Pagi hari acara perpisahan, sebuah amplop datang ke ruang tata usaha. Pengirimnya dari kota lain. Penerimanya: "Kelas XII-IPS 3, untuk dibacakan saat acara perpisahan."
Bu Sari yang menemukannya. Dan begitu membaca nama pengirim di sudut amplop, senyumnya melebar.
"Anak-anak," katanya saat menemui pojok belakang di koridor, "ada surat. Dari Bu Tania."
Kami berempat membeku. Nama itu — Bu Tania — sudah lama tidak terdengar di kelas. Sejak ia menyelesaikan masa magangnya dan menerima tawaran mengajar tetap di kota lain, ia pergi. Kami sempat mengantarnya di hari terakhir, sempat menulis surat maaf yang tulus, dan ia memaafkan semuanya. Tapi kepergian tetap kepergian. Dan kami mengira benang itu sudah selesai.
Ternyata belum.
"Bu Tania... nulis surat?" tanya Bayu, suaranya pelan.
"Buat acara malam ini," kata Bu Sari, menyerahkan amplop itu ke tangan Dimas. "Beliau nggak bisa datang. Jauh, dan beliau lagi ngajar. Tapi beliau titip ini. Katanya mau dibacakan."
Dimas memegang amplop itu seperti memegang sesuatu yang rapuh. Di markas siang itu, sebelum acara, kami membukanya berdua-dua. Tulisan tangan Bu Tania, rapi dan hangat, persis seperti ia mengajar dulu.
Aku yang membacakan, suaraku pelan agar tidak gemetar.
"Untuk angkatan terakhir yang aku ajar — dan terutama untuk empat anak di pojok belakang IPS 3 yang nggak akan pernah aku lupa.
Aku tahu malam ini kalian lulus. Maaf aku nggak bisa datang. Tapi aku mau kalian tahu sesuatu.
Waktu pertama kali aku tahu kalian 'ngerencanain' aku dan Arman, aku marah. Aku merasa dijadikan permainan. Aku sempat berpikir, mungkin aku nggak cocok jadi guru kalau murid pertamaku aja udah ngerjain aku begini.
Tapi lalu kalian datang. Minta maaf — beneran minta maaf, bukan biar lega sendiri. Kalian bantuin pameran sampai tuntas. Kalian jagain Arman pas dia patah hati, bukan dengan ngeledek, tapi dengan nemenin. Dan aku sadar satu hal yang waktu itu aku tulis di pesan terakhir buat kalian, dan aku mau ulang lagi malam ini:
Kalian bukan tukang ribut. Kalian anak-anak yang paling peduli — cuma sering salah caranya.
Tiga tahun lagi, sepuluh tahun lagi, mungkin kalian lupa namaku. Nggak apa-apa. Tapi tolong jangan lupa satu hal: bahwa peduli sama orang itu nggak pernah sia-sia, asal caranya benar. Kalian udah belajar itu dengan cara yang paling susah. Aku bangga.
Selamat lulus, anak-anak pojok belakang. Dan buat Arman — kalau dia baca ini — sampaikan: dia akan jadi pemimpin yang baik, justru karena dia pernah berani jujur sama perasaannya sendiri. Itu hal paling sulit, dan dia berhasil.
Salam sayang dari kota yang jauh,
Bu Tania."
Aku melipat surat itu pelan. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Reza menatap lantai. Bayu — yang sudah dua kali "kemasukan kapur" minggu ini — kali ini tidak repot mencari alasan. Ia menangis terang-terangan.
"Beliau masih inget kita," kata Reza pelan.
"Tentu aja masih inget," kata Dimas, suaranya berat. "Kita susah dilupain. Kita bikin lantai kelas sebelah biru."
Mereka tertawa kecil, tawa yang basah, tawa yang justru lebih hangat karena ada air mata di dalamnya.
"Kita bacain malam ini," kata Dimas akhirnya. "Di depan semua orang. Surat ini." Ia menatap teman-temannya. "Tapi yang baca... Arman. Dia yang harus baca."
Aku mengangkat alis. "Kenapa Arman?"
"Karena surat ini bukan cuma buat kita." Dimas tersenyum, sedih dan tulus sekaligus. "Ada satu baris di situ yang ditulis khusus buat dia. Dan dia berhak dengerin sendiri, dari mulutnya sendiri, kalimat dari orang yang dulu dia cintai diam-diam. Itu... itu caranya benang ini ditutup dengan benar."
Aku menatap Dimas lama. Anak yang tiga tahun lalu memulai semua kekacauan ini demi sebungkus roti cokelat, sekarang merancang penutup yang paling lembut dan paling dewasa yang bisa dibayangkan.
"Kamu udah berubah," kataku pelan.
Dimas mengangkat bahu. "Nggak. Aku cuma akhirnya dengerin syarat yang kamu pasang tiga tahun lalu. 'Jangan sampai ada yang sakit hati.' Aku telat. Tapi nggak terlalu telat."