Tepuk tangan untuk pidato Arman belum benar-benar reda ketika lampu panggung berpindah. Sorotnya menggeser pelan, dari mikrofon yang masih dipegang Arman, ke deretan kursi paling depan tempat para guru duduk. Dan di tengah barisan itu, dengan setelan batik cokelat yang biasa ia pakai saat ada tamu penting, Pak Kepala Sekolah berdiri.
Aku—Galih—menelan ludah dari balik tirai samping panggung. Reza, yang berdiri di sebelahku, ikut membeku.
"Dia mau ngomong," bisik Reza. "Dia... Pak Kepala mau naik panggung."
"Aku punya mata, Za."
Bayu meremas lengan bajuku. "Inget nggak terakhir kali kita berdiri di depan Pak Kepala? Dia ngancem skors. Delapan orang. Foto lantai biru."
"Inget banget," sahut Dimas dari belakang kami, suaranya pelan tapi ada getar di situ. "Aku masih mimpiin kalimatnya. 'Kalian pikir sekolah ini taman bermain?'"
Pak Kepala menaiki tangga panggung. Langkahnya tidak terburu, tidak juga lambat—langkah orang yang sudah memimpin upacara ribuan kali. Ia berdiri di samping Arman, menepuk bahu anak itu sekali, dan Arman—ketua kelas paling kaku sedunia—untuk sekejap tampak seperti anak kecil yang baru saja dipuji ayahnya.
Mikrofon berpindah tangan.
"Anak-anak," kata Pak Kepala. Aula yang penuh itu langsung senyap. "Saya sudah jadi kepala sekolah di sini selama belasan tahun. Banyak angkatan datang, banyak yang lulus, banyak yang saya lupa namanya—maaf, tapi itu jujur."
Tawa kecil mengalir di aula.
"Tapi ada satu angkatan yang... susah saya lupakan." Ia berhenti. Matanya bergerak ke arah tirai samping. Tepat ke arah kami. Aku merasa jantungku jatuh ke perut. "Angkatan yang bikin lantai depan satu kelas berubah jadi biru kayak tinta cumi."
Aula meledak. Tepuk tangan, tawa, beberapa anak meneriakkan "LANTAI BIRUUU!" seperti yel-yel.
Reza memegangi wajahnya. "Mati kita. Mati kita."
"Dulu," lanjut Pak Kepala setelah suasana mereda, "saya panggil delapan anak ke ruangan saya. Saya ancam skors. Saya kira mereka cuma pembuat onar yang nggak ngerti batas." Ia menggeleng pelan. "Saya salah."
Dimas, di sebelahku, berhenti bernapas.
"Saya salah," ulang Pak Kepala, "karena saya cuma lihat keributannya. Saya nggak lihat apa yang ada di baliknya. Sampai hari ini. Sampai saya lihat pameran sejarah angkatan ini—yang kalian buat sendiri. Sampai saya dengar pidato ketua kelas tadi, yang menyebut empat pembuat onar itu sebagai sahabat terbaiknya." Ia menoleh ke Arman, lalu kembali ke depan. "Anak-anak yang dulu saya kira merusak sekolah ini, ternyata yang paling sayang sama sekolah ini. Cuma caranya saja yang... berisik."
Aku merasa mataku panas. Bayu sudah jelas-jelas menangis, tidak berusaha menyembunyikannya lagi.
"Saya nggak akan munafik bilang saya bangga kalian ngecat lantai." Tawa lagi. "Tapi saya bangga sama orang-orang yang tumbuh dari situ. Angkatan ini—angkatan kalian—adalah angkatan paling berkesan yang pernah saya lepas dari sekolah ini. Dan saya sudah melepas banyak."
Ia berhenti. Lalu, perlahan, di wajah yang biasanya keras itu, muncul sesuatu yang nyaris tak pernah kami lihat dalam tiga tahun.
Pak Kepala Sekolah tersenyum.
"Terima kasih sudah bikin saya repot," katanya. "Dan terima kasih sudah bikin saya ingat kenapa saya jadi guru."
Aula berdiri. Bukan hanya tepuk tangan—seluruh angkatan berdiri, kursi-kursi berderit, suara menggemuruh sampai ke langit-langit aula.
Dari balik tirai, Dimas tertawa kecil—tawa yang berair. "Galih," bisiknya. "Tiga tahun lalu dia mau nge-skors kita. Sekarang dia bilang makasih."
"Iya," kataku. Suaraku tidak setegas yang kuinginkan. "Lingkaran yang lucu, ya."
"Lingkaran yang lucu," Dimas mengulang. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, cepat, seakan malu. "Eh, jangan ada yang cerita aku nangis. Aku raja. Raja nggak nangis."
"Rajanya udah belekan dari tadi," kata Reza datar.
"Diem, tukang makan."
Dan kami tertawa, empat orang di balik tirai, sementara di luar sana seluruh sekolah masih berdiri untuk angkatan yang dulu hampir diskors—dan kini dipuji oleh orang yang dulu mengancamnya.