Sebelum ujian datang menelan semua waktu, ada satu urusan kecil yang harus diselesaikan Doni sendirian—dan itu yang justru paling kami banggakan.
Semua bermula di perpustakaan. Aku sedang mengembalikan buku sejarah pinjaman terakhir dari Bu Tania ketika kulihat Doni berdiri di antara rak, memegang buku yang jelas tidak akan dia baca—buku resep masakan—sambil mencuri pandang ke meja peminjaman. Di meja itu duduk seorang anak perempuan kelas sebelah, penjaga perpustakaan sukarela, yang sudah lama jadi rahasia kecil Doni sejak dulu.
"Mau minjem buku resep, Don?" tanyaku pura-pura polos. "Lo mau jadi chef?"
Doni hampir menjatuhkan buku itu. "Galih! Ngagetin aja."
"Dari tadi lo bolak-balik rak yang sama. Tiga kali."
Wajahnya merah, persis Arman dulu. Ironis sekali. Tiga tahun lalu kami menertawakan ketua kelas yang salah tingkah; sekarang aku berdiri menahan tawa melihat anak IPS 4 yang sama-sama tak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Gue cuma..." Doni menarik napas. "Gue cuma mau ngomong sama dia. Sebelum lulus. Sekali aja."
Aku menutup mulutku. Karena aku ingat sumpah aliansi waktu itu—setelah semua yang terjadi dengan Arman dan Bu Tania, kami bersumpah tidak akan pernah lagi mengatur, menjodohkan, atau menyetting perasaan siapa pun. Cinta tak bisa direkayasa. Itu pelajaran paling mahal yang pernah kami beli.
"Lo mau gue bantu?" tanyaku. Lalu cepat-cepat menambahkan, "Bukan disetting. Maksudnya... lo mau gue temenin?"
Doni menggeleng pelan. Dan justru gelengannya itu yang membuatku bangga. "Nggak, Lih. Kalau lo bantu, nanti rasanya kayak proyek lagi. Kayak dulu. Gue mau ini beneran gue."
Aku mundur selangkah. "Oke. Gue di sini aja. Ngembaliin buku. Nggak liatin lo."
Tapi tentu saja aku melihatnya, dari sudut mata.
Doni meletakkan buku resep di rak dengan tangan gemetar. Dia berjalan ke meja peminjaman, langkahnya kaku seperti robot rusak. Aku bisa melihat punggungnya menegang. Anak perempuan itu mendongak, tersenyum sopan, menunggu.
"H-halo," kata Doni. Suaranya pecah di tengah. Aku meringis ngeri di balik rak.
Lalu sesuatu terjadi. Doni menarik napas dalam-dalam—aku bisa melihat bahunya naik—dan ketika dia bicara lagi, suaranya lebih mantap.
"Aku Doni. IPS 4. Aku... aku sering ke sini bukan karena suka baca. Aku payah baca. Aku ke sini karena pengin ketemu kamu. Dari kelas sebelas. Aku nggak bisa diem aja sampai lulus tanpa ngomong ini."
Hening. Aku menahan napas.
Anak perempuan itu mengerjap, lalu pipinya ikut memerah. "Aku tahu," katanya pelan. "Kamu selalu minjem buku yang aneh-aneh. Minggu lalu buku panduan beternak lele."
Doni mengerang malu. "Astaga."
Mereka berdua tertawa. Tawa kikuk dua orang yang tidak tahu harus bagaimana, tapi tulus. Aku menyelinap keluar perpustakaan sebelum ketahuan, dengan dada yang anehnya menghangat.
Di kantin, aku menceritakan semuanya pada yang lain. Bukan untuk menggosip—Doni mengizinkan, malah dia yang lebih dulu cerita sambil cengar-cengir bodoh.
"Jadi lo nembak dia?" Reza melongo.
"Nggak nembak," kata Doni. "Cuma jujur. Gue belum tahu jadinya gimana. Tapi setidaknya gue udah ngomong. Gue nggak mau nyesel kayak..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi kami semua tahu. Kayak banyak hal yang dulu kami atur untuk orang lain, padahal seharusnya orang itu yang memutuskan sendiri.
Dimas menepuk punggung Doni keras-keras. "Itu baru anak aliansi. Berani sendiri, nggak nunggu disuruh."
"Yang penting," kata Bayu, yang belakangan ini jadi lebih berani bicara, "lo nggak nyuruh kita bikin rencana ribet. Lo cukup jadi diri lo sendiri."
Fajar, yang dari tadi diam, akhirnya nyengir. "Sumpah, gue nggak nyangka anak buah gue lebih dewasa dari gue."
Aku melihat Doni yang masih tersipu di pojok meja, dan aku sadar sesuatu. Dulu kami pikir hadiah terbaik untuk teman adalah merencanakan kebahagiaannya. Sekarang aku tahu hadiah terbaik justru sebaliknya: membiarkan dia berani sendiri, lalu berdiri di belakangnya kalau dia jatuh.
Doni tidak jatuh hari itu. Dia berdiri lebih tegak dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aliansi pojok belakang menyaksikan sebuah perasaan tumbuh tanpa kami obok-obok—seperti seharusnya sejak awal.