Sepuluh tahun.
Gerbang besi itu masih hitam, meski catnya makin mengelupas. Huruf ketiga di papan nama sekolah sudah benar-benar hilang sekarang. Tukang bakso di depan sudah berganti orang. Tapi tembok di samping gerbang—aku berhenti di situ, mencarinya—coretan itu masih ada.
"KERAJAAN POJOK BELAKANG. XII-IPS 3. Kami pernah di sini."
Tujuh tanda tangan. Pudar, tapi masih terbaca.
"Galih!" Suara dari belakang. Aku berbalik. Reza—lebih besar dari yang kuingat, kalau itu mungkin—berjalan ke arahku sambil membawa kantong plastik. "Aku bawa roti. Roti dari toko aku. Laku keras, lho, sekarang. Tiga cabang."
"Tiga cabang?" Aku tertawa, memeluknya. "Tukang makan beneran jadi tukang roti."
"Sudah kubilang dari dulu," katanya bangga.
Satu per satu mereka datang. Bayu, dengan setelan rapi dan name tag panitia acara—ternyata ia benar-benar jadi orang yang mengatur acara besar sekarang, bukan korban siapa-siapa. Fajar dan Doni, datang bersama, masih tidak terpisahkan; Doni membawa istrinya, anak perpustakaan itu, yang sekarang tertawa mendengar cerita lama. Dimas datang paling akhir dan paling heboh, dengan jaket sutradara dan topi yang berlebihan—ia benar-benar bikin film sekarang, satu filmnya bahkan pernah kutonton di bioskop dan aku menangis di kursi.
"Mana ketua kelas?" tanya Dimas. "Masa lulusan terbaik telat?"
"Aku nggak telat." Suara itu. Kami menoleh. Arman, masih dengan postur paling tegak di antara kami semua, tapi wajahnya jauh lebih lunak dari sepuluh tahun lalu. Tidak ada lagi kekakuan. Hanya lelaki dewasa yang akhirnya tahu cara tersenyum tanpa canggung. "Aku menjemput seseorang dulu."
Di belakangnya, melangkah masuk dari gerbang, seorang wanita.
Kami semua membeku.
"Bu Tania?" bisik Bayu.
Ia lebih tua—kami semua lebih tua—tapi senyumnya sama. Senyum guru magang yang dulu bilang masa lalu lebih seru dari sinetron.
"Bukan 'Bu' lagi," katanya, tertawa. "Aku sudah bukan guru kalian sejak lama. Tania saja." Ia memandang kami satu per satu. "Aku terima undangan reuninya. Arman yang kasih tahu. Kami—" ia melirik Arman, dan ada sesuatu yang tenang, bersahabat, dewasa di tatapan itu, bukan romansa, hanya dua orang yang sudah lama berdamai dengan masa lalu, "—kami masih sesekali bertukar kabar. Sebagai teman lama."
Arman mengangguk. Patah hati sepuluh tahun lalu sudah lama sembuh; yang tersisa hanya rasa hormat. Dan itu cukup. Itu selalu cukup.
"Jadi," kata Tania, "katanya ada bangku yang mau dikunjungi?"
Kami berjalan masuk. Sekolah di hari libur—sepi, sunyi, hanya kami. Penjaga sekolah, yang sudah diberitahu Bu Sari (yang sekarang sudah pensiun tapi datang juga, dengan rambut beruban dan air mata yang sama mudahnya), membukakan pintu kelas XII-IPS 3.
Ruangan itu lebih kecil dari yang kuingat. Selalu begitu—tempat masa kecil selalu menyusut saat kita kembali. Tapi bangkunya masih ada. Bangku pojok dekat jendela. Bangku paling belakang.
Dimas berjalan ke sana lebih dulu, dan duduk. "Masih muat," katanya, suaranya bergetar sedikit. "Masih muat, bangsat."
Satu per satu kami menempati posisi lama. Aku di pojok dekat jendela. Reza menutupi cahaya seperti sepuluh tahun lalu. Bayu di kursi yang sama. Dan kali ini, tanpa diminta, Arman duduk juga di bangku kerajaan—bukan lagi musuh bebuyutan, bukan lagi ketua kelas kaku, hanya teman.
Dari jendela, aku menoleh. Ruang guru di seberang halaman masih ada. Tania berdiri di sana, di dalam kelas bersama kami, mengikuti arah pandangku ke jendela itu. Ia tersenyum. Ia tahu. Ia selalu tahu.
"Kalian tahu," kata Tania pelan, "selama ini aku menyimpan satu hal yang dulu aku tulis tentang kalian. Aku tulis di hari terakhir aku mengajar. Boleh aku bacakan?"
Kami mengangguk.
Ia mengeluarkan kertas tua, terlipat, dari dompetnya. Disimpan sepuluh tahun. Lalu membaca:
"Untuk pojok belakang. Kalian bukan tukang ribut. Kalian anak-anak yang paling peduli, cuma sering salah caranya. Suatu hari kalian akan jadi orang baik. Bukan karena kalian sempurna. Tapi karena kalian tidak pernah meninggalkan satu sama lain."
Hening. Bahkan Dimas tidak punya lelucon.
Lalu, di luar jendela, matahari sore jatuh tepat di lantai kelas—lantai yang dulu kami impikan berwarna biru, lantai tempat tiga tahun kekacauan dan persahabatan kami berlangsung.
"Eh," kata Reza, memecah keheningan, mengeluarkan roti dari kantong. "Ada yang mau roti cokelat? Sebatang. Buat dibagi. Kayak dulu."
"Itu yang mulai semuanya," kata Galih—aku. "Taruhan roti cokelat."
"Dan ini," kata Dimas, mengangkat sebatang roti yang Reza belah jadi tujuh—delapan dengan Tania—"yang nutup semuanya."
Kami makan roti cokelat itu, berdesakan di sekitar bangku paling belakang, tertawa mengenang lantai biru dan tepung terigu dan buku catatan yang hampir menghancurkan kami dan semua hal yang akhirnya, sepuluh tahun kemudian, benar-benar bisa kami tertawakan.
Kerajaan pojok belakang tidak pernah benar-benar bubar.
Tahta boleh ditinggalkan. Murid boleh lulus. Gerbang boleh menutup di belakang satu angkatan dan membuka untuk angkatan berikutnya. Tapi persahabatan, dan maaf, dan kenangan—itu tidak ikut lulus. Itu tidak ikut pergi.
Itu tinggal selamanya, di bangku paling belakang, dekat jendela, tempat matahari sore selalu kembali setiap hari, untuk menyinari sebuah kerajaan kecil yang dulu pernah ada—dan, dengan caranya sendiri, tidak akan pernah benar-benar tiada.
TAMAT.