Ruang temu di kantor kuasa hukum netral berbau kopi sachet, karpet lama, dan kertas lembap AC. Jati datang lebih dulu, lebih kurus dari setahun lalu, kemeja biasa, tanpa jas yang dulu ia pakai menaklukkan ballroom. Borgol dilepas untuk sesi; petugas di luar. Pengacaranya di samping dengan wajah netral. Bisma dan Saira masuk berdampingan, tidak bergandengan—berdiri setara. Heru di koridor. Rekaman resmi dinyalakan. Dua pengacara mencatat.
'Kalian tetap berdua,' kata Jati, senyum pahit yang pernah Saira kenali di kampus dulu. 'Konsisten. Dewan kalah?'
'Dewan tidak mengemudikan rumah kami,' sahut Bisma singkat. 'Kami bertanya.'
Saira duduk, menatap Jati tanpa air mata yang ia pakai dulu di kafe. 'Orang ketiga. Darmawan Seto. Kau kenal. Bilang di rekaman. Tanpa teater.'
Jati terdiam lama. Pengacaranya berbisik; Jati menggeleng pelan, lalu mengangguk pada mikrofon. 'Aku kenal. Dulu. Dia "paman" bisnis yang mengajari ayahku pinjaman cepat, jalan pintas, dan cara menutup lubang dengan lubang lain. Waktu semuanya runtuh, dia yang duduk di ruang tamu kami bilang: Maheswara menusuk. Dia yang menyirami kebencianku tiap kali aku goyah. Aku butuh satu nama untuk dibenci supaya tidak gila. Dia kasih nama ayahmu. Aku minum.'
Bisma mencondongkan tubuh, tidak meninggikan suara. 'Dia ikut mengirim paket ke aku dulu—foto, struk, orang bayaran?'
'Sebagian kontak orang bayaran—ya, dia sodorkan,' sahut Jati. 'Yang rapi dan bangga, banyak yang aku. Aku tidak bilang di pengadilan karena aku ingin kredit kehancuran itu milikku. Bodoh. Keinginan anak yang ingin jadi dalang tunggal. Sekarang kalian digoyang lagi. Aku di dalam. Dia di luar. Kalau itu bukan dia, seseorang memakai polanya. Aku kasih yang kutahu: dua nama badan usaha, keponakan yang jadi kurir uang, alamat di Denpasar yang pernah kutransfer. Pengacaraku akan masukkan sebagai kerja sama. Kalian cek. Kalau bohong, aku rugi. Kalau benar—jangan biarkan dia menang dari bayangku.'
Saira menatapnya, datar, manusia. 'Kami cek. Kau tetap bertanggung jawab atas yang kau lakukan pada kami. Seto tidak menghapus dosamu. Dan kami tidak datang untuk memberimu absolusi.'
'Tidak minta,' gumam Jati. 'Minta kalian tidak buta. Aku sudah buta sepuluh tahun.'
Pengacara Jati menyerahkan lembar ringkas—nama badan, inisial, kota. Heru di luar menerima salinan lewat pengacara Adibrata tanpa masuk ruangan. Tidak ada pertanyaan soal paket rumah semalam; Saira dan Bisma sepakat diam soal itu sampai forensik. Jati menatap Saira sekali lagi. 'Kau lebih dingin dari dulu.'
'Aku lebih belajar,' sahut Saira. 'Dingin bukan kejam. Dingin supaya aku tidak minum racun lagi dari mulut orang yang pernah kutercaya.'
Sesi selesai lebih cepat dari yang ditakutkan dewan. Tidak ada ledakan. Tidak ada pelukan. Hanya nama, alamat, dan rekaman. Di mobil pulang, Bisma mengemudi diam sampai lampu merah. 'Fakta: jejak mengarah ke Seto lebih terang dari memo sendirian. Rasa: marah pada orang yang menyirami anak orang. Stop.'
Saira: 'Fakta: aku percaya sebagian—bukan seluruh tanpa forensik. Rasa: takut pada Ibu dan pada ayah yang mungkin lebih sendirian dari yang kutahu. Stop. Langkah: cek CV, cek Denpasar, cek memo paket rumah, jangan media, jangan sambar. Urutan.'
Mereka sampai rumah siang yang sudah sore. Catatan nama dari Jati ditaruh di meja makan, disilangkan dengan lembar highlight paket rumah. Cocok di beberapa titik; tidak cocok di lain. Satu badan usaha sama; satu alamat beda digit; keponakan muncul di dua sumber dengan ejaan sedikit berbeda. Cukup untuk arah, belum untuk vonis. Papan dapur mendapat baris baru: *Arah Seto. Cek, jangan sambar. Jati bukan nabi.* Bisma mengecek. 'Diterima.'
Mira menerima pesan singkat Saira: *temu jalan. ada arah. jangan grup.* Mira membalas: *makan. tidur. plafon.* Saira hampir tertawa. Dewan mengirim chat panjang meminta ringkasan; Bisma membalas satu kalimat: *Rekaman resmi ada di legal. Ringkas malam ini di rumah dulu.* Bukan pembangkangan kosong—urutan yang mereka janjikan pada diri sendiri.
Heru malam itu mengirim konfirmasi awal: satu CV yang disebut Jati aktif di Denpasar; keponakan Seto tercatat sebagai komisaris di badan lain; belum cukup untuk kepolisian, cukup untuk audit diam. Bisma dan Saira membaca di meja, tidak di ranjang. 'Fakta: arah terkunci tipis. Rasa: ingin terbang ke Bali besok. Stop. Tidak terbang,' kata Saira.
'Tidak terbang,' sahut Bisma. 'Aku minta Heru lanjut. Aku minta legal siapkan tanpa media. Aku minta kau tetap plafon dan aku tetap angka. Seto menang kalau kita panik.'
Saira menulis di papan: *Arah ≠ vonis. Panik = hadiah buat dalang.* Mira dibalas singkat: *arah ada. jangan sebar.* Di ruang tamu, Bisma memainkan rekaman resmi di headphone berdua—satu earphone masing-masing—mendengar lagi nama Seto dari mulut Jati. Tidak ada pelukan pada mantan. Hanya data. Saira mencatat waktu di rekaman saat nama itu muncul, seperti arsitek menandai titik beban. 'Di detik ini dia tidak tersenyum. Di detik ini dia terdengar lelah. Bukan bukti. Hanya nada. Kita tetap cek angka.'
Bisma: 'Aku ingin percaya karena enak. Enak itu berbahaya. Kita percaya prosedur.'
Mereka makan malam singkat—nasi, telur, teh—bukan merayakan, hanya mengisi tubuh sebelum minggu audit. Heru mengirim satu foto lagi: papan nama badan usaha di Denpasar dari jarak jauh, buram, legal. 'Jangan share,' tulis Heru. 'Hanya bukti mata.' Saira menyimpan di folder meja, bukan di story. Bisma mengecek jam: empat jam sejak chat dewan terakhir; ia tidak membalas lebih panjang. Aturan dapur tetap hidup meski namanya Seto, bukan paket anonim.
Ke arah Seto bukan ziarah dendam baru. Ia investigasi. Dan investigasi, mereka berdua sudah bayar mahal untuk mempelajarinya: berdua, di meja, tanpa menutup mata. Di luar, Bali masih jauh dan Seto masih senyum di suatu tempat. Di dalam, gelombang kedua punya pusat gravitasi—bukan hanya abu di portal, melainkan nama yang dulu mengisi ruang tamu keluarga yang hancur. Arah itu belum akhir. Ia baru peta. Dan peta, di meja kayu mereka, dibuka berdua sebelum siapa pun berlari ke Denpasar dengan amarah buta.