Rapat dewan tidak menunggu meja makan.
Keesokan paginya Bisma dipanggil ke ruang yang terlalu dingin, meja panjang, air mineral yang tidak diminum. Tiga komisaris, satu penasihat komunikasi, wajah-wajah yang dulu memuji 'keterbukaan krisis' sebagai studi kasus kampus sekarang berbicara tentang 'volatilitas sekunder' dan 'eksposur keluarga'. Bahasa halus untuk: istri Anda jadi judul, saham goyang tipis, klien bertanya pelan, investor tidak suka drama berulang.
'Kami tidak menyalahkan Nyonya Saira,' kata salah satu, senyum formal yang tidak sampai mata. 'Kami menyarankan jarak publik sementara. Pak Bisma hadir sendiri di forum. Nyonya fokus ke kantornya. Narasi: keluarga tenang, tidak perlu tampil berdua. Ini bukan hukuman. Ini manajemen.'
Bisma mendengar darah di telinga. Setahun lalu ia hampir kehilangan Saira karena diam dan hukuman tanpa sidang. Sekarang diam diminta dengan bahasa korporat, dibungkus kepedulian pada grafik.
'Jarak publik itu hukuman diam versi dewan,' katanya pelan, tangan di meja supaya tidak mengepal. 'Aku tidak setuju tanpa bicara ke istri ku dulu. Aturan rumah kami: apa pun dari luar dibuka berdua. Termasuk usul kalian.'
'Sentimental,' gumam seseorang di ujung.
'Efektif,' sahut Bisma. 'Rumah yang hampir terbakar tahun lalu masih berdiri karena itu. Saham yang kalian jaga hari ini ada karena kami memilih jalur bersih, bukan karena kami menjual istri ke belakang panggung. Kalau kalian mau CEO yang menggeser pasangan demi grafik pagi, cari orang lain. Aku bawa usul ini ke meja makan dulu. Malam ini. Keputusan resmi yang bisa kalian catat: besok pagi.'
Ia keluar sebelum debat memanjang menjadi lelang kesetiaan. Di koridor, penasihat komunikasi menyusul. 'Pak, pasar—'
'Pasar tidak menikahiku,' potong Bisma. 'Saira yang menikahiku. Kabari mereka aku tidak menghilang. Aku pulang bicara.'
Di mobil, ia mengetik Saira, jari stabil: 'Dewan minta jarak publik. Aku belum setuju. Meja makan malam ini. Jangan baca portal sendirian sampai kita bicara. Fakta: mereka takut judul. Rasa: marah. Stop.'
Saira membalas dari kantor, di antara dua rapat yang salah satu dibatalkan: 'Diterima. Aku bawa fakta dari kantor: dua klien tunda, satu minta "profil rendah". Bukan untuk menekan kau. Untuk data. Aku tidak mau digeser. Aku mau strategi berdua.'
Malam itu meja makan penuh kertas, printout, bukan perang tanpa kata seperti dulu. Saira bilang, setelah Heru diminta duduk sebentar lalu undur agar mereka berdua dulu, 'Kalau kau menurut dewan tanpa aku, aku merasa digeser lagi—bukan oleh Jati, oleh orang yang bilang menyayangi perusahaan. Aku bisa tidak naik panggung besar. Aku tidak bisa jadi rahasia yang kau simpan demi citra. Aku sudah pernah jadi rahasia kecil di gala. Harganya mahal.'
Bisma mengangguk, mata lelah. 'Opsi yang kutulis: kau tidak wajib konferensi pers. Tapi aku tidak akan bilang "istri istirahat urusan keluarga" seperti orang menutupi skandal. Aku bilang: kami menangani bersama, jalur legal, tanpa mengorbankan siapa pun. Kalau saham merah tipis, biar. Aku sudah pernah merah karena percaya struk palsu. Merah karena jujur lebih bisa kutidurkan.'
Mereka menulis draft pernyataan bersama di laptop, saling coret, saling sabar. Saira menghapus kalimat yang terlalu korporat. Bisma menghapus kalimat yang terlalu marah. Akhirnya ada teks yang keduanya bisa baca tanpa mual. Heru dipanggil kembali, membaca, mengangguk. 'Ini tidak memberi makan portal lapar. Ini juga tidak mengubur Nyonya.'
Pagi berikutnya di dewan, Bisma berdiri, tidak duduk di kursi yang meninggikan. 'Tidak ada jarak publik yang mengorbankan istri ku. Ada pernyataan bersama. Ada legal. Ada keamanan. Siapa yang tidak suka, catat keberatan. Aku CEO yang pernah hampir hancur karena diam. Aku tidak mengulang. Titik.'
Senyap. Seseorang mengangguk tipis. Seseorang mencatat dengan marah. Saham siang itu turun sedikit, lalu datar. Portal menulis 'Adibrata tegaskan kebersamaan' dengan nada setengah sinis. Saira mengirim catatan ke saku jas lewat asisten yang sudah hafal jalur: *'Tidak digeser. Terima kasih. Makan malam biasa—tanpa map kalau bisa.'* Bisma membacanya di lift, tersenyum tanpa kamera. Jarak yang diminta dewan tidak menang malam itu. Tetapi Bisma tahu dari cara penasihat komunikasi tersenyum tipis di pintu: orang yang meminta jarak jarang berhenti di satu rapat. Mereka menunggu saham lebih merah, atau paket lebih jelek.
Di rumah, Saira menempel sticky note di bawah aturan dapur: *Dewan ≠ suami. Suami bicara dulu ke meja.* Bisma mencium rambutnya. 'Sticky note diterima. Besok kita kerja. Bukan perang panggung—perang jejak.'
Sebelum tidur mereka mengulang draft pernyataan sekali lagi. Saira mencoret satu kata 'sepenuhnya' yang terasa seperti sumpah palsu. 'Kita tidak sepenuhnya apa-apa. Kita sedang belajar. Tulis: kami menangani bersama dan transparan pada proses hukum.'
Bisma mengganti. 'Lebih jujur. Aku suka.' Ia tersenyum kecil. 'Dulu aku bilang sentimental di kepala waktu kau minta aturan dapur. Sekarang aku bilang ke dewan. Aneh ya.'
'Aneh yang selamatkan kita,' sahut Saira. 'Kalau besok mereka balik minta jarak dengan angka lebih merah, kau tetap ke meja dulu. Janji lagi.'
'Janji lagi.' Bisma memegang jari istrinya di depan papan tulis. Jarak yang diminta dewan sudah ditolak di atas kertas resmi. Yang belum selesai: lapar orang yang menulis artikel, dan kemungkinan bahwa di dalam lingkar Adibrata ada yang lebih nyaman jika Saira digeser. Heru akan periksa itu. Malam itu, setidaknya, suami tidak memilih grafik di atas meja kayu.
Di tengah malam Bisma terbangun, bukan karena mimpi Jati—karena takut ia akan goyah besok jika saham lebih merah. Ia menulis di notes di samping ranjang: *Jarak dewan = tipu manis. Tolak lagi kalau perlu. Meja dulu.* Saira terbangun, membaca dari balik bahu. 'Fakta: kau tidak tidur. Rasa: aku ikut waspada. Stop. Tidur. Besok kita tidak kalah pada grafik sebelum sarapan.'
Mereka tidur lagi. Jarak yang diminta dewan sudah ditolak. Gelombang berikutnya akan datang dari arah lain—jejak, bukan hanya judul. Dan Bisma, untuk pertama kali sejak rapat dingin itu, merasa ia masih suami sebelum ia CEO di rumahnya sendiri.