Sepulang sekolah, aliansi berkumpul lagi di markas lama — meja paling pojok kantin. Delapan anak: Dimas, Reza, Bayu, aku dari IPS 3; Fajar, Doni, dan dua anak IPS 4 yang sejak lama bergabung, Bagas dan Hendra. Tapi kali ini ada yang baru. Di ujung meja, untuk pertama kalinya, duduk Arman.
"Aku masih nggak percaya aku di sini," kata Arman, memandangi meja kantin yang lengket dengan sisa kuah bakso. "Tiga tahun aku negur kalian biar nggak ngumpul di kantin pas jam pelajaran."
"Dan tiga tahun kami nggak dengerin," balas Fajar santai. "Sekarang kamu yang ikut. Lingkaran kehidupan, Pak Ketua."
Dimas mengetuk meja dengan sendok, minta perhatian. Ia berdiri, dan semua tahu dari ekspresinya: ide buruk — atau, mungkin untuk pertama kalinya, ide baik — sedang lahir.
"Saudara-saudara sekerajaan," katanya khidmat. "Inget nggak, tiga tahun ini kita janjiin satu hal. Satu kekacauan besar yang nggak akan dilupakan seangkatan."
"Inget," sahut Fajar. "Kamu yang janjiin pas kita gencatan senjata. Di koridor. Habis dimarahin Pak Kepala."
"Betul. Dan kita belum nepatin."
Aku, yang sudah hafal arah pembicaraan ini, langsung mengangkat tangan. Refleks tiga tahun. "Sebelum kamu lanjut — tidak. Apa pun itu, tidak. Kita udah belajar. Kita udah ditebus dari semua kekacauan. Aku nggak mau di hari-hari terakhir kita malah—"
"Galih." Dimas menatapku. "Dengerin dulu. Sumpah, ini beda."
"Tiap kali kamu bilang 'ini beda', tiga hari kemudian ada yang nangis."
"Nggak. Yang ini... yang ini malah bikin semua orang nangis. Tapi nangis bahagia."
Hening sebentar. Bahkan aku diam.
Dimas duduk kembali, dan nada suaranya berubah. Bukan nada sutradara yang biasa merancang prank. Nada yang lebih lembut, yang jarang ia tunjukkan kecuali di momen-momen tertentu selama tiga tahun ini.
"Dengerin," katanya. "Selama ini, tiap kali kita bikin kekacauan, korbannya orang. Lantai biru — korbannya IPS 4. Prank — korbannya Arman. Kebohongan — korbannya Bu Tania. Tiap kekacauan kita, ada yang sakit." Ia menatap satu per satu. "Aku capek jadi yang bikin orang sakit. Aku mau, sekali aja sebelum kita lulus, bikin kekacauan yang bikin semua orang... happy."
Reza berhenti mengunyah. Bayu menegakkan punggung. Arman, yang selama tiga tahun jadi sasaran "kekacauan" mereka, justru yang paling memperhatikan.
"Kekacauan kayak apa?" tanya Doni.
Dimas tersenyum. "Acara perpisahan minggu depan. Di aula. Seluruh angkatan, semua guru, Bu Sari, Pak Kepala — semua ngumpul. Bayangin." Ia membuka tangannya lebar, persis seperti hari pertama kelas sepuluh dulu. "Di tengah acara resmi yang kaku itu, tiba-tiba kita bikin sesuatu. Bukan prank. Bukan ngerjain siapa-siapa. Tapi satu pertunjukan kejutan. Buat semua orang. Buat ngucapin terima kasih, buat ketawa bareng terakhir kali, buat bikin angkatan ini nggak pernah lupa sama satu sama lain."
Hening panjang.
"Itu," kataku akhirnya, pelan, "sebenarnya... bukan ide buruk."
"Kamu serius?" Dimas hampir tidak percaya. "Kamu setuju? Tanpa syarat?"
"Aku ada syarat." Aku menatapnya. "Tapi cuma satu. Kali ini, nggak ada yang dirahasiakan dari korban — karena nggak ada korban. Semua yang terlibat tahu. Semua yang nonton, kita bikin senang. Nggak ada yang jadi bahan tertawaan tanpa dia ridho." Aku menarik napas. "Kalau gitu aturannya, aku ikut. Bahkan aku yang nyusun."
Dimas berdiri lagi, kali ini benar-benar berseri. "Galih. Tiga tahun aku nunggu kamu ngomong 'aku yang nyusun' tanpa harus dipaksa."
"Jangan kebiasaan."
Arman mengangkat tangan, ragu. Kebiasaan ketua kelas. "Boleh aku ikut? Maksudku — aku nggak pernah ikut yang beginian. Aku selalu yang negur. Tapi kali ini..." Ia berhenti, mencari kata. "Kali ini aku mau jadi bagiannya. Bukan yang ngelarang."
Meja itu hening sejenak. Lalu Fajar menepuk meja, tertawa. "Pak Ketua minta izin ikut bikin kekacauan. Tiga tahun yang lalu kalimat ini bakal bikin dunia kiamat."
"Diterima," kata Dimas, dan untuk sekali ini suaranya bukan main-main. "Malah, Arman, kamu yang harus ada di tengah. Kamu lulusan terbaik. Semua orang bakal nonton kamu pidato. Justru karena itu, kamu sempurna buat jadi pemicu kejutannya."
Aku sudah mengeluarkan pulpen dan secarik kertas — bukan buku catatan rahasia lagi, hanya kertas biasa yang siapa pun boleh baca. Aku menulis di paling atas, dan kali ini judulnya bukan operasi, bukan misi, bukan rencana licik.
KEKACAUAN TERAKHIR — UNTUK SEMUA ORANG.
"Oke," kataku, dan delapan — sembilan — kepala merunduk mendekat. "Kita punya waktu seminggu. Begini rencananya."