Acara perpisahan resmi sudah usai semalam, tapi sekolah memberi kami satu hari lagi—hari untuk membereskan, mengembalikan kunci, dan, kata Bu Sari, "pamitan sama tembok kalau perlu."
Pagi itu kelas XII-IPS 3 kosong dan terang. Sinar masuk dari jendela yang sama, jatuh di lantai yang sama, menyinari bangku pojok belakang yang sama—bangku yang tiga tahun lalu kami klaim sebagai kerajaan.
Dimas berdiri di ambang pintu, memandangi ruangan itu lama sekali sebelum bicara.
"Kosong banget, ya," katanya. "Padahal dulu di sini rame terus."
"Ramenya kita yang bikin," kata Bayu, masuk dan menyentuh meja-meja yang sudah kosong. "Sekarang tinggal kursi."
Aku berjalan ke pojok. Ke tempatku—dekat jendela. Dari sini, kalau aku menoleh, masih kelihatan jendela ruang guru di seberang halaman. Tempat dulu, pagi-pagi buta, Arman diam-diam mengintip Bu Tania menyiapkan materi. Sekarang ruang guru itu juga tampak sepi.
"Heh." Suara dari pintu. Kami menoleh. Fajar masuk, diikuti Doni, lalu Arman—yang entah kenapa masih memakai seragam paling rapi meski tidak ada lagi yang perlu dirapikan. "Katanya mau foto bareng. Masa kerajaan IPS 3 lupa ngundang aliansi?"
"Kirain lupa undang," kata Doni sambil nyengir. "Untung Bu Sari nge-grup."
Reza mengeluarkan ponselnya. "Aku bawa tripod. Kakakku."
"Tumben mikir," kata Dimas.
"Aku selalu mikir. Mikir makan, tapi mikir."
Kami menata diri di sekitar bangku pojok. Ini bukan urusan sederhana untuk tujuh orang dan satu bangku. Reza terlalu besar untuk muat di sisi mana pun tanpa menutupi seseorang. Bayu hampir jatuh dari kursi yang ia naiki. Arman bersikeras berdiri tegak di tengah sampai Dimas menariknya supaya duduk di bangku—"Bangku ini bangku kerajaan, Man. Sekali seumur hidup ketua kelas teladan duduk di bangku terhukum, nikmatin."
Arman duduk. Canggung. Lalu, perlahan, ia tersenyum. "Tiga tahun aku benci bangku ini," katanya pelan. "Dari sini kalian selalu bikin ulah. Aku selalu mikir, kenapa nggak mereka aja yang pindah ke depan, biar aku tenang."
"Sekarang?" tanya Galih—aku.
Arman memandang ke arah jendela, ke ruang guru yang sepi di seberang. Lalu kembali ke kami. "Sekarang aku ngerti. Bangku paling belakang itu bukan tempat buat orang yang nyerah. Itu tempat buat orang yang berani lihat seluruh kelas dari belakang—dan tetap milih peduli."
Hening sebentar. Bahkan Dimas tidak punya lelucon untuk itu.
"Ya ampun," kata Doni akhirnya, "ketua kelas baru aja nyaingin penyair. Foto dulu napa, keburu mewek semua."
Reza menyetel timer. Layar berkedip. Sepuluh detik.
"Cepetan!" Bayu menarik Doni. "Reza, ke tengah, lo nutupin separo angkatan."
"Aku emang separo angkatan."
"Galih, lo jangan nengok jendela mulu," tegur Dimas. "Tiga tahun lo selalu nengok jendela. Sekali aja, lihat kamera."
"Aku suka jendelanya," kataku. Dan itu jujur. Dari jendela itulah, selama tiga tahun, aku menonton seluruh sekolah—termasuk Arman yang pagi-pagi mengintip ruang guru, termasuk semua hal yang membuat kami ada di sini sekarang.
"Dia emang gitu, Dim," kata Bayu. "Biarin. Galih nggak Galih kalau nggak setengah nengok jendela."
Lima detik. Fajar merangkul Dimas, dua mantan musuh yang dulu saling lempar tepung dan lem, sekarang tidak bisa dipisahkan. Tiga detik. Arman, di bangku, dikelilingi kami semua—tangan Dimas di bahunya, Bayu mengintip dari kursi belakang, Galih di sebelah jendela, Reza menutupi cahaya seperti gerhana.
Satu detik.
"Semuanya," kata Dimas tiba-tiba, suaranya berubah, "makasih ya. Buat tiga tahun ini."
Klik.
Lampu kilat. Dan di foto yang nanti akan kami simpan seumur hidup itu—foto terakhir di bangku paling belakang—tidak ada satu pun dari kami yang berpose benar. Bayu kedip. Reza menutupi Arman. Doni mengacungkan dua jari di belakang kepala Fajar. Aku setengah menoleh ke jendela.
Tapi semua tersenyum. Semua, tujuh-tujuhnya, tersenyum dengan cara yang tidak bisa diatur, tidak bisa di-setting, tidak bisa direkayasa.
Untuk pertama kali, kami tidak butuh sutradara.