Hari itu datang seperti yang sudah kami takutkan diam-diam selama berminggu-minggu: hari terakhir Bu Tania mengajar.
Masa magangnya berakhir. Surat dari kampus sudah turun, tanda tangan sudah lengkap, dan setelah hari ini ia akan berangkat ke kota lain untuk mengajar tetap—keputusan dewasa yang ia ambil dengan tenang, meski kami semua tahu betapa beratnya pergi dari angkatan yang sudah dianggapnya keluarga sendiri.
Kami tidak boleh menyetting apa pun. Itu sudah jadi hukum kami. Tapi tulus tidak berarti tanpa persiapan, dan kali ini, untuk pertama kalinya, kami menyiapkan sesuatu yang sepenuhnya jujur.
Pagi-pagi sekali, sebelum Bu Tania datang, seluruh kelas bekerja. Bukan cuma bangku belakang—seluruh kelas. Arman yang mengoordinasi, bukan dengan rencana licik, tapi dengan papan tulis dan daftar tugas. Bagi-bagi peran terang-terangan. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada buku catatan rahasia. Reza dan Hendra menempel foto-foto. Bayu, yang sekarang berani memimpin, mengatur barisan kursi. Doni dan Bagas membawa karton besar. Aku menulis sesuatu di papan.
Ketika Bu Tania masuk, dia berhenti di ambang pintu.
Papan tulis penuh tulisan tangan kami—bukan kaligrafi indah, tapi coretan acak puluhan anak: "MAKASIH BU", "SEJARAH JADI SERU GARA-GARA IBU", "HATI-HATI DI KOTA BARU", dan di pojok, tulisan tangan Reza yang jelek: "JANGAN LUPA MAKAN BU." Di dinding, foto-foto pameran sejarah—foto angkatan ini, sejarah kami sendiri, persis tema yang dulu ia ajarkan.
Bu Tania menutup mulutnya dengan tangan.
"Kalian..." Suaranya pecah.
"Ini bukan settingan, Bu," kata Dimas cepat, dan kali ini aku tahu dia harus mengucapkannya. Setelah semua yang terjadi, kata "settingan" punya luka tersendiri di antara kami. "Sumpah. Nggak ada rencana tersembunyi. Cuma... kami beneran nggak mau Ibu pergi tanpa tahu."
"Tahu apa?" tanya Bu Tania, matanya sudah basah.
Arman maju selangkah. Ketua kelas yang dulu salah tingkah setiap melihatnya, yang pernah jatuh cinta diam-diam dan patah hati dengan dewasa, sekarang berdiri tegak.
"Tahu kalau Ibu guru terbaik yang pernah ngajar angkatan ini," kata Arman. Suaranya mantap, tanpa gugup. "Dan tahu kalau kami minta maaf—beneran minta maaf—buat semua yang dulu. Kami pernah salah caranya. Tapi rasa sayang kami ke Ibu nggak pernah settingan."
Aku melihat Bu Tania menangis. Bukan tangis sedih. Tangis yang kalau kau pernah melihatnya, akan kau kenali: tangis orang yang merasa, akhirnya, dimengerti.
Lalu, satu per satu, kelas memberinya hadiah kecil. Bukan barang mahal. Sebuah buku sejarah bekas yang sudah kami isi tanda tangan dan pesan di setiap halamannya. Bayu menyerahkannya, tangannya gemetar, tapi dia tidak menjatuhkannya. Anak yang dulu jadi korban abadi, sekarang berdiri di depan kelas tanpa takut.
"Ini..." Bu Tania membuka buku itu, membaca beberapa halaman, dan tertawa di sela tangisnya. "Reza, tulisanmu masih nggak bisa dibaca."
"Itu tulisan paling rapi gue, Bu!" protes Reza, dan seisi kelas tertawa.
Tawa itu—tawa di tengah air mata—itulah kami. Itulah yang ingin kami tinggalkan untuk Bu Tania. Bukan kesedihan, tapi kenangan yang bisa membuatnya tersenyum bahkan di kota yang jauh.
Sebelum bel terakhir, Bu Tania berdiri di depan kelas dan menatap kami satu per satu. Lalu pandangannya jatuh ke bangku pojok belakang dekat jendela. Bangku kami.
"Aku tahu," katanya pelan, "dulu kalian bikin masalah karena aku. Aku sempat marah. Sempat kecewa berat." Dia berhenti. "Tapi sekarang aku ngerti. Kalian bukan anak nakal yang nyari ribut. Kalian anak-anak yang takut kehilangan, dan kadang salah caranya nunjukkin sayang."
Tak ada yang berani bicara. Bahkan Dimas diam.
"Aku maafin semuanya," kata Bu Tania. "Udah lama, sebenernya. Hari ini cuma biar kalian dengar langsung."
Bel berbunyi. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku berharap bel sekolah tidak pernah ada.
Bu Tania mengangkat tasnya, melambai, dan berjalan keluar pintu. Dia tidak menoleh—mungkin karena kalau menoleh, dia tak akan sanggup pergi. Langkahnya menjauh di koridor yang dulu jadi saksi titik terendah kami, dan kali ini koridor itu penuh suara, penuh perpisahan yang jujur, bukan kesunyian beku seperti dulu.
Di bangku pojok belakang, aku menatap jendela ke arah ruang guru—jendela yang dulu jadi tempat Arman diam-diam memandang Bu Tania. Sekarang ruang guru itu akan kehilangan satu wajah. Dan kelas kami akan kehilangan guru yang mengubah kami tanpa pernah tahu seberapa dalam.
"Selamat tinggal, Bu," bisikku, meski dia sudah tak bisa mendengar.