Gerbang sekolah selalu terbuka pada pagi hari dan tertutup pada sore hari. Selama tiga tahun, kami melewatinya ribuan kali tanpa berpikir. Masuk, keluar, masuk lagi. Gerbang besi hitam dengan tulisan nama sekolah yang catnya sudah mengelupas di huruf ketiga.
Tapi sore itu, saat kami melewatinya untuk terakhir kali sebagai murid, gerbang itu terasa berbeda. Lebih tinggi. Lebih lebar. Seperti gerbang itu tahu kami tidak akan kembali sebagai anak-anak yang sama.
Kami berjalan bertujuh, masih memakai toga, ijazah di tangan.
"Aneh, ya," kata Bayu. "Besok kita nggak ke sini lagi."
"Aneh banget," sahut Reza. "Aku bahkan bakal kangen tukang bakso depan gerbang."
"Lo kangen semua yang bisa dimakan," kata Dimas.
Kami berhenti tepat di luar gerbang. Berbalik. Memandang gedung yang sudah jadi rumah kedua kami selama tiga tahun.
"Jadi," kata Fajar, "habis ini ke mana semua?"
Hening sebentar. Pertanyaan yang selama ini kami hindari, karena menjawabnya berarti mengakui semua ini benar-benar berakhir.
Galih—aku—yang menjawab pertama. "Aku kuliah. Ambil beasiswa. Ibu maksa daftar yang jurusan susah." Aku tersenyum kecil. "Ternyata ada gunanya juga jadi diam-diam pintar."
"Sok merendah," kata Bayu. "Aku... aku ambil komunikasi. Mau jadi orang yang ngatur acara. Eh, panitia. Habis ngerasain ngatur pameran kemarin, ternyata aku bisa juga, ya."
"Bayu bukan korban lagi," kata Doni bangga. "Bayu jadi pemimpin acara."
"Aku," kata Reza, "buka usaha. Roti. Mungkin warung. Pokoknya makanan. Aku ahlinya."
"Itu sih bakat dari lahir," kata Dimas.
"Lo sendiri, Dim?" tanya Arman.
Dimas memandang gedung sekolah lama-lama sebelum menjawab. "Aku mau bikin film. Beneran. Sutradara." Ia tertawa, agak malu, ekspresi yang jarang kulihat darinya. "Tiga tahun aku jadi sutradara di bangku belakang—ngatur prank, ngatur misi. Sekarang aku mau ngatur yang beneran. Yang bikin orang ketawa di bioskop, bukan di kelas."
"Lo pasti bisa," kata Arman. Tulus. Tanpa keraguan.
"Lo gimana, Man?" tanya Dimas balik. "Lulusan terbaik mau ngapain?"
Arman menegakkan punggung—kebiasaan lama. "Aku mau jadi orang yang mimpin. Beneran mimpin. Bukan cuma rapi dan kaku kayak dulu." Ia melirik kami. "Kalian ngajarin aku, mimpin itu bukan soal jadi yang paling benar. Tapi soal peduli sama orang yang lo pimpin. Bahkan yang duduk di bangku paling belakang."
Fajar dan Doni juga bicara—Fajar mau bisnis bareng Dimas suatu hari, Doni belum tahu tapi yang jelas mau sering ketemu anak perpustakaan yang akhirnya jadi pacarnya itu.
Kami semua melangkah maju. Hidup. Sehat. Masing-masing menuju arah yang berbeda.
"Sebentar," kata Dimas tiba-tiba. Ia merogoh saku, mengeluarkan spidol—entah kenapa selalu ada spidol di saku anak ini—dan berjalan ke tembok di samping gerbang. Tembok yang sudah penuh coretan angkatan-angkatan sebelumnya.
Ia menulis, kecil, di sudut yang masih kosong:
"KERAJAAN POJOK BELAKANG. XII-IPS 3. Kami pernah di sini."
Lalu, di bawahnya, tujuh tanda tangan. Dimas, Galih, Reza, Bayu, Arman, Fajar, Doni.
"Biar gerbangnya inget kita," kata Dimas, menutup spidolnya.
Kami berbalik. Berjalan menjauh dari sekolah, menuju jalan pulang yang akan bercabang sebentar lagi—ke arah yang berbeda-beda untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Tapi sebelum berpisah di simpang, Dimas berteriak ke seluruh penjuru, tidak peduli orang lain dengar:
"INGET JANJINYA! SEPULUH TAHUN LAGI! BANGKU YANG SAMA!"
Dan dari berbagai arah, saat kami mulai berpencar, suara-suara menjawab—Reza, Bayu, Arman, Fajar, Doni, dan aku—seperti gema:
"SEPULUH TAHUN LAGI!"
Gerbang sekolah tetap terbuka di belakang kami. Untuk angkatan berikutnya. Untuk anak-anak baru yang akan menemukan bangku paling belakang mereka sendiri.