Sehari sebelum perpisahan, aliansi punya satu misi terakhir yang bahkan tidak masuk dalam rencana pertunjukan. Misi paling rahasia. Misi yang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, mereka simpan rapat-rapat bukan karena takut ketahuan guru, tapi justru untuk seorang guru.
"Bu Sari," kata Dimas di markas, suaranya pelan, seakan namanya saja sudah cukup membuat semua diam. "Tiga tahun. Tiga tahun beliau jadi wali kelas kita. Tiga tahun nggak pernah benar-benar marah, meskipun kita pantas dimarahi tiap minggu."
"Beliau pernah ngancam kita bersihin toilet seminggu," kata Reza.
"Tapi nggak pernah jadi, kan?"
"...Nggak pernah jadi," aku Reza.
"Itu maksudku." Dimas menatap mereka. "Tiap kali kita berantakan, beliau yang nutupin. Tiap kali kita hampir kena skors, beliau yang bela kita di ruang guru. Kita nggak pernah tahu, tapi Galih pernah denger."
Semua menoleh ke arahku. Aku mengangguk pelan. "Waktu kasus pameran disabotase, aku kebetulan lewat ruang guru. Pak Kepala mau ngehukum kita berempat — dikira kita yang ngerusak maket. Bu Sari yang berdiri, ngebela. Bilang, 'Anak-anak itu nakal, Pak, tapi mereka nggak akan pernah ngerusak sesuatu yang mereka kerjain sendiri. Saya kenal mereka tiga tahun.'" Aku diam sejenak. "Aku nggak pernah cerita ke kalian. Tapi kalau bukan beliau, kita mungkin udah kena skors waktu itu."
Hening. Bahkan Dimas, yang selalu punya kata-kata, diam.
"Jadi," kata Dimas akhirnya, "besok, di tengah semua kemeriahan perpisahan, semua orang bakal mikirin masa depan, bakal foto-foto, bakal nangis-nangisan. Dan di tengah itu semua, gampang banget buat lupa sama satu orang yang justru paling pantas dapet terima kasih." Ia menatap teman-temannya. "Aku nggak mau kita lupa Bu Sari."
Maka rencananya disusun. Bukan pertunjukan besar. Justru sebaliknya — sesuatu yang kecil, pribadi, hanya untuk beliau.
Mereka patungan, membeli sebuah pigura sederhana. Ke dalamnya, aku — yang selama menata arsip foto pameran dulu menyimpan satu foto — memasukkan foto kelas sepuluh: empat anak pojok belakang yang masih cengengesan, masih kecil, masih belum tahu betapa banyak masalah yang akan mereka buat. Di pinggir foto, ada Bu Sari muda, berdiri dengan senyum yang sama yang ia pakai sampai hari ini.
Di bawah foto, mereka menulis sesuatu. Bukan kalimat puitis. Mereka bukan anak puitis. Hanya kalimat sederhana yang ditulis bergantian, masing-masing satu baris, dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.
Dimas menulis: "Maaf udah bikin Ibu pusing tiga tahun."
Reza menulis: "Makasih udah nggak pernah nyuruh kami bersihin toilet beneran."
Bayu menulis: "Maaf aku sering jadi yang ketangkep duluan. Itu bukan salah saya, itu strategi Dimas."
Dan aku, yang biasanya paling sedikit bicara, menulis paling panjang: "Bu, Ibu satu-satunya orang dewasa yang nggak pernah nyerah sama kami. Bahkan pas kami nyerah sama diri sendiri. Kami nggak akan lupa."
Mereka memandangi pigura itu lama. Empat anak yang biasanya tidak pernah serius, sekarang serius semua.
"Kita kasih kapan?" tanya Bayu.
"Besok," kata Dimas. "Pas semua orang udah pulang dari acara. Pas aula udah sepi. Kita kasih ke beliau, berdua-dua aja sama kita. Nggak di panggung. Nggak ada penonton. Cuma kita sama Bu Sari."
"Kenapa nggak di panggung aja?" tanya Reza. "Biar semua orang tahu beliau hebat."
Dimas menggeleng. "Karena Bu Sari nggak butuh semua orang tahu. Beliau nggak pernah minta panggung. Selama tiga tahun beliau ngerjain semuanya diam-diam, di belakang." Ia tersenyum kecil. "Jadi terima kasih kita juga harus diam-diam. Dari pojok belakang, buat orang yang selalu jagain pojok belakang."
Aku menatap Dimas, dan untuk kesekian kalinya dalam tiga tahun, aku ingat persis kenapa aku rela ditarik ke dalam seribu masalah oleh anak ini. Karena di balik semua kekonyolan, Dimas selalu — selalu — tahu hal mana yang benar-benar penting.
"Setuju," kataku.
Empat tangan bertumpuk di tengah meja, di atas pigura yang dibungkus rapi. Bukan untuk memulai operasi. Bukan untuk merancang kekacauan. Tapi, mungkin untuk pertama kalinya, untuk sebuah janji yang tulus dari awal sampai akhir.