Rencanaku, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak melibatkan satu pun kebohongan, lem, atau pewarna makanan.
Idenya sederhana dan, kata Bayu, "berbahaya karena terlalu tulus". Di tengah acara perpisahan, setelah pidato resmi selesai dan suasana mulai mengantuk seperti acara resmi pada umumnya, seluruh aliansi — ditambah belasan anak lain yang mereka rekrut diam-diam dari kedua kelas — akan tampil mendadak. Bukan menari aneh. Bukan menyiram siapa-siapa. Tapi sebuah pertunjukan kenangan: rangkaian adegan kecil yang mementaskan ulang momen-momen paling konyol dan paling berharga selama tiga tahun angkatan ini.
"Jadi," aku menjelaskan di markas, kertas rencana terbentang, "kita pentasin ulang lantai biru. Pakai kain biru, bukan air beneran. Reza yang meranin dirinya sendiri yang panik."
"Aku jago meranin diriku sendiri," kata Reza bangga.
"Kamu satu-satunya yang bisa," sahut Bayu.
"Terus," lanjutku, "kita pentasin tepung terigu — pakai kapur tulis ditebar, biar nggak kotor beneran. Bayu yang jadi manusia tepung lagi."
Wajah Bayu berubah. "Kenapa harus aku LAGI?"
"Karena itu kamu, Bayu. Itu sejarah. Itu legenda."
"Legenda penderitaan."
"Legenda tetap legenda."
Adegan demi adegan disusun. Gencatan senjata di koridor — Dimas dan Fajar berjabat tangan, diulang dengan gaya berlebihan sampai seluruh aula nanti pasti tertawa. Briefing pameran yang berantakan. Dan di puncaknya — ini bagian yang membuat semua orang terdiam saat aku mengusulkannya — sebuah surat terbuka untuk para guru, dibacakan di depan seluruh aula. Bukan lelucon. Ucapan terima kasih yang sungguh-sungguh.
"Kita ketawain diri kita sendiri," kataku menutup penjelasan. "Bukan orang lain. Untuk pertama kalinya, kita yang jadi bahan tawa, dengan sukarela. Dan di ujungnya, kita bilang terima kasih ke orang-orang yang udah sabar sama kita selama tiga tahun."
Hening sebentar. Lalu Dimas, yang biasanya paling cepat berkomentar, hanya menatap kertas itu.
"Galih," katanya pelan, "ini ide paling bagus yang pernah keluar dari pojok belakang."
"Lebih bagus dari lantai biru?" tanya Reza.
"Jauh lebih bagus dari lantai biru."
Latihan dimulai diam-diam selepas jam sekolah, di aula yang kosong, ketika para guru sudah pulang. Mereka harus pelan-pelan karena ada satu masalah besar: aula adalah tempat acara perpisahan, dan kalau ketahuan, kejutannya bubar. Jadi setiap latihan dijaga ketat. Bayu, yang sudah pensiun jadi mata-mata, kembali bertugas — kali ini menjaga pintu, memastikan tidak ada guru yang lewat.
"Aku kira aku udah lepas dari peran ini," keluh Bayu di pintu.
"Mata-mata sejati nggak pernah pensiun," kata Dimas dari panggung.
"Mata-mata sejati dibayar. Aku cuma dibayar pakai roti sisa Reza."
"Itu roti enak," protes Reza.
Latihan pertama, seperti yang sudah bisa ditebak, kacau balau. Reza lupa urutannya. Bayu terpeleset kain biru yang dipasang di lantai. Doni tertawa di tengah adegan serius sampai semua ikut tertawa. Dan Arman — Arman yang baru pertama kali dalam hidupnya naik panggung untuk hal yang tidak resmi — berdiri sekaku tiang listrik, lupa harus melakukan apa.
"Arman," kata Dimas, "kamu cuma perlu jalan ke tengah, terus jabat tangan Fajar. Itu doang."
"Aku tahu. Tapi kakiku kaku."
"Bayangin aja kamu lagi negur kita."
Arman menarik napas, lalu berjalan ke tengah dengan ekspresi galak yang biasa ia pakai untuk menegur pojok belakang. Seketika seluruh aliansi meledak tawa.
"ITU. Itu dia," seru Dimas. "Wajah itu. Pertahankan."
"Aku nggak ngapa-ngapain."
"Justru itu lucunya."
Di tengah kekacauan latihan itu, aku berdiri di belakang aula, mengamati. Tiga tahun lalu kami berempat di pojok kelas. Sekarang panggung itu penuh — anak IPS 3, anak IPS 4, ketua kelas yang dulu jadi musuh, pesaing yang dulu jadi penyabot. Semua tertawa pada hal yang sama. Aku mengeluarkan kertas rencanaku, mencoret satu baris di paling bawah yang tadi aku ragu menuliskannya.
Baris itu berbunyi: "Pastikan nggak ada yang sakit hati."
Aku mencoretnya. Karena untuk pertama kalinya, aku tahu pasti tidak akan ada.