Pagi itu, mading depan ruang tata usaha jadi tempat paling ramai di sekolah. Hasil ujian akhir ditempel dalam tiga lembar kertas yang dilaminating rapi, dan di depannya, hampir seluruh angkatan berdesakan seperti antrean sembako.
Dimas mengintip dari belakang kerumunan, jinjit, gagal melihat apa-apa karena kepala-kepala di depannya. "Reza. Kamu paling tinggi badannya. Liatin namaku."
"Aku liat namamu dari tadi," sahut Reza, mulut penuh roti.
"Terus?"
"Ada."
"ADA gimana? Lulus nggak?"
"Lulus. Tenang. Nama kamu nomor tiga puluh sekian. Aman." Reza menelan rotinya. "Aku malah lebih bagus dari kamu."
Dimas menoleh, pura-pura tersinggung. "Mustahil. Kamu belajarnya sambil makan."
"Justru itu rahasianya. Otak butuh karbohidrat."
Bayu menyeruak di antara dua anak kelas IPA, mencari namanya sendiri dengan jari gemetar. Ketika menemukannya — lulus, dengan nilai yang jauh lebih baik dari yang ia takutkan — ia menarik napas panjang seakan baru saja keluar dari dalam air. "Aku lulus. Aku beneran lulus. Bu, Pak, aku lulus."
"Ke siapa kamu ngomong?" tanya Dimas.
"Nggak tahu. Pokoknya seseorang harus tahu."
Aku berdiri di belakang mereka, tenang seperti biasa, tidak ikut berdesakan. Aku tidak perlu. Sejak dulu aku sudah tahu kira-kira di mana posisiku, dan menyembunyikannya sudah jadi kebiasaan tiga tahun. Tapi pagi ini ada yang berbeda. Pagi ini, untuk pertama kalinya, aku tidak menyembunyikan apa-apa.
Lalu terdengar suara dari barisan paling depan, suara seseorang yang membaca daftar peringkat dengan keras.
"Lulusan terbaik angkatan ini... Arman. IPS 3."
Tepuk tangan pecah. Arman, yang berdiri di pinggir kerumunan dengan seragam serapi biasa, hanya mengangguk kaku, tapi telinganya memerah persis seperti tiga tahun lalu. Dimas langsung berteriak paling keras, melompat, mengacungkan tinju.
"PAK KETUA! ITU KETUA KELAS GUE!"
"Kamu nggak usah ngaku-ngaku," kata Bayu. "Tadi kamu yang paling sering ngeledek dia."
"Itu bentuk kasih sayang."
Di urutan kedua: Rendi. Anak yang dulu jadi musuh, pelapor perang, pelaku sabotase maket pameran. Yang sekarang berdiri tidak jauh dari Arman, dan — ini yang membuatku diam-diam tersenyum — yang justru lebih dulu mengulurkan tangan.
"Selamat," kata Rendi pada Arman. Suaranya datar, tapi tulus. "Kamu pantas."
Arman menjabat tangan itu. "Kamu juga. Selisih kita tipis."
"Tipis tapi tetap kalah," Rendi mengangkat bahu, lalu — yang mengejutkan semua orang — tersenyum kecil. "Tahun lalu aku bakal benci kalimat itu. Sekarang nggak. Aneh, ya."
"Nggak aneh," kata Arman. "Itu namanya tumbuh."
Aku mendengar percakapan itu dari kejauhan dan merasa busur yang panjang itu akhirnya menutup dengan rapi. Dari anak yang menyabotase pameran demi panggungnya sendiri, jadi anak yang bisa kalah dengan kepala tegak. Sekolah memang mengajarkan banyak hal, dan tidak satu pun ada di lembar ujian.
"Galih." Dimas menarik lenganku. "Kamu di mana? Aku nggak nemu namamu."
"Liat lebih atas," kataku pelan.
Dimas mengernyit, menyeruak lagi, kali ini sampai ke depan, jari menyusuri kertas dari bawah ke atas. Lalu jarinya berhenti. Lalu mulutnya terbuka. Lalu ia berbalik, wajahnya antara bangga dan tidak percaya.
"GALIH."
"Apa?"
"Kamu... kamu peringkat ketiga. KETIGA. Se-angkatan." Dimas menunjuk kertas itu seakan menemukan harta karun. "Tiga tahun kamu pura-pura bego biar nggak dimintai contekan, dan kamu nyaris ngalahin Arman?!"
Kerumunan menoleh. Beberapa anak yang selama ini menganggapku cuma "salah satu dari empat badut pojok belakang" memandangiku dengan ekspresi baru. Aku menggaruk tengkuk, tidak terbiasa diperhatikan.
"Aku belajar," kataku singkat.
"Kamu BERBOHONG selama tiga tahun!"
"Bukan bohong. Cuma... nggak ngomong."
Reza menepuk punggungku sampai aku hampir terjengkang. "Pojok belakang punya peringkat tiga! Siapa bilang kita badut!"
"Semua orang," sahut Bayu. "Semua orang bilang gitu."
"Ya sekarang mereka salah!"
Arman mendekat, menembus kerumunan, dan berhenti di depanku. Dua anak yang dulu bermusuhan, sekarang berdiri sejajar di papan peringkat yang sama — satu di puncak, satu nyaris menyusul.
"Kenapa kamu sembunyiin selama ini?" tanya Arman, dan kali ini bukan dengan nada menuduh, tapi benar-benar penasaran.
Aku memikirkan jawaban yang jujur. "Karena kalau ketahuan pintar, aku bakal ditarik ke mana-mana. Disuruh ikut lomba, ngajar, dimintai contekan. Aku cuma mau duduk di pojok sama teman-temanku." Aku diam sejenak. "Ternyata pojok belakang juga bisa kelihatan dari papan peringkat. Aku nggak nyangka."
Arman tersenyum — senyum tulus, yang dua tahun lalu mustahil ditujukan pada salah satu dari mereka. "Sayang. Kamu bisa nomor satu."
"Nomor satu udah ada orangnya," kataku, menunjuk Arman dengan daguku. "Dan dia pantas."
Bel masuk berbunyi, tapi tidak ada yang bergerak. Kami berdiri di depan mading itu sebentar lagi — Dimas, Reza, Bayu, aku, Arman, Rendi — enam anak yang tiga tahun lalu terbagi dalam kubu-kubu yang saling membenci. Sekarang nama-nama kami berderet di kertas yang sama.
"Eh," kata Dimas tiba-tiba, suaranya berubah. "Berarti ini... bener-bener mau selesai, ya. Ujian udah. Tinggal perpisahan."
Tidak ada yang langsung menjawab. Karena kalimat itu, untuk pertama kalinya, terdengar seperti kebenaran yang tidak kami inginkan.