Jawaban Jati lewat kuasa hukum datang siang hari, rapi, menjengkelkan: jadwal temu disetujui di kantor netral, rekaman resmi boleh, tetapi Jati 'menyarankan' Bisma Adibrata hadir tanpa Nyonya Saira 'demi fokus dan menghindari drama emosional'. Dalam satu jam, penasihat komunikasi dewan meneruskan ke chat grup kecil: *Terima syarat itu. Jangan bawa istri. Citra. Cepat tutup.*
Bisma membaca di mobil antara dua rapat, hujan memukul kaca. Suara di kepalanya—suami yang takut grafik, CEO yang lelah perang—berbisik: setuju saja, selesaikan, lindungi Saira dengan menjauhkannya dari Jati. Ia hampir mengetik OK ke grup. Jari di layar. Hampir.
Lalu matanya kena sticky note di dashboard yang Saira tempel minggu lalu dengan tulisan miring: *Dewan ≠ suami. Meja dulu.* Empat jam. Aturan dapur. Timer. Ia menarik tangan, tidak mengirim OK, menelepon Saira. 'Jati mau aku tanpa kau. Dewan bilang terima. Aku hampir bilang ya. Meja. Sekarang. Video kalau kau di site.'
Saira sedang di site visit proyek lain, helm kuning, debu di sepatu, angin di mikrofon. Ia mundur ke mobil kontraktor, menutup pintu, video call. Wajahnya kotor sedikit, matanya tajam. 'Fakta: aku marah. Rasa: takut kau digiring seperti tahun lalu digiring paket. Stop. Jawaban ku: kita tolak syarat itu. Aku hadir. Kalau Jati takut padaku, justru aku harus di sana. Dia pernah mainkan aku di kafe sampai aku merekamnya. Kali ini aku tidak datang sebagai umpan. Aku datang sebagai istri yang tidak mau suaminya diadu sendirian, dan sebagai orang yang tidak mau digeser demi citra.'
Bisma mengangguk di layar, hujan di belakangnya. 'Aku tolak. Aku hampir menutup mata lagi—bukan pada bukti, pada kenyamanan dewan. Maaf. Draft penolakan kutulis sekarang; kau baca sebelum terkirim.'
Mereka menulis bersama di dokumen singkat: penolakan sopan, tegas, berdua atau tidak sama sekali; tidak ada tuduhan baru di surat itu; hanya syarat kehadiran. Saira menambah satu kalimat yang Bisma sempat ragu: *Kehadiran Nyonya Adibrata bukan drama; ia pihak yang dirugikan langsung.* 'Bukan untuk ego,' kata Saira. 'Supaya surat itu tidak terdengar seperti suami melindungi istri yang lemah.' Legal mengirim dalam dua puluh menit. Grup dewan berisik; Bisma tidak membalas satu pun sampai malam, dan malam itu ia buka semua chat di meja makan di depan Saira—termasuk pesan yang menyebut Saira 'beban emosional di meja runding'.
'Mereka bilang aku emosional,' kata Bisma. 'Fakta: aku hampir emosional dengan cara yang mereka suka—mengorbankan kau. Rasa: malu. Stop.'
Saira: 'Diterima. Fakta: Mira bilang ada gosip aku dikontrol suami. Rasa: sebal. Stop. Kita tidak jawab gosip. Kita hadir berdua. Heru di luar. Pengacara di dalam.'
Mira menelepon singkat malam itu. 'Kau dengar gosip itu? Aku sudah balas di grup dengan: "dikontrol suami yang buka paket berdua itu upgrade, bukan bug." Lalu aku keluar grup. Saira, jangan perang komentar.'
'Saira tidak perang komentar,' sahut Saira. 'Saira tidur. Besok ke Jati—atau kapan pun jadwal final.'
Heru datang sebentar, helm di tangan, melaporkan: ruang netral sudah dicek; kamera rekaman resmi milik kuasa hukum, bukan milik Jati; petugas tahanan di luar. 'Kalau Pak Bisma masuk sendirian, pola lama: isolasi, lalu narasi. Saya saran tetap berdua.' Bisma mengangguk. 'Sudah keputusan rumah. Terima kasih tidak hanya melapor ke dewan.'
Sebelum tidur Bisma menulis di papan dapur: *Hampir OK ke dewan = hampir tutup mata. Tidak diulang.* Saira membaca, menambah: *Hadir berdua atau tidak sama sekali.* Hujan belum reda. Hampir menutup mata hari itu tidak menjadi keputusan. Ia menjadi alarm—dan alarm itu berbunyi ke meja sebelum ke komisaris. Di nakas, dua ponsel menghadap ke bawah. Mata tetap terbuka. Bisma berbisik ke langit-langit, 'Tahun lalu aku menutup mata pada dusta yang indah. Hari ini aku hampir menutup mata pada kenyamanan yang jelek. Bedanya tipis. Aku harus ingat.'
Saira menyalakan lampu kecil di dapur, bukan di ruang tamu—ruang yang terlalu besar untuk ketakutan yang spesifik. 'Kalau aku tidak datang, Jati bisa bilang aku takut. Kalau aku datang, dewan bilang aku drama. Aku pilih datang. Drama versi mereka lebih murah dari pengadilan diam versi kita dulu.'
Bisma mengangguk. 'Aku hampir jual pilihan mu demi grafik. Terima kasih sticky note di dashboard. Kedengarannya sepele. Tanpa itu, OK sudah terkirim.'
Mereka menyusun daftar pertanyaan malam itu—bukan daftar hukuman: siapa Seto; apa yang dia berikan ke Jati; apa yang Jati kerjakan sendiri; apakah ada nama lain. Heru menyalin ke tablet. 'Pertanyaan ini, kalau hanya Pak yang bawa, mudah dipelintir. Berdua lebih sulit diputar jadi "melindungi istri".' Saira: 'Kerja sama. Bukan teater korban.' Bisma menambah di catatan: *jangan tawar maaf. jangan tawar absolut. tanya nama dan rantai.*
Pagi hari temu, Saira memilih blazer kerja, bukan pakaian 'korban'. Ia mengecek map kosong di tas—bukan untuk dilontarkan, untuk mencatat. Bisma memilih dasi yang Saira pernah selipkan catatan di dalamnya—hari ini catatannya: *'Berdua. Jangan OK ke dewan.'* Di lift kuasa hukum, penasihat komunikasi menelepon lagi; Bisma tidak angkat. Ia kirim pesan ke grup: *Keputusan rumah sudah final. Hadir berdua. Rapat dewan bisa marah nanti.* Seorang komisaris membalas panjang; Bisma screenshot, tidak jawab, nanti malam di meja. Di cermin lift, Saira mengikat rambut lagi, rapi, bukan untuk cantik—untuk tidak terlihat goyah. Pengacara mereka datang dengan tas tipis. 'Surat penolakan syarat sudah diarsip. Siap.'
Saira menekan tombol lantai. 'Fakta: jantung ku cepat. Rasa: siap. Stop.' Bisma: 'Fakta: aku hampir membatalkan demi kau "aman". Rasa: lebih aman kalau kau di samping. Stop.' Pintu lift terbuka. Hampir menutup mata kemarin tidak ikut masuk ruangan. Yang masuk: dua orang yang menolak digiring, dan satu mantan di kursi yang menunggu dengan senyum pahit. Heru mengangguk dari koridor. Rekaman akan menyala. Mata terbuka—ke Jati, ke nama Seto yang belum diucapkan, ke kemungkinan dusta dan kemungkinan arah.