Dua hari setelah temu Jati, forensik dokumen belum keluar. Heru mengaudit Denpasar dari jauh. Bisma menahan dewan dengan rekaman resmi yang ringkas. Saira menahan diri untuk tidak terbang. Yang tidak bisa ditahan: Ibu menelepon pagi-pagi, suara tidak retak kali ini—tegang, fokus. 'Nak, aku buka kardus lain di gudang. Ada buku catatan ayah yang dulu kausebut "buku hitam kecil". Aku tidak berani bawa sendirian. Datang.'
Saira datang dengan Bisma dan Heru. Rumah Ibu berbau kapur barus dan kayu lama. Gudang sempit; lampu gantung goyang. Buku itu bukan hitam—kulit cokelat pudar, sudut aus, isi campuran angka proyek dan catatan orang. Di halaman yang dilipat dua kali, tangan ayah Saira menulis rapi: *Seto — Mitra Cahaya — jangan campur kas keluarga. Kalau macet, hubungi R.W. di Denpasar. Jangan bilang ke anak.* Di bawahnya, beda tinta, lebih buru: *R.W. = bukan teman. Seto pakai dia.*
Saira duduk di bangku plastik, buku di pangkuan. Jari tidak langsung menyentuh tinta; ia memakai ujung kuku di tepi kertas seperti orang yang takut merusak bukti. 'R.W. Inisial di lembar highlight paket rumah juga K.W.—bisa Kusuma Wardhana. Ini R.W. Beda. Bukan ayah Jati. Nama lama yang lain.'
Heru memotret halaman, memakai sarung tangan. Ia memotret juga halaman sebelum dan sesudah, supaya urutan tidak hilang. 'Saya cocokkan dengan daftar badan usaha dari Jati. Ada PT yang komisarisnya Rama Wijaya. Aktif Denpasar. Umur badan muda, tapi alamat overlap dengan yang disebut Jati.'
Bisma berdiri di ambang pintu gudang, tidak menyentuh kertas dulu—menghormati bahwa ini arsip Maheswara, rumah Ibu, darah Saira. Debu menempel di sepatu kerja yang biasanya hanya kena karpet kantor. 'Fakta: nama baru di arsip ayah. Rasa: takut sejarah lebih kotor dari yang kita sangka. Stop. Kita tidak vonis ayah. Kita petakan R.W. dan Seto. Ibu—' ia menatap mertua lembut, '—terima kasih tidak membakar buku ini karena takut.'
Ibu mengusap mata dengan punggung tangan. 'Aku hampir. Kemarin malam. Lalu aku ingat kau bilang meja. Jadi aku telepon. Aku juga ingat senyum Seto waktu dia "membantu" membereskan berkas. Aku tidak mau senyum itu menang lagi.'
Mereka membuat berita acara lagi: jam, hadir, foto, siapa pegang. Saira menulis di notes ponsel: *Rama Wijaya / R.W. / Denpasar / Mitra Cahaya / Seto.* Mira dikabari singkat: *arsip. jangan grup.* Mira membalas: *makan. jangan jadi detektif sendirian. aku bisa jaga Ibu sore kalau perlu.*
Siang di meja makan rumah Adibrata, buku cokelat ditaruh di atas kayu bersama salinan paket dan lembar Jati. Tiga sumber. Satu meja. Teh belum dingin; mereka tidak minum dulu. Saira menyusun urutan dengan pensil arsitek di kertas buram: 'Ayah kenal Seto. Seto kenal Mitra Cahaya. R.W. disebut sebagai saluran saat macet. Jati sebut keponakan dan badan usaha. Heru bilang overlap. Aku tidak bilang ayah jahat. Aku bilang ayah takut, dan orang takut sering menulis nama yang seharusnya dibakar.'
Bisma mengangguk, rahang kaku. 'Aku ingin menelepon R.W. sekarang. Otot. Lalu aku ingat: sambar. Timer. Empat jam. Kita tulis pertanyaan dulu. Heru cek apakah R.W. masih hidup di data publik. Legal: jangan media. Dewan: jangan dulu nama ini di menit.'
Empat jam itu mereka isi dengan kerja biasa yang menahan panik—Bisma rapat angka kuartal, Saira site hotel dengan klausul di tas, Mira mengirim meme bodoh yang gagal lucu tapi tepat waktu. Di sela rapat, Bisma membuka draft pesan ke R.W., lalu menghapusnya. Di sela site, Saira hampir menelepon Ibu lagi hanya untuk mendengar suara; ia menahan, menulis di notes: *jangan panikkan Ibu dua kali sehari.*
Malam, Heru kembali dengan tablet: Rama Wijaya masih tercatat; foto profil buram; koneksi ke Seto lewat satu event seminar properti lima tahun lalu; satu alamat surat menyurat overlap digit dengan yang Jati sebut. Belum kejahatan. Sudah cukup untuk nama di papan dapur. Legal mengirim satu paragraf: surat netral boleh, ancaman tidak.
Saira menulis di papan: *R.W. di arsip ayah. Cek, jangan sambar.* Bisma menambah: *Seto pakai saluran. Kita pakai rantai.* Mereka minum teh yang sudah kurang hangat. Saira bilang pelan, 'Aku takut nama di buku ini membuat aku membenci ayah dalam diam. Aku takut juga aku mulai mencari setan di setiap catatan tangan.'
'Benci dusta, bukan seluruh orang,' sahut Bisma, mengulang yang pernah ia ucapkan soal dirinya sendiri. 'Kita tandai. Kita cocokkan. Kita tidak bakar gudang. Dan aku tidak akan jadikan ayah mertua ku sebagai bahan dewan.'
Larut malam forensik mengirim status: hasil awal minggu depan; tinta highlight dan catatan tangan di paket rumah *berbeda umur* dari memo dasar—kemungkinan tambahan kemudian. Dasar memo mirip arsip gudang. Saira menutup laptop pelan. 'Jadi seseorang punya akses ke yang asli, lalu menempel racun. Seperti telinga palsu. Seperti foto yang dipotong.'
'Pola,' gumam Bisma. 'Seperti kita yang dulu percaya terlalu cepat. Kali ini kita tulis nama dulu. Vonis belakangan.'
Sebelum tidur Saira menyalin halaman R.W. ke kertas buram dengan tangan sendiri—bukan karena tidak percaya foto Heru, karena menuliskan membuatnya tidak panik. Bisma membaca salinan itu, lalu menaruh sticky note kecil di pinggir: *bukan teman. Seto pakai.* 'Ayah mu sudah bilang peringatan. Kita dengar terlambat. Tapi kita dengar.'
'Kita dengar berdua,' sahut Saira. 'Itu bedanya dari dulu.'
Mira mengirim pesan terakhir: *Ibu aman? mau aku sleepover?* Saira: *aman. brankas. tidur.* Di luar, hujan gerimis. Di dalam, nama di arsip sudah keluar dari bayang. Ia punya huruf: R.W. Dan huruf itu, di perang yang dibakar pelan-pelan, bukan penutup—baru kunci berikutnya yang harus diputar berdua, sebelum siapa pun memutarnya menjadi headline. Mereka tidur dengan buku cokelat di brankas Heru, bukan di nakas. Lampu dapur dimatikan terakhir; papan tulis masih memegang spidol di rak—siap untuk nama berikutnya, siap untuk menolak sambar.