Aula yang dua malam lalu penuh tawa kini penuh toga.
Hitam, rapi, satu warna sejauh mata memandang. Aneh melihat angkatan kami seragam begini—biasanya kami yang paling berantakan: dasi miring, baju keluar, rambut Dimas yang selalu kebanyakan gel. Sekarang semua duduk tegak, topi toga di kepala, menunggu nama dipanggil.
Reza tidak bisa diam. "Tasselnya ke kiri apa kanan dulu, sih?"
"Kanan dulu," kata Bayu. "Pindah ke kiri pas udah dinyatakan lulus."
"Kalau aku nggak lulus?"
"Lo lulus, Za," kataku. "Galih mantau nilai lo dari kemarin. Lo aman."
Reza menghela napas lega seakan baru lolos dari hukuman mati.
Di barisan depan, Arman duduk paling tegak dari semua orang. Tentu saja. Sebentar lagi namanya dipanggil sebagai lulusan terbaik. Tapi yang menarik, sesekali ia menoleh ke belakang—ke arah kami—seperti memastikan kami masih di sana. Tiga tahun ia ingin kami pindah ke depan biar ia tenang. Sekarang ia menoleh ke belakang untuk merasa tenang.
Bu Sari berdiri di samping panggung, memegang map berisi daftar nama anak walinya. Wali kelas XII-IPS 3. Wanita yang selama tiga tahun melindungi kami dari skors, dari amukan guru lain, dari diri kami sendiri. Hari ini ia mengenakan kebaya, dan matanya sudah merah bahkan sebelum nama pertama dipanggil.
Satu per satu, angkatan kami dipanggil ke panggung. Salaman dengan Pak Kepala. Pindahkan tassel. Turun sebagai lulusan.
"Arman Pratama." Lulusan terbaik. Tepuk tangan menggemuruh. Arman naik, salaman, dan saat Pak Kepala menyerahkan map penghargaan, ia membungkuk dalam—lebih dalam dari yang diharuskan. Kami berdiri, bertujuh, berteriak namanya. Arman, dari atas panggung, mencari kami dengan matanya, menemukan kami, dan tersenyum.
Lalu nama-nama kami.
"Bayu Saputra." Bayu naik dengan kaki gemetar, hampir tersandung di tangga—warisan abadi si korban—tapi sampai ke atas, menerima ijazahnya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya tidak menjadi bahan tertawaan saat di atas panggung. Kami berdiri untuknya.
"Reza Firmansyah." Reza naik, dan entah dari mana, ia mengeluarkan roti cokelat dari saku togsanya, menggigitnya tepat saat salaman dengan Pak Kepala. Seluruh aula tertawa. Pak Kepala menggeleng, tapi tersenyum.
"Dimas Anggara." Sang raja. Ia naik dengan gaya, membungkuk berlebihan ke segala arah seakan menerima Oscar, sampai Bu Sari menariknya turun.
"Galih Wicaksana."
Namaku.
Aku berdiri. Kaki terasa berat. Aku berjalan ke panggung, dan dari atas sana, aku bisa melihat Ibu di barisan orang tua. Ia menangis. Tapi bukan menangis sedih—ia menangis bangga. Aku ingat semua kalimatnya tentang kepintaran yang kusia-siakan. Hari ini, ia tidak mengatakan itu. Hari ini ia hanya menangis dan mengangkat ponselnya untuk merekam, tangannya bergetar sampai videonya pasti buram.
Pak Kepala menyalamiku. "Galih, ya?" katanya pelan, di antara kami berdua. "Otak di balik lantai biru."
Aku membeku.
Ia tersenyum. "Bu Sari cerita. Tenang, sudah lewat masa skorsnya." Ia menepuk bahuku. "Pintar, ya. Jangan disembunyikan lagi."
Aku turun dengan mata panas dan tassel yang sudah pindah ke kiri.
Saat nama terakhir selesai dipanggil, Bu Sari naik ke panggung. Map-nya sudah kosong. Semua anak walinya sudah dilepas—termasuk empat anak yang hampir membuatnya pensiun dini.
"Anak-anak Bu Sari," katanya ke mikrofon, suaranya pecah di kata pertama. "Tiga tahun. Tiga tahun saya marahin kalian, saya bersihin masalah kalian, saya bohongin guru lain demi kalian." Tawa bercampur isak di aula. "Dan kalau ditanya nyesel nggak—nggak. Sama sekali nggak. Kalian nakal. Tapi kalian tidak pernah, tidak pernah, benar-benar jahat. Selamat lulus. Pergi jauh-jauh. Tapi jangan lupa jalan pulang."
Bertujuh, kami berdiri. Dan kali ini tidak ada yang berusaha menyembunyikan air mata—bahkan raja sekalipun.