang sering "membantu" jadwal informal. Bisma menulis tanpa ekspresi. Saira menulis. Pengacara menulis. Heru di luar menerima salinan lewat pintu.
'Saira,' kata Jati pelan, tanpa teater, 'ayahmu bukan setan di versi Seto. Dia manusia yang menutupi. Seto yang jual versi setan ke aku. Aku yang minum. Itu saja yang ingin kukatakan tanpa kata maaf.'
Saira berdiri lebih dulu. Kursinya berdecit. 'Dicatat. Kau tetap bertanggung jawab atas yang kau lakukan pada kami. Seto tidak mencuci dosamu. Sesi selesai dari pihak kami kalau tidak ada nama lain.'
Tidak ada nama lain. Mereka keluar ke koridor yang terlalu terang. Pengacara berbisik singkat: rekaman aman; salinan nama masuk folder kerja sama. Heru mengangguk dari ujung koridor tanpa ikut masuk lift. Di mobil, Bisma mengerat setir sampai lampu merah kedua. Wiper bergerak; hujan tipis. 'Fakta: ada nama dalam. Rasa: ingin pecat sekarang. Stop. Empat jam. Audit dulu. Jangan sambar. Jangan ke dewan dengan nama sebelum Heru tulis pola.'
Saira memegang lengannya, bukan untuk menenangkan seperti anak—untuk menahan. Ia juga menahan dirinya sendiri dari membuka portal di kursi penumpang. 'Aku hampir bilang percaya penuh pada Jati karena kalimat soal ayah. Stop. Itu enak. Enak berbahaya. Kita cocokkan R.W. dan nama internal. Meja. Papan. Aku juga hampir menangis di ruang itu—bukan karena maaf yang tidak dia kasih, karena ayah disebut manusia. Aku tahan. Catat dulu.'
Di rumah, sebelum papan, mereka mandi cepat, ganti baju, duduk seperti orang yang baru pulang kerja biasa—supaya tubuh tidak membawa ruangan tahanan ke dapur. Teh. Lampu. Baru map.
Malam itu papan dapur penuh: *Sesi 2 bukan maaf. R.W. + pintu dalam. Cek, jangan pecat buta.* Mira: *jangan spill.* Dewan minta 'ringkas eksekutif'; Bisma kirim satu kalimat: *Legal pegang rekaman. Ringkas rumah dulu.*
Sebelum tidur mereka menyusun pertanyaan audit untuk Heru—bukan daftar hukuman: siapa Arya temui di makan malam itu; apakah ada invoice fiktif; apakah R.W. pernah masuk gedung Adibrata sebagai tamu. Saira menambah: 'Jangan interogasi Arya di pantry. Jangan bocor ke asisten. Pola magang jangan diulang.' Bisma: 'Diterima. Aku juga tidak akan "kebetulan" menyinggung namanya di rapat investor.'
Heru mengangguk dari pesan: *pertanyaan masuk log. 48 jam pola awal.* Pengacara mengingatkan: sesi kedua tetap bisa dipelintir media kalau bocor; kunci mulut semua pihak. Saira menaruh dua ponsel telungkup. 'Bukan maaf. Bukan absolusi. Nama. Kita pegang nama tanpa membuatnya jadi gosip.'
Mereka tidur dengan daftar yang tidak boleh jadi headline. Bukan maaf. Hanya arah yang lebih tajam—dan lebih berbahaya, karena sekarang api bisa ada di koridor kantor sendiri. Di dashboard mobil esok hari, sticky note lama masih menempel: *Dewan ≠ suami. Meja dulu.* Bisma menyentuhnya sekali sebelum menyalakan mesin. Pelajaran sesi satu masih hidup; sesi dua hanya menambah beban yang harus ditahan berdua.