Saira tidak menunggu dewan reda sepenuhnya. Ia menggali—dengan Bisma tahu, dengan Heru di jalur, bukan seperti tahun lalu menggali sendirian di laptop sampai pagi.
Bukan ke Jati dulu. Ke konsultan kecil yang Heru sebut di tepi laporan lama. Nama di akta: CV Mitra Cahaya Prima. Alamat yang pindah dua kali dalam tiga tahun. Direktur yang fotonya buram di database, hampir tidak ada. Saira meminta bantuan teman arsitek yang pernah kerja forensik bangunan—orang yang biasa membaca retak di dinding; kali ini ia minta membaca retak di kertas dan invoice.
Mereka bertemu di kafe dekat kantor Saira, jam sepi, meja belakang. 'Mitra Cahaya sempat tagih ke beberapa biro PR,' kata teman itu, membuka folder tipis. 'Termasuk waktu skandal Kusuma. Mereka hilang dari radar setelah Jati goyah. Sekarang nama mirip—bukan identik—muncul lagi di jejak pembayaran portal lepas yang menyerangmu. Bukan bukti pengadilan. Tapi bau sama. Orangnya suka ganti baju badan hukum.'
Saira mencatat dengan tangan arsitek yang rapi. 'Siapa yang bayar dulu, waktu Jati?'
'Lapisan. Jati di atas sebagai klien yang kelihatan. Di bawah... ada transfer dari rekening perusahaan yang pernah dekat Grup Maheswara di era ayahmu. Bukan rekening ayahmu. Mitra yang "menenangkan" saat Kusuma Logistik goyah, yang sering jadi penengah. Nama orangnya di beberapa surat: Darmawan Seto. Masih hidup. Sekarang resmi di Bali, pensiun. Tidak resmi—masih menyentuh konsultan lewat keponakan dan badan usaha baru.'
Nama itu membuat Saira membeku. Kopi tidak tersentuh. Ia pernah mendengarnya di meja makan masa kecil—laki-laki berkemeja batik yang tertawa dengan ayahnya, membawa buah, bilang 'Paman Darma', lalu jarang datang setelah 'masa sulit'. 'Paman Darma,' gumamnya. 'Bukan paman darah. Paman bisnis. Ayah bilang dia penolong. Ibu bilang dia terlalu banyak senyum.'
Malam itu di meja makan, Saira membuka semuanya di depan Bisma dan Heru—printout, catatan, nama, tanpa menahan 'supaya Bisma tidak beban'. Aturan melarang itu. 'Jati mungkin dalang di panggung. Dia bangga, dia ngaku. Tapi ada orang ketiga yang dulu menjual "jalan keluar" ke keluarga Kusuma dan Maheswara. Kalau ayah Jati menggelapkan dana, siapa yang mengajari celahnya atau menutupi sampai telat? Kalau ayahku menutupi sahabatnya, siapa yang diuntungkan dari keduanya lemah dan diam?'
Bisma mengusap wajah, lelah yang jujur. 'Darmawan Seto. Aku pernah ketemu di forum pensiunan tahun lalu, kebetulan. Senyum orang yang tidak punya file di wajahnya. Aku tidak suka. Tapi aku tidak akan menghukum dari senyum.'
'Kita tidak menghukum dari senyum,' sahut Saira. 'Kita periksa. Aturan: tidak ada penyelidikan rahasia dari satu pihak. Heru usut jalur uang dan badan usaha. Aku gali arsip keluarga dengan izin Ibu. Kau jaga dewan jangan memakan narasi baru dan jangan meminta jarak lagi diam-diam.'
Heru mengangguk, mencatat. 'Butuh waktu. Orang seperti itu rapi. Jangan konfrontasi dulu di media.'
'Jangan,' sahut Bisma dan Saira hampir bersamaan, lalu saling lirik—kecil, manusia.
Di tengah minggu, Saira ke rumah lama ibunya. Bukan untuk drama air mata di beranda; untuk kardus arsip di gudang yang berbau debu dan kapur barus. Ibunya mengamati, lalu bilang pelan, 'Kau gali Seto. Ayahmu dulu bilang jangan libatkan anak. Sekarang kau sudah bukan anak kecil. Bawa yang kau temukan ke suami mu. Jangan ke portal.'
'Ke meja makan,' sahut Saira. 'Janji.'
Di antara surat, ia temukan satu memo pudar, tulisan tangan ayahnya: *Seto—jangan libatkan anak-anak. Urusan orang tua selesai di orang tua.* Tangannya gemetar. Jati dulu membenci nama Maheswara sampai membangun kebencian sepuluh tahun. Sekarang Saira melihat kemungkinan lain yang lebih dingin: kebencian itu bisa dipupuk orang yang ingin dua keluarga sibuk saling makan, sementara ia membersihkan jejak di tengah.
Ia menelepon Bisma dari beranda rumah ibu, matahari sore. 'Fakta: ada memo soal Seto. Rasa: takut ayahku lebih dalam dari yang kutahu—atau lebih sendirian dari yang kutahu. Stop. Aku tidak sembunyikan. Aku bawa pulang malam ini. Siapkan meja. Jangan kau buka paket lain sendirian sementara aku di jalan.'
'Bawa,' sahut Bisma segera. 'Meja siap. Aku tidak buka apa pun tanpa kau. Hati-hati di jalan.'
Malam itu memo itu dibuka berdua, di bawah lampu makan, Heru hanya dikabari ringkas lewat pesan. Bisma tidak menuduh ayah mertua yang sudah mati. Ia hanya bilang, 'Kita gali. Kalau ayahmu salah di titik lain, kita hadapi tanpa memalsukan kesucian. Kalau Seto dalang, kita hadapi tanpa jadi Jati. Yang tidak kita lakukan: diam dan saling jauhin.'
Saira menaruh kepala di bahunya sebentar—bukan lelah menyerah, lelah yang memilih tidak sendiri. Jejak orang ketiga sudah ada nama. Abu yang ditiup di berita pagi punya arah angin. Dan arah itu, untuk pertama kali sejak artikel itu, terasa bisa digenggam—bukan hanya ditakuti.
Ibu Saira mengirim pesan larut: 'Kalau kau gali Seto, hati-hati. Dia pintar jadi teman semua orang. Ayahmu menghormatinya—dan takut padanya. Aku dulu tidak paham. Sekarang aku ingat senyumnya.' Saira membalas: 'Kami gali berdua. Tidak ke media.' Bisma membaca pesan itu dari samping, mengangguk. 'Ibu mu jadi saksi rasa, bukan saksi hukum. Cukup untuk waspada.'
Heru mengirim update singkat sebelum tengah malam: badan usaha baru yang mengarah ke keponakan Seto; belum cukup untuk somasi; cukup untuk terus. Bisma membalas: 'Terus. Laporkan ke kami berdua tiap ada naik tingkat. Jangan ke dewan dulu.' Jejak orang ketiga tidak lagi kabut. Ia punya nama, pulau, dan senyum yang terlalu banyak. Besok, perang mereka punya peta—meski peta itu masih penuh lubang.
Saira menyalin memo ayah ke dua salinan: satu untuk Heru, satu untuk folder rumah berlabel 'dibuka berdua'. Ia tidak menyembunyikan dari Ibu; Ibu sudah tahu. Yang ia jaga: tidak ada versi suntingan untuk portal. Di kantor keesokan harinya, ia tetap bekerja pada plafon klien—karena hidup tidak boleh berhenti hanya karena nama lama muncul. Bisma mengirim pesan siang: 'Fakta: Heru dapat satu invoice lagi. Rasa: kita dekat. Stop. Malam kita bahas. Jangan gali sendirian di jam makan siang.'
Saira membalas: 'Sedang makan. Stop.' Lalu benar-benar makan. Jejak orang ketiga meminta disiplin, bukan panik. Nama Darmawan Seto sudah di meja. Berikutnya bukan tuduhan—bukti. Dan bukti, mereka berdua sudah belajar, tidak boleh datang dari pengirim gelap saja.