Malam itu aku tidak bisa tidur.
Ibu sudah dua kali mengetuk pintu kamar, menyuruhku matikan lampu, mengingatkan besok hari kelulusan dan aku tidak boleh terlambat. Aku bilang iya, sebentar lagi, Bu. Tapi aku masih duduk di meja belajar, memegang foto yang Reza cetak sore tadi di tukang foto dekat sekolah. Foto terakhir di bangku belakang.
Aku—Galih—orang yang paling jarang bicara dari empat penghuni pojok itu. Orang yang menyembunyikan nilai-nilainya selama tiga tahun supaya tidak dimintai contekan. Orang yang Ibu selalu bilang, "Kepintaranmu kausia-siakan, Nak, untuk apa pintar kalau cuma buat nemenin tiga anak bandel itu bikin onar."
Dulu aku tidak tahu cara menjawab Ibu. Sekarang aku tahu.
Aku mengeluarkan buku tulis kosong—bukan buku rencana, bukan strategi operasi, hanya buku tulis biasa—dan menulis, untuk diriku sendiri, hal-hal yang kupelajari dari tiga tahun di bangku paling belakang.
Aku pikir, dulu, kerajaan itu cuma soal nakal. Soal cari perhatian. Soal empat anak yang kebagian bangku buangan lalu memutuskan menjadikannya tahta supaya tidak merasa terbuang.
Aku salah.
Bangku paling belakang mengajariku bahwa peduli itu mahal. Lebih mahal dari pintar. Aku bisa saja duduk di depan, dapat ranking, jadi anak teladan seperti Arman, dan lulus tanpa satu pun cerita yang layak diingat. Tapi aku memilih—atau lebih tepatnya, ditarik—ke seribu masalah oleh Dimas, Reza, dan Bayu. Dan di tengah seribu masalah itu, aku belajar hal yang tidak ada di buku pelajaran mana pun.
Aku belajar bahwa lelucon bisa melukai. Bahwa niat baik tidak cukup kalau kau lupa orang lain juga punya perasaan—Bu Tania mengajariku itu, dengan satu pertanyaan di koridor yang masih menghantuiku: "Jadi, selama ini, semuanya bohong?"
Aku belajar bahwa minta maaf jauh lebih sulit daripada bikin onar. Dimas butuh berlembar-lembar surat yang gagal untuk akhirnya tahu itu.
Aku belajar bahwa musuh bisa jadi sahabat—Fajar, yang dulu menjejali tas Bayu dengan tepung, sekarang adalah salah satu orang yang paling kupercaya. Dan bahwa orang yang paling kaku, paling jauh, paling kita kira tidak butuh siapa-siapa—Arman—ternyata yang paling kesepian, yang paling butuh untuk sekadar dianggap teman.
Aku belajar bahwa cinta tidak bisa di-setting. Bahwa kebahagiaan orang lain bukan proyek yang bisa kau atur dari bangku belakang seperti sutradara mengatur adegan. Kami mencoba, dan hampir menghancurkan dua orang baik. Pelajaran yang harganya mahal.
Tapi yang paling kupelajari—dan ini yang akhirnya membuatku berhenti menyembunyikan kepintaranku, yang akhirnya membuat Ibu bangga di rapat hasil ujian—adalah ini:
Kerajaan pojok belakang bukan soal nakal. Itu soal saling menjaga. Tiga tahun, empat anak, satu bangku. Kami berkelahi, kami salah, kami menyakiti dan disakiti. Tapi tidak sekali pun, tidak satu hari pun, ada yang ditinggalkan sendirian.
Itu yang membuatnya berharga.
Aku ingat hari Bayu menangis di toilet karena Bu Tania memilih diam alih-alih marah. Aku ingat Dimas yang hampir menyerah dari segalanya, sampai aku harus menamparnya dengan kata-kata: kita yang mulai, kita yang harus benerin, bukan kabur. Aku ingat Reza yang menghibur Arman dengan satu-satunya bahasa yang ia kuasai—membagi makanannya. Empat anak yang tidak punya apa-apa selain satu sama lain, dan ternyata itu cukup.
Ibu pernah bertanya, dulu, untuk apa pintar kalau cuma buat nemenin tiga anak bandel bikin onar. Sekarang aku punya jawaban yang tidak berani kukatakan ke wajahnya, tapi kutulis di sini, di buku tulis ini, untuk diriku sendiri:
Untuk itulah, Bu. Tepat untuk itu. Untuk menemani. Karena ada gunanya pintar kalau bisa menjaga orang yang kausayang—dan tidak ada gunanya pintar kalau kau lulus sendirian, tanpa satu pun cerita, tanpa satu pun tangan yang akan kaugenggam sepuluh tahun lagi di bangku yang sama.
Aku menutup buku tulis. Memandang foto sekali lagi—Bayu kedip, Reza menggerhanai matahari, Doni mengacung dua jari di belakang kepala Fajar, Arman tersenyum canggung di bangku terhukum, Dimas dengan tangan di bahunya, dan aku, setengah menoleh ke jendela.
Aku tidak menyesal ditarik ke seribu masalah.
Aku akan melakukannya lagi. Seribu kali lagi.
Aku mematikan lampu.
Besok, toga.