Ada satu kursi di meja kantin yang dulu tak pernah kubayangkan akan terisi: kursi Rendi.
Dia datang siang itu sambil membawa map berisi berkas sisa pameran, ragu-ragu di tepi meja seperti tamu yang tak yakin diundang. Aku mengerti keraguan itu. Beberapa bulan lalu, Rendi adalah nama yang kami benci—pelapor diam-diam yang dulu mengirim foto perang antarkelas ke Kepala Sekolah, lalu menyabotase maket pameran demi melihat Arman gagal. Saingan Arman untuk gelar lulusan terbaik, yang memilih menjegal daripada bersaing jujur.
"Bu Tania nyuruh gue benerin arsip yang sempet rusak," kata Rendi, suaranya kaku. "Katanya minta tolong sama panitia."
"Duduk dulu," kata Dimas. Bukan perintah, tapi ajakan.
Rendi duduk di ujung, sejauh mungkin dari kami. Reza, tanpa banyak pikir, mendorong sebungkus roti ke arahnya. "Lo belum makan kan? Muka lo kucel."
Itu cara Reza. Dia tidak tahu bagaimana memaafkan dengan kata-kata, jadi dia memaafkan dengan makanan. Rendi menatap roti itu lama, lalu mengambilnya pelan.
Yang membuatku menghargai Rendi bukan permintaan maafnya—dia memang pernah minta maaf, kaku dan sebentar, waktu Bu Tania menengahinya dulu. Yang membuatku menghargainya adalah hal-hal kecil yang dia lakukan sesudahnya, tanpa diminta.
Sore itu, di aula yang sedang dibereskan, aku melihatnya. Arman sedang kesulitan mengangkat panel pameran yang berat sendirian. Rendi, yang kebetulan lewat, berhenti. Selama beberapa detik dia berdiri kaku, seperti dua orang yang masih saling waspada. Lalu, tanpa berkata apa-apa, Rendi memegang sisi lain panel itu dan mengangkatnya bersama Arman.
Mereka memindahkannya dalam diam. Tapi diam itu beda. Bukan diam permusuhan. Diam dua orang yang sama-sama tahu mereka pernah bersaing dengan cara yang salah.
"Makasih," kata Arman akhirnya, mengelap keringat.
"Gue yang harusnya bilang makasih," kata Rendi. Dia menatap lantai. "Lo bisa aja ngerusak gue waktu itu. Lapor balik. Bikin gue diskors. Tapi lo nggak."
Arman diam sebentar. "Dulu gue mungkin iya. Sekarang nggak. Ada yang ngajarin gue bedanya menang sama nyenengin diri sendiri."
Aku tahu siapa "yang ngajarin" itu. Kami semua. Lewat semua kesalahan yang kami buat dan tebus sepanjang tahun ini.
Rendi tertawa kecil, getir tapi tulus. "Gue iri sama lo, Man. Bukan soal nilai. Soal itu." Dia menunjuk ke arah meja kantin di kejauhan, tempat geng badut kami biasa ribut. "Lo punya orang-orang yang mau ribut bareng lo. Gue cuma punya target."
Kalimat itu menohok. Karena di situlah seluruh masalah Rendi—dan dulu, masalah Arman juga. Mereka berdua sama-sama anak teladan yang kesepian, sama-sama mengukur diri lewat peringkat, sama-sama lupa caranya punya teman. Bedanya, Arman ditarik keluar dari kesepian itu oleh empat badut di pojok kelas. Rendi tidak punya siapa-siapa yang menariknya.
Sampai sekarang.
"Lo tahu," kata Arman, dan aku bisa mendengar dari nadanya bahwa dia memutuskan sesuatu, "meja kantin pojok itu nggak ada syarat masuknya. Reza pasti nawarin lo roti. Bayu pasti jadi bahan ketawaan. Dimas pasti ngajak ribut. Itu udah cara mereka bilang lo diterima."
Rendi menelan ludah. "Beneran?"
"Coba aja. Tapi siap-siap. Mereka berisik."
Hari berikutnya, kursi ujung di meja kantin terisi tanpa keraguan. Rendi membawa berkas arsip dan, untuk pertama kalinya, ikut tertawa saat Bayu salah menyebut nama tokoh sejarah. Dimas langsung mengajaknya berdebat soal hal tak penting—dan itu, dalam bahasa Dimas, adalah pelukan paling hangat yang bisa dia tawarkan.
Aku mencatat dalam hati: lingkaran kami menutup. Anak yang dulu ingin menggagalkan kami sekarang duduk di antara kami. Bukan karena kami mengalahkannya, tapi karena tak satu pun dari kami memilih membalas.
"Kerajaan pojok belakang," kata Dimas malam itu lewat pesan ke grup, "resmi nambah rakyat. Rendi, jangan kabur. Lo udah kena."
Balasan Rendi cuma satu kata, tapi aku tahu artinya berat: "Makasih."
Antagonis terakhir kami bukan kalah. Dia bergabung. Dan entah kenapa, itu kemenangan yang jauh lebih besar daripada prank apa pun yang pernah kami menangkan.