Dua hari sebelum acara, mereka mencuri waktu untuk gladi resik — diam-diam, malam hari, di aula yang dipinjam dengan alasan "membantu panitia perpisahan menata kursi". Alasan itu, anehnya, separuh benar. Mereka memang menata kursi. Mereka juga menggunakan kursi itu untuk berlatih.
Dan gladi resik itu, seperti semua hal yang melibatkan pojok belakang, berantakan total.
Dimulai dari Reza, yang seharusnya masuk dari sisi kiri panggung sambil membawa ember biru properti, tapi tersandung kabel mikrofon dan jatuh dengan ember melayang. Untungnya ember itu kosong. Sayangnya, ember itu mendarat tepat di kepala Doni yang sedang menunggu giliran.
"Aduh!" seru Doni, ember menutupi kepalanya seperti helm.
"MAAF!" Reza panik. "Aku gugup!"
"Kamu selalu gugup," kata Bayu. "Tiga tahun gugup terus."
"Itu bagian dari karakterku."
Lalu Bayu sendiri, yang harus berperan jadi "manusia tepung", menebar kapur tulis terlalu antusias hingga seluruh panggung berdebu putih dan semua orang bersin bersamaan. Latihan terhenti lima menit hanya karena enam anak laki-laki tidak bisa berhenti bersin.
"Ini... (bersin) ...kenapa kita... (bersin) ...kayak gini terus," kata Fajar di sela bersinnya.
"Karena kita emang gini dari dulu," jawabku, hidung tersumbat. "Kamu yang baru sadar."
Bagian yang paling kacau adalah ketika Arman harus membaca surat terima kasih untuk para guru. Itu bagian paling penting, paling serius, dan paling menyentuh dari seluruh pertunjukan. Aku sengaja menaruh Arman di sana karena lulusan terbaik membaca surat itu akan terasa paling bermakna.
Masalahnya, Arman tidak bisa membaca surat itu tanpa suaranya gemetar.
"Kepada Bapak dan Ibu guru," ia mulai, lalu berhenti. Mulai lagi. "Kepada Bapak dan Ibu guru, yang selama tiga tahun..." Berhenti lagi. Rahangnya mengeras. "Aku nggak bisa. Ada yang nyangkut di tenggorokan."
"Itu namanya perasaan," kata Dimas pelan dari kursi penonton. "Nggak apa-apa nyangkut."
"Tapi aku ketua kelas. Aku harus bisa baca tanpa—"
"Arman." Dimas berdiri, naik ke panggung, berdiri di sampingnya. "Tiga tahun kamu mati-matian jadi sempurna. Malam ini nggak usah. Kalau suaramu gemetar, biarin gemetar. Justru itu yang bikin orang percaya kamu jujur."
Arman menatapnya. Anak yang tiga tahun ia anggap musuh, sekarang berdiri di sampingnya di atas panggung, memberi nasihat yang justru paling masuk akal yang pernah ia dengar.
"Kenapa kamu jadi bijak," kata Arman, setengah curiga.
"Aku selalu bijak. Cuma kamu baru sekarang mau dengerin."
Mereka mengulang surat itu sekali lagi. Kali ini Arman membiarkan suaranya gemetar, dan anehnya, justru terdengar lebih kuat. Saat ia sampai di baris terakhir — "...dan kepada wali kelas kami, Bu Sari, yang nggak pernah menyerah sama empat anak pojok belakang yang nggak ada habisnya bikin masalah" — Bayu, di pinggir panggung, diam-diam menyeka matanya.
"Kamu nangis?" tanya Reza.
"Nggak. Kapurnya masuk mata."
"Kapurnya udah dari tadi."
"Ya udah, iya, aku nangis. Puas?"
Gladi itu berakhir lewat tengah malam. Kursi-kursi sudah tertata rapi untuk besok lusa. Properti disembunyikan di balik panggung, ditutupi kain. Enam — sembilan — anak duduk berderet di tepi panggung, kaki menjuntai, lelah, berdebu, tapi tidak satu pun ingin pulang.
"Berantakan banget tadi," kata Doni, masih dengan bekas ember di kepalanya.
"Iya," kataku.
"Besok lusa juga pasti berantakan."
"Pasti."
Aku memandangi aula yang gelap, panggung yang besok akan jadi saksi terakhir kami. Tiga tahun bikin onar, dan gladi resik kami tetap saja kacau seperti hari pertama. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin gladi itu mulus. Aku ingin tetap berantakan. Karena berantakan adalah bahasa kami. Karena berantakan adalah hal yang, bertahun-tahun dari sekarang, akan paling kami rindukan.
"Eh," kata Dimas pelan, memecah keheningan. "Kalau besok lusa ini selesai... kita bener-bener tamat, ya."
Tidak ada yang menjawab. Tapi tidak ada juga yang membantah.