Aula penuh sesak malam itu. Lampu-lampu dipasang warna-warni, panggung dihias dengan spanduk bertuliskan nama angkatan, dan kursi-kursi terisi penuh: seluruh siswa kelas dua belas, para guru di barisan depan, Bu Sari di antara mereka, dan Pak Kepala Sekolah di kursi kehormatan.
Acara berjalan resmi seperti biasa. Sambutan kepala sekolah. Laporan ketua panitia. Pembagian penghargaan, di mana Arman maju sebagai lulusan terbaik, disambut tepuk tangan paling meriah malam itu. Lalu, seperti acara resmi pada umumnya, suasana mulai mengantuk. Beberapa anak menguap. Beberapa guru melirik jam.
Itulah momen yang ditunggu.
Tiba-tiba, lampu aula meredup. Penonton bingung, sedikit panik — apakah listrik padam? Lalu satu lampu sorot menyala di tengah panggung, dan di bawahnya berdiri Dimas, dengan mikrofon, dengan senyum yang dikenali seluruh sekolah sebagai pertanda kekacauan.
"Bapak, Ibu, teman-teman seperjuangan," katanya khidmat, "perkenankan kami — penghuni bangku paling belakang — mempersembahkan satu pertunjukan terakhir. Judulnya..." Ia menjeda dramatis. "'Sejarah Angkatan Ini, Versi yang Sebenarnya.'"
Dan pertunjukan dimulai.
Adegan pertama: lantai biru. Reza muncul dengan ember dan kain biru besar yang ia bentangkan di lantai panggung, lalu berakting panik persis seperti tiga tahun lalu, berteriak "KENAPA AIRNYA BIRU?!" dengan ekspresi berlebihan. Seluruh aula meledak tawa. Anak-anak IPS 4, yang dulu jadi korban, justru tertawa paling keras, menunjuk-nunjuk diri mereka sendiri, bangga jadi bagian dari legenda itu.
Adegan kedua: manusia tepung. Bayu muncul, ditaburi kapur tulis dari atas, berubah putih dari kepala sampai kaki, berkedip dua kali sampai hanya matanya yang terlihat. Aula bergemuruh. Fajar, dari kursi penonton, berdiri sambil tertawa, "ITU AKU YANG NABURIN TEPUNGNYA!"
Adegan ketiga: gencatan senjata. Dimas dan Fajar berjabat tangan di tengah panggung dengan gerakan slow-motion berlebihan, diiringi musik dramatis, sampai seluruh aula tertawa dan bertepuk tangan. Dua kelas yang dulu berperang, sekarang dipentaskan berdamai di depan semua orang.
Satu per satu kenangan dipentaskan. Briefing pameran yang kacau. Reza yang menumpahkan kotak lem. Bayu yang salah menyampaikan pesan. Mereka menertawakan diri sendiri, dengan sukarela, dan untuk pertama kalinya tawa seluruh aula bukan tawa yang menyakiti siapa pun. Tawa itu adalah tawa kebersamaan — tawa angkatan yang sebentar lagi berpisah, merayakan kekonyolan tiga tahun yang dijalani bersama.
Lalu musik berhenti. Lampu sorot berpindah. Dan suasana berubah.
Arman melangkah ke tengah panggung, memegang sebuah surat. Aula yang tadi penuh tawa, perlahan menjadi hening, karena semua merasakan pergeseran itu.
"Aula yang tadi penuh tawa," kata Arman, suaranya sudah mulai gemetar di kalimat pertama, persis seperti yang ia takutkan, persis seperti yang Dimas bilang tidak apa-apa, "izinkan saya bacakan satu surat. Dari seseorang yang nggak bisa hadir malam ini. Tapi yang ngajarin kami satu hal paling penting di tahun terakhir ini."
Ia membuka surat itu. Dan ia membacanya — surat Bu Tania, kata per kata, dengan suara yang gemetar tapi tidak ia tahan, persis seperti yang Dimas sarankan. Aula sunyi total. Bu Sari, di barisan depan, menempelkan tangan ke mulut. Beberapa anak perempuan mulai menangis. Bahkan Pak Kepala Sekolah, yang wajahnya jarang menunjukkan emosi, terlihat menunduk.
Dan ketika Arman sampai di baris terakhir — baris yang ditulis khusus untuknya — suaranya benar-benar pecah.
"...Dan buat Arman — kalau dia baca ini — sampaikan: dia akan jadi pemimpin yang baik, justru karena dia pernah berani jujur sama perasaannya sendiri."
Arman berhenti. Ia menurunkan surat itu. Matanya basah, tapi ia tersenyum — senyum yang tiga tahun lalu mustahil terlihat di wajah ketua kelas yang kaku itu. Ia mengangkat kepalanya, menatap ke barisan belakang aula, ke arah empat anak yang berdiri di pinggir panggung.
"Terima kasih, Bu Tania," katanya pelan ke mikrofon. "Aku berhasil jujur. Dan itu... itu karena empat orang di pojok belakang yang nggak pernah nyerah maksa aku buat ngerasain sesuatu."
Tepuk tangan menggemuruh. Berdiri. Seluruh aula berdiri. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, pojok belakang IPS 3 tidak ditertawakan, tidak dimarahi, tidak dipermalukan. Mereka diberi tepuk tangan berdiri oleh seluruh angkatan.
Aku, di pinggir panggung, merasakan sesuatu yang aneh menggenang di mataku. Aku yang biasanya paling tenang. Aku yang dulu memasang syarat "jangan sampai ada yang sakit hati". Malam ini, tidak ada satu pun yang sakit hati. Malam ini, semua orang di ruangan ini bahagia.
"Kita berhasil," bisik Dimas di sampingku, suaranya serak.
"Iya," jawabku. "Kita berhasil."