Sehari sebelum temu Jati, paket tipis datang ke rumah—bukan ke kantor—lewat satpam kompleks yang sudah diinstruksikan Heru: jangan terima tanpa lapor. Satpam menelepon; Heru menjemput sendiri; amplop tidak dibuka sampai malam di meja makan. 'Tidak kubuka di mobil,' kata Heru. 'Aturan rumah Anda.'
Bisma dan Saira duduk. Teh. Lampu. Papan tulis di kejauhan. Amplop lebih rapi dari paket kantor yang jelek—kertas tebal, pita kecil, tanpa label kurir yang berisik. Di dalam: salinan memo ayah Saira tentang Seto—yang sama yang ia temukan di gudang Ibu—plus satu lembar tambahan yang tidak ada di kardus: daftar transfer pendek, highlight kuning pada nama Darmawan Seto dan inisial K.W., serta catatan tangan yang tidak Saira kenali: *Anak-anak jangan tahu. Seto atur diam. Maheswara jaga muka.*
Saira memucat, jari di tepi kertas. 'Ini bisa salinan arsip yang dicuri dari rumah Ibu. Atau palsu yang menempel pada yang asli supaya kami saling curiga pada ayah.'
'Meja,' sahut Bisma pelan, menahan napas. 'Fakta: seseorang ingin kita panik ke Bali atau panik pada ayah mu yang sudah meninggal. Rasa: takut dan marah. Stop. Kita tidak batalkan temu Jati. Kita tidak konfrontasi Seto besok. Kita bawa lembar ini ke forensik dokumen. Ibu ditanya pelan—siapa pernah pegang berkas. Heru catat rantai.'
Saira mengangguk, lalu menelepon Ibu di speaker. Suara Ibu retak. 'Dulu ada pembantu lama. Lalu... Seto pernah bilang membantu membereskan berkas setelah ayah sakit. Aku membiarkan dia masuk gudang. Aku ingat senyumnya. Aku bodoh.'
'Bukan bodoh,' sahut Saira cepat. 'Ditipu senyum. Kami tidak menyalahkan Ibu. Kami perbaiki sekarang. Jangan bicara ke siapa pun selain kami.'
'Baik,' bisik Ibu. 'Baik, Nak. Kalau Seto menelepon...?'
'Tolak. Bilang sibuk. Lalu kabari aku,' sahut Saira. 'Jangan buka pintu sendirian.'
Mereka membuat berita acara sederhana di notes: jam buka, yang hadir, foto tiap lembar, siapa pegang. Bisma memotret tepi kertas—ketebalan, tinta, lipatan—seperti orang yang pernah ditipu foto yang dipotong. Heru memasukkan salinan digital ke folder terenkripsi; aslinya masuk map plastik, bukan ke laci Bisma. Bisma hampir bilang dalam hati 'sembunyikan dulu dari Saira kalau dia goyah'—lalu menggeleng pada dirinya sendiri. 'Aku tidak menyimpan ini di laci. Kau meja kayu. Kertas di atas meja.'
Saira tersenyum tipis, pahit, teguh. 'Meja kayu sedang penuh. Tapi masih berdiri. Besok Jati. Lembar ini masuk berkas terpisah. Kalau dia sebut Seto, kita punya kertas yang "kebetulan" datang semalam—dan kita curiga kebetulan itu.'
Heru mengangguk. 'Kebetulan yang diatur. Pola lapar lagi, tapi lebih pintar dari suntingan telinga Jati palsu. Saya cek sidik kurir; satpam bilang pengantar motor tanpa logo, helm hitam, tidak mau tanda tangan.'
'Sama seperti dulu,' gumam Bisma. 'Bedanya: dulu aku buka sendirian di kantor. Sekarang kita buka di sini.'
Larut malam legal konfirmasi: temu tetap jalan; syarat berdua sudah diterima setelah tawar-menawar; paket rumah tidak dibocorkan ke dewan dulu. Mira mengirim chat: *kau diam-diam. bagus. jangan spill ke grup.* Saira membalas: *meja. tidur.* Di papan dapur Saira menulis: *Dibuka di meja. Tidak di laci. Tidak ke Bali buta.* Bisma mengecek timer kalender—tidak ada anonim tersisa di daftar yang menunggu empat jam; paket ini sudah masuk meja, bukan masuk timer.
Mereka tidak langsung tidur. Di meja yang sama, Saira membandingkan memo gudang dengan salinan paket—garis, tipografi, noda kopi lama di sudut yang sama. 'Ini bagian yang asli terlihat. Highlight dan catatan tangan—bisa ditempel kemudian. Aku tidak vonis. Aku catat.' Bisma menulis di notes: *asli + tambahan? forensik tinta & kertas.* Heru: 'Saya bawa pagi. Laboratorium yang dipakai Adibrata dulu untuk foto palsu—mereka tahu pola.'
Bisma menuang teh lagi yang sudah hampir dingin. 'Aku takut kau baca catatan itu lalu membenci ayah mu dalam diam. Aku takut juga aku jadi hakim pada orang mati. Makanya meja. Bukan laci. Bukan juga pengadilan di kepala.'
Saira menatap lampu. 'Aku bisa benci dusta tanpa membenci seluruh hidup ayah. Itu yang kupelajari dari bohong kecil ku sendiri—satu dusta tidak menghapus semua yang baik, tapi dusta harus ditandai. Kita tandai dulu. Vonis nanti.'
Paket yang ingin meracuni dengan 'rahasia ayah' justru menjadi barang yang digenggam bersama. Kebersamaan itu, malam sebelum bertemu Jati, terasa seperti helm sebelum masuk site: tidak menghilangkan bahaya, hanya membuat mereka tidak masuk tanpa alat.
Dini hari Saira terbangun, membaca lagi lembar highlight, lalu menutupnya. Bisma terbangun ikut. 'Anonim? Timer?'
'Bukan anonim baru,' bisik Saira. 'Bukan. Hanya takut. Fakta: aku takut ayah ikut kotor di versi orang. Rasa: tetap buka di meja kemarin—benar. Stop. Tidur.'
Bisma menggenggam tangannya. 'Kalau forensik bilang palsu, kita kejar pemalsu. Kalau asli, kita hadapi sejarah tanpa menghukum kau. Kau bukan ayah mu. Kau Saira yang bilang tidak bohong kecil lagi.'
Mereka tidur lagi sampai alarm. Di dapur, teh pagi. Map di ujung meja. Saira menyentuh tepi map sekali, seperti memastikan kayu masih menahan. 'Kalau Jati bohong soal Seto, lembar ini bisa jadi umpan orang lain. Kalau dia benar, lembar ini bisa jadi cermin. Kita tidak pilih hari ini. Kita cocokkan.'
'Cocokkan,' sahut Bisma. 'Bukan sambar. Dan aku tidak cerita ke dewan soal paket ini sampai kita tahu apa yang ditempel dan apa yang asli.'
'Baik,' sahut Saira. 'Dewan suka narasi. Kita suka rantai.' Ia menulis tambahan kecil di papan: *Rantai > narasi.* Spidol berbunyi singkat seperti ketukan pintu yang mereka tolak kemarin—bukan dari Seto, dari panik.
Papan tulis menunggu hari yang akan membawa mereka ke Jati dengan kertas Seto di tas Heru—bukan untuk dilempar ke muka, untuk dicocokkan pelan. Di luar jendela, kompleks masih sepi. Di dalam, amplop kosong sudah masuk plastik bukti. Satpam pagi mengangguk saat Heru lewat membawa map. Dibuka di meja. Sudah. Berikutnya: diuji di ruang netral.