Kami pindah ke kantin setelah foto. Bukan karena lapar—meskipun Reza selalu lapar—tapi karena meja pojok kantin itu adalah markas. Tempat aliansi delapan anak pertama kali dibentuk. Tempat banyak rencana bodoh lahir.
Doni membeli es teh untuk semua orang. "Traktiran perpisahan," katanya. "Besok udah nggak boleh masuk lagi, kan? Mumpung."
"Sok kaya," kata Fajar, tapi ia mengambil gelasnya.
Dimas menyusun gelas-gelas es teh itu di tengah meja, dengan sikap khidmat yang biasanya cuma muncul kalau ia mau mengumumkan sesuatu. Aku kenal gerak-gerik ini. Tiga tahun cukup untuk hafal kapan Dimas akan bikin sesuatu yang besar.
"Inget nggak," kata Dimas, "hari kedua kita kelas sepuluh? Eh, bukan, maksudku awal kelas dua belas. Pas kita taruhan roti cokelat."
"Yang bikin lo ngusulin misi gila itu," sahut Bayu. "Iya inget. Awal segala kekacauan."
"Aku bilang apa waktu itu?"
Galih—aku—menjawab, karena aku ingat persis. Aku ingat hampir semuanya. "Lo bilang ini proyek perpisahan. Sesuatu yang bakal kita tertawain pas reuni sepuluh tahun lagi."
Dimas menunjuk ke arahku. "Nah. Itu."
Ia berdiri. Mengangkat gelas es tehnya, padahal isinya cuma teh dan es batu yang mulai mencair.
"Aku mau nagih janji itu," katanya. "Sepuluh tahun dari sekarang. Berapa pun jauhnya kita, di mana pun kita kerja, sukses atau gagal, kawin atau jomblo—" ia melirik Arman, yang langsung memalingkan muka, "—kita ketemu lagi. Di sini. Di sekolah ini. Dan kita ketawain semua ini."
"Semua apa?" tanya Doni.
"Semuanya." Dimas tertawa. "Lantai biru. Tepung di tas Bayu. Kursi lem Reza. Buku 'Misi Jodohkan Sang Ketua' yang bikin kita hampir ancur. Bu Tania yang denger semuanya di koridor." Suaranya melembut di kalimat terakhir. "Bahkan yang itu. Sepuluh tahun lagi, mudah-mudahan, kita udah bisa ketawain yang itu juga. Karena artinya kita udah bener-bener selesai. Udah bener-bener maafan. Sama mereka, sama diri sendiri."
Hening. Es batu di gelasku berdenting pelan saat mencair.
Arman yang pertama mengangkat gelas. Itu mengejutkan kami semua. Ketua kelas paling kaku, yang dulu paling terluka oleh misi itu, mengangkat es tehnya tanpa ragu.
"Aku ikut," katanya. "Sepuluh tahun lagi. Aku janji. Asal," ia menambahkan dengan nada datar khasnya, "kalian nggak bikin lantai biru lagi pas reuni."
"Nggak janji," kata Dimas cepat.
"Dimas."
"Iya iya. Nggak. Mungkin. Lihat nanti."
Satu per satu gelas terangkat. Fajar. Doni. Reza, yang gelasnya sudah setengah kosong. Bayu, yang tangannya masih gemetar entah kenapa. Lalu aku.
"Sepuluh tahun lagi," kata Galih—aku—pelan. "Bangku yang sama. Orang-orang yang sama."
"Tujuh badut yang sama," kata Doni.
"Enam badut dan satu ketua kelas," koreksi Arman.
"Lo udah jadi badut, Man," kata Fajar. "Dari pas lo duduk di bangku belakang tadi, lo resmi badut. Selamat datang."
"Aku bukan badut," kata Arman, tapi sudut bibirnya naik. "Aku... badut yang rapi."
"Itu lebih parah," kata Doni.
Reza tiba-tiba berhenti minum. "Eh, serius nih ya. Sepuluh tahun. Berarti pas reuni, kita udah—" ia menghitung dengan jari, gerakan yang sama lambannya seperti dulu saat menuang pewarna ember piket, "—udah segede gimana? Kepala empat?"
"Belum, Za, masih tiga puluhan," kata Bayu sabar. "Matematika lo masih sama kayak dulu."
"Untung Galih ngitungin," kata Reza, tidak tersinggung. "Aku bawa makanan aja deh pas reuni."
"Lo selalu bawa makanan," kata semuanya, hampir bersamaan.
Tawa pecah di meja pojok kantin. Gelas-gelas berdenting, beradu, teh tumpah sedikit ke meja, tidak ada yang peduli. Di luar jendela kantin, lapangan upacara tampak lengang—lapangan tempat tiga tahun kami berbaris setiap Senin, tempat sekarang sudah tidak akan kami injak lagi sebagai murid.
Sebuah janji telah dibuat. Janji yang lahir dari taruhan roti cokelat tiga tahun lalu, kini ditutup dengan es teh di hari terakhir.
Sepuluh tahun. Kami punya janji untuk dipegang.