Aku tidak ingat kapan tepatnya meja pojok kantin itu jadi terlalu sempit untuk delapan orang. Yang aku ingat cuma siang ini, saat aku datang membawa nasi bungkus, kursinya sudah penuh dan masih ada yang berdiri sambil ngunyah gorengan. Dimas di ujung, Reza dua kursi makan, Bayu menyumpit-nyumpit punya orang, lalu Fajar, Doni, dan dua anak IPS 4 yang akhirnya kami hafal namanya tahun ini—Bagas yang pendiam dan Hendra yang ketawanya keras.
"Galih, lo telat," kata Fajar tanpa menoleh. "Otak aliansi nggak boleh telat."
"Otak aliansi lagi mikirin kenapa lo masih ngutang gorengan lima ribu dari minggu lalu," balasku, dan Doni hampir tersedak.
Kami tertawa. Tapi ada sesuatu yang ganjil siang itu, sesuatu yang baru kusadari belakangan. Fajar lebih banyak diam. Dia yang biasanya paling pongah, paling banyak rencana, hari itu cuma menatap meja kayu yang penuh coretan tip-ex tiga tahun.
"Lo kenapa, Jar?" tanya Dimas. "Muka lo kayak orang abis kalah taruhan."
Fajar mengusap meja itu pelan. "Lo sadar nggak," katanya, "habis ujian nanti, kita nggak bakal duduk di sini lagi?"
Kantin yang ribut tiba-tiba terasa jauh. Aku tahu itu benar, tapi mendengarnya diucapkan keras-keras rasanya beda. Selama ini kami sibuk—pameran, urusan Arman, urusan Bu Tania—sampai lupa menghitung. Tahun ajaran tinggal beberapa minggu. Lalu ujian. Lalu kelulusan. Lalu pintu.
"Kita kan bisa ketemu lagi," kata Reza, mulutnya penuh. "Reunian."
"Reunian sama duduk tiap hari beda, Za," kata Bagas, suaranya pelan. Itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya.
Hendra yang biasa berisik malah cuma manggut-manggut.
Aku ingat dulu, kelas sepuluh, kami dan IPS 4 hampir berkelahi di koridor gara-gara lantai biru dan tepung terigu. Aku ingat Fajar menulis "PEMBALASAN" di bukunya. Sekarang anak yang sama duduk semeja, dan satu-satunya yang ingin dia balaskan adalah waktu yang terlalu cepat habis.
"Jangan dramatis dulu," kata Dimas, tapi suaranya tidak seyakin biasanya. "Kita masih punya beberapa minggu."
Fajar mengangkat kepala dan nyengir, nyengir khasnya yang dulu bikin kami pengin nimpuk dia. "Justru itu. Gue nggak mau bikin acara perpisahan gede buat IPS 4. Norak. Anak IPS 4 nggak butuh tangis-tangisan."
"Terus lo mau apa?" tanyaku.
"Mau begini aja." Dia mengangkat segelas es teh plastik. "Tiap hari sampai ujian, kita kumpul di meja ini. Nggak usah ngomongin perpisahan. Cukup duduk. Cukup ribut kayak biasa. Pas hari terakhir nanti, kita pulang biasa aja. Nggak ada peluk-pelukan, nggak ada surat. Pamit diam-diam."
Doni mengernyit. "Itu kedengeran sedih, Jar."
"Itu kedengeran kayak kita," kata Fajar.
Dan anehnya, aku mengerti. Anak-anak seperti kami tidak pandai berpisah dengan rapi. Kami pandai bikin keributan, bikin malu, bikin tawa—tapi kalau disuruh berdiri di depan dan bilang "selamat tinggal", lidah kami akan menjadi batu. Mungkin Fajar benar. Mungkin perpisahan yang paling jujur untuk geng badut seperti kami bukan upacara, tapi kebiasaan yang dijaga sampai detik terakhir, lalu dilepas tanpa banyak kata.
"Oke," kata Dimas pelan. Dia mengangkat botol air mineralnya, menyentuhkan ke gelas Fajar. "Pamit diam-diam. Tapi sampai ujian, kita ribut tiap hari. Setuju?"
Delapan tangan terangkat. Plastik beradu dengan plastik—suara paling tidak megah di dunia, dan justru karena itu rasanya pas. Bagas dan Hendra yang dulu cuma "dua anak IPS 4 yang belum dinamai" sekarang punya tempat di meja ini, punya nama yang kuhafal, punya alasan untuk dirindukan.
Kami menghabiskan siang itu seperti hari-hari biasa: Reza nambah, Bayu jadi korban candaan, Dimas dan Fajar adu mulut soal hal-hal tak penting. Tidak ada yang menangis. Tidak ada yang bilang sayang.
Tapi saat bel berbunyi dan kami berdiri, aku melihat Fajar menyentuh sudut meja itu sekali lagi, seperti orang yang menyalami teman lama. Lalu dia berjalan ke kelasnya tanpa menoleh.
Aku duduk di bangku pojok dekat jendela sore itu, dan untuk pertama kalinya aku menghitung dengan serius. Berapa kali lagi aku akan melihat ruang guru dari jendela ini. Berapa kali lagi Reza akan mengeluh lapar di tengah pelajaran. Berapa hari lagi sebelum bangku ini jadi bangku orang lain.
Sedikit. Jawabannya sedikit. Dan untuk anak yang tiga tahun pura-pura tidak peduli pada apa pun, mendadak aku peduli pada segalanya.