Setelah pertunjukan, acara perpisahan beralih ke ramah tamah di halaman aula. Meja-meja panjang dipenuhi makanan, gelas-gelas berisi sirup dibagikan, dan seluruh angkatan berbaur — tidak lagi terbagi dalam kelas, geng, atau kubu. Hanya anak-anak yang sebentar lagi akan berpisah, menikmati malam terakhir bersama.
Pojok belakang, tentu saja, sudah menguasai satu meja. Reza menumpuk piringnya setinggi mungkin. Bayu masih sedikit putih bekas kapur. Dimas bercerita berlebihan ke sekumpulan adik kelas tentang "bagaimana lantai biru itu sebenarnya rencana militer tingkat tinggi". Aku duduk di pinggir, mengamati semuanya seperti biasa, penonton yang sudah membeli tiket dan tidak ingin pertunjukannya selesai.
Lalu Arman datang. Bukan dengan langkah kaku ketua kelas. Dengan langkah biasa, santai, membawa gelas sirup di tangan. Ia berhenti di depan meja pojok belakang.
"Boleh gabung?" tanyanya.
"Sejak kapan kamu nanya?" sahut Dimas. "Duduk aja. Kamu kan udah jadi anggota nggak resmi sejak rapat di kantin."
Arman duduk. Sebentar, mereka semua hanya diam — yang langka, mengingat siapa saja yang ada di meja itu. Lalu Arman mengetuk gelasnya pelan dengan sendok, persis seperti yang dilakukan Dimas saat akan mengumumkan sesuatu.
"Tunggu," kata Bayu. "Itu gerakan Dimas. Kamu ketularan."
"Aku belajar dari yang terbaik," kata Arman, dan senyum kecil itu muncul lagi. Ia mengangkat gelasnya. "Aku mau ngomong sesuatu. Bentar aja. Soalnya kalau kelamaan suaraku gemetar lagi."
Mereka diam. Bahkan Reza meletakkan rotinya — pengorbanan terbesar yang bisa ia lakukan.
"Tiga tahun lalu," Arman memulai, "aku masuk kelas ini, dan aku mutusin satu hal: aku bakal jadi murid paling rapi, paling bener, paling bertanggung jawab. Aku pikir kalau aku sempurna, orang bakal hormatin aku. Dan kalian berempat..." ia menunjuk mereka satu per satu dengan gelasnya, "...kalian semuanya yang aku benci. Tukang ribut. Tukang onar. Yang nggak pernah serius. Yang bikin kelas kacau."
"Itu emang kita," kata Reza bangga.
"Diam dulu, biarin dia ngomong," desis Bayu.
Arman tertawa kecil, lalu melanjutkan, suaranya mulai berat. "Tapi tahun ini... tahun ini kalian ngajarin aku sesuatu yang nggak diajarin di pelajaran mana pun. Kalian ngerjain aku — iya. Itu nyebelin — iya. Tapi pas aku terluka, kalian nggak kabur. Kalian minta maaf. Kalian nemenin aku pas patah hati. Kalian maksa aku ketawa pas aku lupa cara ketawa." Ia berhenti, menelan sesuatu di tenggorokannya. "Tiga tahun aku punya kelas yang penuh orang. Tapi aku nggak punya satu pun teman. Sampai kalian — yang aku kira musuh — malah jadi orang pertama yang bener-bener peduli sama aku sebagai manusia, bukan sebagai ketua kelas."
Meja itu sunyi. Bahkan Dimas, yang selalu punya komentar, kali ini hanya menatap.
Arman mengangkat gelasnya lebih tinggi.
"Jadi malam ini, aku mau ngangkat gelas. Buat empat orang di bangku paling belakang." Suaranya gemetar, tapi ia tidak menahannya. "Yang dulu aku sebut musuh bebuyutan. Yang sekarang... yang sekarang adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya. Makasih udah nggak nyerah sama aku. Bahkan pas aku nyerah sama kalian."
Hening sejenak. Lalu Dimas berdiri, mengangkat gelasnya, matanya berkilau di bawah lampu halaman.
"Buat Pak Ketua," katanya, suaranya serak. "Yang tiga tahun kita ledek, dan ternyata, dari awal, cuma butuh seseorang yang mau duduk di sampingnya."
Reza berdiri. Bayu berdiri. Aku, paling akhir, berdiri juga. Empat gelas terangkat, bertemu dengan gelas Arman di tengah meja, berdenting pelan.
"Buat Pak Ketua," ulang keempatnya.
"Buat pojok belakang," balas Arman.
Gelas-gelas berdenting. Lima anak laki-laki yang tiga tahun lalu terbagi dalam garis musuh, sekarang berdiri di meja yang sama, mengangkat gelas yang sama, di malam terakhir mereka sebagai murid.
Aku menyesap sirupku, lalu memandangi mereka semua — Dimas yang masih saja jadi raja, Reza yang masih saja makan, Bayu yang masih saja sedikit putih, dan Arman yang akhirnya, akhirnya, ada di antara kami. Tiga tahun yang panjang. Ribut, kacau, penuh masalah. Dan kalau aku jujur pada diri sendiri seperti yang aku rasakan di hari pertama dulu, aku tidak ingin satu detik pun dari semua itu berbeda.
"Eh," kata Reza tiba-tiba, di tengah keharuan. "Habis ini ada acara lagi nggak? Soalnya aku masih lapar."
Dan meja itu meledak tawa — tawa yang sama, yang sudah tiga tahun mengisi pojok paling belakang, yang malam ini bergema sampai ke seluruh halaman aula, seakan tidak akan pernah benar-benar berhenti.